Feb 19, 2016

Advertisement

Kenapa Pilih Kamera Mirrorless?

Advertisement





Pertama kali punya kamera tahun 1995, kamera pocket merk Canon Prima. Cukup lama juga sih pakai kamera ini. Lalu sekitar tahun 2001 beli kamera yang agak serius. Sebuah kamera SLR Canon (tipenya lupa :D). Waktu itu fotografi tergolong hobi mahal. Karena kita harus beli film lalu mencetaknya untuk mengetahui hasilnya.

Maka itu saya lebih sering menggunakan auto mode ketimbang otak atik manual mode untuk meminimalisir resiko gagal. Dan untuk tahu hasilnya nunggu filmnya habis dulu. Beruntung kalau jadi semua, wong kadang banyakan yang nggak jadi hehehe... Rugi deh beli film isi 36 ditambah ongkos cuci cetaknya.

Tapi lama-lama saya suka malas bawa kamera ini, makan tempat karena bodinya yang gede. Saya harus bawa tas kamera khusus. Padahal anak-anak masih kecil waktu itu. Ribet banget kalau mau pergi. Seringnya kamera ditinggal di rumah karena ogah ribet itu. Jadi seringkali banyak moment yang luput diabadikan. Kamera hanya dipakai untuk motret anak-anak di rumah.

Tahun 2004 jamannya kamera digital saya beli kamera saku digital Nikon Coolpix. Lumayan juga sih, hobi jeprat jepret tersalurkan tanpa mikirin beli film dan ngeluarin ongkos cetak. Kalau mau cetak juga bisa dipilih yang bagus. Lainnya simpan di komputer. Simple. Tapi lama-lama saya koq merasa hasil foto dari kamera ini kurang memuaskan ya..

Tahun 2010 waktu liburan ke Hongkong saya kepincut sebuah kamera. Rekomendasi dari yang punya toko juga sih. Sony NEX 3, kamera mirrorless dari Sony yang baru di release waktu itu. Kamera yang memiliki resolusi 14,20 MP ini LCDnya cukup lebar. Kelebihannya lensanya bisa diganti-ganti (interchangeable lens). Harganya sekitar 4 jutaan. Cukup murah jika dibandingkan di Indonesia yang masih sekitar 6 jutaan. Yang paling penting bodinya compact, nggak harus pake tas khusus kamera. Dan hasil foto sekelas DSLR non mirrorless.

Ketertarikan saya pada fotografi semakin menjadi-jadi ketika pindah ke Cairo. Banyak obyek menarik di sini. Hingga saya merasa butuh tambahan lensa. Karena lensa kit  kamera NEX 3 saya adalah jenis pancake yang cocok untuk fotografi landscape atau wide angle. Lalu tahun 2012 saya beli lensa tele SEL 55210 untuk menambah performa si NEX 3.

Sayangnya, tahun 2014 saya harus kehilangan NEX 3 kesayangan saat menunaikan ibadah haji. Semua dokumentasi selama haji lenyap hiks..hiks..

Ini kenang-kenangan si NEX 3

ISO 200, f/6,3 16 mm, 1/1250 Lokasi : Pyramid Giza, Cairo
ISO 200, f/9 210 mm, 1/8 Lokasi : Di rumah

Harus menunggu sekitar 3 bulan untuk memutuskan beli kamera lagi. Tentu sambil rayu-rayu suami biar dibeliin hahaha..Tanpa kamera saya berasa mati kutu. Karena hobi tidak tersalurkan.

Mulai deh browsing review kamera. Jenis mirrorless masih jadi pilihan. Saya sudah terlajur nyaman dengan kamera jenis ini. Kali ini saya cari kamera mirrorless yang ada viewfindernya karena umumnya kamera jenis untuk membidik obyek melalui LCD Screen. Dan kelemahannya adalah kalau memotret di bawah terik matahari. Obyek tidak kelihatan karena screen-nya gelap. Jadi sangat tidak memungkinkan memakai manual focus.

Pilihan saya jatuh pada Sony A6000. Kenapa Sony? Karena lensa tele saya tidak ikut hilang dan kondisinya masih sangat prima, sayang kalo nggak dipakai. Reviewnya cukup bagus, saya baca di sini dan di sini . Spesifikasinya sesuai dengan yang saya cari. Harganya sekitar 8 jutaan. Katanya sih ini kamera kelas intermediate. A5000 lebih cocok bagi yang baru belajar fotografi sedangkan untuk yang pro, Sony menyediakan kamera mirrorless full frame A7R yang harganya di atas 20 juta. Wiiihh...

Soal hasil foto, saya percaya secanggih apapun kameranya kalau nggak diimbangi dengan kemampuan fotografi hasilnya tidak akan maksimal. Menguasai kemampuan dasar fotografi yaitu komposisi, angle dan segitiga eksposure (Exposure Triangle) adalah modal awal. Selanjutnya kita bisa mempertajam kemampuan fotografi dengan banyak melihat hasil foto fotografer pro. Melihat EXIF foto-foto mereka. Jadi memotret nggak hanya pake auto mode lagi..

Jadi kenapa mirrorless ?

  1. Bodinya imut dan ringan jadi bisa masuk hand bag. Nggak ribet bawa tas kamera.
  2. Lensanya bisa diganti-ganti 
  3. Karena saya suka street photography, suka mengambilnya dengan cara candid. Maka keberadaan kamera jenis ini tidak terlalu mencolok sehingga mengganggu obyek yang dibidik. Karena kadang, saat obyek menyadari ada kamera maka hasil foto tidak natural lagi atau malah menolak untuk difoto. 

Dan inilah beberapa hasil jepretan si Sony A6000.

ISO 200, f/5.6, 1/160 Lokasi : Muizz Street, Cairo

ISO 250, f/5.6, 1/125 Lokasi : Muizz Street, Cairo

ISO 100, f/5.6, 1/160 Lokasi : Istanbul, Turki

ISO 100, f/5, 1/160 Lokasi: Attaba, Cairo


ISO 100, F 11, 1/160 Lokasi : Alexandria


Advertisement

5 comments:

Lidya Fitrian said...

aaaah mbak, aku jadi mupeng pingin punya kamera

Ellys Utami said...

Iya mbak Lidya.. Kamera mirrorless ini katanya kamera perempuan soalnya emang nggak bikin ribet sih hehehe...

bersapedahan said...

waaa memang keren hasilnya ... saya juga kepengennnn
saat ini masih pake camera pocket ... mudah2-an nanti pakai mirrorless juga

Kamera GoPro said...

bagus hasil gambarnya..

Kamera GoPro said...

bagus hasil gambarnya..

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy