Sep 22, 2014

Advertisement

Masjid Muayyad, Masjid di Bekas Penjara

Advertisement


Tujuan awal saya sebenarnya adalah Museum of Islamic Art. Museum ini terletak di jalan Port Said, daerah perdagangan paling ramai di Kairo. Meski sudah 3 tahun tinggal di Kairo, saya tak pernah kesampaian masuk ke museum itu. Penasaran? Tentu saja.. Hingga akhirnya kami dievakuasi dari kota ini Juni 2013 lalu.

Januari 2014, beberapa minggu sebelum saya kembali ke Kairo, bom mobil meledak di depan kantor kepolisian provinsi Kairo. Museum itu terkena dampak dari dahsyatnya ledakan bom. Karena letaknya yang berada persis berhadapan dengan kantor polisi. Sejak itu museum ditutup. Saya pikir selang beberapa bulan setelah peristiwa itu, museum sudah diperbaiki dan dibuka kembali. 

Hingga beberapa waktu lalu saya mengajak suami menyambangi museum itu. Dari jauh terlihat gedung kantor polisi sedang di perbaiki dan satu jalur di jalan Port Said ditutup dengan seng berwarna kuning. Dari berita yang saya baca waktu kejadian, jalan tersebut berlubang cukup besar. 

Pandangan saya arahkan ke kanan, berharap museum tidak hancur seperti bangunan di depannya. Ternyata di luar dugaan. Pintu museum ditutup dengan batu bata yang disemen. Tampak beberapa bagian bangunan itu hancur. Dampak bom sangat luar biasa. Saya tak berani memotret. Hanya bisa tertegun memandangi dan menyesalinya.

Menyesal sekali belum pernah masuk ke museum itu padahal sudah cukup lama di Kairo. Dan beberapa kali melewatinya. Hiks..

Untuk menebus kekecewaan, dan pulang dengan tangan kosong (tanpa foto maksudnya hehehe...) kami berjalan ke arah barat menyusuri jalan menuju Bab Zuweyla. Pintu selatan kota Kairo masa dinasti Fatimiyah. Untuk kemudian menyusuri jalan Muizz (Sharia Muizz). 



Masjid Sultan Muayyad 




Setelah berjalan hampir 1 km, Dibalik pintu Zuweyla ini berdiri sebuah masjid . Dulu saya pernah juga ke tempat ini tapi tak sempat masuk ke dalamnya. Masjid Sultan Muayyad, yang juga merupakan komplek madrasah dan khanqah yaitu tempat belajar sekaligus asrama para sufi.


Masjid ini dibangun antara tahun 1415-1422 Masehi  pada masa dinasti Mamluk oleh Sultan al Muayyad. Sebelum dibangun menjadi masjid, tempat tersebut merupakan penjara paling menakutkan. Tulang-tulang orang yang mati di penjara setiap hari diangkut keledai-keledai yang telah disiapkan di luar penjara.

Ikhwal berdirinya masjid ini, adalah ketika Sultan Muayyad dijebloskan ke penjara oleh Sultan Faraq bin Barquq. Dikisahkan, Sultan Muayyad sangat menderita di dalam penjara, terserang penyakit kulit yang parah. Kesadaannya yang mengenaskan, membuat beliau bersumpah. Jika bebas dari penjara dan berkuasa, akan mengubah penjara ini menjadi tempat suci serta tempat lahirnya intelektual.


Maka ketika Sultan Muayyad benar-benar berkuasa, beliau memenuhi sumpahnya. Membongkar penjara dan mengubahnya menjadi masjid. Proyek ini adalah proyek ambisius sang sultan. Menghabiskan 40.000 dinar hanya untuk konstruksinya. 30 ahli bangunan dan 100 pekerja dilibatkan. Menggunakan marmer terbaik dari seluruh penjuru Mesir. Tak heran, masjid ini menjadi salah satu masjid terindah yang dibangun di Kairo. 



_____

Bagian luar masjid dihiasi dengan dua baris jendela. Baris atas jendela berbentuk lengkung sedangkan yang bawah berbentuk persegi. Di bawah barisan jendela terdapat toko-toko kecil yang masih berfungsi hingga kini. Menjual souvenir-souvenir khas Mesir. 


Ornamen khas Mamluk tampak pada pintu utama masjid. Di bagian atas pintu terdapat muqarnas (stalaktit) yaitu struktur mirip sarang lebah. Pintu yang terbuat dari perunggu dan lampu gantung, konon diambil dari masjid Sultan Hassan.


Masuk ke dalam ruangan masjid, kita akan menemukan ruangan tengah yang terbuka  (courtyard) dengan tempat wudhu di bagian tengahnya. Tempat sholat berhias banyak tiang berbentuk lengkung. Interior seperti ini umum dijumpai pada masjid-masjid era dinasti Mamluk. 




Courtyard masjid Sultan Muayyad. Bangunan kecil di tengah itu adalah tempat wudhu

Interior masjid seperti ini merupakan ciri khas arsitektur era Mamluk


Ukiran di langit-langit masjid

Kaligrafi di pintu masuk masjid




Beberapa saat setelah mengambil gambar, kami ditawari penjaga untuk naik ke menara masjid. Namun siang itu kami memilih naik ke menara Bab Zuweyla. Karena dulu waktu ke sini, kami tidak naik ke atas menara.

Untuk bisa naik ke menara Bab Zuweyla, kita harus membayar tiket sebesar 20 LE per orang. Namun berbekal bahasa 'amiyah, suami bisa menawarnya menjadi 20 LE untuk 3 orang. 

Cerita tentang Bab Zuweyla ada di sini..

Dari atas menara, tidak ada pemandangan yang menarik, hanya padatnya kawasan tua ini yang bisa kita saksikan. Menyaksikan atap apartemen yang mirip tempat pembuangan sampah. Tapi tetap saja buat saya ini adalah pemandangan yang "eksotis" yang hanya bisa ditemukan di Mesir hehehe... 

Namun saya tak naik sampai ke ujung menara karena kaki saya kurang bisa diajak kompromi saat itu. Tangga menuju puncak menara cukup curam dan sempit. Belum lagi udara panas yang kurang bersahabat. 


Melihat kota tua Kairo yang "eksotis" dari atas Bab Zuweyla



Ragam hias di salah satu bagian Bab Zuweyla

Detail salah satu menara di Bab Zuweyla



Lantai 2 Bab Zuweyla.. Panasnyaaa rek!

Advertisement

4 comments:

Anonymous said...

Asyikkkkkk... Mbak iki wes mulai nulis maneh. :) ira

Ellys Utami said...

Whuuaaaa Mbak Iraaaa..... isin rek blogku akeh sawange hihihi..
Suwun mbak, akeh tulisan ndek draft tapi gak tau tutug nulise hehehe :D

rierie aja said...

Tulisanmu iki serius yo lys

Ellys Utami said...

Gaya menulisku pancen reportase ngene iki Ri.. Gak bisa nulis model bercerita seperti dirimu hahaha..

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy