Apr 14, 2013

Advertisement

Cerita Pertemuanku dengan Taufiq Ismail

Advertisement



Akhir minggu kali ini sungguh menyisakan kesan cukup dalam buat saya. Tidak ada agenda jalan-jalan karena bingung mau kemana dan memang males mau kemana- mana. Tapi kebetulan ada info menarik di grup kekeluargaan mahasiswa Jawa Timur, sebuah sarasehan budaya, sastra dan baca puisi. Weisss.. menarik buat saya karena pembicaranya. Siapa sih??

Masih ingat dengan lirik lagu Sajadah Panjang yang dinyanyikan Bimbo?? Yap.. lirik lagu yang sebenarnya adalah sebuah puisi karya sastrawan kondang Taufiq Ismail. Siapa yang nggak kenal beliau?? Seorang sastrawan angkatan 66 yang lahir di Sumatera Barat dan besar di Pekalongan. Tidak mungkin orang Indonesia tak mengenalnya karena karya-karyanya sudah mendunia. Beliaulah yang menjadi tamu di acara sarasehan itu.

Acara sarasehan digelar Jum'at sore (12/4) di rumah Limass (Rumah Sumatera Selatan) Kalau bukan di Mesir mungkin saya nggak mungkin bisa bertatap muka dan mendengar beliau membacakan puisinya secara langsung seperti ini. Biarlah tidak disebut penggemar tapi saya adalah salah satu pengagumnya. Namun saya baru tahu ternyata beliau adalah seorang dokter hewan lulusan Universitas Indonesia tahun 1963. Ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya.

Puisi2 sederhana sarat makna seperti biasa beliau bacakan dengan penuh penghayatan. Ketika lagu Rindu Rasul diputar lalu puisinya ia bacakan langsung  tidak terasa air mata meleleh disudut mata.





Lalu beliau bercerita tentang sahabatnya Kasim Arifin yang pernah dianggap hilang selama 15 tahun juga disampaikan lewat "Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram", yang pada hari ini pulang ke Almamaternya". Pesan dalam syair tersebut adalah, bahwa gelar akademik itu hanya penghargaan namun karya nyata dari ilmu yang diperoleh serta keikhlasan dalam mengamalkan ilmu lebih penting dari sekedar gelar.  Menurut beliau, Kasim Arifin adalah sosok yang sangat  inspiratif di matanya.



Kemudian puisi tentang bahaya nikotin juga disampaikan secara sederhana tapi cukup tajam. Puisi itu berjudul Indonesia Keranjang Sampah Nikotin, akan membuat para perokok berpikir ulang untuk melanjutkan kebiasaan merokoknya. Puisi tersebut merupakan bagian kampanye bahaya merokok.

Beliau datang ke Mesir atas undangan Universitas Suez karena kumpulan puisi berjudul Debu di Atas Debu akan diterbitkan di Mesir dalam bahasa Arab. Menurut beliau, sastrawan Mesir memberikan apresiasi cukup tinggi terhadap karya-karyanya. Beliau berkelakar judul Debu di Atas Debu menurutnya cocok untuk Mesir yang kotanya benar-benar berselimut debu.

Namun sayang, saya harus pulang sebelum acara ditutup. Takut kemalaman sampai rumah. Waktu menunjukkan pukul 21.15 belum makan malam jadi memang terpaksa harus meninggalkan tempat itu sebelum sempat minta foto bareng Taufiq Ismail. Tak apalah yang penting saya sudah menyimpan banyak foto dan rekaman video beliau dalam memory card kamera. Mudah-mudahan lain waktu saya bisa bertemu kembali dengannya.......





Advertisement

4 comments:

keke naima said...

lagu sajadah panjang itu, syahduuu bgt, ya :)

kichinitonda said...

Memang luar biasa apa yang disampaikan beliau. Menyulut semangat kita yang muda-muda
:)

Ellys Utami said...

@kichinitonda.... benar-benar menginspirasi :)

Ellys Utami said...

Bener mak.. lagu Rindu Rasul apalagi, selalu nangis kalo denger lagunya hiks..
Penyair satu ini emang luar biasa... kagum saya dibuatnya.. :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy