Apr 20, 2012

Advertisement

Wah!! Suasana Desa di Mesir Tak Jauh Beda dengan di Indonesia

Advertisement




Bagi sebagian orang yang belum tahu, Mesir yang terletak di salah satu bagian benua Afrika berpikir bahwa Mesir merupakan sebuah negeri dengan hamparan padang pasir luas nan gersang dan dan tandus sehingga tak banyak pohon dan tanaman hijau yang tumbuh di sana. 

Bayangannya mungkin seperti negara-negara Afrika yang kerapkali dilanda kekeringan hebat seperti Sudan, Somalia, atau Ethiopia. Hal itu juga yang ada di pikiran saya sebelum menginjakkan kaki dan tinggal di negara ini. Dan beberapa dari teman-teman maupun saudara memang menanyakan hal itu kepada saya.

Tapi faktanya, Mesir adalah negara yang unik dan spesifik. Selain dikelilingi gurun pasir yang merupakan bagian dari Gurun Sahara, Mesir juga dialiri sungai Nil yang tak pernah kering dan terkadang malah banjir. Nah, banjir inilah yang membawa lumpur, sehingga membentuk sebuah delta sungai yang subur. 

Delta sungai Nil ini merupakan delta terbesar di dunia. Inilah alasan mengapa peradaban Mesir kuno berawal dari pinggiran sungai dan berlangsung hingga kini. Dan kesuburan delta sungai Nil membawa pengaruh besar pada kemajuan ilmu pertanian di Mesir sejak ribuan tahun lalu. Sampai-sampai Herodotus, seorang ahli sejarah Yunani memberi julukan "Mesir adalah Hadiah Sungai Nil."

Awalnya saya tak menyangka (atau karena kurang membaca ya?) bahwa di Mesir ada kawasan pertanian dan perkebunan yang subur seperti di Indonesia. Karena curah hujan di sini sangat minim yaitu hanya maksimal 4 kali saja dalam setahun, bandingkan dengan di Indonesia. Produk pertanian dan perkebunan seperti buah, sayur, beras, gandum juga sangat melimpah di Mesir. Menunjukkan bahwa tanahnya memang subur.


13348305211259647899
Seperti inilah jalan ke arah timur Kairo menuju laut merah

Perjalanan akhir pekan lalu memang sangat berkesan untuk saya. Awalnya saya dan keluarga ingin berlibur ke pantai laut merah yang berada 150 km di timur Kairo. Perjalanan ke sana melewati gurun pasir yang tentu saja semuanya berwarna kuning kecoklatan. Tidak ada kehidupan, walaupun kondisi jalan sangat lebar dan mulus sehingga memungkinkan memacu kendaraan di atas 100km/jam tapi cukup deg-degan juga kalau terjadi apa-apa dengan kendaraan kami. Takut mogok di jalan siapa yang mau nolongin, lha wong jalanan panas, sunyi senyap kayak begitu. Horor banget deh.. 

Walaupun akhirnya liburan di tepi pantai tidak terlaksana karena pantainya ternyata dikapling-kapling oleh pemilik resort (tidak ada pantai terbuka seperti di Indonesia) akhirnya perjalanan hampir 2 jam itu harus berakhir sia-sia dan harus balik lagi ke Kairo. Eh enggak juga koq, laut merahnya kelihatan juga dari jalanan walaupun nggak bisa main pasir di sana hehehe...



1334830894667676170
Hijaunya sawah mengingatkan alam pedesaan Indonesia

Gagal ke liburan ke pantai, esok harinya kami berjalan ke arah utara Kairo menuju situs bersejarah diSakkara. Nah, kondisinya berbanding terbalik dengan perjalanan kami sebelumnya. Menyusuri daerah ini seperti tidak sedang berada di sebuah negara di Afrika, karena sangat mirip dengan suasana di Indonesia. 

Hamparan sawah dengan pohon-pohon kurma yang mirip pohon kelapa menjadikan nuansanya semakin Indonesia. Suasananya kampung banget.. rumahnya tidak lagi berupa flat atau apartemen seperti di kota Kairo. Binatang ternak seperti keledai, kerbau, kuda dan unta sangat mudah ditemui sepanjang perjalanan. Sangat bersahaja...



1334830659801713542
Kendaraan bertenaga hewan masih menjadi alat transportasi utama untuk manusia.


Persawahan, kebun, menjadi pemandangan yang menyejukkan mata setelah pemandangan gurun yang kering kerontang sehari sebelumnya. Rasa rindu tanah air menjadi sedikit terobati melihat pemandangan desa itu. Tetapi ada sedikit perbedaan pemandangan desa di Mesir dengan di Indonesia. Kendaraan bertenaga hewan baik untuk angkutan manusia maupun untuk mengangkut barang-barang berat sangat mudah ditemui di sini. Orang-orangnya juga lebih ramah sama seperti umumnya orang desa di Indonesia. Sesekali mereka melambaikan tangan saat berpapasan dengan kami. Tidak jarang juga sepanjang perjalanan kami melihat sekelompok petani beserta keluarganya makan di tengah sawah. Duhhh... indahnya..

Jadi sekarang saya baru yakin bahwa sungai Nil memang berkah yang dilimpahkan Tuhan untuk orang-orang Mesir. Dan benar kata Herodotus bahwa Mesir merupakan hadiah Sungai Nil. Bersahajanya alam pedesaan beserta orang-orangnya selalu membuat saya selalu merindukannya. Dan di pinggiran Kairo saya menemukan suasana itu, tak jauh beda dengan di Indonesia.
Salam..

Advertisement

6 comments:

Choco BD said...

Waaa seger bangett pemandangannya, kirain semua wilayah gurun pasir aja qeqeqe

Ellys Utami said...

Memang hampir semua wilayah daratan Mesir itu gurun pasir mbak... dan yang ijo2 kayak gini adanya di pinggiran sungai Nil. Fir'aun2 Mesir dulu bercokolnya juga di bantaran sungai Nil ini.

Beneran tuh sawahnya mirip sawah Indonesia... bedanya di Indonesia nggak ada khimar (keledai)nya... hehehe...

Siti Nurjanah said...

Wah, sungai Nil memang membawa berkah ya . . .
^_^

Ellys Utami said...

Iya mbak Nur... sungai Nil memang penuh barokah terutama buat Mesir... Subhanallah.. :)

Eva Pitna said...

aaah mbak ellys, tambah pingin kesanaaaa!. kirain disana gak ada hijau-hijaunya loh, taunya ada juga ya....

Ellys Utami said...

Peradaban manusia Mesir kuno awalnya dari delta sungai nil yang subur mbak Eva... mereka hidup dengan bercocok tanam.

Buah dan sayur di sini harganya lebih murah lho dibandingkan dg di Indonesia dan rasanya manis banget.

Yuk mbak tak tungggu di Mesir ya.... :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy