Sejak kebijakan Ujian Nasional (UN) diberlakukan tahun 2003 di sebuah negara yang bernama Indonesia, kontroversi akan keberadaannya seolah tidak pernah surut. UN menjadi semacam monster yang menakutkan banyak orang. Bukan saja anak-anak sekolah, tapi orang tua juga seakan ikut serta bahu membahu, bekerja sama menghadapi monster jahat yang bernama UN ini.
Awalnya, nilai UN menjadi satu-satunya syarat untuk kelulusan siswa. Hal ini yang kemudian dikecam oleh banyak orang karena tidak memberi ruang bagi sekolah untuk ikut serta menentukan kelulusan siswa. Karena sejatinya sekolah lebih tahu bagaimana kondisi siswa sehingga sekolah berhak ikut campur dalam penentuan lulus tidaknya siswa dalam sebuah proses belajar. Tidak meratanya kualitas pendidikan di Indonesia juga menjadi alasan mengapa banyak orang menganggap bahwa ujian nasional belum atau tidak layak menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa dari sebuah lembaga bernama sekolah.
Yang paling mengerikan lagi beberapa pendapat yang mengatakan bahwa UN dianggap melanggar hak asasi manusia. Entahlah dari sudut pandang mana pendapat ini dikemukakan. UN juga dianggap menciptakan ketidakjujuran karena siswa berupaya dengan segala cara agar dia lulus dan sekolah ikut membantu agar "kualitas" sekolah tetap terjaga dengan cara-cara yang tidak jujur sekalipun.
Tahun ini, pemerintah memutuskan bahwa nilai UN bukan lagi menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Nilai UN hanya mengambil 60% porsi sedangkan 40% sisanya adalah andil sekolah untuk menentukan kelulusan siswanya. Artinya nilai rapor 3 tahun terakhir, nilai ujian sekolah dan prilaku anak juga menjadi item penilaian lulus tidaknya siswa selain nilai UN tentu saja. Namun kontroversi seakan tidak surut walaupun UN bukan lagi menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Komposisi ini sebenarnya mirip atau sama dengan saat UN bernama EBTANAS beberapa tahun lalu. Saat UN bernama EBTANAS (Evaluasi Tahap Akhir Nasional) sepertinya tidak seheboh saat ini. Biasa aja tuh....
Buat saya tidak ada sesuatu yang perlu dicemaskan dalam menghadapi segala bentuk ujian termasuk Ujian Nasional. Soal kejujuran, hal ini seharusnya sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menanamkan sikap jujur pada anak-anak dalam hal apapun sejak mereka kecil. Memberikan motivasi tentu menjadi lebih penting daripada hanya sekedar menekan anak-anak untuk meraih nilai yang bagus. Ini juga yang saya dan suami lakukan pada 2 anak kami yang masing-masing duduk di kelas 6 SD dan kelas 3 SMP saat mereka menghadapi ujian nasional tahun lalu. Karena ujian adalah tahap yang memang harus mereka lalui untuk mencapai sesuatu.
Jauh-jauh hari sebelum mereka memasuki kelas akhir, kami berikan pertanyaan untuk mereka "Mimpi apa yang ingin kalian wujudkan nanti?". Masing-masing menjawab ingin kuliah di Fakultas Kedokteran dan satu lagi menjawab ingin kuliah astronomi di luar negeri. Ya sudahlah... mau jadi apa saja, asal sungguh-sungguh saya bebaskan saja. Lalu saya mengajukan pertanyaan lagi pada mereka, "Bisa nggak meraih impian tanpa usaha, nggak belajar misalnya?" Lalu mereka menjawab, "Ya nggak bisa dong , bu.."
Dari sana, saya lalu bisa mengatakan pada mereka tidak ada sesuatu yang diraih tanpa usaha keras. Ujian Nasional adalah salah satu tantangan yang harus kalian taklukkan untuk meraih mimpi karena Usaha berbanding lurus dengan Hasil. Jadi kami tidak pernah khawatir karena anak-anak sudah ditanamkan motivasi seperti itu.
Mempersiapkan diri menghadapi ujian jauh-jauh hari juga menjadi salah satu cara agar mereka tidak panik dan cemas menghadapinya. Dan nyatanya mereka cukup confindence menjelang UN waktu itu. Mereka membuat target nilai yang ingin mereka capai dalam UN nanti tanpa ada tekanan dari kami orang tuanya. Misalnya,"Aku ingin nilaiku rata-rata 9 di UN nanti." Kalau mereka agak santai belajarnya, kami tinggal mengingatkan soal target yang sudah mereka buat sendiri. Dan ini cukup ampuh.
Jadi apa lagi yang perlu dicemaskan? Mendampingi anak-anak untuk mempersiapkan ujian jauh lebih realistis daripada hanya memprotes kebijakan pemerintah sedangkan kita sendiri lalai memotivasi anak-anak mencapai tujuan hidupnya. Toh, sejatinya hidup itu kan ujian. Tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tanpa ujian. Kita akan menjadi manusia yang jauh lebih baik jika berhasil melewati ujian.
Jadi masih menganggap UN itu monster??
Bagaimana agar anak-anak tidak tertekan dan siap menghadapi UN, ini beberapa tips yang sebenarnya cukup klise tapi ini nyata berdasarkan pengalaman saya :
1. Berikan motivasi sejak awal, apa tujuan mereka sekolah dan apa cita-cita yang ingin mereka raih.
2. Berikan reward atau penghargaan jika mereka berhasil mencapai target.
3. Belajar jauh-jauh hari sebelum hari H untuk menghindari stress berlebihan menjelang ujian.
4. Tanamkan bahwa kejujuran adalah bekal hidup mereka sampai kapanpun.
5. Ber'doa tentu menjadi kekuatan psikologis untuk anak-anak menghadapi ujian dalam bentuk apapun.
Semoga bermanfaat dan salam hangat dari Kairo.
Catatan:
Dua anak saya sekolah di Sekolah Indonesia Cairo (SIC), sekolah yang berkurikulum nasional dan menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) seperti sekolah-sekolah di Indonesia.
Mereka lulus dengan nilai cukup memuaskan, yang SMP nilainya 35,85 dan yang SD nilainya 27,15




