Apr 8, 2013

Advertisement

Sebuah Inspirasi dari Pemuda Sederhana

Advertisement


Anak muda itu usianya masih 23 tahun. Lulus cumlaude dari sebuah institut ternama di Surabaya. Ayahnya hanya seorang buruh pabrik kayu lapis berpenghasilan tak lebih dari 1 juta perbulan dan baru naik belakangan menjadi tak lebih dari 2 juta. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa namun tak tinggal diam, beliau berjualan makanan kecil di rumah untuk membantu perekenomian keluarga dengan 3 orang putra putri ini.

Masa kecil anak muda itu dilalui seperti kebanyakan anak-anak lain, sekolah dan bermain. Bedanya dia gemar sekali membaca. Sang ibu kerap kali membelikan majalan anak-anak bekas di pasar karena hanya itu yang dimintanya. Majalah bekas seharga 500 rupiah itu menjadi mainan paling menyenangkan buatnya.

Beranjak remaja, kecerdasannya semakin terlihat. Tidak seperti gaya remaja kebanyakan, pemuda ini tetap sederhana dan tidak pernah menuntut ini itu pada orang tuanya. Dia sadar diri.

Suatu kali, dia mendapatkan surat dari sekolah untuk keringanan pembayaran SPP dan sebagai kelengkapannya dia diminta melampirkan surat keterangan tidak mampu. Lalu apa yang dikatakannya pada sang ibu, "Bu, apa iya kita tidak mampu?? Kita kan punya kulkas dan televisi berwarna?"
Padahal kulkas dan televisi itu adalah pemberian saudara ayahnya.


Lulus SMU, atas dorongan keluarga besarnya pemuda itu melanjutkan kuliah di teknik Elektro PTN favorit di Surabaya tanpa kesulitan berarti. Keraguan sempat menghinggapinya karena memikirkan biaya kuliah nanti. Namun keluarga berhasil meyakinkannya. Beruntung dia memiliki keluarga besar yang solid dan kompak. Bahu membahu untuk membantunya.

Kuliah dijalaninya dengan sungguh-sungguh. Setiap semester IP diatas 3,5 selalu diraihnya. Hanya butuh 4 tahun untuk lulus dari Teknik Elektro. Cumlaude... 

Bahkan sebelum wisuda dia sudah diterima bekerja di sebuah BUMN yang pernah dipimpin oleh Dahlan Iskan.


Kini sudah setahun bekerja, saya mendengar bahwa dia sudah mendaftarkan ayah ibunya berhaji. Terharu sekali mendengarnya.. Kesederhanaan gaya hidup yang membuatnya mampu melakukan itu. Beruntung sekali memiliki anak sepertinya. Semoga ridho orang tua membuat hidupnya berkah..

Terima kasih mas Muhammad Rizal Falfi, kamu begitu menginspirasi kami..
Salam dari Kairo..

Advertisement

2 comments:

Selamet Hariadi said...

ketemu dimana Bu?

Ellys Utami said...

Kebetulan saudara dekat saya mas..... :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy