Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Apr 16, 2013

Monster Bernama UN

Sejak kebijakan Ujian Nasional (UN) diberlakukan tahun 2003 di sebuah negara yang bernama Indonesia, kontroversi akan keberadaannya seolah tidak pernah surut. UN menjadi semacam monster yang menakutkan banyak orang. Bukan saja anak-anak sekolah, tapi orang tua juga seakan ikut serta bahu membahu, bekerja sama menghadapi monster jahat yang bernama UN ini.

Awalnya, nilai UN menjadi satu-satunya syarat untuk kelulusan siswa. Hal ini yang kemudian dikecam oleh banyak orang karena tidak memberi ruang bagi sekolah untuk ikut serta menentukan kelulusan siswa. Karena sejatinya sekolah lebih tahu bagaimana kondisi siswa sehingga sekolah berhak ikut campur dalam penentuan lulus tidaknya siswa dalam sebuah proses belajar. Tidak meratanya kualitas pendidikan di Indonesia juga menjadi alasan mengapa banyak orang menganggap bahwa ujian nasional belum atau tidak layak menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa dari sebuah lembaga bernama sekolah.

Yang paling mengerikan lagi beberapa pendapat yang mengatakan bahwa UN dianggap melanggar hak asasi manusia. Entahlah dari sudut pandang mana pendapat ini dikemukakan.  UN juga dianggap menciptakan ketidakjujuran karena siswa berupaya dengan segala cara agar dia lulus dan sekolah ikut membantu agar "kualitas" sekolah tetap terjaga dengan cara-cara yang tidak jujur sekalipun.

Tahun ini, pemerintah memutuskan bahwa nilai UN bukan lagi menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Nilai UN hanya mengambil 60% porsi sedangkan 40% sisanya adalah andil sekolah untuk menentukan kelulusan siswanya. Artinya nilai rapor 3 tahun terakhir, nilai ujian sekolah dan prilaku anak juga menjadi item penilaian lulus tidaknya siswa selain nilai UN tentu saja. Namun kontroversi seakan tidak surut walaupun UN bukan lagi menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Komposisi ini sebenarnya mirip atau sama dengan saat UN bernama EBTANAS beberapa tahun lalu. Saat UN bernama EBTANAS (Evaluasi Tahap Akhir Nasional) sepertinya tidak seheboh saat ini. Biasa aja tuh....

Buat saya tidak ada sesuatu yang perlu dicemaskan dalam menghadapi segala bentuk ujian termasuk Ujian Nasional. Soal kejujuran, hal ini seharusnya sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menanamkan sikap jujur pada anak-anak dalam hal apapun sejak mereka kecil. Memberikan motivasi tentu menjadi lebih penting daripada hanya sekedar menekan anak-anak untuk meraih nilai yang bagus. Ini juga yang saya dan suami lakukan pada 2 anak kami yang masing-masing duduk di kelas 6 SD dan kelas 3 SMP  saat mereka menghadapi ujian nasional tahun lalu. Karena ujian adalah tahap yang memang harus mereka lalui untuk mencapai sesuatu.
Jauh-jauh hari sebelum mereka memasuki kelas akhir, kami berikan pertanyaan untuk mereka "Mimpi apa yang ingin kalian wujudkan nanti?". Masing-masing menjawab ingin kuliah di Fakultas Kedokteran dan satu lagi menjawab ingin kuliah astronomi di luar negeri. Ya sudahlah... mau jadi apa saja, asal sungguh-sungguh saya bebaskan saja. Lalu saya mengajukan pertanyaan lagi pada mereka, "Bisa nggak meraih impian tanpa usaha, nggak belajar misalnya?" Lalu mereka menjawab, "Ya nggak bisa dong , bu.."

Dari sana, saya lalu bisa mengatakan pada mereka tidak ada sesuatu yang diraih tanpa usaha keras. Ujian Nasional adalah salah satu tantangan yang harus kalian taklukkan untuk meraih mimpi karena Usaha berbanding lurus dengan Hasil. Jadi kami tidak pernah khawatir karena anak-anak sudah ditanamkan motivasi seperti itu.

Mempersiapkan diri menghadapi ujian jauh-jauh hari juga menjadi salah satu cara agar mereka tidak panik dan cemas menghadapinya. Dan nyatanya mereka cukup confindence menjelang UN waktu itu. Mereka membuat target nilai yang ingin mereka capai dalam UN nanti tanpa ada tekanan dari kami orang tuanya. Misalnya,"Aku ingin nilaiku rata-rata 9 di UN nanti." Kalau mereka agak santai belajarnya, kami tinggal mengingatkan soal target yang sudah mereka buat sendiri. Dan ini cukup ampuh.

Jadi apa lagi yang perlu dicemaskan? Mendampingi anak-anak untuk mempersiapkan ujian jauh lebih realistis daripada hanya memprotes kebijakan pemerintah sedangkan kita sendiri lalai memotivasi anak-anak mencapai tujuan hidupnya. Toh, sejatinya hidup itu kan ujian. Tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tanpa ujian. Kita akan menjadi manusia yang jauh lebih baik jika berhasil melewati ujian. 

Jadi masih menganggap UN itu monster??
Bagaimana agar anak-anak tidak tertekan dan siap menghadapi UN, ini beberapa tips yang sebenarnya cukup klise tapi ini nyata berdasarkan pengalaman saya :

1. Berikan motivasi sejak awal, apa tujuan mereka sekolah dan apa cita-cita yang ingin mereka raih.
2. Berikan reward atau penghargaan jika mereka berhasil mencapai target.
3. Belajar jauh-jauh hari sebelum hari H untuk menghindari stress berlebihan menjelang ujian.
4. Tanamkan bahwa kejujuran adalah bekal hidup mereka sampai kapanpun.
5. Ber'doa tentu menjadi kekuatan psikologis untuk anak-anak menghadapi ujian dalam bentuk apapun.


Semoga bermanfaat dan salam hangat dari Kairo.

Catatan:
Dua anak saya sekolah di Sekolah Indonesia Cairo (SIC), sekolah yang berkurikulum nasional dan menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) seperti sekolah-sekolah di Indonesia.

Mereka lulus dengan nilai cukup memuaskan, yang SMP nilainya 35,85 dan yang SD nilainya 27,15

Mar 5, 2013

Kuliah, Jangan Cuma Cari Gelar

Sejak kecil bisa dibilang saya sudah akrab dengan mesin jahit. Mungkin profesi ibu yang melatar belakanginya, ibu saya adalah seorang penjahit dan memiliki usaha kecil di rumah. Bahkan saat kelas 3 SD saya sudah bisa mengoperasikan mesin obras, kerap kali saya membantu ibu mengobras baju-baju orderannya dan dapat upah lho... setiap baju yang saya obras dapat upah Rp. 100. Angka yang wow untuk anak kelas 3 SD. Ini awal ketertarikan saya dengan dunia menjahit.

Ala bisa karena biasa. Menjahit seragam sendiri sudah bisa saya lakukan sejak SMP. Ibu yang mengajari membuat pola. Maka tak heran sejak SMP saya sudah bertekad untuk melanjutkan ke sekolah yang berhubungan dengan tata busana tidak pindah ke lain hati.

Saat lulus SMP sekitar tahun 1988, saya sudah mantap melanjutkan ke sebuah sekolah kejuruan, SMKK (Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga). Sebuah sekolah yang siswanya mayoritas perempuan memang tidak terlalu populer saat itu. Kurang bergengsi mungkin...  Walaupun sempat memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMKK bahkan sudah mendaftar tapi bapak berpendapat lain. Saya disarankan untuk melanjutkan ke SMA karena saya ingin kuliah setelahnya. Agak nggondok juga awalnya karena sudah terlanjur sreg dengan sekolah pilihan saya. Tapi akhirnya saya berpikir bapak ada benarnya juga karena di UMPTN nanti materi yang diujikan adalah materi pelajaran SMA. Ibu juga ikut membesarkan hati saya, beliau bilang ,"kalau untuk menjahit kamu bisa belajar sama ibu di rumah nanti." 

Masuk sebuah SMA negeri favorit tak membuat keinginan saya melanjutkan kuliah bidang tata busana jadi berubah. Maklum saja, tidak ada satupun teman-teman saya yang berminat di bidang ini, mungkin kurang keren ya? Rata-rata teman-teman saya yang akan melanjutkan kuliah memilih jurusan-jurusan bergengsi di perguruan tinggi, kedokteran, teknik, ekonomi, hukum, akuntansi dan jurusan bergengsi lainnya. Orientasi mereka tentu bisa bekerja. Tapi saya lain dengan mereka, sejak SMA tidak ada minat sedikitpun untuk kerja di luar rumah seperti impian teman-teman saya. Saya ingin seperti ibu yang bisa bekerja di rumah tanpa meninggalkan saya dan adik saya.

Saat penjurusan saya pilih A3 (Ilmu Sosial) karena memang tidak mungkin memilih A1 atau A2 karena saya lemah di bidang eksak. Lagipula saya akan kuliah di tata busana, jadi memang dua jurusan itu tidak nyambung dengan bidang pilihan saya. Belakangan saya baru tahu, di prodi Tata Busana ternyata juga dipelajari kimia tekstil, dan fisika. Ahaaaa!!... ketemu juga sama eksak.

Lulus SMA, saya ikut UMPTN dengan pilihan tetap di jurusan tata busana. Tidak diterima dipilihan pertama yaitu di IKIP Surabaya akhirnya saya masuk di pilihan kedua di STKIP Singaraja (sebelumnya adalah FKIP Universitas Udayana). Teman satu angkatan saya waktu itu hanya 10 orang termasuk saya, tidak terlalu banyak peminat rupanya hehehe...  Tekad saya sejak awal adalah, kuliah itu bukan mencari gelar tapi cari ilmu. Saya yang merasa tidak cukup puas kuliah di STKIP karena kurang menantang, ilmu menjahit saya tidak berkembang. Akhirnya saya memutuskan pindah kuliah ke IKIP Surabaya di jurusan yang sama sampai lulus tahun 2000 dengan gelar sarjana pendidikan.

Tata Busana masuk dalam Fakultas Teknik Lho.. :)


Saya memutuskan untuk tidak mengajar, sesuai dengan ijazah yang saya dapatkan karena memang tidak ingin kerja di luar rumah. Selain itu saya memiliki suami yang hidupnya nomaden. Cukuplah saya menggunakan ilmu menjahit saya di rumah dan sesekali membagikannya dengan orang lain. Sebelum pindah ke Pekanbaru, saya sempat buka usaha menjahit, tidak besar tapi cukup membantu ekonomi keluarga karena waktu itu suami belum dapat pekerjaan setelah PHK massal dari perusahaan tempatnya bekerja di Batam. Saya juga pernah mengajar juga walaupun bukan di lembaga pendidikan formal di Batam bahkan di Kairo.
Berbagi ilmu dengan mahasiswi Al-Azhar, Kairo
Hasil karya mereka


Cerita menarik dari teman-teman perempuan saya yang dulu kuliah di ekonomi, hukum, akuntansi dan lain-lain mereka bilang menyesal memilih jurusan-jurusan itu, mereka iri pada saya karena ilmu saya terpakai sekalipun saya hanya dirumah. 

Jadi menurut saya, untuk memilih jurusan di perguruan tinggi itu harus mengukur kemampuan dan potensi diri. Gengsi dan ikut-ikutan teman bukan hal yang tepat untuk menentukan jurusan yang akan kita pilih. Kalau merasa punya kemampuan kuliah di  fakultas kedokteran, di fakultas teknik atau di fakultas ekonomi ya jalani saja tentu dengan sepenuh hati.

Sekolah atau kuliah hakikatnya adalah mencari ilmu bukan cari gelar, kesannya koq idealis banget yah? Tapi coba saja pikir, kalau kuliah hanya ingin dapat gelar, gelar memang didapatkan tapi mungkin ilmu tidak nyangkut di otak. Kan lebih baik dapat dua-duanya, ilmu dan juga gelar. Dan yang juga penting memilih jurusan karena memang berminat akan membuat kita merasa nyaman dan tidak tertekan karena kita enjoy.

Salam hangat....



Feb 13, 2013

"Bagaimana Sperma Bisa Bertemu Sel Telur, Bu?"


mycutegraphics.com


Dulu waktu saya berusia sekitar 12 tahun, bertanya tentang bagaimana proses lahirnya bayi dari rahim seorang wanita, atau bagaimana caranya koq bisa jadi bayi, bagaimana caranya sperma seorang pria bertemu sel telur wanita.. pada ibu atau bapak saya rasanya koq tabu ya?? Dan saya teramat yakin kalau jawaban mereka pasti "kamu akan mengetahuinya nanti setelah dewasa". Itu jawaban yang praktis... hehe

Tapi seiring perkembangan informasi saat ini sepertinya anak-anak semakin terbuka. Pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan saya membuat saya terkejut dan tersenyum. Rasa ingin tahu mereka yang besar karena pengaruh tayangan TV, internet dan media yang semakin variatif semakin membuat orang tua sekarang harus semakin kreatif dan rajin membaca untuk menjawab keingintahuan anak-anak. Sebenarnya memberikan sex edukasi pada anak-anak tidak susah tapi juga sangat tidak mudah.

Ini pengalaman saya...

Jauh sebelum mereka bertanya tentang proses terbentuknya seorang manusia dalam rahim seorang wanita, saya sudah membelikan mereka buku tentang PUBER PADA REMAJA Cewek dan Cowok (terbitan Erlangga). Karena anak-anak saya waktu itu sudah berusia 8 dan 11 tahun. Yaa... paling tidak mereka tahu bagaimana bentuk alat kelaminnya jika sudah beranjak dewasa, apa tanda-tanda kalau dia puber dll. Dari buku itu dia juga tahu bahwa janin terbentuk dari bertemunya sperma laki-laki dengan sel telur perempuan yang ada dalam rahim. Tapi bagaimana caranya, tidak ada penjelasan.

Maka, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul dan mempertanyakannya pada saya ibunya.. Kebetulan yang  bertanya anak yang berusia 10 tahun kelas 5 SD.

Anak   : Bu, adek bayi itu asalnya dari bertemunya sperma laki-laki dan sel telur perempuan kan??
Ibu     : Iya..
Anak  : Gimana ketemunya ya bu..? Apa seperti bunga? Terbang-terbang di udara?
Ibu    : Hmmm... (mulai bingung memilih kata-kata). Kamu kan tahu bagaimana bentuk alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan?
Anak : (Dia mulai manganalisa sendiri..) Jadi ketemunya...??? mmmm... dimasukkan???
Ibu     : Ya, kamu sudah punya jawabannya kan?
Anak  : Hiiiii......... koq gitu ya?? Jadi aku hasil dari....???
(Sebenarnya saya ingin tertawa melihat reaksinya itu, tapi saya berusaha menahannya)
Ibu     : Iya..  makanya agama kita melarang bersentuhan antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah. Menikah dulu baru bisa punya anak. Dan kamu lahir itu karena kasih sayang Bapak dan Ibu,

Itu sebagian percakapan saya dengan anak perempuan saya. Mungkin antara anak yang satu dengan yang lain berbeda cara mengungkapkan pertanyaan tentang sex pada orang tuanya. Ada yang malu-malu ada juga yang to the point. Intinya bagaimana kita menjelaskannya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak sesuai usianya.

Dan bersiap-siaplah anda sebagai orang tua menerima pertanyaan-pertanyaan tak terduga dari anak-anak anda..





Nov 24, 2012

Tanpa Dipaksa, Anak-Anak Bisa Loh Berbahasa Asing






Memperkenalkan bahasa asing?? Banyak orang tua yakin memperkenalkan asing pada anak sejak dini lebih menguntungkan dan efektif. Karena anak-anak lebih mudah menyerapnya tanpa kerja keras . Menurut para ahli, belajar bahasa asing lebih mudah pada anak-anak di bawah umur 10 tahun dan lebih mudah lagi pada balita, sedangkan pada orang dewasa butuh upaya lebih keras untuk mempelajarinya. Saya termasuk yang meyakini pendapat tersebut. Karena sesungguhnya manusia memang diberikan Tuhan kemampuan untuk mengenal beragam bahasa.

Sebenarnya saya tidak mengajarkan pada anak-anak saya bahasa asing (Inggris) secara khusus, karena saya sendiri kurang menguasainya. Komunikasi di rumah malah menggunakan bahasa daerah (Jawa) dan bahasa Indonesia. Anak-anak belajar bahasa Inggris hanya di sekolah, bahasa Inggris pasif bukan aktif. Kami orang tuanya juga tidak memaksakannya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di luar jam sekolah. Pernah juga 2 anak saya (SD dan SMP) ikut kursus tapi mereka sepertinya tidak betah dengan suasana klasikal yang membosankan menurut mereka.

Beda dengan kedua kakaknya yang sempat saya ikutkan kursus bahasa Inggris walaupun akhirnya tidak betah, si bungsu bahkan sama sekali tidak pernah saya ikutkan kursus. Dia hanya mengenal bahasa Inggris di sekolahnya dan karena saat itu dia masih kelas 1 SD pelajaran bahasa Inggris hanya memperkenalkan kosa kata sederhana seperti nama buah-buahan, warna, dan nama anggota tubuh. Itu saja.

Ternyata hal ini membawa sedikit kegalauan dan kekhawatiran pada saya sebagai ibu ketika kami harus pindah ke luar negeri. Jelas bahasa Inggris yang pasif akan membawa masalah untuk anak-anak kami jika sekolah di sekolah Internasional nanti. Tapi setelah saya berdiskusi dengan suami, kami berketetapan bahwa 2 anak yang besar yang masing-masing kelas 6 SD dan kelas 9 (SMP) akan sekolah di sekolah Indonesia, pertimbangannya selain berada di kelas ujian, mereka akan lebih sulit mengikuti pelajaran di sekolah Internasional yang bahasa pengantarnya adalah bahasa  Inggris. Untung saja di Kairo ada sekolah berkurikulum sama dengan sekolah-sekolah Indonesia jadi tidak ada kesulitan dalam menyesuaikan pelajaran sekolah mereka.


Si bungsu Faiz yang berumur 7 tahun dan saat kami akan pindah ke Kairo dia naik ke kelas 2 SD kami masukkan ke sebuah sekolah Internasional berkurikulum Inggris (British School). Pertimbangannya ya itu tadi, karena dia masih berumur 7 tahun jadi masih mudah untuk belajar bahasa asing dan pelajaran sekolahnya tentu saja belum sebanyak kakak-kakaknya.

Setelah kami daftarkan, lalu sekolah menentukan kapan Faiz harus mengikuti assessment test atau sejenis post test untuk mengetahui sejauh mana kemampuan bahasa Inggrisnya. Mulai dari sini saya agak sedikit khawatir karena Faiz sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan orang asing dan hanya belajar sedikit kosakata dasar di sekolahnya di Indonesia sebelum pindah ke Kairo.

Tibalah hari menegangkan (buat saya) itu, saya datang ke sekolah bersama 2 kakak perempuan Faiz karena ayahnya masuk kerja. Saya lihat Faiz raut wajahnya biasa saja, tidak menyiratkan ketegangan sama sekali. Sampai di sekolah dia di sambut Mr. Graham McRoy untuk diajak ke ruangan test tanpa saya. Saya pikir dia akan menangis karena tegang setelah keluar dari ruangan nanti. Pertama kalinya dia berkomunikasi dengan orang asing seorang diri dalam sebuah ruangan. Saya saja yang sudah dewasa begini merasakan aura ketegangan dalam ruangan itu apalagi anak-anak seumuran Faiz.

Ternyata apa yang terjadi setelah dia keluar dari ruangan? Faiz keluar dengan santai dan senyum khas anak-anaknya. Hmmm... saya pun ikut lega melihatnya. Lalu saya membombardir dia dengan pertanyaan, "Faiz ditanya apa, bisa nggak jawab pertanyaanya, ngapain aja di dalam tadi..?" Lalu apa jawabnya, "Faiz bisa koq, terus kalau nggak ngerti Faiz geleng-geleng aja." Hehehe.... saya tersenyum mendengar jawabannya yang lugu itu.

Hari pertama sekolah, tidak kalah menegangkan untuk saya sebagai ibu. Saya antar Faiz sampai ke dalam kelasnya. Bertemu dengan Miss Coppard, gurunya yang orang Inggris dan 12 orang anak calon teman Faiz yang tentu saja berwajah asing semua, ada yang Jepang, Ghana, Perancis, Jerman, Korea, India dan saya tidak menemukan wajah Indonesia atau Malaysia di dalam kelas Faiz. Kalau ada teman yang bisa berbahasa Indonesia atau Melayu paling tidak saya tidak ragu meninggalkan Faiz sendirian di tengah orang-orang dan lingkungan asing yang sama sekali baru buat anak seumuran dia. Nyatanya semuanya asing, dan saya mau tidak mau harus tega meninggalkan Faiz di sekolah untuk bergabung bersama teman-teman barunya. Akhirnya saya pun pulang dengan galau dan sempat bepikiran pulang sekolah nanti dia akan sesenggukan menangis dan mogok pergi sekolah besoknya.

Selama dia sekolah hari itu, ternyata bukan hanya saya yang dibuat tegang dengan keadaan ini tapi ternyata sang ayah juga tegang. Bolak balik menelpon saya hanya sekedar mengungkapkan kegalauannya (sama dong kayak saya hehehe...). Katanya,"Faiz di sekolah gimana ya? Dia nangis nggak ya?" Tentu saja saya jawab, "Tau deh... tunggu saja sampai jam 3 nanti."  Teng!! jam 3, Saatnya pulang sekolah saya menjemput Faiz pulang sekolah. Ternyata oh ternyata, seharian saya bayangkan dia akan berurai air mata saat pulang sekolah, tidak terbukti. Dia tetap saja santai dengan raut wajah yang tidak tegang dengan senyum seperti biasa. Oalahhh... lega saya.



Beberapa bulan berlalu, saya mengamati perkembangan Faiz dari hari kehari. Pernah kami mencoba untuk menerapkan English day di rumah agar Faiz bisa berkomunikasi aktif  dan menambah kosa kata baru. Tapi ternyata tidak berhasil. Awalnya sih mau, tapi lama-lama program ini luntur dan lenyap karena Faiz tidak pernah mau berbahasa Inggris di rumah. Saya putar DVD belajar bahasa Inggris dia juga tidak pernah tertarik menontonnya. Dan kami tidak memaksanya. 

Tapi kadang-kadang dia keceplosan berbicara dengan bahasa Inggris pada saya. Misalnya; "Ibu, where is my belt?" , "Hey, look at that!", "Yes! I can do it". Tentu saya takjub dengan perkembangannya itu karena hanya berselang 1,5 bulan dia sudah mampu walaupun hanya percakapan yang sederhana. Dia bisa mengerjakan tugas yang diberikan sekolah seperti menyusun kalimat sederhana, soal logika matematika dan tentu saja membaca buku cerita 15 halaman sebagai makanan sehari hari yang jadi PRnya.. Dia juga ikut football club di sekolah karena dia memang hobi main bola.

Saat akhir term tepat 4 bulan Faiz sekolah, ada undangan ke sekolah untuk konsultasi tentang perkembangan anak-anak di sekolah dengan orang tua masing-masing secara personal. Kesempatan menanyakan perkembangan Faiz pada gurunya. Menurut keterangan Miss Coppard, awal masuk sekolah Faiz itu diam di kelas, tidak pernah bergaul dengan teman-temannya, kalau menulis lama sekali. Tapi sekarang, Faiz sudah punya banyak teman dan bergaul tanpa canggung dengan mereka. Komunikasinya terlihat sangat lancar walaupun berkomunikasi dengan saya masih agak malu-malu, kata Miss Coppard. Menulis, mengerjakan soal matematika, belajar IT (komputer) sudah sangat signifikan perubahannya.

Faiz adalah anak yang unik. Dia tidak mau dipaksa belajar, karena akan belajar kalau dirasa perlu dan dia sangat tidak suka dipuji, dia akan ngambek jika saya melontarkan pujian seperti,"wahhh... Faiz hebat ya" di depan orang banyak. Ini yang terjadi tadi malam saat saya tidak sengaja membuka akun facebook-nya. Facebook hanya digunakannya untuk berkomunikasi dengan sepupu dan saudaranya. Saya melihat percakapannya dengan salah seorang sepupunya (kelas 2 SMP) di kolom inbox dengan bahasa Inggris yang saya cukup takjub dibuatnya.
Ini cuplikan percakapan mereka (tanpa di edit) :


Faiz      : Hello, how are you

Fahmi :  hello I'm fine and you

Faiz      : me too

Fahmi : What about your school

Faiz      : Good. I have football club. My team is won 6-0 and than 5-3

Fahmi : oh that's good, you make a gool?

Faiz     :  I made a goal 5 and 4. Is not gool but it was goal.

Fahmi : Yes  I'm wrong hahahaha

Faiz     : I like Arsenal

Fahmi :  i like barcelona and i like messi , what about you ? what your favourite player ?

Faiz     : I like V Persie and Arteta

Fahmi : Why you like he?

Faiz     : Because he was good at playing. What about you?

Fahmi : but messi have very good skill

Faiz     : I know, But arteta he was good at kicking (long kicking)

Fahmi : but ronaldo is better then arteta

Faiz     : I know

Fahmi : yee... all know. Faiz I will go offline goodbye

Faiz     : Bye


Tahukah apa reaksinya ketika saya memuji kehebatan bahasa Inggrisnya di depan ayah dan kakak-kakaknya, "Jangan dikasih tau!! Faiz nggak mau.." Saya pun hanya bisa menyimpan senyum saya melihat reaksinya itu. hehehe...

Saat ini dia juga berani main ke rumah tetangga apartemen kami yang orang Korea dan anaknya satu sekolah dengan Faiz. Saat saya datang ke sekolah menghadiri kegiatan di sekolah saya pun mengamati bagaimana interaksi Faiz dengan teman-temannya. Sungguh saya lihat perkembangan kemampuan bahasanya sangat signifikan. Dari nol atau tidak pernah berbahasa Inggris, dalam waktu 8 bulan dia sudah mampu berkomunikasi aktif dengan bahasa asing. Oh iya, di sekolah dia juga dikenalkan dengan bahasa Arab dan Perancis, dan dia bisa.

Mungkin bisa sedikit saya simpulkan bagaimana tips mengajarkan bahasa asing pada anak-anak tanpa paksaan berdasarkan pengalaman melihat perkembangan Faiz.

  1. Jangan paksakan anak-anak untuk belajar terutama bahasa. Semakin ditekan, materi semakin susah masuknya. Lakukan sambil bermain.
  2. Berikan bahan bacaan semacam buku cerita sederhana berwarna dan bergambar yang jumlah halamannya tidak terlalu tebal (maksimal 20 halaman). Lakukan setiap hari membaca dan sedikit membimbingnya untuk mengetahui artinya. Coba baca e-book yang bisa di download gratis. 
  3. Kalau dia suka main game komputer, jangan dilarang tapi batasi saja waktunya. Karena dari situ banyak kosa kata bahasa Inggris yang bisa dia pelajari.  
  4. Sering nonton film berbahasa Inggris, lebih baik yang ada subtittle bahasa Inggrisnya. Jadi selain mendengar dia juga bisa membaca. Dampingi,  sekaligus sedikit menjelaskan jika ada kosakata yang tidak dia mengerti.

Yang jelas saya telah membuktikan bahwa masa anak-anak terutama di bawah 10 tahun adalah saat yang tepat untuk mengajarkan bahasa asing kepada mereka. Dengan catatan TANPA MEMAKSA...

Seperti pepatah, Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, Belajar saat dewasa seperti mengukir di atas air. 
Selamat mencoba.. Salam.

Oct 10, 2012

Masihkah Angka Menjadi Acuan Untuk Menilai Prestasi Anak?



school.woboe.org





Suatu hari, Faiz (7 th) anak bungsu saya yang duduk di Year 3 atau setingkat dengan kelas 2 SD di Indonesia, mendapatkan PR dari sekolahnya berupa selembar kertas HVS berisi sebuah pertanyaan, "Apa yang kamu ketahui tentang Sudan dan South Sudan?". Saya setengah takjub dengan reaksinya saat itu. Dia buka komputer yang otomatis terkoneksi dengan internet, lalu dia buka google dan mengetikkan key words Sudan dan di window sebelahnya dia ketikkan South Sudan. Setelah menemukan informasinya di situs Wikipedia, dia tulis di kertas PRnya itu.  Sambil menulis dia berkata pada saya, "ohhhh ternyata sungai Nil itu melewati Sudan ya Bu...,  South Sudan itu ternyata baru merdeka tahun 2011..."

Wooowww.... saya takjub dengan cara gurunya memberikan PR. Bagaimana guru memberikan pertanyaan yang memberi ruang pada anak-anak untuk kreatif mencari jawaban dari PRnya itu. Walaupun hanya sebagian informasi yang didapatkannya tentang Sudan dan South Sudan tapi menurut saya informasi itu akan terekam kuat dalam otaknya. Karena informasi yang didapatkannya bukan text book atau hafalan dari buku, tapi dia dapatkan sendiri melalui media internet.

Bukan hanya itu, PR matematikapun demikian. Bagaimana menuntut anak-anak memakai logika dan analisa mereka. Guru memberikan gambar bentuk tiga dimensi seperti tabung, kubus, limas, dan balok lalu siswa di perintahkan untuk mendiskripsikannya sendiri. Jarang sekali saya melihat Faiz merasa terbebani dengan PRnya karena PR tidak pernah lebih dari 2 saja, dan itupun berupa work sheet atau lembaran kertas. Menu wajib hariannya adalah reading. Tapi jangan pikir bahwa bacaannya hanya sekedar cerita bergambar saja, di dalam buku cerita yang tidak lebih dari 15 lembar itu ada muatan bidang ilmu lain seperti sains dan ilmu sosial, dan ini tidak disadari anak-anak tapi tetap melekat kuat karena isi cerita dan gambarnya sangat menarik untuk anak-anak.

Khusus agama, kami orang tuanya memberikan di rumah. Rutin diberikan setelah sholat berjamaah untuk mengaji dan cerita-cerita bermuatan agama tidak kami patok waktu khusus tapi kami berikan saat santai. Karena ini pun perlu untuk pembekalan spiritual quotient-nya

Saya pun lalu ingat bagaimana saat dia bermain computer game bola kemudian dia berhasil menghafal nama negara beserta ibukotanya dan menunjukkan tempatnya di globe saat usianya baru 5 tahun. Dia memang gemar sekali bermain game ini, dan ketika dia bermain, ayahnya selalu memberitahu informasi yang berkaitan dengan mainannya ini. Misalnya saat dia memainkan klub Inggris, ayahnya memberitahukan bahwa Ibukota Inggris itu adalah London dan beberapa informasi lain tentang Inggris.

Belajar tanpa banyak teori dan memberikan pertanyaan pancingan cukup efektif  untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun. Entah hal ini benar atau tidak, tapi saya merasakan dampaknya. Terlalu banyak buku bahan pelajaran sepertinya membuat anak-anak  illfeel duluan. Buku-buku yang tebal penuh tulisan tentu tidak terlalu menarik untuk anak-anak. Dengan pertanyaan pancingan lalu mencari jawabannya sendiri atau dengan memberikan sebuah informasi saat dia melakukan hobinya membuat informasi itu melekat kuat di otaknya.

Beberapa hari lalu saya menerima progress report, mungkin sejenis rapor kalau di Indonesia dari sekolah Faiz. Tidak seperti rapor umumnya yang berisi angka-angka yang menggambarkan prestasi akademik siswa. Yang saya terima kemarin adalah berupa deskripsi pencapaian materi. Seperti ini misalnya :
13327435151970310821

Tidak seperti biasanya, di sekolah Indonesia dulu yang ketika menerima rapor orangtua saling bertanya, "Anaknya rangking berapa bu?" Di sini.... karena tidak ada angka atau huruf sebagai penilaian terhadap prestasi, jadi rangking atau peringkat pun otomatis tidak ada. Usaha orang tua yang terkadang sangat berlebihan untuk "memaksa" anak mengikuti les di luar jam sekolah hanya untuk mendongkrak nilai dan gengsi di mata orang tua lain. 

Jadi kalau begini, sekolah bukan lagi ajang menimba ilmu tapi ajang berebut gengsi. Sejatinya sekolah adalah tempat menimba ilmu bukan menimba "nilai". Di mana lagi waktu main mereka, pulang sekolah masih harus les ini itu. Saya kerapkali sedih dan tidak tega melihat tas mereka kadang lebih berat dari anak-anak SMA jaman saya dulu, buku-bukunya banyak dan cukup tebal. Tubuh yang mungil tenggelam dalam bobot tas yang berat dan besar. Kasihan sekali...

Penilaian non angka sepertinya sangat ramah dan sangat manusiawi terutama untuk anak-anak kelas 1-4 SD karena usia mereka adalah usia bermain. Angka-angka yang kadang membuat mereka dibandingkan dengan teman-temannya yang lain oleh orang tuanya sendiri. Penilaian prestasi anak-anak tanpa angka membuat dia seperti dihargai secara personal karena hakikatnya anak-anak itu unik dan berbeda. Jadi alangkah tidak arifnya kita kalau mengkotak-kotakkan mereka dalam penjara angka-angka dan rangking atau peringkat dalam sebuah proses belajar.

Bukan bermaksud membandingkan sekolah di Indonesia dengan sekolah Internasional. Kalau ada hal-hal yang baik kenapa tidak kita tiru. Dan tulisan ini lebih kepada sharing pengalaman saja, kalaupun ada pendapat mungkin itu hanya pendapat saya pribadi sebagai orang tua. Kesedihan saya melihat bagaimana waktu bermain anak-anak yang terampas karena padatnya jam belajar. Bukankah orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bukan saja prestasinya tapi tumbuh kembang mental dan fisiknya.

Jun 28, 2012

Tes Calistung untuk Masuk SD, Perlu Nggak Sih??








Tahun ajaran baru sudah di depan mata, inilah saat yang paling merepotkan bagi para orang tua. Bukan saja yang putra putrinya masuk perguruan tinggi, SMU, dan SMP tidak ketinggalan orang tua yang anaknya masuk play group dan TK juga ikut sibuk memilih sekolah yang "kualitasnya" paling bagus. Tentu saja demi pendidikan terbaik untuk anak-anak.

Saya pun jadi ingat saat saya tinggal sebuah perumahan yang umumnya dihuni keluarga muda di Pekanbaru. Menjelang tahun ajaran baru seperti ini para ibu sibuk ngobrolin sekolah TK paling bagus menurut mereka. Tak jarang mereka beradu argumentasi untuk mempertahankan pendapat bahwa sekolah pilihannya lah yang paling bagus. Untuk saya pribadi, memilih sekolah TK nggak usah terlalu dibikin rumit pilih saja sekolah dekat rumah, alasannya tentu karena lebih mudah untuk urusan antar jemputnya.

Ternyata orang tua yang memiliki putra putri usia SD juga tak kalah pusingnya. Karena masuk SD sekarang syaratnya bukan main ribetnya, dibandingkan tahun 1982 saat saya masuk SD. Kalau dulu, asal mau daftar sekolah saja pihak sekolah pasti dengan senang hati menerima. Sekarang SD saja sudah banyak macamnya, ada yang namanya sekolah unggulan, sekolah binaan, sekolah Islam terpadu, sekolah alam, sekolah full day dan entah apa lagi namanya. Label sekolah favorit disematkan pada sekolah-sekolah tertentu dengan fasilitas sekolah yang lengkap dan nilai UASBN lulusannya di atas rata-rata. Semakin banyak jenis sekolah, semakin banyak pula jenis tes masuknya, tak kalah dengan tes masuk perguruan tinggi.

Fenomena tes calistung memang marak beberapa tahun belakangan ini. Katanya sih untuk menyaring siswa yang akan mendaftar ke sebuah SD, terutama sekolah unggulan atau sekolah favorit milik pemerintah atau SD negeri. Karena peminatnya lebih banyak dari daya tampung sekolah maka pihak sekolah menyeleksi calon siswa dengan tes calistung selain seleksi umur. Banyak orang mempertanyakan tes ini, karena dalam peraturan penerimaan siswa baru, tes calistung tidak disyaratkan untuk masuk SD. Namun kenyataannya banyak SD yang melakukannya.

Berikut sebagian bunyi PP 17 tahun 2010 tentang penerimaan siswa baru SD :

Pasal 69 :
(5) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.

Pasal 70 :
(1) Dalam hal jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua.
(2) Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan.
(3) Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan             sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan.

Menurut para psikolog, membaca, menulis dan berhitung (calistung) ini tidak boleh diajarkan pada anak-anak usia TK. TK adalah tempat bermain dan tempat anak belajar bersosialisasi, calistung boleh diajarkan sepanjang hanya mengenalkan saja, itu juga harus dikenalkan sambil bermain. Saya ingat jaman saya TK dulu memang hanya diajarkan menggambar bulat, garis, segitiga dan menyanyi saja. Namun sekarang "kurikulum" TK sudah jauh berubah, dengan memasukkan calistung jadi bagian dari program belajarnya.

Saya juga memiliki pengalaman yang berbeda dengan ketiga anak saya soal calistung ini.

Anak pertama,

Saat TK A dia sudah pandai membaca Iqra', membaca koran, menulis walaupun di sekolah tidak secara khusus mengajarkannya namun di rumah memang dikondisikan untuk bisa. Lalu saat masuk TK B dia ikut sebuah kursus mental aritmatika dan kemampuan berhitungnya tentu saja lebih baik dari anak seusianya. Saya pikir agak memaksa sepertinya, tapi si anak tidak merasa bosan dan tertekan dengan keadaannya ini.

Namun ketika masuk SD, anak ini bingung ketika diberikan soal matematika berupa soal cerita. Karena dia hanya terbiasa menghitung cepat (bahkan perkalian) alhasil dia tidak mengerti mengenai konsep dan analisa. Misalnya ada soal seperti ini : Ayah memiliki 5 buah permen, diberikan pada kakak 2 buah, berapakah sisanya? Dia pasti kebingungan menjawab soal ini.

Anak kedua

Karena pengalaman dengan anak pertama, ketika TK saya biarkan saja dia bermain tanpa mengajarkannya membaca, dan berhitung secara khusus. Kalau dia bertanya tentang huruf baru kami beritahu. Sama halnya dengan angka, dia susah sekali mengenal dan menghafal angka sehingga sering terbalik-balik menyebutkannya terutama angka belasan. Dan kami membiarkannya sambil membimbing tanpa memaksanya untuk hafal.

Sampai akhirnya dia mampu menghafal dan tidak salah lagi dalam menulis dan menyebut angka waktu di televisi ada tayangan iklan kampanye (tahun 2004) yang menyebutkan tanda gambar dengan angkanya. Tayangan televisi yang berulang-ulang, rupanya membuat dia otomatis mengingatnya.

Anak Ketiga

Si bungsu bisa membaca saat duduk di TK B. Calistung diajarkan di TK tempat dia sekolah. Tapi dia hanya mau belajar di sekolah saja, dan tidak mau mengulangnya di rumah. Sama seperti anak kedua, saya tidak memaksanya untuk belajar lagi di rumah. Sejak bisa membaca, dia gemar sekali membaca headline surat kabar langganan kami. Gemar juga bermain game dengan menu bahasa Inggris, hobinya juga menghafalkan plat nomor kendaraan, misalnya B dari Jakarta, L dari Surabaya, BM Pekanbaru hingga hampir semuanya dia tahu.

Berhitung juga bisa dia lakukan sampai bersusun 3, diapun sepertinya senang jika bisa menyelesaikan soal-soal yang kami anggap sulit untuk anak seumurannya. Kami tidak pernah memaksakan, kalau dia mau dibuatkan soal ya kami buatkan, tapi kalau bosan tidak kami teruskan. Pokoknya asal dia senang dan enjoy saja.

Untuk Apa Tes Calistung?

Soal perlu dan tidaknya tes calistung pada penerimaan siswa baru di SD memang masih mengundang banyak pro dan kontra. Saya sendiri melihat tes calistung ini sebenarnya perlu dilakukan, tapi tidak untuk menentukan diterima atau tidaknya seorang siswa. Tes ini lebih kepada tes kemampuan, untuk memudahkan guru mengelompokkannya hingga dapat diberikan latihan calistung lebih intensif.

Ada hal yang sebenarnya kontradiktif antara aturan PP no. 69 yang sudah disebutkan di atas dengan kurikulum yang berlaku untuk kelas 1 SD. Lihat saja isi buku-buku SD kelas 1 sekarang, saya pikir sangat tidak memungkinkan jika anak yang tidak bisa membaca belajar menggunakan buku-buku itu. Isi buku yang padat sangat tidak ramah untuk anak-anak yang belum bisa membaca.

Lain halnya waktu saya kelas 1 SD dulu, pelajaran pada awal masuk adalah bacaan, "Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi dan lain sebagainya". Guru masih membimbing siswa untuk mengejanya, tulisan dalam buku juga berupa tulisan yang jarang dengan ukuran yang cukup besar. Jumlah mata pelajaran hanya 3 yaitu bahasa Indonesia, Matematika dan IPA. Bandingkan dengan pelajaran anak kelas 1 SD sekarang. Saya pun masih ingat ada beberapa teman yang masih belum lancar membaca sampai kelas 3.

Sedikit cerita tentang anak yang belum bisa membaca yang kebetulan menjadi teman anak bungsu saya saat duduk di kelas 1 sebuah SD Negeri di Pekanbaru. Karena dia tidak bisa membaca, maka otomatis dia selalu tertinggal mengikuti pelajaran. Guru sudah memberi tambahan untuk belajar membaca di luar jam sekolah tapi sepertinya kurang berhasil.  Alhasil pada akhir tahun ajaran, saat kenaikan kelas anak tersebut tidak naik kelas.

Jadi menurut saya, jika pemerintah melarang sekolah untuk mengadakan tes calistung untuk syarat masuk SD, kurikulum SD terutama kelas 1 harus dirubah. Bukan seperti kurikulum yang sangat padat seperti sekarang. Bayangkan saja jumlah mata pelajaran yang harus dipelajari anak-anak itu, ada sekitar 7 mata pelajaran belum lagi mata pelajaran muatan lokal. Seringkali saya tidak tega melihat anak-anak itu menyandang tas yang beratnya mungkin sama dengan tas saya saat SMP dulu.

Saya sih berharap pendidikan di Indonesia akan semakin baik dan berkualitas tanpa membuat anak-anak kehilangan waktu bermainnya. (ellys)

Salam hangat...

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy