Mar 6, 2013

Advertisement

Mencicipi Lezatnya Kuliner Khas Mesir

Advertisement



Hal yang paling susah ketika tinggal di negeri orang menurut saya adalah beradaptasi dengan makanannya. Kalau perbedaan iklim, masih bisalah diakali atau perbedaan bahasa, paling tidak bisa dipelajari juga sambil jalan. Lah kalau urusan lidah dan perut, rasanya susah banget buat saya untuk bisa menerima apalagi makanan yang benar-benar berbeda cita rasa dengan makanan Indonesia.

Butuh waktu yang lumayan lama untuk menetralisir rasa makanan yang sebelumnya belum saya kenal agar mau berkenalan dengan lidah Indonesia saya yang fanatik ini. Hanya beberapa makanan sqja yang bisa menaklukkan lidah saya. Jangankan saya, beberapa mahasiswa Al-Azhar yang sudah tinggal lebih lama dari saya saja belum bisa menerima beberapa makanan Mesir sebelum di “edit”. Di edit maksudnya, diolah lagi dengan tambahan bawang merah dan cabe agar ada rasa Indonesianya. Hehehe..

Makanan Mesir memiliki cita rasa asin dengan bumbu rempahnya yang kuat seperti makanan timur tengah lainnya. Kalau masakan Indonesia walaupun ada yang bercita rasa asin tapi masih ada sedikit rasa manis sehingga menghasilkan rasa gurih. Tapi untuk desert dan cemilan, orang Mesir suka rasa yang sangat manis hingga tidak disarankan bagi yang punya masalah dengan giginya seperti gigi berlubang.

Ini contohnya, makanan mirip puding ini namanya Ruz bil Laban dan bikin saya jatuh cinta. Terbuat dari beras yang direndam lalu dimasak menggunakan susu. Setelah itu dipanggang dalam oven. Karamel diatasnya opsional saja hanya variasi dari masakan aslinya. Saya suka makanan ini setelah penasaran dengan penampilannya yang mirip bubur sumsum, lalu saya coba... eh koq enak ya. Rasanya itu tidak terlalu manis seperti cemilan Mesir biasanya. Teksturnya memang mirip bubur sumsum tapi lebih padat sedikit seperti puding. Rasa karamel itulah yang mungkin membuat makanan yang satu ini jadi yummy banget.





Makanan pokok orang Mesir adalah roti Isyh. Karena merupakan makanan pokok, roti isyh harganya amat murah, satu kantong plastik berisi 10 roti hanya 1,5 - 2 LE saja. Kalau makan di restaurant, roti isyh tidak masuk hitungan alias gratis. Roti ini bisa dimakan dengan berbagai cara. Karena memiliki rongga di tengahnya maka roti bisa disi telur, kacang dan sayuran, mirip sandwich. 

Roti isyh yang diisi dengan kacang yang digiling lalu digoreng ini dinamakan Tho'miyah kalau ditambah telur dinamakan Tho'miyah bil beid. Kata mahasiswa dan orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di Kairo, tho'miyah ini makanan paling ngangenin. Orang Mesir juga biasa memakan roti Isyh dengan Salata Zabadi semacam keju olahan atau terong yang dibakar lalu dihaluskan namanya Salata Baba Ghonnu. Roti Isy juga bisa dimakan dengan kofta (daging giling berbumbu), ayam panggang, ikan dan lain sebagainya. Seperti nasi untuk orang Indonesia gitu deh..







Di Mesir juga ada beras tapi karena bukan makanan pokok, beras atau nasi dimakan sesekali saja. Biasanya beras dimasak dengan bumbu dan minyak, mirip nasi lemak atau nasi uduk di Indonesia tapi tanpa aroma pandan. Beras atau nasi di sini biasa jadi bahan isian sayuran, seperti paprika, atau daun kol. Itu lho seperti pare untuk siomay, tapi kan parenya diisi daging ikan giling, nah kalau ini isinya nasi bumbu. Makanan ini namanya Mahsy.



Jum’at (2/3) akhir pekan kemarin, saya diajak suami mampir ke sebuah warung di kawasan kampus Al-Azhar. Biasanya yang jadi tempat “ngaso” makan siang kami di daerah ini adalah GAD, sebuah warung yang menyediakan menu makanan yang cukup netral untuk orang Asia seperti saya semacam kebab, burger, shis tawook (potongan ayam mirip sate) dan pizza. Tapi kemarin kami mencoba mampir ke warung sebelah GAD yang baru buka. Menu utama warung ini adalah Fattha. Masakan berupa nasi yang dimasak dengan tomat dan dicampur dengan pasta mirip bihun.



Fattha yang kami pesan adalah Fathha bil Lahma yaitu Fattha dengan daging dan Fattha bil Kawareh yaitu fattha dengan sup kikil sapi. Menu tambahan yang kami pesan adalah Lahma Grill. Sup kikilnya ini mengingatkan saya dengan sup kikil buatan ibu saya. Bumbunya minimalis, sepertinya hanya dibumbui bawang putih saja, bahkan tanpa rasa. Garam dibubuhkan sendiri sesuai selera. 




Nah kalau lahma panggang ini bukan seperti steak yang dipanggang secara langsung di atas bara api tapi daging diumbui bawang merah dan tomat yang hanya diiris, diberi minyak lalu dibungkus dengan kertas alumunium foil baru kemudian di panggang. Rasanya mirip semur daging, agak manis dan tidak terlalu asin. Pokoknya nyambung banget deh sama lidah saya hehehe...





Tak kenal maka tak sayang, sebelum coba jangan bilang nggak enak... Jadi agak aneh kedengarannya kalau tinggal di sebuah tempat tapi tidak mau mencicipi kuliner khasnya. Meskipun butuh waktu lama untuk bisa menyesuaikan tapi memang sebaiknya sebagai pelaku hidup nomaden saya harus menyesuaikan lidah saya dengan makanan setempat, seperti Mesir tempat tinggal saya sekarang. Bisa jadi makanan inilah yang bikin kangen dan membuat saya kembali demi makanan-makanan itu hehehehe....




Bagaimana? Sudah tertarik ingin mencicipi makanan-makanan di atas??? 

Salam hangat dari Kairo.... :)
_____________
*Semua foto adalah koleksi pribadi

Advertisement

4 comments:

nurusyainie said...

Aaaah, saya langsung jatuh cinta sama bubur susu karamel. Penasaran rasanya beras dimasak pakai susu. Bagi resepnya dong Mak hehehe...

kartika kusumastuti said...

Lahma panggang kayaknya enak. *slurp* :9

Ellys Utami said...

Aduuuhhh... itu juga hasil karya madame Mesir mak, saya tinggal makan doang hihihi... ntar deh saya tanyain sama temen resepnya. Itu bubur emang uenak banget pake asli :D

Teksturnya mirip puding gitu mak, lumer banget dimulut, apalagi rasa karamelnya.... legit gitu.. ;)

Ellys Utami said...

Enyak bener dah pokoknya mak.. mana dagingnya empuk lagi :D
Rempahnya juga nggak terlalu kuat aromanya jadi pas banget sama lidah Asia.

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy