Showing posts with label Fotografi. Show all posts
Showing posts with label Fotografi. Show all posts

Feb 19, 2016

Kenapa Pilih Kamera Mirrorless?




Pertama kali punya kamera tahun 1995, kamera pocket merk Canon Prima. Cukup lama juga sih pakai kamera ini. Lalu sekitar tahun 2001 beli kamera yang agak serius. Sebuah kamera SLR Canon (tipenya lupa :D). Waktu itu fotografi tergolong hobi mahal. Karena kita harus beli film lalu mencetaknya untuk mengetahui hasilnya.

Maka itu saya lebih sering menggunakan auto mode ketimbang otak atik manual mode untuk meminimalisir resiko gagal. Dan untuk tahu hasilnya nunggu filmnya habis dulu. Beruntung kalau jadi semua, wong kadang banyakan yang nggak jadi hehehe... Rugi deh beli film isi 36 ditambah ongkos cuci cetaknya.

Tapi lama-lama saya suka malas bawa kamera ini, makan tempat karena bodinya yang gede. Saya harus bawa tas kamera khusus. Padahal anak-anak masih kecil waktu itu. Ribet banget kalau mau pergi. Seringnya kamera ditinggal di rumah karena ogah ribet itu. Jadi seringkali banyak moment yang luput diabadikan. Kamera hanya dipakai untuk motret anak-anak di rumah.

Tahun 2004 jamannya kamera digital saya beli kamera saku digital Nikon Coolpix. Lumayan juga sih, hobi jeprat jepret tersalurkan tanpa mikirin beli film dan ngeluarin ongkos cetak. Kalau mau cetak juga bisa dipilih yang bagus. Lainnya simpan di komputer. Simple. Tapi lama-lama saya koq merasa hasil foto dari kamera ini kurang memuaskan ya..

Tahun 2010 waktu liburan ke Hongkong saya kepincut sebuah kamera. Rekomendasi dari yang punya toko juga sih. Sony NEX 3, kamera mirrorless dari Sony yang baru di release waktu itu. Kamera yang memiliki resolusi 14,20 MP ini LCDnya cukup lebar. Kelebihannya lensanya bisa diganti-ganti (interchangeable lens). Harganya sekitar 4 jutaan. Cukup murah jika dibandingkan di Indonesia yang masih sekitar 6 jutaan. Yang paling penting bodinya compact, nggak harus pake tas khusus kamera. Dan hasil foto sekelas DSLR non mirrorless.

Ketertarikan saya pada fotografi semakin menjadi-jadi ketika pindah ke Cairo. Banyak obyek menarik di sini. Hingga saya merasa butuh tambahan lensa. Karena lensa kit  kamera NEX 3 saya adalah jenis pancake yang cocok untuk fotografi landscape atau wide angle. Lalu tahun 2012 saya beli lensa tele SEL 55210 untuk menambah performa si NEX 3.

Sayangnya, tahun 2014 saya harus kehilangan NEX 3 kesayangan saat menunaikan ibadah haji. Semua dokumentasi selama haji lenyap hiks..hiks..

Ini kenang-kenangan si NEX 3

ISO 200, f/6,3 16 mm, 1/1250 Lokasi : Pyramid Giza, Cairo
ISO 200, f/9 210 mm, 1/8 Lokasi : Di rumah

Harus menunggu sekitar 3 bulan untuk memutuskan beli kamera lagi. Tentu sambil rayu-rayu suami biar dibeliin hahaha..Tanpa kamera saya berasa mati kutu. Karena hobi tidak tersalurkan.

Mulai deh browsing review kamera. Jenis mirrorless masih jadi pilihan. Saya sudah terlajur nyaman dengan kamera jenis ini. Kali ini saya cari kamera mirrorless yang ada viewfindernya karena umumnya kamera jenis untuk membidik obyek melalui LCD Screen. Dan kelemahannya adalah kalau memotret di bawah terik matahari. Obyek tidak kelihatan karena screen-nya gelap. Jadi sangat tidak memungkinkan memakai manual focus.

Pilihan saya jatuh pada Sony A6000. Kenapa Sony? Karena lensa tele saya tidak ikut hilang dan kondisinya masih sangat prima, sayang kalo nggak dipakai. Reviewnya cukup bagus, saya baca di sini dan di sini . Spesifikasinya sesuai dengan yang saya cari. Harganya sekitar 8 jutaan. Katanya sih ini kamera kelas intermediate. A5000 lebih cocok bagi yang baru belajar fotografi sedangkan untuk yang pro, Sony menyediakan kamera mirrorless full frame A7R yang harganya di atas 20 juta. Wiiihh...

Soal hasil foto, saya percaya secanggih apapun kameranya kalau nggak diimbangi dengan kemampuan fotografi hasilnya tidak akan maksimal. Menguasai kemampuan dasar fotografi yaitu komposisi, angle dan segitiga eksposure (Exposure Triangle) adalah modal awal. Selanjutnya kita bisa mempertajam kemampuan fotografi dengan banyak melihat hasil foto fotografer pro. Melihat EXIF foto-foto mereka. Jadi memotret nggak hanya pake auto mode lagi..

Jadi kenapa mirrorless ?

  1. Bodinya imut dan ringan jadi bisa masuk hand bag. Nggak ribet bawa tas kamera.
  2. Lensanya bisa diganti-ganti 
  3. Karena saya suka street photography, suka mengambilnya dengan cara candid. Maka keberadaan kamera jenis ini tidak terlalu mencolok sehingga mengganggu obyek yang dibidik. Karena kadang, saat obyek menyadari ada kamera maka hasil foto tidak natural lagi atau malah menolak untuk difoto. 

Dan inilah beberapa hasil jepretan si Sony A6000.

ISO 200, f/5.6, 1/160 Lokasi : Muizz Street, Cairo

ISO 250, f/5.6, 1/125 Lokasi : Muizz Street, Cairo

ISO 100, f/5.6, 1/160 Lokasi : Istanbul, Turki

ISO 100, f/5, 1/160 Lokasi: Attaba, Cairo


ISO 100, F 11, 1/160 Lokasi : Alexandria


Dec 1, 2015

This is Cairo

Ada berbagai cara menikmati keindahan ibukota negara yang dijuluki negeri seribu menara ini. Kota dimana kuno dan modern berpadu menjadi harmoni yang sempurna. Eksotis kata para turis.

Menyusuri sungai terpanjang di dunia yang membelah kota dengan menyewa felucca, perahu layar khas Mesir. Private ataupun sharing. Jika memilih sharing bareng orang lokal hanya dengan membayar 3 LE saja atau sekitar (5000 rupiah). Sedang kalau mau private sedikit lebih mahal yaitu 60 LE per jam.

Bisa juga mencoba berjalan kaki menyusuri bundaran Tahrir yang bersejarah itu, lalu downtown hingga kawasan tua Hussein. Tak akan terasa capek karena kita disuguhi deretan bangunan ala Eropa di downtown dan tiba di Hussein bertemu bangunan-bangunan berarsitektur Mamluk.

Dan satu lagi dengan menikmatinya dari ketinggian. Kalau Jakarta punya Monas, Kuala Lumpur punya menara Petronas, Dubai punya Burj Khalifah, Cairo juga punya gedung tinggi untuk menikmati panorama kota. Cairo Tower namanya.

Tower setinggi 187 meter ini dibangun tahun 1956. Menjadi bangunan tertinggi di Mesir dan Afrika Utara selama kurun waktu 50 tahun. Sebelum berdiri gedung-gedung tinggi lainnya di Cairo tahun 90an.

Untuk tiket masuk seharga 75 LE cukup sebanding dengan suguhan pemandangan yang ikonik. Dari atas ketinggian 187 meter kita bisa melihat sungai Nil yang melegenda membelah kota dengan deretan hutan beton mengelilinginya.

Waktu terbaik naik ke tower ini adalah sore menjelang senja hingga malam. Mengabadikan matahari yang perlahan tenggelam lalu berganti gemerlap lampu kota. Cantik.

Kalau mau romantic dinner dengan pasangan, ada restaurant di atas tower. Harganya juga cukup reasonable koq. 

Jadi jika ada kesempatan berkunjung ke Cairo, masukkan Cairo tower dalam itinerary selain Pyramid Giza tentu saja.

Inilah Cairo dari puncak Cairo Tower..

Cairo dan sungai Nil-nya

Keruwetan Cairo tertangkap jelas dari tower ini

Hutan beton
Cairo waktu  malam


Cairo Tower
Terakhir, narsis :D

Di publish juga di Detik Travel

Mar 26, 2014

Beauty of Sahara

Kalau mendengar tentang Sahara ingat lagunya Anggun C Sasmi, Snow on Sahara ya.. Atau lagunya Gita Gutawa Parasit yang di salah satu bagian liriknya menyebutkan dehidrasi di gurun Sahara. Dulu sih nggak kebayang akan bisa sampai ke tempat ini. Harus puas hanya mendengar lagunya atau lihat gambarnya di wallpaper komputer hehehe..

Gurun sahara merupakan gurun yang terletak di benua Afrika bagian utara, tercatat sebagai salah satu gurun pasir terbesar di dunia. Luasnya lebih dari 9.400.000 km persegi, yaitu 10% dari luas benua. Wilayahnya masuk dalam bagian beberapa negara, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Chad, Nigeria, Sudan, Mauritania dan Mali. Sahara dibatasi oleh Laut Merah di sebelah timur, laut Meditarinia di utara, laut Atlantik di sebelah barat sedangkan di selatan dibatasi oleh lembah sungai Niger dan Sudan.

Beberapa tahun tinggal di Mesir, suami yang malah punya keinginan foto-foto di atas gurun pasir. "Pasirnya yang halus pokoknya," ujarnya. Pernah waktu itu ke Sakkara dan Dashour, sayang pasirnya nggak seperti yang dia inginkan. Mengandung banyak kerikil dan kasar. Foto juga sih tapi kurang puas katanya hehehe... Mungkin bagi sebagian orang foto di gurun pasir itu sedikit lebay ya. Padang pasir koq diminati jadi background foto :D

Akhirnya, waktu ke Siwa kemarin kesampaian juga. Mengunjungi The Great Desert in Africa, Sahara. Boleh dibilang traveling kali ini adalah traveling yang paling berkesan selama di tinggal Mesir. Tempat paling indah di Mesir. Laut Merah dan Mediterania memang cantik, tapi pemandangan laut di Indonesia jauh lebih cantik. Kalau gurun, tidak akan ditemukan di Indonesia. Walaupun ada lautan pasir di Bromo tentu beda bentuknya dengan gurun pasir Afrika. 

Serunya lagi, tidak hanya bisa melihat, tapi merasakan bagaimana ber-offroad di atasnya. Gurun Sahara ini topografinya bervariasi. Ada yang dataran yang rata, lembah dan juga bukit. Bisa dibayangkan kalau mobil berjalan menanjak di atas bukit pasir yang tingginya lebih dari 50 meter, kalau tanahnya keras sih mobil bisa berjalan stabil. Begitu juga saat menuruni bukit pasir, kalau pengemudinya tidak lihai maka yang terjadi mobil akan terbalik. Kecepatan mobil juga dipacu lebih dari 100 km per jam. Sensasinya persis seperti naik roller coaster.

Walaupun berada dalam mobil berkecepatan tinggi dan berjalan di atas pasir yang labil. Tidak boleh ada yang kelewatan untuk dibidik dan direkam dalam kamera. Tidak tanggung-tanggung saya pegang dua "senjata" sekaligus kamera Sony Nex kesayangan dan handphone. Kalau hanya satu takutnya ada yang tidak terekam dengan baik. Sampai suami, berkali-kali memperingatkan agar hati-hati menggenggam kamera, takut jatuh.

Pusing dan mual sebenarnya, tapi semangat untuk berburu gambar-gambar indah melunturkannya. Pokoknya excited banget deh.. Ditambah si sopir yang masih belia itu memutar musik ngebeat khas Arab. Dia semakin semangat bermanuver jika kami berteriak histeris. Ditambah dengan menghadiahinya tepuk tangan ketika berhasil menuruni bukit pasir yang curam. 

Sekitar 3 jam lamanya kami merasakan sensasi berpetualang di gurun Sahara. Ditambah sekitar setengah jam istirahat sambil menunggu sunset. Sayangnya foto sunset nggak maksimal, baterai kamera dan handphone keburu habis. Gara-gara terlalu banyak jeprat jepret pas offroad hehehe...

Baiklah, dibawah ini gambar yang berhasil saya rekam dengan kamera handphone. Hampir semuanya sudah diupload di instagram. Kemana foto yang pakai kamera?? Masih "duduk" manis di memory card, karena ngeditnya harus pakai photoshop. Ada sebagian yang sudah diedit tapi nanti malah banyakan fotonya daripada tulisan hihihi...



Tekstur yang terbentuk di atas pasir ini membuatnya semakin cantik

Goncangan2 di atas mobil, nggak dipeduliin lagi. Asal dapat gambar landscape gurun Sahara sebanyak mungkin :D

Tidak akan ditemukan di view ini di Indonesia :D

Wonderful landscape... :)

Istirahat menunggu sunset..

Salah satu oase di belantara Sahara..

Seperti jadi peserta rally Paris-Dakkar (eh udah nggak ada ya sekarang..??)

Hahaha... ini dia artisnya!! Mimpi berfoto di gurun pasir yang halus kesampaian juga... :D






Mar 23, 2014

[Human Interest] Potret Orang Barbar di Siwa

Pernah dengar tentang suku barbar?? Apa yang terlintas di benak kita? Primitif, tidak kenal peradaban, suka perang, kejam atau bahkan sadis? Entah darimana streotipe semacam itu bermula. 

Kenal kan Thariq bin Ziad yang sangat fenomenal dalam sejarah Islam. Pemimpin pasukan untuk menaklukkan Andalusia sekitar tahun 711 Masehi. Bahkan namanya diabadikan menjadi nama selat yang memisahkan Afrika utara dengan benua Eropa. Selat Gibraltar (Gabal Thariq). Beliau berasal dari suku Barbar. Ibnu Batutah, yang tersohor sebagai pengembara juga berasal dari suku Barbar. Zenendine Zidan pemain bola dunia itu juga orang Barbar. Jadi hilangkan pandangan negatif kita tentang orang Barbar.

Ibnu Khaldun bahkan menggambarkan suku Barbar sebagai orang yang kuat, pemberani, dan memiliki solidaritas tinggi.

Suku barbar adalah penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika bagian utara, terutama di bagian barat lembah sungai Nil. Mereka tersebar dari pantai atlantik di bagian barat dan di Oase Siwa di bagian timur. Saat ini mereka umumnya menjadi penduduk di wilayah negara Maroko, Aljazair, Libya, Tunisia, sebagian kecil di Mesir, Mali, Muritania, dan Nigeria.

Di Mesir mayoritas suku barbar tinggal di Siwa. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Arab 'amiyah, namun aksennya lebih mirip Libya. Karena letak geografisnya yang lebih dekat ke Libya. Gambaran tentang streotipe orang barbar yang keras dan kasar tak tampak pada penduduk Siwa. Mereka adalah orang-orang yang ramah dan sangat religius. Bahkan menurut saya lebih kalem dari orang Mesir di Kairo. Mata pencaharian mereka umumnya berkebun kurma dan zaitun dan sebagian lagi berternak domba.

Di Siwa, kegiatan luar rumah di handle para pria. Para wanita sangat tidak disarankan keluar rumah kalau tidak terpaksa. Jika terpaksa keluar rumah, mereka wajib menggunakan niqab atau cadar. Upps.. jadi kalau kita ke sana harus pakai cadar dong. Tenang saja, aturan ini tidak berlaku pada turis koq hehe.. Wanita diijinkan sekolah hanya sampai tingkat SMA, selepas itu mereka akan dinikahkan. Yang diijinkan merantau keluar Siwa, untuk menuntut ilmu hanya kaum pria. Tidak heran, selama 2 hari di Siwa saya hanya 2 kali bertemu wanita (bercadar) di jalan. 

Pernah waktu itu saya mencoba mengambil foto anak-anak yang sedang berangkat sekolah. Ada 3 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Saat saya arahkan kamera pada mereka, sontak mereka berteriak, "No, photo.. no photo!!". Dan anak perempuan yang berada diantara mereka menutupi wajahnya dengan jilbab. Tentu saya menghormatinya dengan tidak meneruskan mengambil foto diam-diam.

Di kesempatan lainnya, saya coba meminta ijin pada seorang bapak penjual tho'miyah (makanan khas Mesir) untuk mengambil fotonya. Lalu dia melambaikan tangan tanda tak mau di foto. Tapi tidak usah khawatir, tidak semua orang Siwa menolak di foto koq. Mereka akan dengan senang hati di foto jika kita minta.

Untuk melihat keseharian orang Siwa, berikut ini foto-foto mereka..

Anak-anak Siwa, dalam kesederhanaan mereka tetaplah anak-anak

Kendaraan multifungsi di Siwa

Sepulang sholat Jum'at

Mas Yusuf, guide yang ramah :D

Ngeteh bareng di pinggiran oase..

Bekerja sama..

Kendaraan paling populer di Siwa dan Mesir


Dec 20, 2013

[Photo Story] Inilah Kairo...


Sudah sering saya menulis tentang tempat-tempat menarik di Kairo, walaupun belum semuanya. Mesir seakan tak pernah habis untuk diceritakan. Semua anglenya menarik. Bukan saja tempat-tempat yang sudah populer seperti Pyramid, kota Memphis, Laut Merah, Luxor dan Sinai yang tertutup salju kala musim dingin tiba. Tapi sudut kota yang kumuh pun menarik untuk diceritakan.

Kali ini saya akan ajak jalan-jalan blusukan di sudut-sudut kota Kairo. Kumuh, semrawut, dan jorok tapi buat saya tetap saja menarik. Dan inilah Kairo..

 
__________

Tempat pertama adalah City of the dead...  Eiittss, jangan buru-buru membayangkan tempat yang serem dan misterius yah :D Tempat ini memang kuburan paling tua dan luas di Kairo, tapi jauh dari angker apalagi buat lokasi uji nyali. Mau nongkrong semalaman juga nggak bakalan dadah dadah ke kamera tanda nyerah hahaha...


Padatnya kota ini yaaa..... Menara yang menyembul itu adalah menara masjid Sultan Hassan dan Masjid Rifa'i

Tempat ini sebenarnya nggak bisa sepenuhnya di bilang kotanya orang mati sih. Karena orang-orang  mati itu "berdampingan" dengan orang-orang yang masih hidup. Aneh memang.. Tapi inilah kenyataannya. Karena kemiskinan, orang-orang Mesir 'rela' berbagi tempat dengan orang yang sudah mati.








Tiap hari Jum'at, tempat ini rame banget terutama di dekat kawasan Sayyeda Aisha. Kalau mau shopping buruan deh ke situ. Ada pasar serba ada, dari barang bekas, alat rumah tangga, spare part mobil, makanan sampai jersey 'bermerk'. Soalnya suami pernah beli jersey 'bermerk' hanya seharga 25 LE, nggak sampai Rp. 50.000 cyin.. hihihihi..


Suasana pasar Jum'at


Di mana ada penjual baju, di situ ada emak-emak :D

Suatu hari, saya diajak suami jalan-jalan. Pas ditanya kemana, dia bilang mau ngasih tahu tempat makanan enak. Ada di kawasan Sayyeda Zaenab. Kalau naik metro dari Maadi cuma bayar 1 LE (Rp. 1.500). Beberapa hari sebelumnya dia di ajak temannya ke tempat itu. Ada kikil sapi yang rasanya top banget katanya. Anak-anak nggak usah diajak, pasti mereka nggak suka tempatnya. Makin penasaran kan saya... 

Yang digantung itu usus diisi daging.. :D



Tempat makannya itu di tengah jalan :P

Itu dia tempat makannya... Kumuh dan jorok ya? Eitss... tapi saya suka koq tempat ini. Nggak tahu juga kenapa saya suka. Menarik sih menurut saya...Sup kikil (kaki sapi) dan koftanya lumayan enak juga.

Dan yang ini nih, jarang-jarang lihat orang jualan daging, yang sapi dan onta hidupnya dipajang di depan lapaknya. Begini ini nggak nemu kalau nggak di Mesir... :D
 

Sapi hidup di depan lapak penjual daging

Orang ini bukan yang jualan onta koq.. :P

Nah kalau yang di bawah ini adalah Maadi, tempat tinggal saya selama di Kairo. Dulu pas pertama nyampe di Kairo, takjub juga dengan banyaknya pohon-pohon hijau itu hehehe... Ketahuan kan kalau nggak pernah baca :P



Faktanya, Mesir merupakan salah satu daerah tersubur di Afrika, dan salah satu negara tersubur di Mediterania. Karena kesuburannya, Mesir menjadi salah satu tempat terawal yang dihuni oleh manusia. Sungai Nil menjadi penyebab Mesir menjadi subur. :D


Karena Maadi ada di bantaran sungai Nil makanya pohon-pohon bisa tumbuh subur di sini. Walaupun terlihat rapi dan tertib, jangan salah... Setiap pagi hampir selalu terjadi keributan karena rebutan jalan. Semuanya nggak ada yang mau ngalah, terjadilah kemacetan di jalan itu. Dan satu lagi, Orang-orang yang punya nggak ada yang mau parkir di basement. Berderet di kanan kiri jalan, dari jalan yang lebarnya 10 meter hanya tersisa 4-5 meter saja. Ampuunn deh... :(

Kalau pagi dan sore jalanan itu macet beud :D

Suasana Maadi hari Jum'at pagi

Pemandangan seperti foto di bawah ini benar-benar di Mesir. Mirip Indonesia kan? Bedanya kalau di Indonesia, pematang sawahnya ditanami pohon kelapa, kalau di Mesir ditanami kurma. Dan tempat seperti ini tidak jauh dari pusat kota Kairo. Hanya sekitar 20 km saja. Orang-orang desa Mesir umumnya ramah pada orang asing, sederhana dan bersahaja.

Foto saya ambil saat perjalanan menuju situs kota kuno Memphis di sebelah selatan Kairo. Kadang-kadang kalau mereka tahu sedang di potret, mereka akan melambaikan tangan dan tersenyum.





Itulah sedikit gambaran dari kota Kairo yang mungkin tak terjamah para turis. Mana ada sih agen-agen wisata yang mau bawa turis-turis ke tempat seperti itu hehe...

Jun 11, 2013

Kamera Handphone dan Traveling


Apa jadinya ya jika traveling tanpa dilengkapi dengan foto? Mungkinkah hanya ceritakan lewat tulisan saja? . Misalnya nih, kita bercerita bahwa di gunung Bromo ada lautan pasir. Lalu apakah kita berharap bahwa yang baca tulisan kita akan membayangkan bahwa di Bromo itu memang ada lautan pasir. Bisa-bisa cerita kita dianggap omong kosong atau hoax. 

Foto adalah 'bukti' shahih dan merupakan salah satu unsur untuk menguatkan cerita kita. Bahkan foto bisa bercerita tanpa harus kita deskripsikan. Tau dong yah jamannya medsos begini kita musti eksis di dunia maya hahaha... :D

Begitu pentingnya foto dalam sebuah perjalanan traveling, maka selain koper atau ransel berisi baju sebuah tas yang berisi kamera menjadi sama pentingnya. Kebayang nggak sih kalau traveling nggak bawa baju? 

Saya pernah menulis bagaimana tips membuat foto traveling di sini.


Tapi biarpun udah dibela-belain bawa kamera nih, faktor lain bisa membuat kamera itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Lupa bawa baterai cadangan atau bahkan saking capeknya jalan-jalan, lupa nge-charge baterai. Alhasil begitu sampai tempat wisata cuma beberapa kali jepretan kameranya mati. Duuuhhh.... saya tuh suka nyesel kalau begini. Udah jauh-jauh perginya malah nggak ada fotonya. 

Untungnya ada handphone, dan yang ini alhamdulillah nggak pernah lupa bawa, walaupun kadang suka lupa ngecharge juga hehehe... 

Handphone sekarang kameranya canggih-canggih, nggak kalah koq sama kamera 'beneran'. Selama ini kalau lihat di medsos macam facebook dan twitter, foto-foto yang diunggah menggunakan handphone terkesan asal-asalan. Pengen buru-buru di upload,  malah fokusnya nggak dapet. Padahal nih, foto yang dihasilkan kamera handphone bisa maksimal asal memperhatikan teknik dasar fotografi seperti komposisi dan fokus. 

Saya tidak akan membahas tentang bagaimana tips memotret menggunakan kamera handphone. Untuk tips sudah banyak di berikan oleh fotografer antara lain di sini. 

Saya hanya meyakinkan bahwa kalau kamera handphone bisa juga menghasilkan foto-foto yang nggak kalah hasilnya dengan kamera 'beneran'. Di bawah ini adalah foto-foto yang saya ambil dengan menggunakan kamera handphone, karena kebetulan waktu itu baterai kameranya habis sedangkan baterai cadangannya lupa ngecharge :D













f


Di instagram, saya suka upload foto-foto yang diambil menggunakan kamera handphone. Hasilnya bisa di lihat di account instagram saya. 

Dan ini beberapa website yang menampilkan hasil foto dengan menggunakan handphone :
  1. Food Photography (with a mobile phone) 
  2. Beautiful Mobile Phone Photography
  3. Mobile Phone Photography on Flickr

Mar 4, 2013

Mempelajari Kesalahan Foto Melalui EXIF


Itu pake bukaan berapa?? What?? Ini nanyain foto apa nanya lahiran sih? hehehe... Bukaan itu diafragma, alamakkk tetep aja nggak ngerti apa maksudnya. Jujur memang saya nggak pernah belajar fotografi secara formal dan nggak pernah niat cari-cari informasinya di internet. Dulu waktu jaman kamera analog yang pake film punya bapak saya, tetek bengeknya udah disetel sama beliau, jadi tinggal pake doang hihihi..

Jamannya kamera digital, saya beli yang pocket karena ringkes dibawa kemana-mana dan pasti full auto, praktis. Lama-kelamaan koq kayaknya dunia potret memotret jadi semakin menarik, tapi nggak pengen beli kamera DSLR yang gede, males nentengnya karena bodinya itu. Dan akhirnya saya beli kamera compact plus-plus, yang sekarang dikenal dengan kamera mirrorless. Lumayan canggih kameranya dibanding kamera pocket saya yang lama.

Karena saya anggap "canggih" ini jadi saya pikir nggak perlu belajar tetek bengek tentang fotografi. Buat apa, wong kamera sudah bisa membuat foto yang kita mau, makro, portrait, night shot, sunset/sunrise semua ada menu autonya dan hasilnya memang bagus. 

Tombol P/A/S/M yang ada di kamera nyaris nggak pernah saya pakai. Buku manualnya juga tetap rapi dalam kardusnya dan nggak pernah saya baca karena merasa sudah tau hehehe... Jangan tanyakan tentang lighting, komposisi, angle, shutter speed, dan diafragma pada saya, nggak ngerti sama sekali karena memang terbiasa pakai mode auto.

Ketertarikan saya untuk belajar fotografi berawal dari melihat foto-foto di sebuah forum fotografi dan flickr. Beruntung saya pindah ke Kairo, bertemu mahasiswa-mahasiswa Al-Azhar yang punya hobi fotografi, dan tergabung dalam sebuah komunitas penggemar fotografi. Dari mereka juga saya belajar bagaimana membuat komposisi foto yang baik, mengenal istilah bukaan/diafragma, shutter speed, dan bagaimana melakukan post processing atau mengedit foto. Dari mereka pula saya mengerti apa itu EXIF data. Ternyata data ini cukup membantu untuk mengoreksi kesalahan dalam foto yang kita buat sebelumnya.


EXIF adalah Exchangeable Image File Format, secara sederhana bisa diartikan sebagai data pribadi yang dimiliki sebuah foto. Didalam EXIF kita bisa lihat tentang ISO, aperture (diafragma), shutter speed (kecepatan rana), dan data lainnya. Bisa dilihat saat file foto kita pindahin ke komputer, pada foto tekan klik kanan mouse, klik properties lalu klik details. Disitulah rekaman data foto bisa kita lihat

Berikut beberapa fungsi data EXIF yang saya gunakan untuk mengoreksi foto-foto saya..

Koreksi Fokus dan Bokeh


Karena ngiler pengen bisa membuat foto-foto bagus seperti di forum itu, mulai deh coba-coba motret pake teori komposisi. Dari mulai potret bunga ini, saya pikir foto bunga hasil karya saya ini sudah seperti punya fotografer yang di forum itu hahaha... narsis. Padahal foto ini juga masih pake mode auto (macro) yang ada di kamera.


1362047923886478004


Saya coba juga memasukkan foto ini ke forum, dan ada yang komentar kalau foto saya di atas fokusnya lari. Oh no.....!!! Eh, iya bener juga setelah saya amati. Saya makin penasaran, akhirnya saya belajar juga bagaimana caranya untuk mencari titik fokus yang benar dan mendapatkan background yang blur (bokeh). Dan akhirnya saya tahu, untuk mendapatkan bokeh harus pakai bukaan besar/ diafragma yang ditandai dengan f. Angka f yang kecil menunjukkan diafragmanya besar.

Berikutnya saya mencobanya kembali dengan obyek berbeda. Sudah lumayan kan dari foto sebelumnya?? Ini sudah mulai belajar pake mode manual lho hehehe... *pamer :D


13620502971213887674


Koreksi Night Shot

Membuat foto dalam keadaan yang minim cahaya, di sarankan menggunakan ISO tinggi dan flash itu yang saya tahu sebelumnya. Tapi belakangan saya baru tahu, untuk menghasilkan foto dengan cahaya lampu yang bisa seperti bintang justru harus menggunakan ISO rendah, tanpa flash.

Mencoba memotret saat malam hari, saya menggunakan ISO tinggi dan inilah hasilnya..


13620516711910392006


Foto ini tentu sangat tidak memuaskan, belajar dari kesalahan foto di atas dalam kesempatan lain saya mencoba setelan yang berbeda. Saya coba mengamati catatan EXIF foto sejenis milik fotografer lain dan teori yang saya baca untuk membuat foto night shot yang bagus. Dan ini hasilnya..

13620523571721450390


Obyeknya memang biasa saja, tapi niat saya waktu itu memang mencoba belajar night shot dengan benar. Mungkin lain waktu saya akan mencari obyek lain yang lebih menarik untuk night shot ini.

Koreksi Setting ISO

Ini foto yang bikin saya uring-uringan sampai maksa suami untuk mengantar saya kembali ke tempat yang sama. Saya nggak sadar kalau ternyata setting ISO pada kamera saya waktu itu sangat tinggi, siang bolong pakai ISO 3200. Saya tahu begitu file dipindah ke komputer, heran aja koq foto-foto saya jelek banget, padahal anglenya udah pas. Noisenya terasa sekali, lalu saya intip EXIFnya, ternyata ISOnya pake 3200, pantesan...

Foto ini sengaja saya konversi jadi hitam putih untuk menyamarkan noisenya hehehehe..


13620533081868897871


Kembali ke tempat yang sama, sejak dari rumah saya setting kamera saya dengan benar, takut terjadi kesalahan lagi. Dan foto berikut ini sudah sedikit membuat saya puas walaupun belum puas 100% (alasan buat balik ke tempat ini lagi)

13620535791119511456
ISO 200, f/6.3, 1/320, metering: pattern
13620559081560676906
ISO 200, f/13, 1/320, metering: spot, FL 16mm


Tuh kan.. EXIF ternyata memang banyak membantu untuk memperbaiki foto kita. Melihat data EXIF orang lain juga merupakan salah satu cara untuk belajar fotografi. Bukan untuk meniru, namun lebih sebagai patokan atau referensi saja. EXIF kalau menurut saya mirip resep masakan, resepnya bisa sama tapi rasa belum tentu sama.


Belajar fotografi itu semakin lama semakin mengasyikkan buat saya. Terutama sejak saya bergabung dengan Kampretos sebuah grup di kompasiana yang memberi wadah buat kompasianer yang punya hobi fotografi selain menulis. Banyak hal-hal baru yang saya ketahui setelah gabung di grup yang orang-orangnya gak pelit berbagi ilmu, pokoknya seru abis deh..

Dan saya juga baru ngerti kalau ternyata kamera itu seperti pasangan, nggak cukup hanya setahun atau dua tahun mempelajari sifatnya. Butuh waktu lama untuk memahaminya. Jadi artinya perlakukan kamera seperti pasangan anda... Awww...!! kalo ini Out of Topic ya.... hehehehe...


Salam cekrek dah... :)


Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy