Showing posts with label Lifestyle. Show all posts
Showing posts with label Lifestyle. Show all posts

Feb 27, 2018

Souq Khayamiya, Pasar Para Pengrajin Tenda

Tempat ini memang tidak populer di kalangan turis bahkan orang Mesir sendiri. Namun sebenarnya cukup menarik terutama jika anda mencari tempat untuk membeli souvenir khas Mesir yang tidak biasa. Umumnya traveler hanya mengenal Khan Khalili untuk berburu oleh-oleh cenderamata yang Mesir banget. Tapi ada baiknya anda juga mengunjungi tempat ini jika punya cukup waktu. Namanya souq Khayamiya (tent makers market) atau pasar pengrajin tenda.

Berada persis di sebelah selatan Bab Zuweyla. Kurang lebih sekitar 2 km dari Khan Khalili. Dan tempat ini tidak bisa diakses dengan angkutan umum kecuali tuktuk atau bajaj. Saran saya sih lebih baik jalan kaki karena bisa sambil window shopping. Karena di sepanjang jalan menuju Souq Khayameya adalah toko-toko yang menjual berbagai macam model fashion terutama abaya hitam khas Arab dengan harga yang ramah kantong, dengan catatan pinter nawarnya hehehe..


Apa itu Khayamiya


Kalau di Indonesia kita mengenal batik maka di Mesir kita mengenal khayamiya. Sebuah produk kerajinan tangan yaitu seni menempelkan potongan-potongan kain pada kain yang lebih besar sehingga membentuk sebuah motif. Istilah lain menyebutnya dengan seni aplikasi. Dikerjakan dengan jahit tangan yang disebut quilting. Kerajinan unik ini dipercaya pertama kali muncul pada masa Dinasti Mamluk yaitu sekitar tahun 1250 - 1517 M. 

Awalnya khayamiya digunakan untuk menghias tenda namun kini hanya digunakan untuk hiasan pada cushion, wall hanging, dan tas. Untuk tenda tidak lagi menggunakan khayamiyah hand made tapi sudah menggunakan buatan pabrik dengan harga yang tentu saja jauh lebih murah. Selain itu tidak ada regenerasi pembuat khayamiya, karena anak-anak muda tidak lagi tertarik dengan pekerjaan yang cukup rumit dan butuh ketelatenan ini. Jadi khayamiya akan tercancam punah jika hal ini terjadi.

Menurut ammu Tareq salah seorang pengrajin, sebuah khayamiya dengan ukuran 2m x 2m bisa selesai dalam waktu 4 bulan. Tentu saja harganya bisa mencapai ribuan Egypt pound dibandingkan dengan sebuah cushion berukuran 40x40 cm yang dihargai antara 50 LE sampai 150 LE. Selain lamanya waktu pengerjaan, harga kerajinan ini juga tergantung pada kerumitan desainnya.

Bagaimana? Anda tertarik?



Suasana Souq Khayamiya


Amm Tareq salah satu pengrajin Khayamiya yang sudah berkali-kali ikut pameran di luar negeri. Yang di belakangnya itu merupakan khayamiya karya beliau.




Hampir semua pengrajin khayamiya adalah kaum adam

Pasar grosir di sepanjang Muizz Street bagian selatan


 

Jun 30, 2015

Menikmati Begadang Bareng Orang Mesir

Awal-awal pindah ke Kairo saya cukup kaget dengan kebiasaan ini. Tapi lama kelamaan maklum juga. Bahkan saya cenderung menikmatinya. Seneng juga karena hypermarket, mall, cafe, warung makan buka sampai lewat tengah malam. Karena, di Indonesia saya nyaris tak pernah melakukannya. Selain toko, mall, cafe tutupnya tidak lebih dari jam 11 malam, jam 21.30 saja mata saya sudah enggan diajak kompromi hehe..

Di Kairo, begadang sampai pagi bukan hal aneh bahkan sudah jadi semacam gaya hidup orang di sini. Menurut cerita suami yang pernah tinggal di Libya, orang Libya pun punya kebiasaan yang sama. Mungkin menjadi kebiasaan hampir semua orang-orang Arab saya rasa. Terutama pada musim panas. Karena waktu malam menjadi terasa pendek. Matahari baru terbenam pada pukul 19,00 sedangkan kembali terbit pada pukul 04.00. 

Kalau Ramadhan bertepatan dengan musim panas seperti sekarang, maka kehidupan malam dimulai usai tarawih, Tarawih baru selesai rata-rata pukul 22.30 membuat waktu malam makin terasa amat cepat.

Umumnya cafe memang ramai setelah tarawih. Keramaian jalan sepertinya pindah ke cafe. Dari cafe kelas mall sampai cafe-cafe jalanan nyaris tidak ada yang sepi. Sebaliknya, jalan raya mendadak lengang, seneng juga sih kalau Kairo begini karena nggak stress kena macet. Dari mulai anak-anak sampai kakek-kakek, ibu-ibu sampai bapak-bapak nggak ada yang ketinggalan menikmati acara begadang sampai sahur ini.

Alhasil, pagi hari Kairo jadi seperti kota mati apalagi kalau weekend. Aktifitas paling pagi dimulai pukul 9 terutama bagi para pekerja kantoran. Toko-toko dan mall kebanyakan buka setelah dzuhur. Anak-anak sekolahan bisa tidur sepuasnya karena sekolah-sekolah Mesir libur 1 bulan sebelum bulan puasa sampai biasanya setelah Idul Adha. Total liburnya sekitar 4 bulan. Wow!

Begadang memang bukan kebiasaan yang bagus kata Bang Haji (baca: Rhoma Irama). Tapi bolehlah buat yang tinggal di Mesir seperti saya ya Bang? hehehe...

Bisa jadi hal ini nanti akan menjadi sesuatu yang paling saya rindukan dari Kairo ketika saya tidak lagi berada di kota ini. Selain tempat-tempat bersejarahnya, dan obyek foto eksotisnya. Juga kebiasaan orang-orangnya termasuk kebiasaan cangkrukan sampai pagi yang tak akan saya temukan di Indonesia. Mau coba???

_______
Dibawah ini adalah rekaman gambar suasana kehidupan malam diseputar kawasan Hussein dan Khan Khalili

Bapak-bapak cangkruk sambil nyisha

Cafe-cafe di kawasan Khan Khalili . Hampir seluruh kursi tersisi

Dipilihh..dipilih.... harga murah dijamin :D

Yang nggak mau ngopi cangkruk juga boleh koq (suasana di depan masjid Hussein)

Apr 21, 2013

Jilbab Indonesia, Paling Kreatif di Dunia


Awal tahun 90-an pertama kalinya saya memakai jilbab, saya ingat waktu itu masih kelas 1 SMA. Di sekolah saya waktu itu terhitung hanya 3 orang yang berjilbab termasuk saya. Tidak banyak memang, karena pada jaman itu larangan memakai jilbab di sekolah umum sempat diberlakukan oleh pemerintah orde baru sampai kurun waktu tahun 80-an akhir. 

Hanya sekolah-sekolah agama dan pesantren yang siswanya memakai jilbab. Kesan yang terlihat, perempuan berjilbab waktu itu kolot, kampungan dan nggak trendi. Makanya jilbab kurang populer di kalangan remaja, dan hanya dipakai oleh ibu-ibu untuk pengajian. Itupun hanya berupa kerudung yang hanya menutupi bagian kepala.

Alasan saya waktu itu memakai jilbab karena ingin praktis kalau pergi ke sekolah. Sebelum pakai jilbab, pagi hari sebelum beangkat sekolah menjadi waktu yang paling menyebalkan. Menata rambut akan memakan waktu paling lama, maklumlah ABG, jadi penampilan adalah hal yang sangat penting. Rambut dikuncir, dikepang, atau dijepit sampai kadang kalau mentok ya cuma disisir saja karena waktu sudah mepet pokoknya nggak praktis banget deh. Nah, karena itu saya jadi berpikir enaknya kalau pakai jilbab, nggak capek ngotak atik rambut dan nggak bikin pegel. Hehehe....

Saat ini, jilbab menjadi semacam tren mode yang layak diupdate. Pemakai jilbab semakin banyak dari tahun ke tahun. Orang tidak lagi menganggap jilbab kampungan dan kolot. Dari jilbab dengan model sederhana dan praktis sampai model jilbab rumit dengan melibatkan stylist. Pemakai jilbab dari kalangan public figur semakin memotivasi orang untuk berjilbab.

Entah terdorong  karena trend saja atau memang karena kewajiban sebagai muslim saya menilai perkembangan ini sangat menggembirakan karena banyak orang saat ini tak sungkan lagi memakai jilbab.  Menjawab kebutuhan orang akan busana muslim dan jilbab yang trendi maka semakin banyak perancang busana muslim bermunculan. Kalau saya pribadi suka pakai jilbab yang klasik, karena memang nggak percaya diri kalau pakai yang modelnya aneh-aneh hehe...

Model jilbab semakin beragam, dan muslimah Indonesialah juaranya dalam hal kreatifitas. Sebagian orang menganggap model jilbab saat ini  jauh dari syar'i . Tapi saya tak sedang membahas tentang syar'i tidaknya jilbab ala Indonesia ini karena memang bukan kapasitas saya. Saya hanya ingin membandingkan gaya berbusana dan berjilbab wanita muslimah di beberapa negara. Jadi dari sini kita akan bisa menilai dan memilih mana yang paling pas dan nyaman buat kita.

Ini dia beragam gaya jilbab di beberapa negara :

1. Turki 

Saat berkunjung ke Turki, saya terkesan dengan gaya berbusana wanita Turki, sangat sederhana namun mereka terlihat anggun. Dengan coat panjang simple dipadu dengan jilbab pendek bermotif. Gaya busana mereka sangat khas, ditunjang wajah paduan Arab & Eropa yang cantik.

Jilbab di turki namanya esarp, bahannya ada yg sutra atau biasa. Kalau jilbab sehari-hari namanya yazma bahannya nggak lıcın (mirip bahan katun paris) bıasanya dı padukan dengan pardesu, mantel atau coat panjang, ada untuk  wınter maupun edısı summer. Dan mereka lumayan modıs walaupun gayanya nggak  seupdate dı ındonesıa. Tapi jenıs esarp dan pardesu nya yang terus update. Untuk kalangan kelas tınggı yang pastı mereka jg pılıh yg bermerk. Esarp keluaran Pıerrecardın atau pardesu keluaaran Armıne yg harganya kalo dırupıahkan lumayan bısa kena angka jutaan.

source Flickr


2. Mesir

Di Mesir, gaya busana muslimahnya tergolong beragam, dari yang bercadar sampai yang jilbabnya trendi sangat mudah kita temukan. Namun secara umum,  gaya berjilbab mereka cukup khas yaitu dengan memakai pashmina atau selendang panjang kemudian dililitkan dan sisa kerudungnya dibiarkan menjuntai. Busananya berupa 1 piece (abaya) tapi anak-anak muda biasanya memakai 2 piece (blus dengan celana atau rok).

Egyptian Hijab Style (photo by  Ellys)


3. Malaysia 

Walaupun masih terhitung tetangga dekat Indonesia, namun ciri khas busana orang Malaysia masih dipertahankan. Baju kurung yang longgar, dipadu jilbab klasik dan sederhana membuat pemakainya tampak anggun dan bersahaja. Khas wanita timur pada umumnya.

Malaysian Style (Jhosidaniel.com)

  
4. Indonesia

Jilbab dan juga gaya busana muslim di Indonesia tak seperti saat awal-awal saya memakainya pada sekitar tahun 90-an. Saat ini jilbab tak sekedar menjadi penutup aurat, namun sudah menjadi trend fashion khususnya bagi anak-anak muda.  

Komunitas hijaber Indonesia (mignosia.blogspot.com)
Saking kreatifnya nih sampai ada model jilbab begini lho...  katanya ini jilbab model wig hehehe...

source : Flickr



Bisa kita lihat mana yang paling kreatif kan..?? Untuk urusan memilih, itu terpulang pada pribadi masing-masing orang. Mau yang simple atau yang sedikit ribet tapi gaya. Kalau saya sih suka yang simple tapi kelihatan elegan seperti gaya Turki... Anda????

Salam hangat...

Apr 18, 2013

Ngerumpi itu Sehat, Kalau..



cutelypoisoned.com



Perempuan terutama ibu-ibu biasanya identik dengan kegiatan ngerumpi alias suka ngegosip, suka ngomongin orang, suka ngiri sama tetangga, suka shopping apalagi buat ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga. Kurangnya kegiatan di rumah karena sudah didelegasikan pada pembantu, membuat ibu rumah tangga memiliki banyak waktu luang di rumah. Kegiatan kerumah tanggaan seperti, memasak, beres-beres rumah, seterika pakaian sampai ngurus anak menjadi tugas para asisten rumah tangga.

Banyaknya waktu luang ini menjadikan ibu-ibu rumah tangga menjadi nganggur alias kurang kerjaan. Jadi untuk mengisinya, apalagi kalau nggak ngegosip ya?? hehehe... Ngegosip juga sudah berbagai macam caranya, dari ngegosip face to face sampai dengan cara yang cukup canggih yaitu pakai gadget, atau pakai komputer tablet pokoknya asal bisa ngerumpi aja.. Siapa yang digosipin sih? Ya macam-macam, dari tetangga sampai artis. Tuh tayangan infotainment semakin menjamur beberapa tahun terakhir, ini salah satu bukti banyak orang yang haus gossip hehehe…

Kadang-kadang dari sebuah bahan gosip bisa membuat hubungan seseorang dengan orang lain memburuk lalu tidak akur. Karena penggosip digosipin lagi sama si pendengar gosip pada orang yang digosipkan tadi.. ahhh bingung nggak sihh?? Oke deh gini gampangnya, misalnya nih si A sedang ngegosip tentang si B dan pendengarnya adalah si C. Lalu suatu hari karena si C lagi jengkel sama si A, maka ketika C ketemu dengan B digosipinlah si A yang pernah ngomongin B pada si C. Jadinya ya bisa ditebak, A dan B jadi bermusuhan karena diadu domba sama si C. Belum lagi kalau omongannya ditambah-tambahi sama si C tadi, wahhhh... semakin runyam lagi masalahnya.

Seperti pesan berantai, pesan pertama akan terus terdistorsi jika disampaikan oleh orang yang berbeda-beda.Sehingga pesan yang tersampaikan sesungguhnya bukan pesan yang sebenarnya karena sudah ditambah atau dikurangi.

Ada nggak ngerumpi yang sehat?

Jawabnya ada. Jika kita ngerumpi dengan orang yang tepat. Artinya orang yang memiliki visi dan pandangan yang sama dengan kita dan bahan yang diomongkan juga bukan orang lain. Lalu apa??

Bahan rumpian yang sehat ya tentang bagaimana mengurus keluarga dengan baik. Saling berbagi tentang bagaimana memotivasi anak belajar, membuat makanan yang sehat, mengatur keuangan keluarga, memilihkan sekolah yang tepat untuk anak, intinya kita diskusi atau sharing.

Menghindari ngerumpi yang tidak sehat

Jadi pada dasarnya ngerumpi itu adalah ajang diskusi dan bukan melulu hal yang berbau negatif. Ngerumpi sebenarnya ajang sosialisasi terutama buat ibu-ibu rumah tangga. Kita mungkin akan mendapat banyak hal baru dari ngerumpi ini. Bayangkan saja jika kita tinggal di sebuah lingkungan perumahan lalu kita nggak pernah keluar dan ngobrol dengan tetangga, jangan heran kalau kita dilabeli sombong oleh tetangga kita.

Ada beberapa tips jika berada dalam sebuah arena ngerumpi yang tidak sehat. Ini dia tipsnya :
  1. Jadi pendengar yang baik saja. Tidak berkomentar dan tidak menyampaikan bahan rumpian pada orang lain. 
  2. Jika tidak bisa meninggalkan arena, usahakan untuk mengalihkan bahan rumpian. 
  3. Cari kegiatan positif di rumah, misalnya menanam bunga, menulis, mencoba resep baru, atau menekuni hobi yang lain. 
Manusia adalah makhluk sosial, sehingga bersosialisasi adalah hal yang nggak bisa kita hindari. Ngerumpi dan sosialisasi ini sangat erat hubungannya, tapi memilih dan memilah bahan rumpian juga wajib kita lakukan agar tidak terjebak pada ajang gosip yang kurang bermutu karena pada dasarnya ngerumpi itu sehat. Yuukkk kita ngerumpi... hehehe



Apr 3, 2013

Kain Kiloan

Teringat cerita seorang teman, yang hadir di sebuah acara arisan ibu-ibu perumahan, kira-kira begini percakapannya, sebut saja namanya bu April & bu Mei.

Ibu April :  "Wah.. jeng bajunya bagus ya, merk-nya pasti ** kan?? (disebutkannya merk baju wanita terkenal)
Ibu Mei   :  " hmmm.... " (Ibu Mei ini orangnya low profile dan nggak banyak ngomong)
Ibu April : Kemarin saya mau beli lho, tapi nggak jadi rencananya saya mau beli hari ini, tapi koq ya keduluan jeng Mei sih..? 
Ibu Mei   : " Ooo... ya ? "  sambil tersenyum simpul. 
Ibu April : " Iya Bu, lha wong pas saya lagi lihat-lihat bajunya,  suami saya itu buru-buru mau pergi katanya ada urusan.. Kita satu selera ya Bu Mei..

Ibu Mei : " Ooooo... gitu ya?

Setelah acara arisan itu besoknya ibu Mei yang kebetulan teman saya bercerita. Mendengar cerita itu kami tertawa geli. Dia bercerita sambil tertawa terpingkal-pikal, begitupun saya yang mendengarnya.

Sebabnya..
Baju yang dipakai teman saya itu adalah hasil karya saya, saya yang menjahitnya. Kainnya kami beli di toko kain kiloan. Mungkin harganya sekitar 50 ribuan untuk sepotong baju. Sedangkan baju bermerk itu harganya ratusan ribu. Model dan jenis kainnya emang nyontek baju bermerk itu Hehehehe...

Dasar.. ibu-ibu nggak mau kalah dalam hal penampilan apalagi soal merk. Gila sama merk, padahal merk bisa ditempelin atuh bu..


Kisah Sang Istri "Manager"



Cerita ini udah lama banget sebenarnya, waktu tinggal di Pekanbaru dulu. Suka geli gitu kalo inget ceritanya makanya ditulis aja deh.. hehe..

Ini cerita dari seorang teman yang tinggal di sebuah kawasan perumahan yang dihuni oleh orang-orang yang bekerja di perusahaan yang sama (sebuah BUMN). Biasalahhh... kalau di komplek perumahan yang jarak rumahnya berdekatan, apalagi para suami bekerja pada satu perusahaan yang sama, ibu-ibunya pasti gaul abis hehehe...

Para istri yang rata-rata tidak bekerja alias ibu rumah tangga kegiatan rutinnya paling arisan minimal tiap bulan, keluar rumah tiap sore sambil bawa anaknya main muter-muter komplek sekalian nyuapin atau ngumpul di lapangan komplek kalau ada acara besar seperti peringatan 17 Agustus-an.

Sebenarnya sih ini ajang sosialisasi antar ibu-ibu di komplek tapi kadang-kadang yang diomongin nggak penting-penting amat hehehe....Contohnya :

"Eh, tau nggak bu, ada bonus loh bulan ini, kayaknya sekitar 1 jutaan deh udah terima belum???.."

"Bu itu dibeliin mobil baru loh sama suaminya, perasaan grade-nya sama kayak suamiku koq bisa ya??....

"Rumahnya pak ini loh, beli keramik lantainya aja di luar kota.."

"Tasnya bu ini harganyanya loh 12 juta, gila nggak tuh.."

Lha ini cerita yang bikin heboh sekaligus bikin geli..

Seorang ibu yang kebetulan sedang menghadiri arisan tiba-tiba ngomong begini:
"Ibu-ibu, tau nggak suamiku mau jadi manager loh di kota A.."

Lalu menyebarlah cerita si ibu itu ke seantero komplek. Pokoknya heboh banget deh kabar soal suami si ibu tadi mau jadi manager di kota A. Ada yang sinis, ada yang setengah nggak percaya, ada juga yang cuek-cuek aja. Beberapa minggu berlalu, kabar itu semakin santer. Si Ibu tadi semakin sumringah kalau ketemu ibu-ibu lain di komplek, makin pede dia hehehe....

Satu bulan berlalu, tiba-tiba tersiarlah kabar kalau ternyata yang jadi manager di kota A itu orang lain alias bukan suami si ibu tadi. Kusak kusuk antar ibu-ibu penghuni komplek kembali terjadi. Heboh sudah pasti...

Dan beberapa hari setelah kabar itu tersiar, ada informasi bahwa si ibu istri "manager" gagal tadi dirawat di rumah sakit. Menurut beberapa ibu-ibu lain yang menjenguknya di rumah sakit,  si ibu "manager" ini sakitnya aneh. Dokter juga nggak berhasil mendiagnosa penyakit si ibu. Penyakitnya itu nggak bisa memejamkan mata saat ngantuk sekalipun.

Akhirnya beberapa ibu-ibu termasuk teman saya menjenguk ibu istri "manager" di rumah sakit. Ketika sampai di rumah sakit, bertanyalah salah seorang ibu pada ibu "manager"; "kata dokter, sakit apa bu?" dan si ibu "manager" menjawab "nggak bisa merem..!"

Ibu-ibu yang menjenguk itu pengen ketawa sebenarnya tapi nggak tega. Lha wong penyakitnya ini mungkin gara-gara mau jadi istri manager nggak jadi tapi udah kadung diumumkan seantero komplek, jadi malu terus jadi beban psikologis akhirnya matanya nggak bisa merem. Hehehehe.... penyakit yang aneh.

Aduuhh kadang ibu-ibu itu jadi sok tau ketimbang suaminya ya... suka pengen tau aja pekerjaan suami, suka termakan omongan tetangga tentang gaji suami sehingga menimbulkan mosi tidak percaya pada suami terus minta transfer deh sama bos gaji suami ke rekening istri....hihihihi....
Kalau saya mendingan nulis aja lah ntar juga di kasih ATMnya sama suami :D

salam..

Mar 30, 2013

Kisah Status Facebook Paling Fenomenal

Selama 4 tahun bermedia sosial, bisa jadi status facebook saya ini adalah status yang paling fenomenal karena sudah membuat beberapa orang memberi perhatian lebih. Dan entah kenapa ada segelintir orang yang seperti merasa terganggu dengan isi status di akun facebook saya dan merasa penting untuk membahasnya.

Sebenarnya saya termasuk jarang menulis status kurang penting di facebook, yang paling sering saya lakukan adalah share link berita atau tulisan saya dan upload foto.

Status yang saya tuliskan di akun facebook saya hanya merupakan ungkapan kegalauan saya ketika anak gadis saya belum sampai di rumah saat jarum jam menunjukkan angka 11 malam. Kebetulan dia akan tampil menari di acara Indonesian Day di kedutaan. Kemarin itu untuk kesekian kalinya dia tampil. Berikut sreen capture status di akun facebook saya.


Hari Selasa (26/3) Firly anak saya bilang jam 14.00 sepulang sekolah akan langsung ke kedutaan untuk gladi bersih karena acara akan dilangsungkan Rabu malam (27/3). Ini adalah hari terakhirnya Ujian Tengah Semester, mata pelajaran yang diujikan adalah olahraga. Dan hari itu saya juga ada di sekolah karena hari Selasa adalah pengajian rutin mingguan ibu-ibu di masjid Indonesia yang berada satu area dengan sekolah.

Saya sempat menemui guru tari yang jadi pendamping anak-anak pengisi acara dan saya pesan agar maksimal setelah maghrib Firly sudah pulang karena dia harus naik metro. Dan kalau sampai setelah maghrib belum selesai dia harus ada yang ngantar pulang, tidak boleh naik metro sendiri. Ini mengingatkan saya pada kejadian beberapa bulan lalu yang setiap selesai latihan untuk acara kedutaan Firly selalu dibiarkan pulang naik metro sendiri pada malam hari, walaupun akhirnya diantar karena saya komplain. Mungkin karena rumah kami ada di daerah Ma'adi sedangkan peserta lainnya mayoritas tinggal di Nasr city. Jadi yang diantar adalah mereka yang tinggalnya di Nasr city.

Jam 18.30 saya telepon anak saya untuk menanyakan apakah acara gladi bersihnya sudah selesai? Dia jawab, gladi bersih belum mulai. Lalu saya tanya lagi, sampai jam berapa. Dia jawab nggak tahu. Jam 20.30 saya telpon lagi, dan dijawab gladi bersih belum mulai tapi nanti ada mobil KBRI yang antar pulang.

Sampai jarum jam menunjukkan angka 22.30 belum juga ada kabar, saya mulai gelisah. Saya tunggu lagi sampai jam 23.00 dan saya telpon Firly tapi tidak diangkat, dan saya telpon Naz temannya. Saya tanya jam berapa selesai koq hampir tengah malam belum juga selesai. Naz bilang ini sudah terakhir dan mau selesai. Baru sekitar jam 00.10, Firly sampai di rumah.

Yang membuat saya kesal, anak-anak itu berangkat dari sekolah sekitar jam 14.30, masa sih hanya untuk gladi bersih memakan waktu hampir 12 jam? Saya bisa bayangkan bagaimana capeknya mereka. Terutama Firly yang sejak jam 07.00 pagi berangkat ke sekolah naik metro, ujian olahraga dan lanjut gladi bersih sampai waktu yang tidak jelas kapan kelarnya. Padahal besoknya dia harus berangkat ke sekolah jam 10.00 untuk persiapan tampil malam harinya. Siapa ibu yang tidak gelisah ketika anak gadisnya hampir tengah malam belum berada di rumah? Mana keadaan keamanan di Mesir sedang tidak menentu. Uneg-uneg itu yang saya tuliskan di facebook karena kekesalan saya sudah sampai diubun-ubun. Tapi siapa sangka status Facebook itu ternyata jadi trending topic dikalangan terbatas.

Dan acara Indonesian day Rabu (27/3) malam itu berakhir  sukses. Panitia sudah pasti bisa bernafas lega karena acaranya berlangsung meriah dan dihadiri oleh banyak orang penting. 

Penampilan Firly malam itu
Sepulangnya dari acara, Firly bilang kalau dia tadi dipanggil kepala sekolah. Saya tanya ada apa koq sampai kepala sekolah manggil kamu. Dia jawab dengan wajah agak takut, "Gara-gara status ibu di facebook itu lho.." What???????!!!!!! Saya sedikit kaget campur heran. Untuk apa kepala sekolah sampai turun tangan ngurusi status facebook wali murid yang notabene isinya hanya keluh kesah seorang ibu dan sesikit kritik pada penyelenggara acara dalam hal ini adalah KBRI.

Okelah saya bilang ke Firly kalau saya akan datang menemui kepala sekolah besok pagi. Tujuan menemui beliau untuk menanyakan apa yang salah dengan status Facebook saya  Berangkatlah kamis pagi (28/3) saya menemui kepala sekolah atas inisiatif saya sendiri sekalian saya ingin berkenalan dengan kepala sekolah yang baru itu. Agak lucu sebenarnya karena ketemu kepala sekolah hanya untuk membahasa status facebook. (Gak penting banget ya?? Hehe)

Sampai di sekolah, saya langsung temui kepala sekolah di ruangannya. Intinya saya bertanya kenapa dengan status facebook yang saya tulis sampai beliau menegur Firly (Ibu yang nulis status anaknya yang ditegur... ketiban sialnya dia hehe).

Yang membuat saya terkejut ternyata kepala sekolah memegang selembar fotokopi screen shot halaman facebook saya. Saya jadi merasa aneh karena akun facebook saya setting only friends jadi artinya hanya yang jadi teman saya yang bisa baca halaman facebook milik saya. Sedangkan saya tidak berteman dengan kepala sekolah di facebook.

Saya tanya kepala sekolah, bagaimana bisa mendapatkan print screen status facebook saya sedangkan beliau tidak berteman dengan saya.. Dan saya bertanya lagi apakah yang mempermasalahkan status saya di facebook itu salah seorang guru karena saya memang berteman dengan 3 orang guru tapi beliau mengatakan informasi bukan dari guru tapi salah seorang ibu yang kebetulan adalah istri pejabat dan saya mengenalnya. Well akhirnya saya tahu siapa yang mempermasalahkan status facebook saya.

Dan sampai detik ini saya masih belum paham tujuan ibu itu mempermasalahkannya sampai menganggap status itu begitu penting untuk diprint dan difotokopi lalu dijadikan laporan. Apa karena di dalam status saya itu saya menyebut acara KBRI sayapun tidak mengerti.

Bapak kepala sekolah bilang bahwa sebenarnya tidak ada masalah dengan status yang ibu tulis itu. Karena isinya hanya mengkritisi manajemen waktu. Beliau katakan semua orang harus siap dikritik. Dan saya lega mendengarnya ternyata kepala sekolah bijak menyikapi hal ini. Saya sudahi pertemuan dengan kepala sekolah siang itu.

Kedangkala kritik dan keluh kesah orang kecil menjadi sebuah ancaman bagi kalangan pejabat sehingga menganggap penting untuk membahas siapa yang menyampaikan kritikan. Mungkin mereka menganggap kritik itu akan mencemarkan nama baik mereka. Saya berpikir orang-orang yang sensitif dan anti kritik adalah orang-orang yang sebaiknya tidak usah hidup. Kritik adalah bagian dari dinamika kehidupan di dunia karena sifat ketidaksempurnaan manusia.

Ingat jaman orde baru yang ketika sekelompok orang menyampaikan kritik maka ancaman masuk penjara telah menunggu. Tokoh-tokoh seperti A.M Fatwa, Pramoedya Ananta Toer, Mukhtar Pakpahan sudah pernah merasakan dinginnya lantai penjara karena kekritisan mereka pada pemerintah saat itu.

Ya sudahlah, dari sini saya banyak belajar bahwa kejernihan hati seseorang dapat dilihat ketika dia menyikapi sebuah kritik. Juga masih banyak orang yang menganggap efisiensi waktu bukan merupakan sesuatu yang penting. Jam karet masih menjadi budaya, dan kekuasaan masih dipakai untuk 'mengancam'. Semoga tulisan ini bisa jadi bahan introspeksi untuk saya sendiri.

Salam..

Mar 13, 2013

Ini Alasan Kenapa Harus Bawa Bagasi ke Kabin

source : http://blog.edreams.fr/voyage-bagage-a-main-easyjet/



Berawal dari membaca sebuah artikel yang akhirnya dihapus admin kompasiana (karena copas dari note FBini). Lalu saya teringat pengalaman yang hampir sama yang terjadi pada suami saya beberapa tahun lalu (2009). Bagasi nyaris hilang, dan memaksa suami tidak ganti baju selama 3 hari sebelum akhirnya membeli baju ganti. Setelah kejadian itu, saya selalu mengingatkan suami agar membawa tas ke dalam kabin pesawat (selain backpack untuk laptop tentu saja) untuk menyimpan beberapa pakaian jika akan bepergian jauh dengan pesawat.

Walaupun di tulisan mbak Septin tentang Etika Ketika Boarding Pesawat banyak yang berkomentar sinis tentang kebiasaan orang Indonesia membawa tas ke dalam kabin. Bikin susah katanya. Tapi saya memiliki pendapat berbeda tentang  hal itu.

Begini ceritanya…

Waktu itu suami mendapat tugas dari tempatnya bekerja pergi ke kantor cabang di El Coca, sebuah kota kecil di bantaran sungai Amazon, di Equador. Rencananya dia bertugas di sana selama kurang lebih 10 hari. Perjalanan yang amat panjang ini di mulai dari Pekanbaru lalu ke Jakarta kemudian ke Singapura untuk melanjutkan penerbangan ke Houston, Texas dan setelah transit sekitar 4 jam baru melanjutkan lagi ke Quito lalu lanjut lagi ke El Coca. Tidak ada masalah berarti selama perjalanan yang super melelahkan ini hingga akhirnya mendarat di benua Amerika. Walaupun hanya transit di negeri Paman Sam ini, ternyata pemeriksaan imigrasi suami tergolong njlimet.

Apa sebabnya?? Karena nama. Koq bisa? Ingat film “My Name is Khan” ??? Seperti itulah kira-kira perlakuan imigrasi Amerika (walaupun tidak seekstrim yang di film) pada suami saya yang nama pemberian orang tuanya adalah Ismail. Waktu itu Amerika memang lagi parno-parnonya sama yang berbau Islam (Islamophobia). Visa Amerika suami saya sempat dipending untuk dilitsus sebelum akhirnya disetujui. Visa sebenarnya akan  dipakai untuk menghadiri meeting di Houston, tapi  akhirnya suami gagal berangkat karena visanya tidak selesai sesuai rencana dan tiket pesawatnya hangus. Tapi beberapa bulan kemudian ada pemberitahuan bahwa visanya di approve walaupun nggak jadi ke AS, tapi lumayanlah dapat US Visa yang berlaku selama 5 tahun.

Kembali lagi pada kejadian imigrasi di Houston. Pemeriksaan imigrasinya (walaupun hanya transit) memakan waktu lebih dari 5 jam (padahal waktu transit hanya 4 jam) karena dia diminta untuk mengisi berbagai macam formulir. Menurut petugas imigrasi ini prosedur biasa bagi orang yang pertama kali menginjakkan kaki di AS. Padahal kata suami saya, pemeriksaan ini lama karena nama Ismailnya itu. ‘Insiden’ ini menyebabkan suami tertahan di Houston dan ditinggal pesawat yang akan membawanya ke Quito, Equador.

Pihak airline merubah penerbangan suami ke Quito keesokan harinya karena penerbangan ke Quito hanya dilayani sekali sehari. Segera dia mencari bagasinya, dan ternyata tidak ditemukan.

“Sepertinya bagasi anda sudah ikut penerbangan ke Quito”, kata petugas di situ. Ya sudahlah, toh cuma menginap semalam saja, pikir suami saya.


Suami terpaksa menginap si Houston. Perjalanan dari Pekanbaru hingga Houston memakan waktu hampir 32 jam ditambah 5  jam tertahan di sini. Belum perjalanan 5 jam menuju Quito dan 2 jam lagi ke El Coca. Saya yang di rumah bisa membayangkan kondisi suami waktu itu, capek, ngantuk, ditinggal pesawat dan nggak bisa ganti baju pula. Hiks..

Karena nggak mungkin mbambung di airport, suami segera mencari (sendiri) tempat menginap di sekitar airport, asal bisa tidur dan mandi saja. Mandi tanpa ganti baju, mana enak?? Untung saja saya menyelipkan "daleman" dalam backpacknya jadi lumayanlah ada yang ganti. Baju nggak ganti yang penting dalemannya ganti.

Kesesokan harinya, perjalanan akhirnya berlanjut menuju Quito. Suami masih berpikir bahwa bagasinya sudah sampai duluan di sana. Sesampainya di Quito, ternyata bagasi yang sudah diarep-arep itu tidak ditemukan. Sampai petugasnya mengubek-ubek gudang lost and found tetap saja bagasi tidak ditemukan.

Kata petugasnya, “Nanti sore (kebetulan suami sampai Quito siang hari) kami kabarkan kalau bagasi anda sampai. Sekarang kami akan kontak Houston untuk mencari info tentang bagasi anda”.

Akhirnya suami keluar dari bandara tanpa bagasi padahal isinya adalah baju gantinya selama 10 hari termasuk beberapa baju yang baru dibelinya di Pekanbaru. Melalui pesan inbox facebooknya, saya katakan padanya "Ikhlaskan sajalah, mudah-mudahan yang menemukan bagasi itu memang sedang membutuhkan barang-barangnya" Menginap sehari di Quito, dia memutuskan untuk membeli beberapa buah baju untuk ganti selama di El Coca nanti.

Selama 5 hari di El Coca kabar tentang bagasi masih kabur, harapan hanya tinggal harapan. Pihak airline terkesan tidak ada niat untuk mengurusnya, padahal sudah desak berulangkali.  Baju yang dibelinya di Quito itulah yang bergantian dipakai. Sampai kemudian kembali lagi ke Quito karena tugas telah berakhir, bagasi tetap tidak ada juntrungannya, nggak jelas.

Menginap semalam di Quito, sebelum terbang ke Houston untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang ke tanah air. Setibanya di Houston, suami menghubungi bagian lost and found mencoba mencari kejelasan tentang bagasinya. Ketemu!! Ternyata bagasi itu teronggok diantara barang-barang lainnya. Ada tag bertuliskan URGENT disitu, kenapa tidak dikirimkan ke Quito?? Suami komplain pada petugas, lalu sang petugas memberitahu suami untuk mengajukan komplain ke pihak airline di Jakarta.

Sampai di Jakarta, suami lalu menuju ke kantor maskapai penerbangan plat merah milik Singapura itu untuk mengajukan komplain. Masih ada sisa perasaan kesal, jengkel dan marah walaupun sudah tidak seperti waktu kejadian karena toh sudah berhasil dilewati. Pihak airline meminta suami untuk mengisi beberapa formulir isian kerugian materiil dan inmateriil yang akan dimintakan ganti rugi. Aturannya adalah diambil mana yang lebih besar dari 2 jenis kerugian tersebut dan ada nilai maksimalnya.Kerugian materiil mungkin tak seberapa hanya berupa pembelian baju-baju ganti. Tapi kerugian inmateriil nilainya jelas jauh lebih mahal daripada kerugian materiilnya.

Beberapa minggu kemudian uang ganti rugi yang diajukan suami ditransfer ke rekening tabungannya. Walaupun nilai uang ganti rugi itu tidak cukup besar namun, banyak hal yang bisa kami jadikan pelajaran dari peristiwa itu, seperti :

  1. Membawa beberapa baju dalam travel bag kecil atau koper untuk ukuran kabin (selain backpack jika bawa laptop) terutama jika melakukan perjalanan jauh. Tentu saja untuk mengantisipasi seperti kejadian seperti di atas.

  2. Membawa kartu kredit. Siapa tahu ATM tidak bisa digunakan atau uang cash yang dibawa tidak cukup maka kartu ini cukup "sakti" untuk diandalkan. Sayapun tidak bisa membayangkan kalau suami tidak membawa kartu kredit, stuck di negara orang seorang diri lalu "kehilangan" bagasi, terpaksa menginap di hotel dan bayar sendiri sedangkan ATM tidak bisa digunakan dan uang cash tidak mencukupi.

Sedangkan Pelajaran moral yang bisa dipetik adalah ikhlas. Kesulitan apapun yang terjadi harus dihadapi dengan ikhlas. Dan ikhlas itu nggak merugikan bahkan meguntungkan, bagasi yang sempat hilang ternyata ditemukan plus anaknya (dapat baju baru plus uang lagi hehehe..)

Semoga cerita di atas bermanfaat. Tidak ada satupun kesulitan di dunia ini tanpa ada hikmah di dalamnya.

Mar 6, 2013

Mencicipi Lezatnya Kuliner Khas Mesir


Hal yang paling susah ketika tinggal di negeri orang menurut saya adalah beradaptasi dengan makanannya. Kalau perbedaan iklim, masih bisalah diakali atau perbedaan bahasa, paling tidak bisa dipelajari juga sambil jalan. Lah kalau urusan lidah dan perut, rasanya susah banget buat saya untuk bisa menerima apalagi makanan yang benar-benar berbeda cita rasa dengan makanan Indonesia.

Butuh waktu yang lumayan lama untuk menetralisir rasa makanan yang sebelumnya belum saya kenal agar mau berkenalan dengan lidah Indonesia saya yang fanatik ini. Hanya beberapa makanan sqja yang bisa menaklukkan lidah saya. Jangankan saya, beberapa mahasiswa Al-Azhar yang sudah tinggal lebih lama dari saya saja belum bisa menerima beberapa makanan Mesir sebelum di “edit”. Di edit maksudnya, diolah lagi dengan tambahan bawang merah dan cabe agar ada rasa Indonesianya. Hehehe..

Makanan Mesir memiliki cita rasa asin dengan bumbu rempahnya yang kuat seperti makanan timur tengah lainnya. Kalau masakan Indonesia walaupun ada yang bercita rasa asin tapi masih ada sedikit rasa manis sehingga menghasilkan rasa gurih. Tapi untuk desert dan cemilan, orang Mesir suka rasa yang sangat manis hingga tidak disarankan bagi yang punya masalah dengan giginya seperti gigi berlubang.

Ini contohnya, makanan mirip puding ini namanya Ruz bil Laban dan bikin saya jatuh cinta. Terbuat dari beras yang direndam lalu dimasak menggunakan susu. Setelah itu dipanggang dalam oven. Karamel diatasnya opsional saja hanya variasi dari masakan aslinya. Saya suka makanan ini setelah penasaran dengan penampilannya yang mirip bubur sumsum, lalu saya coba... eh koq enak ya. Rasanya itu tidak terlalu manis seperti cemilan Mesir biasanya. Teksturnya memang mirip bubur sumsum tapi lebih padat sedikit seperti puding. Rasa karamel itulah yang mungkin membuat makanan yang satu ini jadi yummy banget.





Makanan pokok orang Mesir adalah roti Isyh. Karena merupakan makanan pokok, roti isyh harganya amat murah, satu kantong plastik berisi 10 roti hanya 1,5 - 2 LE saja. Kalau makan di restaurant, roti isyh tidak masuk hitungan alias gratis. Roti ini bisa dimakan dengan berbagai cara. Karena memiliki rongga di tengahnya maka roti bisa disi telur, kacang dan sayuran, mirip sandwich. 

Roti isyh yang diisi dengan kacang yang digiling lalu digoreng ini dinamakan Tho'miyah kalau ditambah telur dinamakan Tho'miyah bil beid. Kata mahasiswa dan orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di Kairo, tho'miyah ini makanan paling ngangenin. Orang Mesir juga biasa memakan roti Isyh dengan Salata Zabadi semacam keju olahan atau terong yang dibakar lalu dihaluskan namanya Salata Baba Ghonnu. Roti Isy juga bisa dimakan dengan kofta (daging giling berbumbu), ayam panggang, ikan dan lain sebagainya. Seperti nasi untuk orang Indonesia gitu deh..







Di Mesir juga ada beras tapi karena bukan makanan pokok, beras atau nasi dimakan sesekali saja. Biasanya beras dimasak dengan bumbu dan minyak, mirip nasi lemak atau nasi uduk di Indonesia tapi tanpa aroma pandan. Beras atau nasi di sini biasa jadi bahan isian sayuran, seperti paprika, atau daun kol. Itu lho seperti pare untuk siomay, tapi kan parenya diisi daging ikan giling, nah kalau ini isinya nasi bumbu. Makanan ini namanya Mahsy.



Jum’at (2/3) akhir pekan kemarin, saya diajak suami mampir ke sebuah warung di kawasan kampus Al-Azhar. Biasanya yang jadi tempat “ngaso” makan siang kami di daerah ini adalah GAD, sebuah warung yang menyediakan menu makanan yang cukup netral untuk orang Asia seperti saya semacam kebab, burger, shis tawook (potongan ayam mirip sate) dan pizza. Tapi kemarin kami mencoba mampir ke warung sebelah GAD yang baru buka. Menu utama warung ini adalah Fattha. Masakan berupa nasi yang dimasak dengan tomat dan dicampur dengan pasta mirip bihun.



Fattha yang kami pesan adalah Fathha bil Lahma yaitu Fattha dengan daging dan Fattha bil Kawareh yaitu fattha dengan sup kikil sapi. Menu tambahan yang kami pesan adalah Lahma Grill. Sup kikilnya ini mengingatkan saya dengan sup kikil buatan ibu saya. Bumbunya minimalis, sepertinya hanya dibumbui bawang putih saja, bahkan tanpa rasa. Garam dibubuhkan sendiri sesuai selera. 




Nah kalau lahma panggang ini bukan seperti steak yang dipanggang secara langsung di atas bara api tapi daging diumbui bawang merah dan tomat yang hanya diiris, diberi minyak lalu dibungkus dengan kertas alumunium foil baru kemudian di panggang. Rasanya mirip semur daging, agak manis dan tidak terlalu asin. Pokoknya nyambung banget deh sama lidah saya hehehe...





Tak kenal maka tak sayang, sebelum coba jangan bilang nggak enak... Jadi agak aneh kedengarannya kalau tinggal di sebuah tempat tapi tidak mau mencicipi kuliner khasnya. Meskipun butuh waktu lama untuk bisa menyesuaikan tapi memang sebaiknya sebagai pelaku hidup nomaden saya harus menyesuaikan lidah saya dengan makanan setempat, seperti Mesir tempat tinggal saya sekarang. Bisa jadi makanan inilah yang bikin kangen dan membuat saya kembali demi makanan-makanan itu hehehehe....




Bagaimana? Sudah tertarik ingin mencicipi makanan-makanan di atas??? 

Salam hangat dari Kairo.... :)
_____________
*Semua foto adalah koleksi pribadi

Mar 5, 2013

Cerita dari Kantor Mungil yang Punya Segudang Kerja


Bekerja di kantor buat sebagian orang adalah sebuah prestise. Lulus dari perguruan tinggi harapannya tentu bekerja, entah bekerja di perusahaan swasta atau di kantor pemerintahan. Lowongan kerja rasanya nggak sebanding dengan pencari kerja sehingga angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi. Persaingan dalam pencarian kerja juga nggak mengenal gender. Pria dan wanita bersaing untuk menduduki posisi yang diimpikan dalam sebuah perusahaan. Ada juga sebagian orang yang memilih untuk berwirausaha. Tujuannya sih tetap saja bekerja untuk mendapat penghasilan.

Dan saya.... sejak lulus dari perguruan tinggi tahun 2000 lalu, saya bekerja menjadi manager keuangan untuk sebuah perusahaan kecil. Bahkan sebelum lulus kuliah saya sudah bekerja di perusahaan ini. Tugas utama sih mengatur keuangan perusahaan tapi merangkap beberapa tugas lain. Karyawan di perusahaan saya ini bisa dikatakan hanya saya dan atasan saya, makanya disebut perusahaan kecil. Ada 3 klien yang kami layani, dan itu juga klien tetap perusahaan kami.   

Soal gaji, saya cukup fleksibel untuk hal ini, nggak pernah nuntut macem-macem, minta kenaikan gaji misalnya. Karena fasilitas untuk karyawan seperti saya bisa dibilang cukup memuaskan. Jadi nggak ada alasan untuk nggak loyal pada perusahaan kecil ini.

Tugas menyiapkan kebutuhan klien adalah tugas lain yang jadi tugas rutin saya. Jadi saya nggak bekerja di belakang meja, pekerjaan saya menuntut harus mobile dan dinamis. Kadang urusan mendisain ruangan kantor agar suasananya berubah dan tidak membosankan juga jadi pekerjaan di luar tugas utama. Tidak ada asisten yang membatu pekerjaan saya karena saya cukup mampu menjalankan tugas-tugas saya. Walaupun kadang keteteran, tapi saya merasa enjoy dengan pekerjaan saya ini.

Soal jam kerja, saya juga cukup fleksibel. Tidak ada batasan waktu untuk bekerja. Kalau dibutuhkan saat malam hari, saya siap melaksanan tugas. Yaaa... demi profesionalisme dalam bekerja saya nggak membatasi tugas juga jam kerja saya. Dan saya menikmatinya.

Hhhmmm.... sebenarnya apa sih pekerjaan saya ini ya?  Kantor mungil tapi segudang pekerjaan.  Saya adalah profesional housewife alias Ibu Rumah Tangga profesional hehehe... Menempatkan diri sebagai manager keuangan membuat saya dituntut untuk profesional jika nggak pengen 'perusahaan' bangkrut. Juga tugas lain yang nggak kalah pentingnya yaitu menyiapkan segala kebutuhan "klien" dari soal finansial, sampai masalah menyiapkan pemenuhan gizi mereka. Pekerjaan yang nggak bisa dibilang sembarangan, memiliki tanggung jawab yang besar dunia akhirat makanya menjadi ibu rumah tangga juga harus profesional kan? Dan saya bangga dengan tugas ini.... ;)



13298941511182788026
Ini kantor saya... :)

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy