Mar 13, 2013

Advertisement

Ini Alasan Kenapa Harus Bawa Bagasi ke Kabin

Advertisement


source : http://blog.edreams.fr/voyage-bagage-a-main-easyjet/



Berawal dari membaca sebuah artikel yang akhirnya dihapus admin kompasiana (karena copas dari note FBini). Lalu saya teringat pengalaman yang hampir sama yang terjadi pada suami saya beberapa tahun lalu (2009). Bagasi nyaris hilang, dan memaksa suami tidak ganti baju selama 3 hari sebelum akhirnya membeli baju ganti. Setelah kejadian itu, saya selalu mengingatkan suami agar membawa tas ke dalam kabin pesawat (selain backpack untuk laptop tentu saja) untuk menyimpan beberapa pakaian jika akan bepergian jauh dengan pesawat.

Walaupun di tulisan mbak Septin tentang Etika Ketika Boarding Pesawat banyak yang berkomentar sinis tentang kebiasaan orang Indonesia membawa tas ke dalam kabin. Bikin susah katanya. Tapi saya memiliki pendapat berbeda tentang  hal itu.

Begini ceritanya…

Waktu itu suami mendapat tugas dari tempatnya bekerja pergi ke kantor cabang di El Coca, sebuah kota kecil di bantaran sungai Amazon, di Equador. Rencananya dia bertugas di sana selama kurang lebih 10 hari. Perjalanan yang amat panjang ini di mulai dari Pekanbaru lalu ke Jakarta kemudian ke Singapura untuk melanjutkan penerbangan ke Houston, Texas dan setelah transit sekitar 4 jam baru melanjutkan lagi ke Quito lalu lanjut lagi ke El Coca. Tidak ada masalah berarti selama perjalanan yang super melelahkan ini hingga akhirnya mendarat di benua Amerika. Walaupun hanya transit di negeri Paman Sam ini, ternyata pemeriksaan imigrasi suami tergolong njlimet.

Apa sebabnya?? Karena nama. Koq bisa? Ingat film “My Name is Khan” ??? Seperti itulah kira-kira perlakuan imigrasi Amerika (walaupun tidak seekstrim yang di film) pada suami saya yang nama pemberian orang tuanya adalah Ismail. Waktu itu Amerika memang lagi parno-parnonya sama yang berbau Islam (Islamophobia). Visa Amerika suami saya sempat dipending untuk dilitsus sebelum akhirnya disetujui. Visa sebenarnya akan  dipakai untuk menghadiri meeting di Houston, tapi  akhirnya suami gagal berangkat karena visanya tidak selesai sesuai rencana dan tiket pesawatnya hangus. Tapi beberapa bulan kemudian ada pemberitahuan bahwa visanya di approve walaupun nggak jadi ke AS, tapi lumayanlah dapat US Visa yang berlaku selama 5 tahun.

Kembali lagi pada kejadian imigrasi di Houston. Pemeriksaan imigrasinya (walaupun hanya transit) memakan waktu lebih dari 5 jam (padahal waktu transit hanya 4 jam) karena dia diminta untuk mengisi berbagai macam formulir. Menurut petugas imigrasi ini prosedur biasa bagi orang yang pertama kali menginjakkan kaki di AS. Padahal kata suami saya, pemeriksaan ini lama karena nama Ismailnya itu. ‘Insiden’ ini menyebabkan suami tertahan di Houston dan ditinggal pesawat yang akan membawanya ke Quito, Equador.

Pihak airline merubah penerbangan suami ke Quito keesokan harinya karena penerbangan ke Quito hanya dilayani sekali sehari. Segera dia mencari bagasinya, dan ternyata tidak ditemukan.

“Sepertinya bagasi anda sudah ikut penerbangan ke Quito”, kata petugas di situ. Ya sudahlah, toh cuma menginap semalam saja, pikir suami saya.


Suami terpaksa menginap si Houston. Perjalanan dari Pekanbaru hingga Houston memakan waktu hampir 32 jam ditambah 5  jam tertahan di sini. Belum perjalanan 5 jam menuju Quito dan 2 jam lagi ke El Coca. Saya yang di rumah bisa membayangkan kondisi suami waktu itu, capek, ngantuk, ditinggal pesawat dan nggak bisa ganti baju pula. Hiks..

Karena nggak mungkin mbambung di airport, suami segera mencari (sendiri) tempat menginap di sekitar airport, asal bisa tidur dan mandi saja. Mandi tanpa ganti baju, mana enak?? Untung saja saya menyelipkan "daleman" dalam backpacknya jadi lumayanlah ada yang ganti. Baju nggak ganti yang penting dalemannya ganti.

Kesesokan harinya, perjalanan akhirnya berlanjut menuju Quito. Suami masih berpikir bahwa bagasinya sudah sampai duluan di sana. Sesampainya di Quito, ternyata bagasi yang sudah diarep-arep itu tidak ditemukan. Sampai petugasnya mengubek-ubek gudang lost and found tetap saja bagasi tidak ditemukan.

Kata petugasnya, “Nanti sore (kebetulan suami sampai Quito siang hari) kami kabarkan kalau bagasi anda sampai. Sekarang kami akan kontak Houston untuk mencari info tentang bagasi anda”.

Akhirnya suami keluar dari bandara tanpa bagasi padahal isinya adalah baju gantinya selama 10 hari termasuk beberapa baju yang baru dibelinya di Pekanbaru. Melalui pesan inbox facebooknya, saya katakan padanya "Ikhlaskan sajalah, mudah-mudahan yang menemukan bagasi itu memang sedang membutuhkan barang-barangnya" Menginap sehari di Quito, dia memutuskan untuk membeli beberapa buah baju untuk ganti selama di El Coca nanti.

Selama 5 hari di El Coca kabar tentang bagasi masih kabur, harapan hanya tinggal harapan. Pihak airline terkesan tidak ada niat untuk mengurusnya, padahal sudah desak berulangkali.  Baju yang dibelinya di Quito itulah yang bergantian dipakai. Sampai kemudian kembali lagi ke Quito karena tugas telah berakhir, bagasi tetap tidak ada juntrungannya, nggak jelas.

Menginap semalam di Quito, sebelum terbang ke Houston untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang ke tanah air. Setibanya di Houston, suami menghubungi bagian lost and found mencoba mencari kejelasan tentang bagasinya. Ketemu!! Ternyata bagasi itu teronggok diantara barang-barang lainnya. Ada tag bertuliskan URGENT disitu, kenapa tidak dikirimkan ke Quito?? Suami komplain pada petugas, lalu sang petugas memberitahu suami untuk mengajukan komplain ke pihak airline di Jakarta.

Sampai di Jakarta, suami lalu menuju ke kantor maskapai penerbangan plat merah milik Singapura itu untuk mengajukan komplain. Masih ada sisa perasaan kesal, jengkel dan marah walaupun sudah tidak seperti waktu kejadian karena toh sudah berhasil dilewati. Pihak airline meminta suami untuk mengisi beberapa formulir isian kerugian materiil dan inmateriil yang akan dimintakan ganti rugi. Aturannya adalah diambil mana yang lebih besar dari 2 jenis kerugian tersebut dan ada nilai maksimalnya.Kerugian materiil mungkin tak seberapa hanya berupa pembelian baju-baju ganti. Tapi kerugian inmateriil nilainya jelas jauh lebih mahal daripada kerugian materiilnya.

Beberapa minggu kemudian uang ganti rugi yang diajukan suami ditransfer ke rekening tabungannya. Walaupun nilai uang ganti rugi itu tidak cukup besar namun, banyak hal yang bisa kami jadikan pelajaran dari peristiwa itu, seperti :

  1. Membawa beberapa baju dalam travel bag kecil atau koper untuk ukuran kabin (selain backpack jika bawa laptop) terutama jika melakukan perjalanan jauh. Tentu saja untuk mengantisipasi seperti kejadian seperti di atas.

  2. Membawa kartu kredit. Siapa tahu ATM tidak bisa digunakan atau uang cash yang dibawa tidak cukup maka kartu ini cukup "sakti" untuk diandalkan. Sayapun tidak bisa membayangkan kalau suami tidak membawa kartu kredit, stuck di negara orang seorang diri lalu "kehilangan" bagasi, terpaksa menginap di hotel dan bayar sendiri sedangkan ATM tidak bisa digunakan dan uang cash tidak mencukupi.

Sedangkan Pelajaran moral yang bisa dipetik adalah ikhlas. Kesulitan apapun yang terjadi harus dihadapi dengan ikhlas. Dan ikhlas itu nggak merugikan bahkan meguntungkan, bagasi yang sempat hilang ternyata ditemukan plus anaknya (dapat baju baru plus uang lagi hehehe..)

Semoga cerita di atas bermanfaat. Tidak ada satupun kesulitan di dunia ini tanpa ada hikmah di dalamnya.

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy