Apr 16, 2013

Advertisement

Monster Bernama UN

Advertisement


Sejak kebijakan Ujian Nasional (UN) diberlakukan tahun 2003 di sebuah negara yang bernama Indonesia, kontroversi akan keberadaannya seolah tidak pernah surut. UN menjadi semacam monster yang menakutkan banyak orang. Bukan saja anak-anak sekolah, tapi orang tua juga seakan ikut serta bahu membahu, bekerja sama menghadapi monster jahat yang bernama UN ini.

Awalnya, nilai UN menjadi satu-satunya syarat untuk kelulusan siswa. Hal ini yang kemudian dikecam oleh banyak orang karena tidak memberi ruang bagi sekolah untuk ikut serta menentukan kelulusan siswa. Karena sejatinya sekolah lebih tahu bagaimana kondisi siswa sehingga sekolah berhak ikut campur dalam penentuan lulus tidaknya siswa dalam sebuah proses belajar. Tidak meratanya kualitas pendidikan di Indonesia juga menjadi alasan mengapa banyak orang menganggap bahwa ujian nasional belum atau tidak layak menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa dari sebuah lembaga bernama sekolah.

Yang paling mengerikan lagi beberapa pendapat yang mengatakan bahwa UN dianggap melanggar hak asasi manusia. Entahlah dari sudut pandang mana pendapat ini dikemukakan.  UN juga dianggap menciptakan ketidakjujuran karena siswa berupaya dengan segala cara agar dia lulus dan sekolah ikut membantu agar "kualitas" sekolah tetap terjaga dengan cara-cara yang tidak jujur sekalipun.

Tahun ini, pemerintah memutuskan bahwa nilai UN bukan lagi menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Nilai UN hanya mengambil 60% porsi sedangkan 40% sisanya adalah andil sekolah untuk menentukan kelulusan siswanya. Artinya nilai rapor 3 tahun terakhir, nilai ujian sekolah dan prilaku anak juga menjadi item penilaian lulus tidaknya siswa selain nilai UN tentu saja. Namun kontroversi seakan tidak surut walaupun UN bukan lagi menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Komposisi ini sebenarnya mirip atau sama dengan saat UN bernama EBTANAS beberapa tahun lalu. Saat UN bernama EBTANAS (Evaluasi Tahap Akhir Nasional) sepertinya tidak seheboh saat ini. Biasa aja tuh....

Buat saya tidak ada sesuatu yang perlu dicemaskan dalam menghadapi segala bentuk ujian termasuk Ujian Nasional. Soal kejujuran, hal ini seharusnya sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menanamkan sikap jujur pada anak-anak dalam hal apapun sejak mereka kecil. Memberikan motivasi tentu menjadi lebih penting daripada hanya sekedar menekan anak-anak untuk meraih nilai yang bagus. Ini juga yang saya dan suami lakukan pada 2 anak kami yang masing-masing duduk di kelas 6 SD dan kelas 3 SMP  saat mereka menghadapi ujian nasional tahun lalu. Karena ujian adalah tahap yang memang harus mereka lalui untuk mencapai sesuatu.
Jauh-jauh hari sebelum mereka memasuki kelas akhir, kami berikan pertanyaan untuk mereka "Mimpi apa yang ingin kalian wujudkan nanti?". Masing-masing menjawab ingin kuliah di Fakultas Kedokteran dan satu lagi menjawab ingin kuliah astronomi di luar negeri. Ya sudahlah... mau jadi apa saja, asal sungguh-sungguh saya bebaskan saja. Lalu saya mengajukan pertanyaan lagi pada mereka, "Bisa nggak meraih impian tanpa usaha, nggak belajar misalnya?" Lalu mereka menjawab, "Ya nggak bisa dong , bu.."

Dari sana, saya lalu bisa mengatakan pada mereka tidak ada sesuatu yang diraih tanpa usaha keras. Ujian Nasional adalah salah satu tantangan yang harus kalian taklukkan untuk meraih mimpi karena Usaha berbanding lurus dengan Hasil. Jadi kami tidak pernah khawatir karena anak-anak sudah ditanamkan motivasi seperti itu.

Mempersiapkan diri menghadapi ujian jauh-jauh hari juga menjadi salah satu cara agar mereka tidak panik dan cemas menghadapinya. Dan nyatanya mereka cukup confindence menjelang UN waktu itu. Mereka membuat target nilai yang ingin mereka capai dalam UN nanti tanpa ada tekanan dari kami orang tuanya. Misalnya,"Aku ingin nilaiku rata-rata 9 di UN nanti." Kalau mereka agak santai belajarnya, kami tinggal mengingatkan soal target yang sudah mereka buat sendiri. Dan ini cukup ampuh.

Jadi apa lagi yang perlu dicemaskan? Mendampingi anak-anak untuk mempersiapkan ujian jauh lebih realistis daripada hanya memprotes kebijakan pemerintah sedangkan kita sendiri lalai memotivasi anak-anak mencapai tujuan hidupnya. Toh, sejatinya hidup itu kan ujian. Tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tanpa ujian. Kita akan menjadi manusia yang jauh lebih baik jika berhasil melewati ujian. 

Jadi masih menganggap UN itu monster??
Bagaimana agar anak-anak tidak tertekan dan siap menghadapi UN, ini beberapa tips yang sebenarnya cukup klise tapi ini nyata berdasarkan pengalaman saya :

1. Berikan motivasi sejak awal, apa tujuan mereka sekolah dan apa cita-cita yang ingin mereka raih.
2. Berikan reward atau penghargaan jika mereka berhasil mencapai target.
3. Belajar jauh-jauh hari sebelum hari H untuk menghindari stress berlebihan menjelang ujian.
4. Tanamkan bahwa kejujuran adalah bekal hidup mereka sampai kapanpun.
5. Ber'doa tentu menjadi kekuatan psikologis untuk anak-anak menghadapi ujian dalam bentuk apapun.


Semoga bermanfaat dan salam hangat dari Kairo.

Catatan:
Dua anak saya sekolah di Sekolah Indonesia Cairo (SIC), sekolah yang berkurikulum nasional dan menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) seperti sekolah-sekolah di Indonesia.

Mereka lulus dengan nilai cukup memuaskan, yang SMP nilainya 35,85 dan yang SD nilainya 27,15

Advertisement

10 comments:

Riski Fitriasari said...

betul mak.. memang UN itu selalu bikin pusing, skarang malah kayaknya banyak yang memanfaatkan momen UN ini untuk sesuatu "hal". Penanaman percaya diri pada anak itulah yang sebenernya penting. Biar anak juga bisa berjuang secara sehat Salam kenal... ^_^

Ellys Utami said...

Setuju banget mbak Riski, penting banget memotivasi dan memberi kepercayaan diri pada anak2. Justru yang berperan bikin anak2 grogi itu orang tua karena ikut2an cemas... hehe...

Salam kenal kembali mbak terima kasih sudah mampir... :)

meylla helmisyah said...

Numpang uneg2 ya mak,
Untuk sebagian org yg dominan otak kiri(unggul d bidang akademis) mungkin hal ini tdk menakutkan mak, namun utk sebagian lg yg kurang unggul d bidang akademis bs jd 'monster', krn bgmnapun negara kita punya sistem pendidikan dg tolak ukur kelulusan nilai, pdhl setiap anak dciptakan dg misi berbeda-beda ke dunia, ada yg unggul d akademis,unggul non akademis, dan seimbang keduanya...

hana sugiharti said...

haduhhh indonesia ya begini ini, kita sebagai emak-emak kudu mesti bisa mengatur anak2 kita sendiri :D

Ellys Utami said...

Terlepas dari kekurangan di sana sini, mau tidak mau UN memang harus dihadapi. Ini aturan pemerintah dimana kita tinggal di dalamnya.

Analoginya begini :
Jika anak kita berada di sebuah goa, pintu gua ternyata tertutup batu dan harus menyingkirkan batu itu untuk bisa keluar dari goa. Katakanlah anak kita tubuhnya kurus dan lemah, kita berasumsi dia tidak akan mampu menyingkirkan batu itu.

Apakah sbg orang tua kita hanya mengumpat dan marah kenapa harus ada batu yang menghalanginya keluar goa atau memotivasi dan membantunya untuk berusaha keras untuk bisa membuat batu itu bergeser dan dia bisa keluar walaupun lama?

Bukankah kalau mau masuk ke PT juga ada ujiannya mak?? Saya aja masuk ke tata busana ujian masuknya pake soal matematika, & ternyata pas kuliah malah ketemu sama kimia hehe... saya pikir nggak ada hubungannya kimia sama tata busana tenyata ada juga lho.. malah sempat ngulang 2 kali untuk bisa lulus.

Dominan otak kiri atau kanan kan bukan berarti tidak berfungsi salah satunya
kan mak?? Percayalah bahwa anak2 kita itu mampu..

Eh koq komennya jadi panjang... makasih sharingnya ya mak Meylla... makasih jg sudah mampir :)




Ellys Utami said...

Iya bener banget mak... UN kan nggak ada bedanya dg Ebtanas jaman kita dulu. Anak2 butuh dukungan penuh dari kita emak bapaknya hehehe...

keke naima said...

setuju bgt, Mbak. UN itu selalu jadi kontroversi,ya. Tapi saya paling gak setuju kl UN hrs dihapus. Lah, setiap saat kita akan menghadapi yang namanya ujian. Dimanapun itu. Bahkan di luar negeri pun ada yg namanya ujian, kan?

Justru biarkan aja mereka bersaing. Apalagi kl penilaiannya udh spt skrg, malah mirip kayak Ebtanas, ya. Lebih ena

Yang hrs kita lakukan adlh mempersiapkan diri. Gimana caranya jgn sampe si anak menjadi stress tapi siap menghadapi UN

Urusan pelaksanaan UN yg katanya tahun ini carut-marut bukan urusan kita. Urusan kita sebagai org tua dan pelajar adalah mempersiapkan diri :)

Ellys Utami said...

Emang kacau banget UN tahun ini ya Chi.... Tapi secarut marut apapun UN memang harus dihadapi... semoga pemerintah bijak menyelesaikan masalah ini.

Orang tua tugasnya memotivasi anak, membantu belajar dan memberi fasilitas. Mudah2an usaha keras yg mereka lakukan berbuah manis setimpal dengan usahanya.

Makasih Chi udh mampir...salam buat anak2...

cakra Inderasena said...

hmmm,,, UN, kata si mas Ujian Nipu,,,
sarkasme memang
tapi seperti itu :(

Ellys Utami said...

Hehehe..... yang mau nipu sok atuh nipu... yang mau jujur jelas punya tempat di mata Tuhan dan masing2 ada balasannya tentu saja....

Cakra, makasih yah udh mampir..... Aku suka banget baca postingan di blogmu :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy