Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sep 16, 2015

Masjid Amr bin Ash, Masjid Pertama di Mesir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).

Jika masjid Ibn Tholun merupakan masjid tertua ketiga di Kairo maka Masjid Amr bin Ash adalah masjid pertama di Mesir bahkan di Afrika. Masjid ini didirikan oleh Amr bin Ash tahun 641-642 M, setelah berhasil menaklukkan Mesir dari tangan Romawi.

Siapa Amr bin Ash?

Amr bin Ash adalah salah satu tokoh pahlawan era Rasulullah yang terkenal cerdik dalam taktik perang dan pemberani. Penunggang kuda yang mahir, negosiator ulung, dan ia juga seorang penyair yang puitis. Beliau juga dikenal sebagai orang yang memiliki kecerdasan luar biasa untuk keluar dari situasi yang sulit dengan tenang sekaligus menemukan solusinya.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, Amr bin Ash dipercaya memimpin pasukan untuk menduduki Mesir. Yang pada waktu itu berada dibawah kekuasaan negara adidaya Romawi. Bersama 4000 pasukan Amr bin Ash melawan 50.000 pasukan Romawi yang kuat. Meski kekuatan pasukan tidak seimbang, namun Amr bin Ash berhasil membuat pasukan Romawi bertekuk lutut. 

Setelah berhasil menaklukkan Mesir, Amr bin Ash diangkat menjadi gubernur. Ia mendirikan kota Fustat berikut masjid yang letaknya tidak jauh dari gereja yang sudah berdiri sejak abad 3 Masehi.

Metamorfosis Masjid Amr bin Ash

Bentuk awal masjid ini cukup sederhana. Berukuran 29 x 17 meter. Dindingnya terbuat dari batu bata dengan tiang yang terbuat dari batang pohon kurma. Sedangkan atapnya juga diambil dari daun kurma kering. Mihrab tempat imam sholat hanya ditandai dengan 4 tiang kayu. Lantainya juga hanya berupa tanah.

Tahun 673 M, gubernur Maslama ibn Mukhallad al-Ansari merenovasi masjid untuk pertama kali. Diperluas dan ditambah dengan menara di 4 sudut masjid. Berfungsi sebagai tempat adzan. Berikutnya masjid terus diperluas dan disempurnakan bentuknya. Tahun 827, oleh Gubernur Abdullah ibn Tahir interior masjid dipercantik dengan arcade (lorong yang terbentuk dari barisan kolom dengan lengkungan diatasnya). Di era Fatimiyah, menara masjid ditambah menjadi 5. 1 tambahan menara diletakkan di pintu masuk masjid.

Pada tahun 1169 kota Fustat termasuk masjid ini dibakar oleh seorang menteri bernama Shawar untuk menghindari penyerangan oleh pasukan salib. Namun setelah Shalahuddin al Ayyubi mengambil alih kekuasaan, tahun 1179 masjid dibangun kembali . 

Pada masa dinasti Mamluk, sekitar tahun 1796 M. Sebelum kedatangan pasukan Perancis dibawah pimpinan Napoleon, Sultan Murad Bay membongkar total lalu merenovasi masjid ini karena bangunannya yang sudah rapuh. Berikutnya tahun 1875 masjid direnovasi ulang. Dan terakhir tahun 1980 masjid mengalami rekonstruksi pada bagian pintu masuk.

Masjid Amr bin Ash sekarang

Masjid Amr bin Ash hingga kini masih rutin dipakai untuk sholat berjamaah. Turis asing juga tidak dilarang masuk ke masjid ini. Asalkan memakai pakaian yang sopan. 

Biasanya pada setiap malam 27 bulan Ramadhan, yang dipercaya sebagai malam lailatul qadar.  Masjid ini menjadi penuh. Bahkan hingga 1 km di luar area masjid. Warga berduyun-duyun untuk mengikuti shalat tarawih. Tak jarang, warga dari luar kota Kairo ikut berbondong-bondong. Untuk mendapat shaf-shaf depan, mereka sudah datang sejak jam 2 siang. Karena imam sholat tarawih hari itu adalah Syeikh Muhammad Jibril  seorang qari` yang dikenal memiliki suara merdu. Beliau memang rutin menjadi imam sholat tarawih di masjid ini sejak tahun 1988.

Masjid ini bukan hanya punya cerita sejarah yang panjang, namun juga menjadi simbol ketaatan umat Islam pada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu berbuat baik pada orang Qibthi, dan wajib melindungi mereka. Terbukti gereja tidak serta merta dihancurkan ketika Islam menguasai Mesir.

Sisi barat

Pintu di sisi selatan
Tempat wudhu di halaman tengah

Arcade atau kolom-kolom yang berbentuk lengkung di atasnya menjadi ciri khas masjid-masjid di Mesir
Turis asing tampak mengagumi masjid bersejarah ini
Beginilah suasana tarawih malam 27 Ramadhan di Masjid Amr bin Ash (Source)

Apr 2, 2015

Jejak Sejarah yang Hilang di Masjid al Haram


"Wah masjid ini beda banget sama pas aku ke sini beberapa tahun lalu. Dulu nggak ada bangunan ini," Kata Dilla teman satu rombongan sambil menunjuk salah satu sudut masjid.

Masjid tempat kiblat umat Islam berada ini memang terus berbenah. Mengalami renovasi besar-besaran sejak tahun 1980an. Menjadi salah satu sebab kuota haji dikurangi dalam beberapa tahun terakhir, hingga antriannya semakin panjang dan lama. 

Penyempurnaan bangunan terus dilakukan oleh pemerintah Saudi sebagai upaya memberi pelayanan terbaik bagi para tamu Allah. Yang sepanjang tahun tak pernah berhenti datang dari seluruh penjuru dunia. Menjadikan para peziarah semakin nyaman beribadah. Seperti misalnya tempat thawaf dan sa'i yang kini menjadi 3 lantai. Perluasan area masjid serta penambahan fasilitas lainnya.


Sejarah Masjid

Masjid seluas 356.800 meter persegi (88,2 hektar) ini merupakan masjid terbesar di dunia. Menampung hingga dua juta jamaah selama musim haji. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644), masjid mulai dibangun didahului dengan pembongkaran rumah-rumah disekitar Ka'bah . Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi jumlah peziarah yang semakin banyak

Lalu, pada masa Khalifah Ustman bin Affan (644-656) area sholat diperluas dan ditambah dengan kolom kayu sebagai penyangga atap. Masjid masih berupa ruang terbuka tanpa dinding dengan Ka'bah sebagai pusatnya.

Tahun 692, ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa, masjid mengalami renovasi besar pertama. Dinding luar ditinggikan, langit-langit masjid dilapisi kayu dan dicat emas. Tahun 705-715 kolom kayu diganti dengan marmer dan dihiasi dengan mozaik. Selanjutnya di era Dinasti Abbasiyah pada masa Khalifah Abu Ja'far al-Mansur (754-775), kolom-kolom masjid dipercantik dengan mozaik. Dan menambahkan menara di Bab al Umra yaitu di sebelah barat laut.

Masih di era dinasti Abbasiyah, masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) dilakukan perluasan masjid karena jumlah peziarah yang semakin membludak. Bangunan lama dibongkar berikut rumah-rumah yang berdiri disekitar masjid. Masjid menjadi semakin luas dihiasi kolom marmer yang didatangkan dari Mesir dan Syiria. Masjid juga ditambah dengan 3 menara yang masing-masing berdiri di atas Bab al-Salam, Bab Ali dan Bab al-Wadi.

Pada tahun 1399, masjid mengalami kerusakan akibat kebakaran. Sebagian yang lain rusak karena air. Hingga masjid kembali dibangun pada masa Nasir Faraj bin Barquq, salah satu sultan era Dinasti Mamluk. Kolom marmer diganti dengan kolom batu yang diambil dari wilayah Hijjaz sedangkan atap ditambal dengan kayu yang diambil dari pegunungan di daerah Thaif,

Tahun 1571, pada masa dinasti Ottoman Turki, Sultan Selim II menugaskan kepala arsitek Mimar Sinan untuk merenovasi masjid. Yaitu penggantian atap datar dengan kubah. Menghiasi interiornya dengan kaligrafi emas dan penambahan tiang penyangga baru. 

Tahun 1611 masjid kembali mengalami kerusakan, hingga direnovasi kembali tahun 1629 pada masa pemerintahan Sultan Murad IV (1623-1640). Penambahan arcade dengan kolom-kolom yang lebih ramping diperindah dengan medali berbentuk prasasti diantara lengkungan. Lantai disekitar Ka'bah diganti dengan marmer. Pada bagian eksterior, masjid ditambah lagi dengan 7 menara.

Renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 1955 dan 1973 atas perintah Raja Abdul Aziz. Yaitu pembangunan tempat sa'i yang dihubungkan dengan bagian utama masjid. Mengganti lantainya dengan marmer dan membangunnya menjadi 2 lantai. Tahun 1982 mulai dilakukan renovasi besar pada masjid Al Haram ini dan masih berlangsung hingga saat ini.

Dan... Masjid al Haram Kini

Beberapa bagian masjid peninggalan masa kesultanan Ottoman Turki tahun lalu masih tersisa sebagian, mungkin tidak sampai separuh. Arcade lama (Peninggalan sultan Murad IV) dibongkar dalam rangka perluasan area thawaf. Mungkin nanti akan dibongkar seluruhnya.

Sebagai penikmat sejarah, saya cukup menyayangkan dengan kondisi ini. Apalagi saya juga sudah terbiasa melihat situs-situs bersejarah di Mesir utuh dan terawat hingga kini. Masjid-masjid tua yang tidak sedikitpun diubah.

Padahal kalaupun bagian masjid yang lama tetap dipertahankan, saya rasa bisa karena tidak mengganggu. Rasanya gimana gitu menyentuh bangunan yang dibangun ratusan bahkan ribuan tahun lalu. 


Sebaliknya, gedung-gedung pencakar langit semacam Abraj Al Bait Tower yang konon adalah salah bangunan kedua tertinggi di dunia, hotel-hotel dan mall mewah seakan tumbuh bak jamur disekitar area masjid. Sampai ada lelucon, "Abis thawaf di masjid lanjut thawaf di mall yuk!"


Kini Ka'bah seolah terkepung pencakar langit dan makin tenggelam.  Zam-zam tower seakan menjadi landmark baru kota Mekkah. Jejak sejarahnya seolah lenyap, hanya tersisa cerita.

Arcade lama yang dibangun pada masa kekhalifahan Turki Usmani.
Tahun lalu bagian ini sudah tinggal tak sampai setengah lingkaran. Karena memang bangunannya melingkari Ka'bah


Renovasi masjid yang dilakukan terus menerus  
Penambahan area thawaf menjadi bagian dari renovasi
(suasana pada musim haji tahun 2014) 

Arcade pada bangunan masjid baru  
Salah satu bagian dari bangunan masjid yang baru  
Landmark baru kota Mekkah


Sumber sejarah :

The Holy Mosque, Mecca
(www.sacred-destinations.com)

Nov 25, 2014

Hijjaz Railway, Madinah



Museum Madinah
di bekas stasiun kereta api

Informasi mengenai tempat ini kami dapatkan dari 2 orang mahasiswa Lamongan yang kuliah di Madinah. Tempat yang mungkin jarang masuk dalam daftar ziarah jamaah haji atau umrah Indonesia. Padahal letaknya hanya sekitar 1 km di selatan masjid Nabawi. Tepatnya di bundaran Bab al Anbariyah. 

Cukup jalan kaki. Atau kalau sedang tidak ingin jalan, naik taxi dari depan masjid Nabawi hanya 5 riyal ongkosnya. Bilang saja Mahattah Hijjaz ke sopir taxi.

Terbukti pada saat ke sana, hanya jamaah dari Turki yang banyak kami temui. Maklum saja, tempat ini merupakan salah satu peninggalan khalifah Turki Usmani ketika menguasai Hijjaz (1517-1915). 

Bangunan bergaya arsitektur Usmani, sebelumnya merupakan stasiun kereta api, sebelum beralih fungsi menjadi museum Al Madinah Al Munawwarah. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke sini. Buka mulai pukul 9.00 hingga pukul 21.00. 

Museum ini menyimpan berbagai benda-benda bersejarah. Antara lain beberapa manuskrip yang ditemukan di sekitar Mekkah dan Madinah, busur yang pernah digunakan oleh Sa'ad bin Abi Waqass. Gambar-gambar kota Madinah lama bahkan uang yang digunakan pada jaman Nabi.


Surat nabi pada gubernur Mesir

Panah Sa'ad bin Abi Waqass


Manuskrip Qur'an abad ke 12


Sedikit cerita tentang jalur kereta api Hijjaz...

Jalur kereta api ini awalnya dibangun untuk mengangkut jamaah haji dari Damaskus (Syiria) dan Madinah melalui Amman, Jordania. Ide pembangunannya sudah tercetus tahun 1864 ketika kereta api menjadi moda transportasi paling populer masa itu.

Sebelum dibangun jalur kereta api, perjalanan haji dari Damaskus memakan waktu hingga 2 bulan. Merupakan jalur yang sangat berat. Terutama untuk menaklukkan tantangan suhu yang ekstrim. Sangat dingin bila musim dingin dan panas kering waktu musim panas.

Pada tahun 1908, jalur kereta api Hijjaz ini resmi dibuka. Menghabiskan dana yang tidak sedikit. Sumbangan dari berbagai pihak diantaranya Sultan Abdul Hamid (Turki), Khedive Mesir dan Shah Iran. Juga hasil dari penggalangan dana dari masyarakat luas.

Tahun 1912, kereta api mampu mengangkut 30.000 jamaah. Namun mengalami lonjakan hingga 300.000 jamaah tahun 1914. Butuh biaya yang tidak sedikit terutama untuk menjaga jalur kereta api ini dari gangguan suku2 di pedalaman Arab. Yang merasa sumber penghasilan tahunannya berkurang akibat jamaah yang sebelumnya menggunakan jasa mereka sebagai pemandu dan pemilik unta sewaan. Sekitar 5000an tentara Turki dikerahkan untuk menjaga jalur ini.

Selama PD 1 (1914-1918) berlangsung, jalur kereta api mengalami kerusakan yang parah bahkan hancur. Sempat akan dibangun kembali setelah PD 1 usai namun biaya yang dibutuhkan sangat mahal. Terlebih lagi pada tahun 1971 pembangunan jalan raya dan jalur penerbangan sedang mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Kini jalur kereta api ini hanya menyisakan kenangan. Tertarik mengunjungi tempat ini..?



Bagian dalam museum

Display di lantai 2


Rel kereta di bagian belakang museum




Sep 22, 2014

Masjid Muayyad, Masjid di Bekas Penjara

Tujuan awal saya sebenarnya adalah Museum of Islamic Art. Museum ini terletak di jalan Port Said, daerah perdagangan paling ramai di Kairo. Meski sudah 3 tahun tinggal di Kairo, saya tak pernah kesampaian masuk ke museum itu. Penasaran? Tentu saja.. Hingga akhirnya kami dievakuasi dari kota ini Juni 2013 lalu.

Januari 2014, beberapa minggu sebelum saya kembali ke Kairo, bom mobil meledak di depan kantor kepolisian provinsi Kairo. Museum itu terkena dampak dari dahsyatnya ledakan bom. Karena letaknya yang berada persis berhadapan dengan kantor polisi. Sejak itu museum ditutup. Saya pikir selang beberapa bulan setelah peristiwa itu, museum sudah diperbaiki dan dibuka kembali. 

Hingga beberapa waktu lalu saya mengajak suami menyambangi museum itu. Dari jauh terlihat gedung kantor polisi sedang di perbaiki dan satu jalur di jalan Port Said ditutup dengan seng berwarna kuning. Dari berita yang saya baca waktu kejadian, jalan tersebut berlubang cukup besar. 

Pandangan saya arahkan ke kanan, berharap museum tidak hancur seperti bangunan di depannya. Ternyata di luar dugaan. Pintu museum ditutup dengan batu bata yang disemen. Tampak beberapa bagian bangunan itu hancur. Dampak bom sangat luar biasa. Saya tak berani memotret. Hanya bisa tertegun memandangi dan menyesalinya.

Menyesal sekali belum pernah masuk ke museum itu padahal sudah cukup lama di Kairo. Dan beberapa kali melewatinya. Hiks..

Untuk menebus kekecewaan, dan pulang dengan tangan kosong (tanpa foto maksudnya hehehe...) kami berjalan ke arah barat menyusuri jalan menuju Bab Zuweyla. Pintu selatan kota Kairo masa dinasti Fatimiyah. Untuk kemudian menyusuri jalan Muizz (Sharia Muizz). 



Masjid Sultan Muayyad 




Setelah berjalan hampir 1 km, Dibalik pintu Zuweyla ini berdiri sebuah masjid . Dulu saya pernah juga ke tempat ini tapi tak sempat masuk ke dalamnya. Masjid Sultan Muayyad, yang juga merupakan komplek madrasah dan khanqah yaitu tempat belajar sekaligus asrama para sufi.


Masjid ini dibangun antara tahun 1415-1422 Masehi  pada masa dinasti Mamluk oleh Sultan al Muayyad. Sebelum dibangun menjadi masjid, tempat tersebut merupakan penjara paling menakutkan. Tulang-tulang orang yang mati di penjara setiap hari diangkut keledai-keledai yang telah disiapkan di luar penjara.

Ikhwal berdirinya masjid ini, adalah ketika Sultan Muayyad dijebloskan ke penjara oleh Sultan Faraq bin Barquq. Dikisahkan, Sultan Muayyad sangat menderita di dalam penjara, terserang penyakit kulit yang parah. Kesadaannya yang mengenaskan, membuat beliau bersumpah. Jika bebas dari penjara dan berkuasa, akan mengubah penjara ini menjadi tempat suci serta tempat lahirnya intelektual.


Maka ketika Sultan Muayyad benar-benar berkuasa, beliau memenuhi sumpahnya. Membongkar penjara dan mengubahnya menjadi masjid. Proyek ini adalah proyek ambisius sang sultan. Menghabiskan 40.000 dinar hanya untuk konstruksinya. 30 ahli bangunan dan 100 pekerja dilibatkan. Menggunakan marmer terbaik dari seluruh penjuru Mesir. Tak heran, masjid ini menjadi salah satu masjid terindah yang dibangun di Kairo. 



_____

Bagian luar masjid dihiasi dengan dua baris jendela. Baris atas jendela berbentuk lengkung sedangkan yang bawah berbentuk persegi. Di bawah barisan jendela terdapat toko-toko kecil yang masih berfungsi hingga kini. Menjual souvenir-souvenir khas Mesir. 


Ornamen khas Mamluk tampak pada pintu utama masjid. Di bagian atas pintu terdapat muqarnas (stalaktit) yaitu struktur mirip sarang lebah. Pintu yang terbuat dari perunggu dan lampu gantung, konon diambil dari masjid Sultan Hassan.


Masuk ke dalam ruangan masjid, kita akan menemukan ruangan tengah yang terbuka  (courtyard) dengan tempat wudhu di bagian tengahnya. Tempat sholat berhias banyak tiang berbentuk lengkung. Interior seperti ini umum dijumpai pada masjid-masjid era dinasti Mamluk. 




Courtyard masjid Sultan Muayyad. Bangunan kecil di tengah itu adalah tempat wudhu

Interior masjid seperti ini merupakan ciri khas arsitektur era Mamluk


Ukiran di langit-langit masjid

Kaligrafi di pintu masuk masjid




Beberapa saat setelah mengambil gambar, kami ditawari penjaga untuk naik ke menara masjid. Namun siang itu kami memilih naik ke menara Bab Zuweyla. Karena dulu waktu ke sini, kami tidak naik ke atas menara.

Untuk bisa naik ke menara Bab Zuweyla, kita harus membayar tiket sebesar 20 LE per orang. Namun berbekal bahasa 'amiyah, suami bisa menawarnya menjadi 20 LE untuk 3 orang. 

Cerita tentang Bab Zuweyla ada di sini..

Dari atas menara, tidak ada pemandangan yang menarik, hanya padatnya kawasan tua ini yang bisa kita saksikan. Menyaksikan atap apartemen yang mirip tempat pembuangan sampah. Tapi tetap saja buat saya ini adalah pemandangan yang "eksotis" yang hanya bisa ditemukan di Mesir hehehe... 

Namun saya tak naik sampai ke ujung menara karena kaki saya kurang bisa diajak kompromi saat itu. Tangga menuju puncak menara cukup curam dan sempit. Belum lagi udara panas yang kurang bersahabat. 


Melihat kota tua Kairo yang "eksotis" dari atas Bab Zuweyla



Ragam hias di salah satu bagian Bab Zuweyla

Detail salah satu menara di Bab Zuweyla



Lantai 2 Bab Zuweyla.. Panasnyaaa rek!

Jun 17, 2014

Paris on The Nile



Hari itu, selepas berbelanja kain di pasar Attaba saya dan salah seorang teman baik pergi ke sebuah toko mesin jahit untuk membeli sesuatu. Toko tersebut berada di kawasan downtown. Sebuah kawasan perdagangan yang cukup sibuk di Kairo. Sayangnya kami berdua tak cukup mengenal jalan di kawasan ini. Meski sebenarnya saya sudah sekian kali ke tempat ini. Beberapa kali kami harus bertanya pada orang-orang di sepanjang jalan yang kami lewati. Namun tak jua ketemu tempat yang kami tuju.

Untung saja cuaca cukup bersahabat. Walaupun musim panas, tapi angin berhembus sejuk sepoi-sepoi. Jalan kakipun tak terasa melelahkan.  

Berjalan kaki menyusuri jalan di downtown ini tak ubahnya seperti berjalan di kota-kota di benua Eropa. Selain kaya dengan arsitektur tua era Mesir kuno, peradaban Islam (Mamluk, Abasiyah, Fatimiyah, Usmani) Kairo juga memiliki tempat dengan gaya arsitektur Eropa abad 19 yang cantik. 

Kawasan downtown berada tak jauh dari Attaba dan bundaran Tahrir. Merupakan salah satu tempat yang di rancang tata kotanya dengan seksama.

Jalan yang lebar lengkap dengan ruang terbuka dan taman-taman yang indah. Sangat memperhatikan keseimbangan geometris dan harmoni dalam penataannya. Sang arsitek Khedive Ismail Pasha memang terinspirasi oleh kota-kota di Eropa. Tak heran, tempat ini terlihat sangat rapi dibandingkan bagian kota lainnya di Kairo. Dijuluki sebagai Paris on The Nile. 

Konon, Khedive Ismail Pasha sampai memanggil Baron Housman, arsitek sekaligus ahli tata kota Paris untuk datang ke Kairo dan merancang Paris fi al-Nil ini. ia ingin membuat takjub kekasih hatinya, puteri Prancis Eugenie de Montijo, juga kaisar2 Eropa dengan penjelmaan mini Paris di lembah Nil

Ada 2 jalan utama di kawasan cukup sibuk di Kairo ini, yaitu Qasr el-Nil street dan Talaat Harb Street. Pertemuan 2 jalan utama tersebut dinamakan Talaat Harb Square.

Dulu jalan itu bernama jalan Soleman Pasha Street yaitu nama jenderal Mesir kelahiran Perancis pada masa pemerintahan Muhammad Ali Pasha. Lalu tahun 1954 pada masa pemerintahan Gamal Abdul Nasser jalan tersebut berganti nama menjadi Talaat Harb Street merupakan nama seorang ekonom Mesir terkemuka tahun 1900an. Hal ini adalah upaya Nasser membersihkan kota dari semua unsur yang mengingatkan pada dinasti Muhammad Ali Pasha dan era pendudukan Inggris.

Sayangnya keindahan tempat ini semakin berkurang. Taman-taman hijau kini sudah tak ditemukan lagi. Padahal Ismail Pasha mendesainnya seperti kota2 Eropa yang penuh taman. Dahulu terdapat taman besar bernama taman Azbakiyah di downtown dengan danau di tengahnya. Tempat para Bangsawan menikmati senja dari atas felluca  (perahu).

Begitupun kondisi gedung-gedung yang tampak kurang terawat. Stiker-stiker iklan, dan debu yang menempel memperburuk kondisi bangunan. Pedagang kaki lima yang menguasai trotoar, parkir mobil tak beraturan di kanan kiri jalan menambah kesemrawutan kawasan ini. Menurut cerita orang-orang, sebelum revolusi 25 Januari 2011 downtown tidak seperti sekarang ini. Tidak ada yang berani berjualan di trotoar, dan parkir sembarangan. Rapi dan bersih.


Dan beginilah wajah Little Paris atau Paris on The Nile itu kini.. 


.
 Patung Ibrahim Pasha, merupakan putra Muhammad Ali Pasha. Dia adalah panglima pasukan tentara Mesir, mempimpin pasukan sejak berusia remaja selama ayahnya menjadi penguasa di Mesir.

Talaat Harb Street

Talaat Harb Square


Talaat Harb Square

Salah satu taman yang masih terawat di downtown




Catatan :

Karena tidak khusus hunting foto, maka saya menggunakan senjata cadangan untuk memotret. Foto-foto di atas adalah hasil jepretan kamera handphone.

Cairo, 29/5/14





May 11, 2014

Pesona Arsitektur dan Sejarah Qaitbay Citadel Alexandria






Berkunjung ke Alexandria, tidak afdol rasanya kalau belum ke tempat satu ini. Qaitbay Citadel atau benteng Qaitbay. 

Benteng ini dibangun di bekas mercusuar kuno di Mesir yang hancur karena gempa bumi. Berada di sebuah pulau bernama Pharos. Sekarang sih tidak bisa lagi di sebut pulau karena sudah tersambung dengan daratan. Merupakan salah satu benteng pertahanan paling penting bukan hanya di Mesir tapi juga sepanjang pantai laut Mediterania. Dibangun untuk menghadapi serangan pasukan Ottoman Turki saat itu.

Benteng dibangun pada tahun 1477 masehi oleh Sultan Al Ashraf Abou Alnasr Seif Eldin Qaitbay Alzahiry atau Sultan Qaitbay. Karena itu benteng ini dinamakan sesuai dengan nama beliau. Pembangunannya memakan waktu selama 2 tahun dan menghabiskan dana sekitar 1000 dinar.

Qaitbay adalah sultan ke 18 dinasti Mamluk yang berkuasa antara tahun 1468 - 1496 masehi. Sebelum menjadi sultan, Qaitbay adalah seorang budak sebelum akhirnya dibeli oleh Al Ashraf Berbay dan dimerdekakan oleh Sultan Djaqmaq. Pernah menduduki posisi penting dintaranya sebagai panglima angkatan darat pada masa Sultan Tamar Bugha. Beliau dikenal sebagai pencetus ide proyek-proyek arsitektur besar di berbagai wilayah, di Mekkah, Madinah, Jerusalem, Damaskus, Allepo, termasuk Alexandria dan Kairo.

Karena benteng ini menjadi salah satu bangunan yang cukup penting dan strategis, maka setelah masa pemerintahan Qaitbay berakhir benteng ini masih dipelihara dengan baik. Termasuk ketika Ottoman Turki menguasai Mesir. Bahkan pada masa pemerintahan Muhammad Ali Pasha, benteng ini mendapatkan perhatian khusus. Direnovasi di beberapa bagian, serta melengkapinya dengan senjata modern pada masa itu. 

Tahun 1882, benteng Qaitbay mengalami kerusakan serius. Yaitu ketika tentara Inggris membombardir Alexandria. Bagian utara dan barat rusak parah karena ledakan meriam. Lalu pemerintah Mesir, di masa pemerintahan Raja Farouk (1904) merestorasi kembali bangunan ini dan berdiri hingga saat ini.

Dinding luar benteng


Benteng Qaitbay ini terdiri dari 3 bagian utama. Dinding besar yang mengelilingi kompleks, dinding dalam dan bangunan utama yang berdiri tepat di bekas menara mercusuar. Memasuki gerbang, kita akan melalui dinding dalam yang berfungsi sebagai tempat menginap para tentara dan gudang amunisi. Di antara dinding dalam dengan bangunan utama terdapat halaman yang cukup luas dengan barisan meriam di kanan kirinya.


Bangunan utama berbentuk kubus dengan 4 menara pertahanan. Terdiri dari 3 lantai dengan tangga spiral. Terdapat lorong-lorong dengan garis lengkung yang indah dan kamar-kamar berukuran sekitar 2,5 x 3 meter di empat penjuru. Sebagai tempat mengintai dan menyerang musuh. Dilengkapi pula dengan masjid di dalamnya. Di titik tertinggi, terdapat void setinggi 6 meter dilengkapi 2 lubang setinggi 3 meter menghadap ke arah kota Alexandria. Dari sini, kita bisa melihat view kota dan pelabuhan yang berada di sekitar benteng. 




Meriam di halaman benteng antara dinding kedua dengan banngunan utama


Bangunan utama





Interior

Pintu masuk dilihat dari lubang pengintai di lantai 2

Prasasti di depan pintu bangunan utama

Halaman kecil antara dinding luar dan dinding kedua

Tiket masuk Qaitbay Citadel, dipatok dengan harga 30 EGP dan 20 EGP untuk anak-anak. Sedangkan pelajar hanya 15 EGP. Untuk warga Mesir hanya bayar 2 EPG saja. Dibuka mulai pukul 9.00 sampai pukul 16.00. Sebaiknya sih kalau ke sana pagi-pagi sekali, karena masih sepi pengunjung. Jangan coba-coba ke sana saat weekend di atas pukul 11.00. Whoaaa... tempat ini ramai seperti pasar. Bahkan ada yang gelar tikar buat makan-makan di sudut benteng hehehe..

Oh iya di sekitar benteng, banyak sekali pemancing tradisional terutama saat sore hari. Pemandangan ini khas sekali dan akan menjadi obyek foto menarik. Ada pula cafe jalanan yang dilengkapi kursi-kursi yang menghadap ke laut Mediterania. Menunggu sunset sembari menikmati shay (teh) berlatar belakang benteng tua nan eksotis akan menjadi momen tak terlupakan. 




View laut Mediterania dari Qaitbay Citadel 






Referensi :


  • Wikipedia
  • Egyptolution.com
  • Abuqir.com




Apr 3, 2014

Nilometer, Jejak Kemajuan Teknologi Bangsa Mesir

Siapa yang tidak tahu tentang sungai Nil. Sungai terpanjang di dunia ini adalah sungai yang melegenda. Mencatat banyak kisah sejarah. Yang paling kita kenal tentu saja kisah bayi Nabi Musa yang dihanyutkan oleh ibunya di sungai ini. Karena sang ibu takut bayinya dibunuh Fir'aun. Singkat cerita, istri raja Fir'aun yang kebetulan sedang mandi, menemukan bayi Musa terapung lalu membawanya pulang. Musa lalu diasuh oleh keluarga Fir'aun hingga dewasa. 

Sungai Nil adalah sungai yang mengalir dari Tanzania dan bermuara di laut Mediterania. Memanjang hampir mencapai 7.000 km, melewati 11 wilayah negara termasuk Mesir. Sungai Nil disebut sebagai berkah bagi Mesir. Mesir menjadi subur karena aliran sungai Nil ini. Peradaban manusia di dunia salah satunya dimulai dari delta sungai Nil yang tak pernah kering hingga hari ini.

Sungai Nil, merekam sejarah tentang peradaban manusia


Karena merupakan DAS (Daerah Aliran Sungai), banjir dulu rutin terjadi di Mesir. Berbagai analisa arkeolog tentang pembuatan Pyramid juga menyebutkan bahwa banjir sungai Nil ini yang membantu pembangunannya. Jika banjir tiba, lumpur diangkut pekerja sebagai bahan pembuat pyramid dengan perahu. Ini dibuktikan dengan penemuan  parit dekat Sphinx yang diduga sebagai jalan masuk perahu pengangkut lumpur. 

Teknologi pengendali banjir sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno. Jejaknya ditemukan di pulau Elephantine di Aswan. Bangunan serupa juga ditemukan di pusat kota Kairo. Teknologinya tentu lebih canggih dibandingkan dengan yang di Aswan. Karena dibangun pada kisaran abad ke 7 Masehi jauh setelah jaman Mesir kuno. Bangunan ini disebut dengan Nilometer.

Nilometer letaknya cukup "nyempil" di antara bangunan apartemen yang padat di pusat kota Kairo. Berada di atas pulau kecil di tengah sungai Nil. Namanya Rhoda Island, orang Mesir menyebutnya Manial. Bagi traveler yang kurang interest dengan sejarah, bangunan ini mungkin tak masuk dalam itenary, selain tempatnya yang tersembunyi juga kurang menarik penampakan luarnya. 

Berada dalam satu lokasi dengan museum Ummi Kultsum, penyanyi legendaris Mesir. Dekat dengan bangunan pengelolaan air bersih milik pemerintah. Semacam PDAM kalau di Indonesia. Tiket masuk dipatok seharga 20 LE (Rp. 30.000) untuk umum sedangkan untuk pelajar/mahasiswa hanya dikenakan 8 LE saja. Tiket masuk museum tidak termasuk lho.

Untuk menuju ke tempat ini bisa ditempuh dengan naik metro. Turun di stasiun Mar Girgis atau Malik al Saleh dengan hanya membayar 1 LE. Keluar di pintu sebelah barat, disambung dengan jalan kaki sekitar 15 menit. Sedangkan untuk moda transportasi yang lain adalah taxi. Jangan bilang nilometer, karena sopir taxi Mesir tak banyak yang tahu, bilang saja Mathaf (museum) Ummi Kultsum.

Patung astronom Alfagranus di depan Nilometer


Nilometer dibangun pada masa bani Ummayyad tahun 715 Masehi dengan konstruksi yang sederhana meniru konstruksi Nilometer di Aswan. Namun pada masa Khalifah Al-Marmoun (815 M) nilometer disempurnakan. Pernah hancur pada tahun 850 M karena banjir besar. Pada masa Dinasti Abbasiyah, nilometer dibangun ulang oleh Ahmad ibn Muhammad Al Hasib sekitar tahun 861 Masehi. Arsiteknya adalah Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Fargani dari Turkistan Barat. Di negara Barat dikenal sebagai astronom Alfagranus.

Pada masa dinasti Thoulun tahun 872-873 M, Nilometer direnovasi. Dan kembali dipugar tahun 1092 pada masa dinasti Fatimiyah. Kubahnya juga pernah hancur dibombardir pasukan Perancis saat menduduki Mesir. Sedangkan kubah yang ada saat ini adalah kubah baru bergaya Ottoman Turki.

Eksterior Nilometer. Kubah kerucut adalah ciri khas arsitektur Ottoman Turki


Eksterior nilometer ini tidak terlalu besar jika tampak dari luar, desainnya sederhana dan biasa saja. Namun jika kita masuk ke dalamnya, baru kita dibuatnya takjub.

Di dalam bangunan berkubah kerucut itu terdapat lubang mirip sumur yang terbuat dari batu marmer lengkap dengan tangga menuju ke dasarnya. Terdapat kolom berbentuk segidelapan. Kolom kayu tersebut memiliki beberapa ruas yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian air. Masing-masing ruas berjarak 1 hasta (0,5 meter lebih). Ada sekitar 19 ruas, jika air berada pada ruas ke 12 berarti, Kairo sedang dilanda kekeringan. Jika berada di atas ruas ke 18, Kairo berada dalam kondisi awas karena tinggi air sungai di level ini akan menyebabkan banjir. Level terbaik air sungai berada di ruas ke 14. Jika sedang tidak terjadi banjir, nilometer berfungsi sebagai pengatur distribusi air di lahan-lahan pertanian.

Ada 3 lubang tempat masuknya air sungai. Ini salah satunya. Ruas-ruas yang terlihat itu adalah alat ukur ketinggian air.

Kubah jika dilihat dari dalam. Kereennn kan?? :D

Interior Nilometer bagian atas

Sumur yang berfungsi untuk memantau air sungai Nil


Nilometer kini memang tak lagi berfungsi, namun keberadaannya menjadi bukti bahwa teknologi pengairan dan pengendali banjir sudah maju di Mesir sejak ribuan tahun lalu. Sudah sepantasnya Mesir disebut dengan Umm ad Dunya, mother of the world. Merekam sejarah peradaban manusia. Sebuah negeri di mana setiap sudutnya adalah sejarah, lengkap dengan jejaknya. How can I not love Egypt..?



Apr 30, 2013

Memphis, Ibukota Mesir Kuno (3000 SM)


Sudah lama kami ingin pergi ke tempat ini, sebelum akhirnya hari Sabtu (27/4) lalu  berhasil mengunjunginya.  Sebuah kota bernama Memphis.
Memphis merupakan kota dan ibukota Mesir kuno dan pusat penting dari sejarah Mesir. Kota ini terletak di selatan delta Sungai Nil, di tepi barat sungai, dan sekitar 30 km selatan kota Kairo. Kota kuno ini berada tidak jauh dari pyramid Sakkara dan Dashour. Pada tahun 1979, situs arkeologi Memphis ini ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.


Kota Memphis didirikan sekitar 3100 SM oleh Menes. Memphis merupakan nama versi Yunani sedangkan dalam bahasa Mesir kota ini bernama Men-Nefer. Nama Mesir Kuno nya adalah Inebou-Hedjou (diterjemahkan sebagai "white wall atau dinding putih"). Karena kota Memphis dibangun di dataran tinggi sebagai benteng untuk membendung banjir sungai Nil pada masa itu.






Sejarahwan Mesir Manetho menyebut Memphis sebagai Hut-ka-Ptah (diambil dari nama dewa, Ptah), yang dalam bahasa Yunani Ai-gy-PTOs, berasal dari bahasa latin AEGYPTVS. Ini sebabnya Mesir dalam bahasa Inggris dinamakan Egypt. Istilah Koptik juga diyakini secara etimologis berasal kata ini.

Kota Memphis adalah ibukota Mesir selama periode awal dinasti (sekitar 3100 – 2613 SM) dan periode Old Kingdom (2613-2160 SM). Pada periode Middle Kingdom, ibukota Mesir berada di kota Ijtawy di Fayoum sebelum akhirnya pada masa New Kingdom ibukota Mesir pindah ke Luxor. Memphis merupakan kota yang sangat besar, hal ini bisa dilihat dari keberadaan Necropolis (komplek pemakaman) di kawasan Memphis membentang sepanjang 30 km di sepanjang tepi barat Sungai Nil yaitu situs Giza , Sakkara dan Dashour.

Situs kota kuno Memphis saat ini hanya sedikit saja yang terlihat, karena kebanyakan dari bangunan-bangunan di sana terkubur di bawah lumpur sungai Nil selama ribuan tahun akibat banjir ditambah lagi  bangunan rumah modern yang berdiri di atasnya. Tapi untuk melindungi situs bersejarah ini pemerintah Mesir membuka open air museum di kota Memphis ini.


Dengan menyewa mobil seharga 200 LE, suami bertugas jadi sopir dan saya sebagai navigator. Kami berangkat pagi itu dari rumah di daerah Ma’adi. Sebelum berangkat, survey jalan dulu menuju ke sana melalui peta google. Tapi Memphis tidak kami temukan di peta itu. Namun, kami pernah melihat peta di buku sejarah Mesir kuno, Memphis berada dalam satu kawasan dengan pyramid Sakkara dan Dashour. Karena kami pernah ke dua tempat itu paling tidak kami tahu di mana kira-kira lokasi kota Memphis. Hanya saja kami memutuskan untuk lewat jalan lain, bukan jalan yang menuju Sakkara dan Dashour.


Berangkat sekitar jam 10.00 kami melewati ring road, setelah menyeberangi jembatan sungai Nil lalu bergerak menyusuri sebelah barat sungai, Upper Egypt road namanya. Jalan ini merupakan jalan tradisional atau jalan lama sebelum dibangun jalan tol untuk menuju Luxor dan Aswan. Dinamakan juga sebagai Agricultural Road karena menyusuri daerah pertanian sepanjang sungai Nil dan jalan satu lagi dinamakan Desert Road, karena  melewati gurun pasir. Menyusuri jalan ini tak ubahnya seperti suasana di Indonesia terutama di daerah sepanjang pantura Jawa.
Sempat ragu karena tidak tahu lokasi pastinya, petunjuk jalan juga tidak ada. Tapi  untuk bertanya pada orang Mesir  khawatir mereka juga tidak tahu kalau yang ditanyakan adalah Memphis. Maka saya buka Wikipedia, dan saya menemukan informasi bahwa Memphis terletak dekat Mit Rohina. Nah inilah kata kunci untuk bertanya. Sampai di persimpangan pertama suami memutuskan untuk bertanya. Dan dapat petunjuk juga akhirnya, menurut orang yang kami tanya kami harus berbelok ke arah barat setelah melewati kota Badrah Syiin, terus ke arah barat sebelum sampai di kota Mit Rohina.
Kami ikuti petunjuknya, jalannya lumayan mulus walaupun banyak polisi tidur di tengah jalan. Melewati keramaian pasar tradisional, kami disuguhi aktivitas orang-orang Mesir yang kurang lebih sama dengan orang-orang desa di Indonesia, mereka ramah dan bersahaja. Sempat bertanya lagi pada pedagang buah di pasar,
“Assalaamu’alaikum, Mit Rohina fein..?” (Assalaamu’alaikum, Mit Rohina di mana ya?)
“Wa’alaikum salamm.. ohh… hena alatul… “ (Wa’alaikum salaam.. jalan ini lurus saja)
“Masyi.. shukraan..” (Iya.. terima kasih)
Berbeda dengan sebelumnya, jalan ke arah barat menuju Mit Rohina tidaklah mulus, berdebu dan sebagian tidak beraspal. Kita dengan mudah menemukan orang Mesir menaiki kuda dan keledai, banyak tuk-tuk (bajaj) berseliweran yang kadang suka ngawur nyetirnya jadi kita harus lebih hati-hati mengemudi kendaraan di sini.



Sampai di persimpangan Mit Rohina, papan petunjuk jalan menuju Memphis agak kurang terlihat jelas karena tertutup debu. Tapi kami melihat ada tulisan Memphis Museum, sampai juga kami di Memphis. Ada beberapa polisi berjaga di depan pintu masuk dan seseorang dari mereka bertanya,
“Malaysia??”
“La.. ana Andonesi.. “
Dia mengangguk lalu mencatat nomor polisi mobil kami.
Tiket masuk ke open air museum, 35 LE untuk umum dan pelajar hanya dikenakan 15 LE sedangkan untuk parkir mobil hanya 3 LE saja yang dibayar saat membeli tiket masuk.
Open air museum ini sebenarnya tidak terlalu luas, barang-barang yang di simpan di tempat ini juga tidak banyak tapi cukuplah membuat kita takjub pada orang-orang Mesir dari peradaban lampau.  Dan barang-barang yang disimpan di museum Memphis ini adalah benda-benda dari jaman dinasti baru (sekitar 2000 SM).  


Dalam sebuah gedung berukuran sekitar 600 m3 di sebelah kanan pintu masuk, tersimpan sebuah patung  Ramses II berukuran cukup besar dalam posisi ditidurkan (tidak berdiri) tanpa kaki karena patah, beberapa patung kecil dan potongan tiang bangunan juga di simpan dalam gedung ini. Agar bisa  melihat patung Ramses II secara utuh, kita bisa naik ke lantai atas.










Di luar, bangunan paling menonjol adalah patung Sphinx yang serupa dengan sphinx di Giza berukuran lebih kecil dan patung Ramses. Beberapa batu dengan tulisan Hieroglyphs diletakkan di sekitar patung Ramses. Di dalam area museum cukup banyak penjual souvenir, tapi harga yang ditawarkan di sini cukup mahal.





Penampang pilar dengan tulisan hieroglyps

****
Sejarah Mesir memang tak pernah membosankan. Hampir setiap sudut negeri ini berbau sejarah dan begitu mengagumkan. Kisah majunya peradaban masa lampau nyata adanya dengan bukti peninggalan yang tersisa.

Salam hangat......








_____________
Sumber: Tulisan saya di Kompasiana






Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy