Selasa, 30 April 2013

Mengunjungi Memphis, Ibukota Mesir Kuno (3000 SM)


Sudah lama kami ingin pergi ke tempat ini, sebelum akhirnya hari Sabtu (27/4) lalu  berhasil mengunjunginya.  Sebuah kota bernama Memphis.
Memphis merupakan kota dan ibukota Mesir kuno dan pusat penting dari sejarah Mesir. Kota ini terletak di selatan delta Sungai Nil, di tepi barat sungai, dan sekitar 30 km selatan kota Kairo. Kota kuno ini berada tidak jauh dari pyramid Sakkara dan Dashour. Pada tahun 1979, situs arkeologi Memphis ini ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.
Kota Memphis didirikan sekitar 3100 SM oleh Menes. Memphis merupakan nama versi Yunani sedangkan dalam bahasa Mesir kota ini bernama Men-Nefer. Nama Mesir Kuno nya adalah Inebou-Hedjou (diterjemahkan sebagai "white wall atau dinding putih"). Karena kota Memphis dibangun di dataran tinggi sebagai benteng untuk membendung banjir sungai Nil pada masa itu.
Sejarahwan Mesir Manetho menyebut Memphis sebagai Hut-ka-Ptah (diambil dari nama dewa, Ptah), yang dalam bahasa Yunani Ai-gy-PTOs, berasal dari bahasa latin AEGYPTVS. Ini sebabnya Mesir dalam bahasa Inggris dinamakan Egypt. Istilah Koptik juga diyakini secara etimologis berasal kata ini.

Kota Memphis adalah ibukota Mesir selama periode awal dinasti (sekitar 3100 – 2613 SM) dan periode Old Kingdom (2613-2160 SM). Pada periode Middle Kingdom, ibukota Mesir berada di kota Ijtawy di Fayoum sebelum akhirnya pada masa New Kingdom ibukota Mesir pindah ke Luxor. Memphis merupakan kota yang sangat besar, hal ini bisa dilihat dari keberadaan Necropolis (komplek pemakaman) di kawasan Memphis membentang sepanjang 30 km di sepanjang tepi barat Sungai Nil yaitu situs Giza , Sakkara dan Dashour.
Situs kota kuno Memphis saat ini hanya sedikit saja yang terlihat, karena kebanyakan dari bangunan-bangunan di sana terkubur di bawah lumpur sungai Nil selama ribuan tahun akibat banjir ditambah lagi  bangunan rumah modern yang berdiri di atasnya. Tapi untuk melindungi situs bersejarah ini pemerintah Mesir membuka open air museum di kota Memphis ini.
*****
Dengan menyewa mobil seharga 200 LE, suami bertugas jadi sopir dan saya sebagai navigator. Kami berangkat pagi itu dari rumah di daerah Ma’adi. Sebelum berangkat, survey jalan dulu menuju ke sana melalui peta google. Tapi Memphis tidak kami temukan di peta itu. Namun, kami pernah melihat peta di buku sejarah Mesir kuno, Memphis berada dalam satu kawasan dengan pyramid Sakkara dan Dashour. Karena kami pernah ke dua tempat itu paling tidak kami tahu di mana kira-kira lokasi kota Memphis. Hanya saja kami memutuskan untuk lewat jalan lain, bukan jalan yang menuju Sakkara dan Dashour.


Berangkat sekitar jam 10.00 kami melewati ring road, setelah menyeberangi jembatan sungai Nil lalu bergerak menyusuri sebelah barat sungai, Upper Egypt road namanya. Jalan ini merupakan jalan tradisional atau jalan lama sebelum dibangun jalan tol untuk menuju Luxor dan Aswan. Dinamakan juga sebagai Agricultural Road karena menyusuri daerah pertanian sepanjang sungai Nil dan jalan satu lagi dinamakan Desert Road, karena  melewati gurun pasir. Menyusuri jalan ini tak ubahnya seperti suasana di Indonesia terutama di daerah sepanjang pantura Jawa.
Sempat ragu karena tidak tahu lokasi pastinya, petunjuk jalan juga tidak ada. Tapi  untuk bertanya pada orang Mesir  khawatir mereka juga tidak tahu kalau yang ditanyakan adalah Memphis. Maka saya buka Wikipedia, dan saya menemukan informasi bahwa Memphis terletak dekat Mit Rohina. Nah inilah kata kunci untuk bertanya. Sampai di persimpangan pertama suami memutuskan untuk bertanya. Dan dapat petunjuk juga akhirnya, menurut orang yang kami tanya kami harus berbelok ke arah barat setelah melewati kota Badrah Syiin, terus ke arah barat sebelum sampai di kota Mit Rohina.
Kami ikuti petunjuknya, jalannya lumayan mulus walaupun banyak polisi tidur di tengah jalan. Melewati keramaian pasar tradisional, kami disuguhi aktivitas orang-orang Mesir yang kurang lebih sama dengan orang-orang desa di Indonesia, mereka ramah dan bersahaja. Sempat bertanya lagi pada pedagang buah di pasar,
“Assalaamu’alaikum, Mit Rohina fein..?” (Assalaamu’alaikum, Mit Rohina di mana ya?)
“Wa’alaikum salamm.. ohh… hena alatul… “ (Wa’alaikum salaam.. jalan ini lurus saja)
“Masyi.. shukraan..” (Iya.. terima kasih)
Berbeda dengan sebelumnya, jalan ke arah barat menuju Mit Rohina tidaklah mulus, berdebu dan sebagian tidak beraspal. Kita dengan mudah menemukan orang Mesir menaiki kuda dan keledai, banyak tuk-tuk (bajaj) berseliweran yang kadang suka ngawur nyetirnya jadi kita harus lebih hati-hati mengemudi kendaraan di sini.



Sampai di persimpangan Mit Rohina, papan petunjuk jalan menuju Memphis agak kurang terlihat jelas karena tertutup debu. Tapi kami melihat ada tulisan Memphis Museum, sampai juga kami di Memphis. Ada beberapa polisi berjaga di depan pintu masuk dan seseorang dari mereka bertanya,
“Malaysia??”
“La.. ana Andonesi.. “
Dia mengangguk lalu mencatat nomor polisi mobil kami.
Tiket masuk ke open air museum, 35 LE untuk umum dan pelajar hanya dikenakan 15 LE sedangkan untuk parkir mobil hanya 3 LE saja yang dibayar saat membeli tiket masuk.
Open air museum ini sebenarnya tidak terlalu luas, barang-barang yang di simpan di tempat ini juga tidak banyak tapi cukuplah membuat kita takjub pada orang-orang Mesir dari peradaban lampau.  Dan barang-barang yang disimpan di museum Memphis ini adalah benda-benda dari jaman dinasti baru (sekitar 2000 SM).  


Dalam sebuah gedung berukuran sekitar 600 m3 di sebelah kanan pintu masuk, tersimpan sebuah patung  Ramses II berukuran cukup besar dalam posisi ditidurkan (tidak berdiri) tanpa kaki karena patah, beberapa patung kecil dan potongan tiang bangunan juga di simpan dalam gedung ini. Agar bisa  melihat patung Ramses II secara utuh, kita bisa naik ke lantai atas.










Di luar, bangunan paling menonjol adalah patung Sphinx yang serupa dengan sphinx di Giza berukuran lebih kecil dan patung Ramses. Beberapa batu dengan tulisan Hieroglyphs diletakkan di sekitar patung Ramses. Di dalam area museum cukup banyak penjual souvenir, tapi harga yang ditawarkan di sini cukup mahal.





Penampang pilar dengan tulisan hieroglyps

****
Sejarah Mesir memang tak pernah membosankan. Hampir setiap sudut negeri ini berbau sejarah dan begitu mengagumkan. Kisah majunya peradaban masa lampau nyata adanya dengan bukti peninggalan yang tersisa.

Salam hangat......








_____________
Sumber: Tulisan saya di Kompasiana






10 comments:

Mengagumkan sekali, ya... Benda-benda peninggalan budaya Mesir kuno ajib2 gedenya.

ira

Betul banget mbak Ira... ini sih belum seberapa, yang di Luxor malah lebih ajib lagi gedenya. Nggak heran kalo Fir'aun2 Mesir itu sombongnya minta ampun.. sampe menganggap dirinya Tuhan. Lha mereka sudah mampu bikin sesuatu yang menurut orang jaman sekarang nggak mungkin dilakukan orang2 jaman itu... :D

Ayooo mbak Ira.. the next destination nihh... tak tunggu lho.. ;)

aamiin.... semoga, Mbak... Lha tikete nang Mesir isih over budget iki, Mbak... :)

Hehehehe.... Padahal nek teko Jerman mek sak nyuk'an wes tekan... Ayoooo baling2 bambu.... *Doraemon mode:on :D

Kyaa... kapan aku bisa kesana :'( Nangis bombay... hahaha

Cup.. cup... jangan nangis gitu dong mbak... kamu bisaaaaaaa!!! hehehe...

huhuhuhuhu saya pingin kali kemari mbak, tapi malah terdampar ke eropa. saya pingin makan kurma yang segar, minum air zam2 sepuasnya, btw patungnya besar2 sekali ya mbak, jadi seram lihatnya. mesir mmg penuh dgn peninggalan sejarah ya mbak

Lho kalo minum air zam2 kan harus ke Saudi mbak Lisa?? Kalo ke Mesir minumnya air Nil hehehe...

Karena penuh kisah sejarah itu maka Mesir dapat julukan Ummuddunya (ibunya dunia)

Bangunan2 Mesir kuno itu memang gede2 mbak.. canggih tukangnya :D

Ealaaaaaaah, koncone Mbak Ira tha, dunia ben sempit tenan! ;D

Hihihi.... lha mbak Ira ternyata jg adek kelas sepupunya suamiku mbak Ima... lak yo sempit tenan toh yo... :)))

Poskan Komentar

Terima kasih sudah meninggalkan komentar di blog ini. Salam hangat...

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...