Feb 27, 2018

Souq Khayamiya, Pasar Para Pengrajin Tenda

Tempat ini memang tidak populer di kalangan turis bahkan orang Mesir sendiri. Namun sebenarnya cukup menarik terutama jika anda mencari tempat untuk membeli souvenir khas Mesir yang tidak biasa. Umumnya traveler hanya mengenal Khan Khalili untuk berburu oleh-oleh cenderamata yang Mesir banget. Tapi ada baiknya anda juga mengunjungi tempat ini jika punya cukup waktu. Namanya souq Khayamiya (tent makers market) atau pasar pengrajin tenda.

Berada persis di sebelah selatan Bab Zuweyla. Kurang lebih sekitar 2 km dari Khan Khalili. Dan tempat ini tidak bisa diakses dengan angkutan umum kecuali tuktuk atau bajaj. Saran saya sih lebih baik jalan kaki karena bisa sambil window shopping. Karena di sepanjang jalan menuju Souq Khayameya adalah toko-toko yang menjual berbagai macam model fashion terutama abaya hitam khas Arab dengan harga yang ramah kantong, dengan catatan pinter nawarnya hehehe..


Apa itu Khayamiya


Kalau di Indonesia kita mengenal batik maka di Mesir kita mengenal khayamiya. Sebuah produk kerajinan tangan yaitu seni menempelkan potongan-potongan kain pada kain yang lebih besar sehingga membentuk sebuah motif. Istilah lain menyebutnya dengan seni aplikasi. Dikerjakan dengan jahit tangan yang disebut quilting. Kerajinan unik ini dipercaya pertama kali muncul pada masa Dinasti Mamluk yaitu sekitar tahun 1250 - 1517 M. 

Awalnya khayamiya digunakan untuk menghias tenda namun kini hanya digunakan untuk hiasan pada cushion, wall hanging, dan tas. Untuk tenda tidak lagi menggunakan khayamiyah hand made tapi sudah menggunakan buatan pabrik dengan harga yang tentu saja jauh lebih murah. Selain itu tidak ada regenerasi pembuat khayamiya, karena anak-anak muda tidak lagi tertarik dengan pekerjaan yang cukup rumit dan butuh ketelatenan ini. Jadi khayamiya akan tercancam punah jika hal ini terjadi.

Menurut ammu Tareq salah seorang pengrajin, sebuah khayamiya dengan ukuran 2m x 2m bisa selesai dalam waktu 4 bulan. Tentu saja harganya bisa mencapai ribuan Egypt pound dibandingkan dengan sebuah cushion berukuran 40x40 cm yang dihargai antara 50 LE sampai 150 LE. Selain lamanya waktu pengerjaan, harga kerajinan ini juga tergantung pada kerumitan desainnya.

Bagaimana? Anda tertarik?



Suasana Souq Khayamiya


Amm Tareq salah satu pengrajin Khayamiya yang sudah berkali-kali ikut pameran di luar negeri. Yang di belakangnya itu merupakan khayamiya karya beliau.




Hampir semua pengrajin khayamiya adalah kaum adam

Pasar grosir di sepanjang Muizz Street bagian selatan


 

Feb 24, 2016

Manial Palace : Ketika Seni Arsitektur Islam Bertemu di Satu Tempat

Menikmati seni arsitektur di Mesir memang tak pernah ada habisnya. Berbagai macam gaya arsitektur bisa kita saksikan. Maklum saja, Mesir pernah berada di bawah kekuasaan beberapa dinasti. Sudah barang tentu setiap dinasti ingin meninggalkan jejaknya di negeri ini. Masjid, istana bahkan komplek pemakaman.

Salah satunya Manial Palace..

Tidak seperti bangunan bersejarah lain di Mesir yang sudah berumur ratusan tahun. Istana Manial atau juga disebut Muhammad Ali Palace ini tergolong baru karena dibangun pada tahun 1901 oleh Pangeran Muhammad Ali Tawfik. Putra dari Khedive Tawfik I, dan merupakan keponakan raja Farouq I.

Pangeran ingin membangun tempat ini bukan hanya sebagai istana tapi juga tempat berkumpulnya seni Islam. Maka tak heran gaya arsitektur dan dekorasi interior istana ini adalah perpaduan gaya arsitektur Rococo dengan beberapa gaya arsitektur Islam seperti Mamluk, Fatimiyah, Ottoman, termasuk Maroko, Andalusia dan Persia.

Istana yang berdiri di atas area seluas 61.711 meter persegi ini berada di pulau Rhoda yang awalnya adalah taman kerajaan. Karena pulau ini terbentuk dari lumpur sungai Nil yang terkenal sangat subur. Di dalamnya ditanam berbagai jenis pohon yang didatangkan dari berbagai belahan dunia seperti pohon beringin, pohon Aras, pohon karet India dan beberapa spesies langka. Taman tersebut dibangun oleh kakek buyut pangeran, Raja Muda Ibrahim Pasha, pada tahun 1829.

Istana Manial yang sempat ditutup selama kurang lebih 10 tahun untuk keperluan restorasi. Dan dibuka kembali pada Maret 2015 ini menyimpan sekitar 350 koleksi karpet langka dari Turki, lampu gantung, keramik dinding dan beberapa koleksi barang antik keluarga kerajaan. Pangeran ingin menjadikan istananya ini sebagai museum. Sehingga pada tahun 1908 beliau mendaftarkannya di Egypt’s Heritage List for Islamic Monuments.

Di dalam kompleks istana Manial ini terdapat beberapa bangunan yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.

Memasuki gerbang kita akan disambut sebuah ruang berlantai 2 yang disebut Gate House. Yang salah satu ruangannya dinamakan Ceremonies Room. Digunakan untuk menyambut tamu-tamu resmi kerajaan. Tidak jauh dari Gate House, terdapat sebuah menara jam yang dibawahnya terdapat kolam air mancur dengan patung singa. Mengadopsi gaya Maroko dan Andalusia.


Gerbang Istana (bergaya Maroko)   
Ceremonies Room
Ruangan lain dalam Gate House  


Clock Tower bergaya Maroko dan Andalusia


Kolam dan air mancur ini perpaduan Maroko & Andalusia juga sedikit Eropa

Lalu kita akan menemui masjid dengan gaya Mamluk dipadukan dengan gaya Ottoman. Interior masjid dihiasi dengan ornamen-ornamen berwarna emas dan keramik biru khas Turki.






Interior masjid dengan ornamen-ornamen emas dipadukan dengan keramik dinding khas Turki

Selanjutnya kita akan melintasi taman yang rindang penuh pepohonan sebelum menjumpai Residential Palace. Bangunan ini merupakan bangunan utama dan tertua dalam komlpeks istana. Fasadnya tampak sederhana tapi kita akan takjub setelah melihat ke dalamnya. Ada 2 lantai yang terdiri dari 7 ruang di lantai 1 dan 4 ruang di lantai 2 dengan disain interior yang berbeda-beda.

Residence Palace tampak depan

Residential Palace (Main Hall)

Lantai 2 Residential Palace 
Ruang kerja di Residential Palace


Tidak jauh  dari Residential Palace ada Throne Hall sebuah ruang singgasana yang mengadopsi gaya Eropa. Terkesan mewah dengan dominasi warna emas dan merah.

Throne Hall



Tidak jauh dari Throne Hall terdapat Winter Halls, yang jendelanya langsung menghadap sungai Nil. Dindingnya dihiasi keramik-keramik Turki yang indah. Didalamnya terdapat satu ruangan yang dinamakan Aubusson Room, karena seluruh dekorasi ruangan menggunakan kain Aubusson dari Perancis


Jendela yang menghadap langsung sungai Nil

Aubusson Room
Salah satu ruangan di Winter Hall dengan beberapa koleksi keramik dari Cina

Di sebelah barat Winter Hall terdapat sebuah bangunan yang kata penjaga di sana, adalah museum pribadi pangeran, sayangnya waktu saya ke sana sedang tidak dibuka.

Halaman luar museum pribadi pangeran

Ini bagian dalamnya


Untuk bisa masuk ke dalam istana dan menikmati keindahannya, kita harus bayar tiket masuk sebesar 100 LE. Lumayan mahal sih tapi nggak mengecewakan koq. Tempatnya juga cukup terawat dan bersih. Bagi pecinta seni arsitektur dan fotografi, tempat ini wajib dikunjungi. Satu tempat lagi yang lokasinya berdekatan adalah Nilometer. Di pulau Rhoda juga, sekitar 2-3 km dari istana Manial ini.




Feb 19, 2016

Kenapa Pilih Kamera Mirrorless?




Pertama kali punya kamera tahun 1995, kamera pocket merk Canon Prima. Cukup lama juga sih pakai kamera ini. Lalu sekitar tahun 2001 beli kamera yang agak serius. Sebuah kamera SLR Canon (tipenya lupa :D). Waktu itu fotografi tergolong hobi mahal. Karena kita harus beli film lalu mencetaknya untuk mengetahui hasilnya.

Maka itu saya lebih sering menggunakan auto mode ketimbang otak atik manual mode untuk meminimalisir resiko gagal. Dan untuk tahu hasilnya nunggu filmnya habis dulu. Beruntung kalau jadi semua, wong kadang banyakan yang nggak jadi hehehe... Rugi deh beli film isi 36 ditambah ongkos cuci cetaknya.

Tapi lama-lama saya suka malas bawa kamera ini, makan tempat karena bodinya yang gede. Saya harus bawa tas kamera khusus. Padahal anak-anak masih kecil waktu itu. Ribet banget kalau mau pergi. Seringnya kamera ditinggal di rumah karena ogah ribet itu. Jadi seringkali banyak moment yang luput diabadikan. Kamera hanya dipakai untuk motret anak-anak di rumah.

Tahun 2004 jamannya kamera digital saya beli kamera saku digital Nikon Coolpix. Lumayan juga sih, hobi jeprat jepret tersalurkan tanpa mikirin beli film dan ngeluarin ongkos cetak. Kalau mau cetak juga bisa dipilih yang bagus. Lainnya simpan di komputer. Simple. Tapi lama-lama saya koq merasa hasil foto dari kamera ini kurang memuaskan ya..

Tahun 2010 waktu liburan ke Hongkong saya kepincut sebuah kamera. Rekomendasi dari yang punya toko juga sih. Sony NEX 3, kamera mirrorless dari Sony yang baru di release waktu itu. Kamera yang memiliki resolusi 14,20 MP ini LCDnya cukup lebar. Kelebihannya lensanya bisa diganti-ganti (interchangeable lens). Harganya sekitar 4 jutaan. Cukup murah jika dibandingkan di Indonesia yang masih sekitar 6 jutaan. Yang paling penting bodinya compact, nggak harus pake tas khusus kamera. Dan hasil foto sekelas DSLR non mirrorless.

Ketertarikan saya pada fotografi semakin menjadi-jadi ketika pindah ke Cairo. Banyak obyek menarik di sini. Hingga saya merasa butuh tambahan lensa. Karena lensa kit  kamera NEX 3 saya adalah jenis pancake yang cocok untuk fotografi landscape atau wide angle. Lalu tahun 2012 saya beli lensa tele SEL 55210 untuk menambah performa si NEX 3.

Sayangnya, tahun 2014 saya harus kehilangan NEX 3 kesayangan saat menunaikan ibadah haji. Semua dokumentasi selama haji lenyap hiks..hiks..

Ini kenang-kenangan si NEX 3

ISO 200, f/6,3 16 mm, 1/1250 Lokasi : Pyramid Giza, Cairo
ISO 200, f/9 210 mm, 1/8 Lokasi : Di rumah

Harus menunggu sekitar 3 bulan untuk memutuskan beli kamera lagi. Tentu sambil rayu-rayu suami biar dibeliin hahaha..Tanpa kamera saya berasa mati kutu. Karena hobi tidak tersalurkan.

Mulai deh browsing review kamera. Jenis mirrorless masih jadi pilihan. Saya sudah terlajur nyaman dengan kamera jenis ini. Kali ini saya cari kamera mirrorless yang ada viewfindernya karena umumnya kamera jenis untuk membidik obyek melalui LCD Screen. Dan kelemahannya adalah kalau memotret di bawah terik matahari. Obyek tidak kelihatan karena screen-nya gelap. Jadi sangat tidak memungkinkan memakai manual focus.

Pilihan saya jatuh pada Sony A6000. Kenapa Sony? Karena lensa tele saya tidak ikut hilang dan kondisinya masih sangat prima, sayang kalo nggak dipakai. Reviewnya cukup bagus, saya baca di sini dan di sini . Spesifikasinya sesuai dengan yang saya cari. Harganya sekitar 8 jutaan. Katanya sih ini kamera kelas intermediate. A5000 lebih cocok bagi yang baru belajar fotografi sedangkan untuk yang pro, Sony menyediakan kamera mirrorless full frame A7R yang harganya di atas 20 juta. Wiiihh...

Soal hasil foto, saya percaya secanggih apapun kameranya kalau nggak diimbangi dengan kemampuan fotografi hasilnya tidak akan maksimal. Menguasai kemampuan dasar fotografi yaitu komposisi, angle dan segitiga eksposure (Exposure Triangle) adalah modal awal. Selanjutnya kita bisa mempertajam kemampuan fotografi dengan banyak melihat hasil foto fotografer pro. Melihat EXIF foto-foto mereka. Jadi memotret nggak hanya pake auto mode lagi..

Jadi kenapa mirrorless ?

  1. Bodinya imut dan ringan jadi bisa masuk hand bag. Nggak ribet bawa tas kamera.
  2. Lensanya bisa diganti-ganti 
  3. Karena saya suka street photography, suka mengambilnya dengan cara candid. Maka keberadaan kamera jenis ini tidak terlalu mencolok sehingga mengganggu obyek yang dibidik. Karena kadang, saat obyek menyadari ada kamera maka hasil foto tidak natural lagi atau malah menolak untuk difoto. 

Dan inilah beberapa hasil jepretan si Sony A6000.

ISO 200, f/5.6, 1/160 Lokasi : Muizz Street, Cairo

ISO 250, f/5.6, 1/125 Lokasi : Muizz Street, Cairo

ISO 100, f/5.6, 1/160 Lokasi : Istanbul, Turki

ISO 100, f/5, 1/160 Lokasi: Attaba, Cairo


ISO 100, F 11, 1/160 Lokasi : Alexandria


Jan 16, 2016

Gereja di Arab

Gereja di Arab?? Emang ada ya? Ya ada dong.. Umat Kristiani di negara-negara Arab tersebar di Mesir, Jordania, Syria, Lebanon, Irak, dan Palestine.

Di Mesir sendiri ada sekitar 11 persen penganut Coptic (Qibthi) dari total 82,06 juta penduduk. Mereka sudah terlebih dahulu tinggal di Mesir sebelum Islam masuk tahun 640 Masehi. Pada saat Amr bin Ash mendapat tugas menaklukkan Mesir dari tangan Romawi, Rasulullah SAW malah berpesan agar berbuat baik pada orang Qibthi.  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).

Pernah mendengar nama Mariyah al Qibthiyah? Seorang budak wanita Koptik Mesir yang dikirim oleh Muqawqis (salah satu penguasa Koptik) sebagai hadiah untuk Rasulullah SAW. Maria lalu menjadi muslim dalam perjalanannya menuju Madinah dan kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW. Dari penikahannya tersebut Mariyah melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ibrahim namun meninggal dunia ketika bayi. 

Karena keterkaitan sejarah itulah maka tak heran hingga saat inipun hubungan umat Koptik dan Muslim di Mesir sangat harmonis. 

Karena tinggal di Arab ya mereka juga berbahasa Arab. Kitab injil yang mereka baca juga bertulisan Arab. Di gereja, banyak kaligrafi Arab seperti halnya yang terdapat di masjid. Lafadz seperti InsyaAllah, masyaallah, Alhamdulillah akan biasa kita dengar di sini. Injil yang mereka bacapun berbahasa Arab.

Pernah suatu kali, saya melihat seseorang membaca sebuah kecil di metro. Saya pikir dia sedang tilawah Qur'an karena orang Mesir biasa melakukannya di tempat umum. Tapi saya baru ngeh kalau yang di baca itu adalah injil setelah saya melihat tatto salib di pergelangan tangannya. 

Seringkali juga orang Mesir bertanya pada saya. "Enty muslim?" Saya sendiri agak heran kenapa mereka menanyakan hal itu. Bukankah sudah jelas kalau saya muslim karena saya pakai jilbab? Ternyata sebagian umat Koptik juga memakai jilbab/hijab. 

Nah biar nggak penasaran, saya akan tunjukkan gereja yang ada di Kairo. Ada 2 gereja besar yang cukup populer. Yang pertama Hanging Church yang merupakan gereja tertua di Mesir. Dan Cave Church atau St Simon Church, gereja yang relatif baru namun unik.

Hanging Church

Dibangun pada sekitar abad ke 4 Masehi. Bisa dikatakan situs gereja ini adalah yang tertua di dunia. Namun bangunannya sudah mengalami rekonstruksi ulang pada tahun 1909 karena sempat hancur pada saat perang salib. 

Gerbang utama sebelum masuk gereja. Ornamennya mirip masjid2 yang ada di Mesir.


Pintu kedua masuk gereja. 

Interior gereja

Tulisan Arab di mana-mana :D

Biar lebih jelas, tapi saya nggak tau bacaannya sih hehehe..


Cave Church (St Simon Church)

Gereja ini relatif baru karena dibangun sekitar tahun 1987 namun karena bentuknya yang unik maka cukup menarik untuk dikunjungi. Dibangun di bawah gunung Mokattam, maka itu dinamakan cave church. Lokasi gereja ini berada di Mansiyat Nasr atau lebih populer dengan nama Garbage City. Iya namanya kota sampah karena di daerah ini banyak yang bekerja sebagai pengumpul sampah atau pemulung. Hampir 100% warga garbage city adalah orang Koptik.

  

Salamlikum


Pintu masuk 

Gereja ini bisa menampung sekitar 2000 jamaat

Cuplikan salah satu ayat dalam Injil

Diorama


Karena tinggal di negara yang berbahasa Arab, kitab yang digunakan tentu saja bertulisan Arab :D














Dec 1, 2015

This is Cairo

Ada berbagai cara menikmati keindahan ibukota negara yang dijuluki negeri seribu menara ini. Kota dimana kuno dan modern berpadu menjadi harmoni yang sempurna. Eksotis kata para turis.

Menyusuri sungai terpanjang di dunia yang membelah kota dengan menyewa felucca, perahu layar khas Mesir. Private ataupun sharing. Jika memilih sharing bareng orang lokal hanya dengan membayar 3 LE saja atau sekitar (5000 rupiah). Sedang kalau mau private sedikit lebih mahal yaitu 60 LE per jam.

Bisa juga mencoba berjalan kaki menyusuri bundaran Tahrir yang bersejarah itu, lalu downtown hingga kawasan tua Hussein. Tak akan terasa capek karena kita disuguhi deretan bangunan ala Eropa di downtown dan tiba di Hussein bertemu bangunan-bangunan berarsitektur Mamluk.

Dan satu lagi dengan menikmatinya dari ketinggian. Kalau Jakarta punya Monas, Kuala Lumpur punya menara Petronas, Dubai punya Burj Khalifah, Cairo juga punya gedung tinggi untuk menikmati panorama kota. Cairo Tower namanya.

Tower setinggi 187 meter ini dibangun tahun 1956. Menjadi bangunan tertinggi di Mesir dan Afrika Utara selama kurun waktu 50 tahun. Sebelum berdiri gedung-gedung tinggi lainnya di Cairo tahun 90an.

Untuk tiket masuk seharga 75 LE cukup sebanding dengan suguhan pemandangan yang ikonik. Dari atas ketinggian 187 meter kita bisa melihat sungai Nil yang melegenda membelah kota dengan deretan hutan beton mengelilinginya.

Waktu terbaik naik ke tower ini adalah sore menjelang senja hingga malam. Mengabadikan matahari yang perlahan tenggelam lalu berganti gemerlap lampu kota. Cantik.

Kalau mau romantic dinner dengan pasangan, ada restaurant di atas tower. Harganya juga cukup reasonable koq. 

Jadi jika ada kesempatan berkunjung ke Cairo, masukkan Cairo tower dalam itinerary selain Pyramid Giza tentu saja.

Inilah Cairo dari puncak Cairo Tower..

Cairo dan sungai Nil-nya

Keruwetan Cairo tertangkap jelas dari tower ini

Hutan beton
Cairo waktu  malam


Cairo Tower
Terakhir, narsis :D

Di publish juga di Detik Travel

Sep 22, 2015

Ada Scammer di Luxor, Ini Modusnya

Luxor adalah kota kecil. Kota yang jauh dari hingar bingar klakson kendaraan bermotor, dan tentu saja nyaris bebas polusi udara. Tidak ada ritual macet seperti di Kairo. Secara umum, orang-orangnya ramah seperti kebanyakan masyarakat desa di pinggiran Kairo.

Namun demikian, Luxor tak lantas bebas dari scammer. Seperti kebanyakan kota-kota tempat tujuan wisata lainnya. Modusnya juga macam-macam. Saya sih sebenernya nggak nyangka bakalan kena scam. Selain mas suami yang fasih bahasa 'amiyah, saya lihat orang Luxor tergolong lugu dan ramah dibanding orang Kairo. Ternyata... kena juga hehehe..

Caleche 5 Pound

Caleche adalah kereta kuda atau semacam delman tapi keretanya agak tinggi dibanding delman. Caleche ini memang menjadi salah satu pilihan transportasi untuk keliling menikmati pusat kota luxor yang tidak begitu luas. Biasanya mereka ngetem di dekat hotel dan sekitar corniche Nil selain berlalu lalang menawarkan jasa.

Caleche


Sore hari, waktu kami jalan-jalan di tengah kota sekelompok kusir caleche menawari kami untuk naik.
"Five pound.. five pound" 
Awalnya kami mengabaikannya karena memang berniat jalan kaki saja sambil mencari tempat makan. Namun belakangan Bapaknya anak-anak menyerah dengan tawaran para kusir caleche. "Kita coba aja, lagian murah ini koq.." ujarnya meyakinkan saya. Lalu dia mendekat dan bertanya, untuk memastikan tarifnya. "Khamsah gineh ??" 
"Aiwah.. tafadhol" kata si kusir 
Setelah yakin, kamipun naik. Baru beberapa saat berada di atas caleche, sang kusir bercerita panjang lebar tentang Luxor. Kami cukup menikmati suasana Luxor sore itu.

Dia lalu menawari kami mampir ke sebuah tempat. Dia bilang di tempat itu banyak souvenir untuk oleh-oleh. Lalu suami bilang kalau kami tinggal di Kairo dan di Kairo banyak barang-barang seperti itu. "Tapi di sini lebih murah dari di Kairo. Coba aja lihat-lihat dulu.."

Lagi-lagi pak suami menyerah dan mengatakan, "Ok.."

Dan masuklah kami ke sebuah toko yang tampak remang-remang. Ada banyak lukisan papyrus di pajang di lantai bawah. Tapi kami nggak tertarik sama sekali. Di Khan Khalili banyak yang lebih bagus. Kami di arahkan menuju lantai 2 yang katanya ada souvenir lainnya. Lampu baru dinyalakan saat kami naik. Beuhh.. kotor, sumpek, gelap... Buru-buru kami turun dan menyudahi kunjungan yang tak menyenangkan ini.

Kami lalu naik caleche dan minta kusir untuk mengantarkan kami ke corniche (tempat awal kami naik). Setelah beberapa meter berjalan, saya mendengar suami sedikit berdebat dengan kusir caleche.

Sampai di depan Luxor temple, caleche berhenti. Kami berempat turun dan suami menyusul sambil ngomel. Kusir caleche pun demikian sambil sedikit teriak memanggil suami. Tapi pak suami cuek sembari menjauh. 

Kenapa sih, tanya saya.

Suami lalu bercerita kalau si kusir caleche ini coba menipunya. Pak kusir minta ongkos 50 poundsterling. Tentu saja suami ngotot karena kesepakatan di awal 5 LE. Tapi si kusir berkilah bukan 5 pound mesir tapi 50 pound Inggris. Pak suami ngasih 60 LE sambil berlalu tapi si kusir brusaha mengejar kami karena nggak terima di kasih ongkos segitu. Suami bilang sama si kusir
"Demi Allah, kamu itu nipu, nggak barokah tuh kalau cari uang dengan cara begitu".
Setelah itu barulah si kusir berhenti mengejar kami.

Banana Island

Hari terakhir di Luxor kami hanya bertiga (saya, suami dan si sulung) keluar hotel untuk jalan-jalan. Waktu saya sibuk ambil foto di corniche, suami terlibat percakapan dengan seseorang. Ternyata pria itu menawari kami naik felucca (perahu layar khas Mesir).

"Cuma 50 LE koq, nanti kita diantar ke banana island. Kamu kan penasaran sama pulau pisang itu hehehe.." Begitu kata suami menjelaskan

"Iya di sana ada mini zoo juga, kalian juga bisa naik keledai. Terus di sana itu kampung suku Nubian. Kalian bisa lihat kehidupan mereka dari dekat." Si pemilik felucca coba ngompori saya.
"Ogah ah.. ntar dia nipu. Kita kena tertipu kayak kemaren itu" Saya berusaha tidak tergoda.
"Sepertinya dia baik koq.." kata suami

Akhirnya jebol juga pertahanan saya. Menyerah atas kehendak suami. Naiklah kami bertiga ke perahu. Sebelum berlayar ke pulau pisang kami minta mampir ke belakang hotel untuk jemput 2 anak yang lain. Karena memang kebetulan hotel tempat kami menginap persis berada di pinggir Nil.

Sampai di Banana Island saya tak melihat sesuatu yang istimewa. Ya hanya kebun pisang. Ini sih banyak di Indonesia hehehe... Yang katanya mini zoo juga hanya berisi rusa, buaya, dan monyet dengan kondisi yang amat memprihatinkan. Sekitar 10 menit saja kami di pulau itu.

Tiba-tiba seorang pria menyodori kami sesisir pisang lalu meminta kami membayar 20 LE per orang. Jadi untuk kami berlima kami harus bayar 100 LE. Tentu saja kami kaget.

"Tuuhh kan kena lagi kita mas.." gerutu saya pada suami.

Tapi kami ngeloyor saja meninggalkan orang itu. Pemilik felucca juga memaksa kami membayarnya. Suami tentu saja menolak. Karena tidak ada penjelasan di awal. Dia juga bilang kalo tau di suruh bayar mana mau kami diajak ke kebun pisang. Wong di Indonesia kebun seperti ini juga banyak.

Tetap saja pemilik felucca itu ngeyel untuk menerima pisang dan membayarnya. Akhirnya daripada berlama-lama suami memberinya uang 50 LE dan segera berlalu meninggalkan orang itu. Sepanjang perjalanan saya ngomel dan pasang wajah jutek. Jengkel karena 2 kali kena scam di Luxor. Huhuhuhu..



Felucca 

Pemandangan Banana Island alias Pulau Pisang dari atas felucca :D

Mungkin kalau orang Arab takjub lihat pemandangan ini. Tapi buat saya... yeee beginian mah banyak di kampung hahaha..

Di tengah kebun pisang ada bangunan ini. Sepertinya ini rumah burung merpati. Kalau di Jawa namanya pegupon hehehe..

Tapi biarpun 2 kali ketemu scammer dan itu amat menjengkelkan. Namun kami juga bertemu orang baik di kota ini. Kami tidak kenal orang ini. Beliau adalah teman dari pamannya teman suami (bingung ya hahaha).

Keluarga koptik yang baik hati. Walaupun tidak ada hubungan apa-apa dengannya, mereka menjamu kami , mengantar dan menjemput kami dari hotel. Menraktir kami di sebuah restoran. Bahkan menawari kami untuk upgrade kamar hotel. Tidak cukup hanya itu dia memberi kami oleh-oleh. Lalu berpesan, kalau ke Luxor lagi dia akan service kami di hotel milik keluarganya, free of charge.

Orang jahat memang banyak, tapi nggak sedikit juga orang baik di dunia ini.. 










Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy