Apr 2, 2015

Advertisement

Jejak Sejarah yang Hilang di Masjid al Haram

Advertisement



"Wah masjid ini beda banget sama pas aku ke sini beberapa tahun lalu. Dulu nggak ada bangunan ini," Kata Dilla teman satu rombongan sambil menunjuk salah satu sudut masjid.

Masjid tempat kiblat umat Islam berada ini memang terus berbenah. Mengalami renovasi besar-besaran sejak tahun 1980an. Menjadi salah satu sebab kuota haji dikurangi dalam beberapa tahun terakhir, hingga antriannya semakin panjang dan lama. 

Penyempurnaan bangunan terus dilakukan oleh pemerintah Saudi sebagai upaya memberi pelayanan terbaik bagi para tamu Allah. Yang sepanjang tahun tak pernah berhenti datang dari seluruh penjuru dunia. Menjadikan para peziarah semakin nyaman beribadah. Seperti misalnya tempat thawaf dan sa'i yang kini menjadi 3 lantai. Perluasan area masjid serta penambahan fasilitas lainnya.


Sejarah Masjid

Masjid seluas 356.800 meter persegi (88,2 hektar) ini merupakan masjid terbesar di dunia. Menampung hingga dua juta jamaah selama musim haji. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644), masjid mulai dibangun didahului dengan pembongkaran rumah-rumah disekitar Ka'bah . Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi jumlah peziarah yang semakin banyak

Lalu, pada masa Khalifah Ustman bin Affan (644-656) area sholat diperluas dan ditambah dengan kolom kayu sebagai penyangga atap. Masjid masih berupa ruang terbuka tanpa dinding dengan Ka'bah sebagai pusatnya.

Tahun 692, ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa, masjid mengalami renovasi besar pertama. Dinding luar ditinggikan, langit-langit masjid dilapisi kayu dan dicat emas. Tahun 705-715 kolom kayu diganti dengan marmer dan dihiasi dengan mozaik. Selanjutnya di era Dinasti Abbasiyah pada masa Khalifah Abu Ja'far al-Mansur (754-775), kolom-kolom masjid dipercantik dengan mozaik. Dan menambahkan menara di Bab al Umra yaitu di sebelah barat laut.

Masih di era dinasti Abbasiyah, masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) dilakukan perluasan masjid karena jumlah peziarah yang semakin membludak. Bangunan lama dibongkar berikut rumah-rumah yang berdiri disekitar masjid. Masjid menjadi semakin luas dihiasi kolom marmer yang didatangkan dari Mesir dan Syiria. Masjid juga ditambah dengan 3 menara yang masing-masing berdiri di atas Bab al-Salam, Bab Ali dan Bab al-Wadi.

Pada tahun 1399, masjid mengalami kerusakan akibat kebakaran. Sebagian yang lain rusak karena air. Hingga masjid kembali dibangun pada masa Nasir Faraj bin Barquq, salah satu sultan era Dinasti Mamluk. Kolom marmer diganti dengan kolom batu yang diambil dari wilayah Hijjaz sedangkan atap ditambal dengan kayu yang diambil dari pegunungan di daerah Thaif,

Tahun 1571, pada masa dinasti Ottoman Turki, Sultan Selim II menugaskan kepala arsitek Mimar Sinan untuk merenovasi masjid. Yaitu penggantian atap datar dengan kubah. Menghiasi interiornya dengan kaligrafi emas dan penambahan tiang penyangga baru. 

Tahun 1611 masjid kembali mengalami kerusakan, hingga direnovasi kembali tahun 1629 pada masa pemerintahan Sultan Murad IV (1623-1640). Penambahan arcade dengan kolom-kolom yang lebih ramping diperindah dengan medali berbentuk prasasti diantara lengkungan. Lantai disekitar Ka'bah diganti dengan marmer. Pada bagian eksterior, masjid ditambah lagi dengan 7 menara.

Renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 1955 dan 1973 atas perintah Raja Abdul Aziz. Yaitu pembangunan tempat sa'i yang dihubungkan dengan bagian utama masjid. Mengganti lantainya dengan marmer dan membangunnya menjadi 2 lantai. Tahun 1982 mulai dilakukan renovasi besar pada masjid Al Haram ini dan masih berlangsung hingga saat ini.

Dan... Masjid al Haram Kini

Beberapa bagian masjid peninggalan masa kesultanan Ottoman Turki tahun lalu masih tersisa sebagian, mungkin tidak sampai separuh. Arcade lama (Peninggalan sultan Murad IV) dibongkar dalam rangka perluasan area thawaf. Mungkin nanti akan dibongkar seluruhnya.

Sebagai penikmat sejarah, saya cukup menyayangkan dengan kondisi ini. Apalagi saya juga sudah terbiasa melihat situs-situs bersejarah di Mesir utuh dan terawat hingga kini. Masjid-masjid tua yang tidak sedikitpun diubah.

Padahal kalaupun bagian masjid yang lama tetap dipertahankan, saya rasa bisa karena tidak mengganggu. Rasanya gimana gitu menyentuh bangunan yang dibangun ratusan bahkan ribuan tahun lalu. 


Sebaliknya, gedung-gedung pencakar langit semacam Abraj Al Bait Tower yang konon adalah salah bangunan kedua tertinggi di dunia, hotel-hotel dan mall mewah seakan tumbuh bak jamur disekitar area masjid. Sampai ada lelucon, "Abis thawaf di masjid lanjut thawaf di mall yuk!"


Kini Ka'bah seolah terkepung pencakar langit dan makin tenggelam.  Zam-zam tower seakan menjadi landmark baru kota Mekkah. Jejak sejarahnya seolah lenyap, hanya tersisa cerita.

Arcade lama yang dibangun pada masa kekhalifahan Turki Usmani.
Tahun lalu bagian ini sudah tinggal tak sampai setengah lingkaran. Karena memang bangunannya melingkari Ka'bah


Renovasi masjid yang dilakukan terus menerus  
Penambahan area thawaf menjadi bagian dari renovasi
(suasana pada musim haji tahun 2014) 

Arcade pada bangunan masjid baru  
Salah satu bagian dari bangunan masjid yang baru  
Landmark baru kota Mekkah


Sumber sejarah :

The Holy Mosque, Mecca
(www.sacred-destinations.com)

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy