Showing posts with label Egyptologi. Show all posts
Showing posts with label Egyptologi. Show all posts

Jan 16, 2016

Gereja di Arab

Gereja di Arab?? Emang ada ya? Ya ada dong.. Umat Kristiani di negara-negara Arab tersebar di Mesir, Jordania, Syria, Lebanon, Irak, dan Palestine.

Di Mesir sendiri ada sekitar 11 persen penganut Coptic (Qibthi) dari total 82,06 juta penduduk. Mereka sudah terlebih dahulu tinggal di Mesir sebelum Islam masuk tahun 640 Masehi. Pada saat Amr bin Ash mendapat tugas menaklukkan Mesir dari tangan Romawi, Rasulullah SAW malah berpesan agar berbuat baik pada orang Qibthi.  

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).

Pernah mendengar nama Mariyah al Qibthiyah? Seorang budak wanita Koptik Mesir yang dikirim oleh Muqawqis (salah satu penguasa Koptik) sebagai hadiah untuk Rasulullah SAW. Maria lalu menjadi muslim dalam perjalanannya menuju Madinah dan kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW. Dari penikahannya tersebut Mariyah melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ibrahim namun meninggal dunia ketika bayi. 

Karena keterkaitan sejarah itulah maka tak heran hingga saat inipun hubungan umat Koptik dan Muslim di Mesir sangat harmonis. 

Karena tinggal di Arab ya mereka juga berbahasa Arab. Kitab injil yang mereka baca juga bertulisan Arab. Di gereja, banyak kaligrafi Arab seperti halnya yang terdapat di masjid. Lafadz seperti InsyaAllah, masyaallah, Alhamdulillah akan biasa kita dengar di sini. Injil yang mereka bacapun berbahasa Arab.

Pernah suatu kali, saya melihat seseorang membaca sebuah kecil di metro. Saya pikir dia sedang tilawah Qur'an karena orang Mesir biasa melakukannya di tempat umum. Tapi saya baru ngeh kalau yang di baca itu adalah injil setelah saya melihat tatto salib di pergelangan tangannya. 

Seringkali juga orang Mesir bertanya pada saya. "Enty muslim?" Saya sendiri agak heran kenapa mereka menanyakan hal itu. Bukankah sudah jelas kalau saya muslim karena saya pakai jilbab? Ternyata sebagian umat Koptik juga memakai jilbab/hijab. 

Nah biar nggak penasaran, saya akan tunjukkan gereja yang ada di Kairo. Ada 2 gereja besar yang cukup populer. Yang pertama Hanging Church yang merupakan gereja tertua di Mesir. Dan Cave Church atau St Simon Church, gereja yang relatif baru namun unik.

Hanging Church

Dibangun pada sekitar abad ke 4 Masehi. Bisa dikatakan situs gereja ini adalah yang tertua di dunia. Namun bangunannya sudah mengalami rekonstruksi ulang pada tahun 1909 karena sempat hancur pada saat perang salib. 

Gerbang utama sebelum masuk gereja. Ornamennya mirip masjid2 yang ada di Mesir.


Pintu kedua masuk gereja. 

Interior gereja

Tulisan Arab di mana-mana :D

Biar lebih jelas, tapi saya nggak tau bacaannya sih hehehe..


Cave Church (St Simon Church)

Gereja ini relatif baru karena dibangun sekitar tahun 1987 namun karena bentuknya yang unik maka cukup menarik untuk dikunjungi. Dibangun di bawah gunung Mokattam, maka itu dinamakan cave church. Lokasi gereja ini berada di Mansiyat Nasr atau lebih populer dengan nama Garbage City. Iya namanya kota sampah karena di daerah ini banyak yang bekerja sebagai pengumpul sampah atau pemulung. Hampir 100% warga garbage city adalah orang Koptik.

  

Salamlikum


Pintu masuk 

Gereja ini bisa menampung sekitar 2000 jamaat

Cuplikan salah satu ayat dalam Injil

Diorama


Karena tinggal di negara yang berbahasa Arab, kitab yang digunakan tentu saja bertulisan Arab :D














Sep 22, 2015

Hampir Kena Scam di Luxor

Luxor adalah kota kecil. Kota yang jauh dari hingar bingar klakson kendaraan bermotor, dan tentu saja nyaris bebas polusi udara. Tidak ada ritual macet seperti di Kairo. Secara umum, orang-orangnya ramah seperti kebanyakan masyarakat desa di pinggiran Kairo.

Namun demikian, Luxor tak lantas bebas dari scammer. Seperti kebanyakan kota-kota tempat tujuan wisata lainnya. Modusnya juga macam-macam. Saya sih sebenernya nggak nyangka bakalan kena scam. Selain mas suami yang fasih bahasa 'amiyah, saya lihat orang Luxor tergolong lugu dan ramah dibanding orang Kairo. Ternyata... kena juga hehehe..

Caleche 5 Pound

Caleche adalah kereta kuda atau semacam delman tapi keretanya agak tinggi dibanding delman. Caleche ini memang menjadi salah satu pilihan transportasi untuk keliling menikmati pusat kota luxor yang tidak begitu luas. Biasanya mereka ngetem di dekat hotel dan sekitar corniche Nil selain berlalu lalang menawarkan jasa.

Caleche


Sore hari, waktu kami jalan-jalan di tengah kota sekelompok kusir caleche menawari kami untuk naik.
"Five pound.. five pound" 
Awalnya kami mengabaikannya karena memang berniat jalan kaki saja sambil mencari tempat makan. Namun belakangan Bapaknya anak-anak menyerah dengan tawaran para kusir caleche. "Kita coba aja, lagian murah ini koq.." ujarnya meyakinkan saya. Lalu dia mendekat dan bertanya, untuk memastikan tarifnya. "Khamsah gineh ??" 
"Aiwah.. tafadhol" kata si kusir 
Setelah yakin, kamipun naik. Baru beberapa saat berada di atas caleche, sang kusir bercerita panjang lebar tentang Luxor. Kami cukup menikmati suasana Luxor sore itu.

Dia lalu menawari kami mampir ke sebuah tempat. Dia bilang di tempat itu banyak souvenir untuk oleh-oleh. Lalu suami bilang kalau kami tinggal di Kairo dan di Kairo banyak barang-barang seperti itu. "Tapi di sini lebih murah dari di Kairo. Coba aja lihat-lihat dulu.."

Lagi-lagi pak suami menyerah dan mengatakan, "Ok.."

Dan masuklah kami ke sebuah toko yang tampak remang-remang. Ada banyak lukisan papyrus di pajang di lantai bawah. Tapi kami nggak tertarik sama sekali. Di Khan Khalili banyak yang lebih bagus. Kami di arahkan menuju lantai 2 yang katanya ada souvenir lainnya. Lampu baru dinyalakan saat kami naik. Beuhh.. kotor, sumpek, gelap... Buru-buru kami turun dan menyudahi kunjungan yang tak menyenangkan ini.

Kami lalu naik caleche dan minta kusir untuk mengantarkan kami ke corniche (tempat awal kami naik). Setelah beberapa meter berjalan, saya mendengar suami sedikit berdebat dengan kusir caleche.

Sampai di depan Luxor temple, caleche berhenti. Kami berempat turun dan suami menyusul sambil ngomel. Kusir caleche pun demikian sambil sedikit teriak memanggil suami. Tapi pak suami cuek sembari menjauh. 

Kenapa sih, tanya saya.

Suami lalu bercerita kalau si kusir caleche ini coba menipunya. Pak kusir minta ongkos 50 poundsterling. Tentu saja suami ngotot karena kesepakatan di awal 5 LE. Tapi si kusir berkilah bukan 5 pound mesir tapi 50 pound Inggris. Pak suami ngasih 60 LE sambil berlalu tapi si kusir brusaha mengejar kami karena nggak terima di kasih ongkos segitu. Suami bilang sama si kusir
"Demi Allah, kamu itu nipu, nggak barokah tuh kalau cari uang dengan cara begitu".
Setelah itu barulah si kusir berhenti mengejar kami.

Banana Island

Hari terakhir di Luxor kami hanya bertiga (saya, suami dan si sulung) keluar hotel untuk jalan-jalan. Waktu saya sibuk ambil foto di corniche, suami terlibat percakapan dengan seseorang. Ternyata pria itu menawari kami naik felucca (perahu layar khas Mesir).

"Cuma 50 LE koq, nanti kita diantar ke banana island. Kamu kan penasaran sama pulau pisang itu hehehe.." Begitu kata suami menjelaskan

"Iya di sana ada mini zoo juga, kalian juga bisa naik keledai. Terus di sana itu kampung suku Nubian. Kalian bisa lihat kehidupan mereka dari dekat." Si pemilik felucca coba ngompori saya.
"Ogah ah.. ntar dia nipu. Kita kena tertipu kayak kemaren itu" Saya berusaha tidak tergoda.
"Sepertinya dia baik koq.." kata suami

Akhirnya jebol juga pertahanan saya. Menyerah atas kehendak suami. Naiklah kami bertiga ke perahu. Sebelum berlayar ke pulau pisang kami minta mampir ke belakang hotel untuk jemput 2 anak yang lain. Karena memang kebetulan hotel tempat kami menginap persis berada di pinggir Nil.

Sampai di Banana Island saya tak melihat sesuatu yang istimewa. Ya hanya kebun pisang. Ini sih banyak di Indonesia hehehe... Yang katanya mini zoo juga hanya berisi rusa, buaya, dan monyet dengan kondisi yang amat memprihatinkan. Sekitar 10 menit saja kami di pulau itu.

Tiba-tiba seorang pria menyodori kami sesisir pisang lalu meminta kami membayar 20 LE per orang. Jadi untuk kami berlima kami harus bayar 100 LE. Tentu saja kami kaget.

"Tuuhh kan kena lagi kita mas.." gerutu saya pada suami.

Tapi kami ngeloyor saja meninggalkan orang itu. Pemilik felucca juga memaksa kami membayarnya. Suami tentu saja menolak. Karena tidak ada penjelasan di awal. Dia juga bilang kalo tau di suruh bayar mana mau kami diajak ke kebun pisang. Wong di Indonesia kebun seperti ini juga banyak.

Tetap saja pemilik felucca itu ngeyel untuk menerima pisang dan membayarnya. Akhirnya daripada berlama-lama suami memberinya uang 50 LE dan segera berlalu meninggalkan orang itu. Sepanjang perjalanan saya ngomel dan pasang wajah jutek. Jengkel karena 2 kali kena scam di Luxor. Huhuhuhu..



Felucca 

Pemandangan Banana Island alias Pulau Pisang dari atas felucca :D

Mungkin kalau orang Arab takjub lihat pemandangan ini. Tapi buat saya... yeee beginian mah banyak di kampung hahaha..

Di tengah kebun pisang ada bangunan ini. Sepertinya ini rumah burung merpati. Kalau di Jawa namanya pegupon hehehe..

Tapi biarpun 2 kali ketemu scammer dan itu amat menjengkelkan. Namun kami juga bertemu orang baik di kota ini. Kami tidak kenal orang ini. Beliau adalah teman dari pamannya teman suami (bingung ya hahaha).

Keluarga koptik yang baik hati. Walaupun tidak ada hubungan apa-apa dengannya, mereka menjamu kami , mengantar dan menjemput kami dari hotel. Menraktir kami di sebuah restoran. Bahkan menawari kami untuk upgrade kamar hotel. Tidak cukup hanya itu dia memberi kami oleh-oleh. Lalu berpesan, kalau ke Luxor lagi dia akan service kami di hotel milik keluarganya, free of charge.

Orang jahat memang banyak, tapi nggak sedikit juga orang baik di dunia ini.. 










Sep 18, 2015

Menyusuri Jejak Fir'aun di Luxor

Beberapa waktu lalu, pemerintah Mesir mengumumkan gagasannya untuk memindahkan ibukota Mesir dari Kairo ke sebelah timur, dekat Ain el Sokhna. Masalah kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, polusi dan berdirinya bangunan-bangunan ilegal menjadi alasan utama untuk segera memindahkan ibukota negara dengan jumlah penduduk mencapai 20 juta ini.

Memindahkan ibukota negara bukanlah hal yang baru buat Mesir. Terhitung sudah puluhan kali negara ini melakukannya. Memphis, Ijtawy, Thebes adalah beberapa kota yang pernah menjadi ibukota pada era Mesir kuno. Sedangkan Alexandria pernah menjadi ibukota Mesir masa kekaisaran Romawi. Fustat, Al-Asykar, Al Qatta'i adalah ibukota pada periode Islam termasuk Al Qahirah atau Cairo yang menjadi ibukota hingga kini.

Kota Kuno Thebes

Kota ini terletak sekitar 670 km sebelah selatan Kairo. Disebut juga daerah Upper Egypt. Luxor  atau dalam bahasa Arab disebut Al-'Uqsur adalah kota kuno Thebes yang merupakan ibukota Mesir periode Middle Kingdom (2040-1750 SM) dan periode New Kingdom yaitu sekitar 1550-1077 SM. Tutmosis, Amenhotep, Ramses, Tut An Khamun adalah beberapa Fir'aun (raja) yang berkuasa pada masa itu. Konon, nabi Musa As hidup pada periode Middle Kingdom, masa pemerintahan Ramses II pada periode middle kingdom. Wallahu'alam..

Luxor, dijuluki sebagai "The World Greatest Open Air Museum". Pantas sih karena beberapa situs-situs kuno masih berdiri kokoh di kota ini. Seperti halnya kota-kota lain jaman Mesir kuno, desain tata kota diperhatikan dengan sangat detail. Sungai Nil yang membelah kota sekaligus menjadi pemisah antara pusat kota dan kuil-kuilnya di sebelah timur. Dengan necropolis (komplek makam fir'aun) di sebelah barat (west bank). Tetep nggak mau jauh-jauh dari sungai Nil. Karena sungai ini merupakan sumber kehidupan buat mereka.

Karnak dan Luxor Temple

Kuil Karnak dan Luxor masih berdiri kokoh diantara bangunan-bangunan modern. Ditengah padatnya pemukiman penduduk. Kuil Karnak disebut-sebut sebagai sebuah kuil terbesar di dunia, luasnya kurang lebih 1,5 km x 800 meter. Juga merupakan kuil kuno terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Dibangun selama masa pemerintahan Amenhotep III dan Ramses II (1500-1200 SM).

Kuil Karnak ini terhubung dengan kuil Luxor. Jalan setapak sepanjang 3 km membentang diantara keduanya. Dihiasi dengan patung-patung sphinx di kiri kanannya. Sayang, proyek penggalian jalan penghubung kuil Karnak dan Luxor ini terhenti sejak revolusi 2011 meletus di Mesir. Dari total 3 km jalan mungkin baru sekitar 2 km yang berhasil di gali.

Kuil Luxor dan jalan setapak yang menghubungkannya dengan kuil Karnak


Yang paling menarik di kuil Karnak adalah tiang-tiang batu raksasa berdiameter 15 meter, setinggi 23 meter berjumlah 134 kolom. Tiang-tiang raksasa itu bukan tiang polos lho.. Tapi ada ukiran disekelilingnya.

Selain kolom-kolom raksasa itu, ada lagi yang menarik perhatian dan membuat saya terheran-heran. Obelisk. Obelisk  ini  adalah tiang persegi yang ujungnya lancip. Dipahat utuh dari gunung batu. Jadi nggak ada sambungannya sama sekali. Tingginya sekitar 30 meter dengan berat 700 ton. Coba bayangin gimana bawa obelisk ini dari gunung lalu menegakkannya di dalam kuil. Mungkin jaman itu sudah ada crane dan truk tronton kali ya. Atau jangan-jangan pakai sulap macam David Copperfield haha..

Pintu gerbang utama kuil Karnak

Obelisk yang tingginya 30 meter dan berat hingga 700 ton. Ngangkatnya pake apa coba? :D

Tiang-tiang raksasa


Kebayang kan tiang2nya sebesar apa? 


Valley of The Kings

Selama ini kita takjub dengan bangunan pyramid Giza di Kairo. Di Luxor kita juga akan semakin takjub dengan kecanggihan orang-orang Mesir kuno dalam hal teknik arsitektur. Di sana kita disuguhi keajaiban Valley of the King dan Valley of the Queen. Inilah perbedaan necropolis era new kingdom dengan era old kingdom. Jika necropolis era old kingdom berbentuk piramida sedangkan pada era new kingdom necropolis dibangun di bawah tanah. Disebuah lembah dan tersembunyi dibalik pegunungan batu. Maka itu lembah tersebut dinamakan lembah para raja dan ratu.

Memadukan teknologi struktur dan estetika sekaligus dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Kita bisa saksikan bagaimana canggihnya orang-orang Mesir kuno melubangi gunung dengan bentuk dan ukuran yang sangat presisi. Kemudian melukis dinding-dindingnya dengan gambar-gambar yang sangat indah. Tentu saja menggunakan alat yang sangat sederhana dan pewarna alami untuk catnya. Sayangnya nggak boleh foto-foto di dalam sana. Kamera jadi ngganggur deh..
Kalau penasaran, bisa dilihat di VIDEO ini.

Konon untuk membuat satu makam dibutuhkan waktu puluhan tahun. Sedangkan di Valley of the Kings terdapat lebih dari 50-an makam. Dan hebatnya lagi, lorong-lorong makam itu tidak saling bertabrakan. Mereka sepertinya mengukur dengan akurat panjang lorong sehingga tidak saling bertabrakan satu sama lain. Dan bentuk lorong makam tidak datar namun mengarah ke bawah. Mirip desain ruangan dalam Pyramid. Makam-makam itu sengaja dibuat rumit seperti ini untuk menghindari penjarahan. Tapi faktanya hampir semua makam-makam itu pernah dijarah.

Makam Fir'aun yang ditemukan masih utuh adalah makam Tut An Khamun. Mummy lengkap dengan harta bendanya. Dari mulai peralatan rumah tangga seperti kursi, kereta kuda, sandal sampai perhiasan emas dan perak ditemukan masih utuh. Dan masih bisa kita lihat di Egyptian Museum di Kairo.

Kuil Hatseptsut.
Salah satu kuil yang dibangun oleh salah seorang ratu Mesir kuno bernama Hatsepsut. Berada di balik Valley of the Kings

Luxor Kini..

Situasi politik rupanya sangat berpengaruh pada kunjungan turis di Mesir. Terbukti pada saat saya ke sana, Luxor sepi bak kota mati. Toko-toko souvenir banyak yang tutup juga kesulitan menemukan restaurant-restaurant yang buka. Walaupun akhirnya menemukan warung lokal di tengah pasar tradisional. Kereta kuda dan felucca (perahu layar khas Mesir) sepi penumpang. Tidak seperti di Kairo yang kotanya hidup pada malam hari. Di Luxor sulit ditemukan lalu lalang orang di atas jam 10 malam. Sepi.

Jalan yang lengang

Sambil menunggu penumpang, para nahkoda felucca memperbaiki layar perahunya


Tingkat hunian hotel juga sangat rendah. Hotel-hotel di sana berlomba-lomba menarik turis dengan harga promo. Hotel bintang lima seharga bintang 3 bisa dengan mudah ditemukan. Kebetulan saya juga dapat harga promo, 350 EGP/malam untuk hotel bintang 5.

Walaupun demikian, nggak ada salahnya memasukkan Luxor ke dalam itenerary anda jika mengunjungi Mesir. Hanya saja butuh waktu sedikit lebih panjang karena jauhnya perjalanan. Mungkin luangkan waktu sekitar minimal 2 hari plus 2 malam untuk perjalanan.

Waktu terbaik mengunjungi Luxor adalah pada musim dingin sekitar bulan November sampai Mei. Karena suhu udara disana lebih tinggi dari Kairo. 

Ke Luxor Naik Apa?

Ada beberapa cara untuk menuju kota ini yaitu dengan pesawat udara, kereta api, bus atau sewa mobil. Jika memiliki waktu agak longgar tidak ada salahnya memilih kereta api. Butuh waktu sekitar 10 jam dari Kairo menuju Luxor. Pilihan kelasnya juga bisa disesuaikan dengan budget. Dari mulai kelas biasa seharga 8 USD sampai yang deluxe seharga 100 USD. Booking bisa dilakukan online di Egyptian National Railways atau Watania Sleeping Train. Kebanyakan turis menggunakan moda transportasi ini. Karena harganya yang relatif murah dan lebih santai.

Kebetulan waktu saya ke sana, memilih menggunakan pesawat karena keterbatasan waktu. Saya menggunakan pesawat Egypt Air, harga tiketnya sekitar 300 USD pergi pulang. Waktu tempuhnya sekitar 50 menit.

Jika memilih sewa mobil, coba lewat Hurghada. Waktu tempuh memang menjadi lebih lama namun keuntungannya kita bisa dapat 3 obyek wisata sekaligus yaitu Hurghada, Aswan dan Luxor. Sewa mobil berkisar antara 250-350 EGP/hari tergantung jenis mobil.

Bagaimana? Tertarik ke Luxor?

__________________________














Sep 16, 2015

Masjid Amr bin Ash, Masjid Pertama di Mesir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).

Jika masjid Ibn Tholun merupakan masjid tertua ketiga di Kairo maka Masjid Amr bin Ash adalah masjid pertama di Mesir bahkan di Afrika. Masjid ini didirikan oleh Amr bin Ash tahun 641-642 M, setelah berhasil menaklukkan Mesir dari tangan Romawi.

Siapa Amr bin Ash?

Amr bin Ash adalah salah satu tokoh pahlawan era Rasulullah yang terkenal cerdik dalam taktik perang dan pemberani. Penunggang kuda yang mahir, negosiator ulung, dan ia juga seorang penyair yang puitis. Beliau juga dikenal sebagai orang yang memiliki kecerdasan luar biasa untuk keluar dari situasi yang sulit dengan tenang sekaligus menemukan solusinya.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, Amr bin Ash dipercaya memimpin pasukan untuk menduduki Mesir. Yang pada waktu itu berada dibawah kekuasaan negara adidaya Romawi. Bersama 4000 pasukan Amr bin Ash melawan 50.000 pasukan Romawi yang kuat. Meski kekuatan pasukan tidak seimbang, namun Amr bin Ash berhasil membuat pasukan Romawi bertekuk lutut. 

Setelah berhasil menaklukkan Mesir, Amr bin Ash diangkat menjadi gubernur. Ia mendirikan kota Fustat berikut masjid yang letaknya tidak jauh dari gereja yang sudah berdiri sejak abad 3 Masehi.

Metamorfosis Masjid Amr bin Ash

Bentuk awal masjid ini cukup sederhana. Berukuran 29 x 17 meter. Dindingnya terbuat dari batu bata dengan tiang yang terbuat dari batang pohon kurma. Sedangkan atapnya juga diambil dari daun kurma kering. Mihrab tempat imam sholat hanya ditandai dengan 4 tiang kayu. Lantainya juga hanya berupa tanah.

Tahun 673 M, gubernur Maslama ibn Mukhallad al-Ansari merenovasi masjid untuk pertama kali. Diperluas dan ditambah dengan menara di 4 sudut masjid. Berfungsi sebagai tempat adzan. Berikutnya masjid terus diperluas dan disempurnakan bentuknya. Tahun 827, oleh Gubernur Abdullah ibn Tahir interior masjid dipercantik dengan arcade (lorong yang terbentuk dari barisan kolom dengan lengkungan diatasnya). Di era Fatimiyah, menara masjid ditambah menjadi 5. 1 tambahan menara diletakkan di pintu masuk masjid.

Pada tahun 1169 kota Fustat termasuk masjid ini dibakar oleh seorang menteri bernama Shawar untuk menghindari penyerangan oleh pasukan salib. Namun setelah Shalahuddin al Ayyubi mengambil alih kekuasaan, tahun 1179 masjid dibangun kembali . 

Pada masa dinasti Mamluk, sekitar tahun 1796 M. Sebelum kedatangan pasukan Perancis dibawah pimpinan Napoleon, Sultan Murad Bay membongkar total lalu merenovasi masjid ini karena bangunannya yang sudah rapuh. Berikutnya tahun 1875 masjid direnovasi ulang. Dan terakhir tahun 1980 masjid mengalami rekonstruksi pada bagian pintu masuk.

Masjid Amr bin Ash sekarang

Masjid Amr bin Ash hingga kini masih rutin dipakai untuk sholat berjamaah. Turis asing juga tidak dilarang masuk ke masjid ini. Asalkan memakai pakaian yang sopan. 

Biasanya pada setiap malam 27 bulan Ramadhan, yang dipercaya sebagai malam lailatul qadar.  Masjid ini menjadi penuh. Bahkan hingga 1 km di luar area masjid. Warga berduyun-duyun untuk mengikuti shalat tarawih. Tak jarang, warga dari luar kota Kairo ikut berbondong-bondong. Untuk mendapat shaf-shaf depan, mereka sudah datang sejak jam 2 siang. Karena imam sholat tarawih hari itu adalah Syeikh Muhammad Jibril  seorang qari` yang dikenal memiliki suara merdu. Beliau memang rutin menjadi imam sholat tarawih di masjid ini sejak tahun 1988.

Masjid ini bukan hanya punya cerita sejarah yang panjang, namun juga menjadi simbol ketaatan umat Islam pada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu berbuat baik pada orang Qibthi, dan wajib melindungi mereka. Terbukti gereja tidak serta merta dihancurkan ketika Islam menguasai Mesir.

Sisi barat

Pintu di sisi selatan
Tempat wudhu di halaman tengah

Arcade atau kolom-kolom yang berbentuk lengkung di atasnya menjadi ciri khas masjid-masjid di Mesir
Turis asing tampak mengagumi masjid bersejarah ini
Beginilah suasana tarawih malam 27 Ramadhan di Masjid Amr bin Ash (Source)

Jun 30, 2015

Menikmati Begadang Bareng Orang Mesir

Awal-awal pindah ke Kairo saya cukup kaget dengan kebiasaan ini. Tapi lama kelamaan maklum juga. Bahkan saya cenderung menikmatinya. Seneng juga karena hypermarket, mall, cafe, warung makan buka sampai lewat tengah malam. Karena, di Indonesia saya nyaris tak pernah melakukannya. Selain toko, mall, cafe tutupnya tidak lebih dari jam 11 malam, jam 21.30 saja mata saya sudah enggan diajak kompromi hehe..

Di Kairo, begadang sampai pagi bukan hal aneh bahkan sudah jadi semacam gaya hidup orang di sini. Menurut cerita suami yang pernah tinggal di Libya, orang Libya pun punya kebiasaan yang sama. Mungkin menjadi kebiasaan hampir semua orang-orang Arab saya rasa. Terutama pada musim panas. Karena waktu malam menjadi terasa pendek. Matahari baru terbenam pada pukul 19,00 sedangkan kembali terbit pada pukul 04.00. 

Kalau Ramadhan bertepatan dengan musim panas seperti sekarang, maka kehidupan malam dimulai usai tarawih, Tarawih baru selesai rata-rata pukul 22.30 membuat waktu malam makin terasa amat cepat.

Umumnya cafe memang ramai setelah tarawih. Keramaian jalan sepertinya pindah ke cafe. Dari cafe kelas mall sampai cafe-cafe jalanan nyaris tidak ada yang sepi. Sebaliknya, jalan raya mendadak lengang, seneng juga sih kalau Kairo begini karena nggak stress kena macet. Dari mulai anak-anak sampai kakek-kakek, ibu-ibu sampai bapak-bapak nggak ada yang ketinggalan menikmati acara begadang sampai sahur ini.

Alhasil, pagi hari Kairo jadi seperti kota mati apalagi kalau weekend. Aktifitas paling pagi dimulai pukul 9 terutama bagi para pekerja kantoran. Toko-toko dan mall kebanyakan buka setelah dzuhur. Anak-anak sekolahan bisa tidur sepuasnya karena sekolah-sekolah Mesir libur 1 bulan sebelum bulan puasa sampai biasanya setelah Idul Adha. Total liburnya sekitar 4 bulan. Wow!

Begadang memang bukan kebiasaan yang bagus kata Bang Haji (baca: Rhoma Irama). Tapi bolehlah buat yang tinggal di Mesir seperti saya ya Bang? hehehe...

Bisa jadi hal ini nanti akan menjadi sesuatu yang paling saya rindukan dari Kairo ketika saya tidak lagi berada di kota ini. Selain tempat-tempat bersejarahnya, dan obyek foto eksotisnya. Juga kebiasaan orang-orangnya termasuk kebiasaan cangkrukan sampai pagi yang tak akan saya temukan di Indonesia. Mau coba???

_______
Dibawah ini adalah rekaman gambar suasana kehidupan malam diseputar kawasan Hussein dan Khan Khalili

Bapak-bapak cangkruk sambil nyisha

Cafe-cafe di kawasan Khan Khalili . Hampir seluruh kursi tersisi

Dipilihh..dipilih.... harga murah dijamin :D

Yang nggak mau ngopi cangkruk juga boleh koq (suasana di depan masjid Hussein)

Jun 17, 2015

Fanoos, Tanda Ramadhan Telah Dimulai

Fanoos klasik koleksi pribadi :D



Ramadhan adalah bulan spesial bagi seluruh umat muslim dunia. Di beberapa negara, ada tradisi unik untuk menyambut bulan suci ini.

Di Indonesia, tradisi unik menyambut Ramadhan berbeda di tiap daerah. Ada Megengan di Jawa Timur, Mungguhan di Jawa Barat, Dugderan di Jawa Tengah, Balimo di Sumatera Barat, Balimo Kasai di Riau, Meugang di Aceh dan masih banyak lagi. 

Karena saya lahir dan besar di Jawa Timur, saya mengenal tradisi Megengan. Yaitu tradisi saling antar makanan pada tetangga sehari menjelang puasa. Makna dari kegiatan ini sebenarnya adalah saling mengunjungi dan meminta maaf antar tetangga dan keluarga. Hantaran hanya sebagai buah tangan. Sayangnya, di kampung saya sudah makin jarang orang melakukan tradisi ini. Padahal dulu setiap megengan meja makan kami selalu penuh dengan makanan beraneka rupa hasil kiriman tetangga. 

Ramadhan di Mesir

Di Mesir, fanoos menjadi hal unik yang ada pada saat Ramadhan. Fanoos adalah lentera atau lampu dekorasi yang digantung di rumah, masjid atau tempat umum lainnya selama Ramadhan. Biasanya sebulan sebelum bulan Ramadhan pedagang fanoos ini sudah mulai bermunculan menggelar dagangannya. Fanoos klasik terbuat dari logam seperti tembaga, kuningan bahkan perak yang didalamnya diisi dengan lilin. Sedangkan fanoos modern terbuat dari plastik, kertas atau kain warna warni yang didalamnya diisi dengan lampu listrik.

Sejarah penggunaan fanoos untuk perayaan sesuatu di Mesir sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu. Fanoos pada jaman Mesir kuno masih berupa lampu minyak atau sejenis obor. Digunakan untuk merayakan terbitnya bintang Sirius. Juga untuk merayakan ulang tahun Osiris, Horus, Isis, Seth dan Nephtys, orang-orang Mesir kuno menyalakan fanoos selama 5 hari berturut-turut.

Menyalakan fanoos selama bulan Ramadhan dimulai pada masa dinasti Fatimiyah (sekitar tahun 900an Masehi). Tepatnya pada masa Khalifah Al Hakim Bi-Amr Lillah. Pada masa itu, untuk menerangi jalan-jalan di Kairo selama Ramadhan, khalifah Al-Hakim mewajibkan pada semua syekh masjid untuk menggantung fanoos. 

Cerita berbeda menyebutkan bahwa pada masa Khalifah Al Hakim, para wanita tidak diijinkan keluar rumah kecuali selama bulan Ramadhan. Namun ada aturannya yaitu pada saat keluar rumah harus didahului dengan anak kecil yang membawa fanoos. Sebagai penanda bahwa akan ada wanita yang lewat sehingga para pria harus menyingkir atau menghindari jalan itu.

Tidak ada cerita sejarah yang pasti mengenai awal mula penggunaan fanoos. Namun fanoos sudah menjadi kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan selama berabad-abad lamanya oleh orang-orang Mesir untuk merayakan Ramadhan. Bahkan kini telah menyebar di hampir seluruh negara-negara Arab bahkan negara Islam lain di dunia.

Apapun bentuknya, Ramadhan memang seharusnya disambut dengan suka cita. Karena Ramadhan adalah bulan penuh keistimewaan.


Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan...


Cairo, 29 Sya'ban 1436 H



Fanoos klasik

Bermacam-macam fanoos klasik

Fanoos modern, kebanyakan sih made in china :D


Sep 22, 2014

Masjid Muayyad, Masjid di Bekas Penjara

Tujuan awal saya sebenarnya adalah Museum of Islamic Art. Museum ini terletak di jalan Port Said, daerah perdagangan paling ramai di Kairo. Meski sudah 3 tahun tinggal di Kairo, saya tak pernah kesampaian masuk ke museum itu. Penasaran? Tentu saja.. Hingga akhirnya kami dievakuasi dari kota ini Juni 2013 lalu.

Januari 2014, beberapa minggu sebelum saya kembali ke Kairo, bom mobil meledak di depan kantor kepolisian provinsi Kairo. Museum itu terkena dampak dari dahsyatnya ledakan bom. Karena letaknya yang berada persis berhadapan dengan kantor polisi. Sejak itu museum ditutup. Saya pikir selang beberapa bulan setelah peristiwa itu, museum sudah diperbaiki dan dibuka kembali. 

Hingga beberapa waktu lalu saya mengajak suami menyambangi museum itu. Dari jauh terlihat gedung kantor polisi sedang di perbaiki dan satu jalur di jalan Port Said ditutup dengan seng berwarna kuning. Dari berita yang saya baca waktu kejadian, jalan tersebut berlubang cukup besar. 

Pandangan saya arahkan ke kanan, berharap museum tidak hancur seperti bangunan di depannya. Ternyata di luar dugaan. Pintu museum ditutup dengan batu bata yang disemen. Tampak beberapa bagian bangunan itu hancur. Dampak bom sangat luar biasa. Saya tak berani memotret. Hanya bisa tertegun memandangi dan menyesalinya.

Menyesal sekali belum pernah masuk ke museum itu padahal sudah cukup lama di Kairo. Dan beberapa kali melewatinya. Hiks..

Untuk menebus kekecewaan, dan pulang dengan tangan kosong (tanpa foto maksudnya hehehe...) kami berjalan ke arah barat menyusuri jalan menuju Bab Zuweyla. Pintu selatan kota Kairo masa dinasti Fatimiyah. Untuk kemudian menyusuri jalan Muizz (Sharia Muizz). 



Masjid Sultan Muayyad 




Setelah berjalan hampir 1 km, Dibalik pintu Zuweyla ini berdiri sebuah masjid . Dulu saya pernah juga ke tempat ini tapi tak sempat masuk ke dalamnya. Masjid Sultan Muayyad, yang juga merupakan komplek madrasah dan khanqah yaitu tempat belajar sekaligus asrama para sufi.


Masjid ini dibangun antara tahun 1415-1422 Masehi  pada masa dinasti Mamluk oleh Sultan al Muayyad. Sebelum dibangun menjadi masjid, tempat tersebut merupakan penjara paling menakutkan. Tulang-tulang orang yang mati di penjara setiap hari diangkut keledai-keledai yang telah disiapkan di luar penjara.

Ikhwal berdirinya masjid ini, adalah ketika Sultan Muayyad dijebloskan ke penjara oleh Sultan Faraq bin Barquq. Dikisahkan, Sultan Muayyad sangat menderita di dalam penjara, terserang penyakit kulit yang parah. Kesadaannya yang mengenaskan, membuat beliau bersumpah. Jika bebas dari penjara dan berkuasa, akan mengubah penjara ini menjadi tempat suci serta tempat lahirnya intelektual.


Maka ketika Sultan Muayyad benar-benar berkuasa, beliau memenuhi sumpahnya. Membongkar penjara dan mengubahnya menjadi masjid. Proyek ini adalah proyek ambisius sang sultan. Menghabiskan 40.000 dinar hanya untuk konstruksinya. 30 ahli bangunan dan 100 pekerja dilibatkan. Menggunakan marmer terbaik dari seluruh penjuru Mesir. Tak heran, masjid ini menjadi salah satu masjid terindah yang dibangun di Kairo. 



_____

Bagian luar masjid dihiasi dengan dua baris jendela. Baris atas jendela berbentuk lengkung sedangkan yang bawah berbentuk persegi. Di bawah barisan jendela terdapat toko-toko kecil yang masih berfungsi hingga kini. Menjual souvenir-souvenir khas Mesir. 


Ornamen khas Mamluk tampak pada pintu utama masjid. Di bagian atas pintu terdapat muqarnas (stalaktit) yaitu struktur mirip sarang lebah. Pintu yang terbuat dari perunggu dan lampu gantung, konon diambil dari masjid Sultan Hassan.


Masuk ke dalam ruangan masjid, kita akan menemukan ruangan tengah yang terbuka  (courtyard) dengan tempat wudhu di bagian tengahnya. Tempat sholat berhias banyak tiang berbentuk lengkung. Interior seperti ini umum dijumpai pada masjid-masjid era dinasti Mamluk. 




Courtyard masjid Sultan Muayyad. Bangunan kecil di tengah itu adalah tempat wudhu

Interior masjid seperti ini merupakan ciri khas arsitektur era Mamluk


Ukiran di langit-langit masjid

Kaligrafi di pintu masuk masjid




Beberapa saat setelah mengambil gambar, kami ditawari penjaga untuk naik ke menara masjid. Namun siang itu kami memilih naik ke menara Bab Zuweyla. Karena dulu waktu ke sini, kami tidak naik ke atas menara.

Untuk bisa naik ke menara Bab Zuweyla, kita harus membayar tiket sebesar 20 LE per orang. Namun berbekal bahasa 'amiyah, suami bisa menawarnya menjadi 20 LE untuk 3 orang. 

Cerita tentang Bab Zuweyla ada di sini..

Dari atas menara, tidak ada pemandangan yang menarik, hanya padatnya kawasan tua ini yang bisa kita saksikan. Menyaksikan atap apartemen yang mirip tempat pembuangan sampah. Tapi tetap saja buat saya ini adalah pemandangan yang "eksotis" yang hanya bisa ditemukan di Mesir hehehe... 

Namun saya tak naik sampai ke ujung menara karena kaki saya kurang bisa diajak kompromi saat itu. Tangga menuju puncak menara cukup curam dan sempit. Belum lagi udara panas yang kurang bersahabat. 


Melihat kota tua Kairo yang "eksotis" dari atas Bab Zuweyla



Ragam hias di salah satu bagian Bab Zuweyla

Detail salah satu menara di Bab Zuweyla



Lantai 2 Bab Zuweyla.. Panasnyaaa rek!

Jun 17, 2014

Paris on The Nile



Hari itu, selepas berbelanja kain di pasar Attaba saya dan salah seorang teman baik pergi ke sebuah toko mesin jahit untuk membeli sesuatu. Toko tersebut berada di kawasan downtown. Sebuah kawasan perdagangan yang cukup sibuk di Kairo. Sayangnya kami berdua tak cukup mengenal jalan di kawasan ini. Meski sebenarnya saya sudah sekian kali ke tempat ini. Beberapa kali kami harus bertanya pada orang-orang di sepanjang jalan yang kami lewati. Namun tak jua ketemu tempat yang kami tuju.

Untung saja cuaca cukup bersahabat. Walaupun musim panas, tapi angin berhembus sejuk sepoi-sepoi. Jalan kakipun tak terasa melelahkan.  

Berjalan kaki menyusuri jalan di downtown ini tak ubahnya seperti berjalan di kota-kota di benua Eropa. Selain kaya dengan arsitektur tua era Mesir kuno, peradaban Islam (Mamluk, Abasiyah, Fatimiyah, Usmani) Kairo juga memiliki tempat dengan gaya arsitektur Eropa abad 19 yang cantik. 

Kawasan downtown berada tak jauh dari Attaba dan bundaran Tahrir. Merupakan salah satu tempat yang di rancang tata kotanya dengan seksama.

Jalan yang lebar lengkap dengan ruang terbuka dan taman-taman yang indah. Sangat memperhatikan keseimbangan geometris dan harmoni dalam penataannya. Sang arsitek Khedive Ismail Pasha memang terinspirasi oleh kota-kota di Eropa. Tak heran, tempat ini terlihat sangat rapi dibandingkan bagian kota lainnya di Kairo. Dijuluki sebagai Paris on The Nile. 

Konon, Khedive Ismail Pasha sampai memanggil Baron Housman, arsitek sekaligus ahli tata kota Paris untuk datang ke Kairo dan merancang Paris fi al-Nil ini. ia ingin membuat takjub kekasih hatinya, puteri Prancis Eugenie de Montijo, juga kaisar2 Eropa dengan penjelmaan mini Paris di lembah Nil

Ada 2 jalan utama di kawasan cukup sibuk di Kairo ini, yaitu Qasr el-Nil street dan Talaat Harb Street. Pertemuan 2 jalan utama tersebut dinamakan Talaat Harb Square.

Dulu jalan itu bernama jalan Soleman Pasha Street yaitu nama jenderal Mesir kelahiran Perancis pada masa pemerintahan Muhammad Ali Pasha. Lalu tahun 1954 pada masa pemerintahan Gamal Abdul Nasser jalan tersebut berganti nama menjadi Talaat Harb Street merupakan nama seorang ekonom Mesir terkemuka tahun 1900an. Hal ini adalah upaya Nasser membersihkan kota dari semua unsur yang mengingatkan pada dinasti Muhammad Ali Pasha dan era pendudukan Inggris.

Sayangnya keindahan tempat ini semakin berkurang. Taman-taman hijau kini sudah tak ditemukan lagi. Padahal Ismail Pasha mendesainnya seperti kota2 Eropa yang penuh taman. Dahulu terdapat taman besar bernama taman Azbakiyah di downtown dengan danau di tengahnya. Tempat para Bangsawan menikmati senja dari atas felluca  (perahu).

Begitupun kondisi gedung-gedung yang tampak kurang terawat. Stiker-stiker iklan, dan debu yang menempel memperburuk kondisi bangunan. Pedagang kaki lima yang menguasai trotoar, parkir mobil tak beraturan di kanan kiri jalan menambah kesemrawutan kawasan ini. Menurut cerita orang-orang, sebelum revolusi 25 Januari 2011 downtown tidak seperti sekarang ini. Tidak ada yang berani berjualan di trotoar, dan parkir sembarangan. Rapi dan bersih.


Dan beginilah wajah Little Paris atau Paris on The Nile itu kini.. 


.
 Patung Ibrahim Pasha, merupakan putra Muhammad Ali Pasha. Dia adalah panglima pasukan tentara Mesir, mempimpin pasukan sejak berusia remaja selama ayahnya menjadi penguasa di Mesir.

Talaat Harb Street

Talaat Harb Square


Talaat Harb Square

Salah satu taman yang masih terawat di downtown




Catatan :

Karena tidak khusus hunting foto, maka saya menggunakan senjata cadangan untuk memotret. Foto-foto di atas adalah hasil jepretan kamera handphone.

Cairo, 29/5/14





Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy