May 9, 2013

Advertisement

Jordan Spring Traveling #3 : Long Journey...

Advertisement


Menurut yang saya baca di beberapa website dan blog, untuk menuju kota Wadi Musa dari Amman adalah melalui Kings Highway yang dapat ditempuh sekitar 3 jam (250 km). Jalan ini merupakan jalan tol yang dibangun di sepanjang desert.

Keluar dari airport sekitar pukul 12.30, tidak terlalu sulit menemukan petunjuk jalan. Untuk rute ke Wadi Musa, petunjuk arahnya adalah ke Aqaba. Kita akan berjalan ke arah selatan, jadi perhatikan posisi matahari untuk membantu menentukan arah. Di sepanjang jalan ada rambu-rambu batas kecepatan kendaraan jadi harus dipatuhi kalau tidak mau kena tilang karena di dekat rambu-rambu itu ada mobil polisi yang stand by. Selain itu di beberapa tempat ada polisi tidur untuk mengontrol kecepatan kendaraan.

Rambu batas kecepatan kendaraan 

Kira-kira setelah 10 km berjalan, kendaraan di depan kami berjalan perlahan, saya pikir ada kecelakaan. Ternyata ada beberapa polisi yang melakukan pemeriksaan. Sampai di mobil kami, polisi itu bertanya ramah,

"Selamat siang. Anda mau ke arah Aqaba kan?" 
"Iya, kami mau ke Petra." Jawab suami 
"Jalan ke arah Aqaba sementara di tutup karena ada penembakan di sekitar desert. Sebelum jembatan Karak nanti anda harus belok kanan."
Lalu kami bertanya,
"Apakah jarak tempuhnya sama dengan jalan tol?" 
"Bedanya kurang lebih hanya satu jam." Jawab polisi itu."
"Oh...thank you sir" "Ok.. hati-hati dan selamat jalan ya." Ucapnya sambil melambaikan tangan.

Kami lihat di peta, jalan alternatif ini melewati beberapa kota kecil termasuk Karak tempat Karak castle berada. Castle ini memang tempat yang direkomendasikan dalam situs visitjordan.com tapi tidak masuk dalam list perjalanan kami karena tempatnya cukup jauh. Beruntung, karena jalan tol ditutup jadi kami bisa tahu tempat bernama Karak Castle. Sebenarnya rute ini merupakan rute lama Amman-Aqaba sebelum dibangun Kings Highway. Dalam peta, rute lama ditunjukkan dengan warna kuning sedangkan rute Kings Highway ditunjukkan dengan warna biru.

Sampai di jembatan yang dimaksud pak polisi tadi, kami belok kanan. Ternyata jembatan ini bukan jembatan yang melintasi sungai tapi merupakan fly over. Pada rambu petunjuk arah kami melihat kota Karak berjarak lebih kurang 35 km dari simpang fly over tadi. Jalan menuju kota Karak relatif lega, sepi dan mulus.



Sampailah kami di sebuah keramaian kota. Kota kecil bernama Karak. Kotanya berbukit-bukit dan agak hijau cukup menawan. Bangunan apartemen di sini berbeda dengan di Mesir. Di sini bangunannya rata-rata hanya terdiri dari 4 sampai 5 lantai dan hampir semuanya berwarna putih tulang (broken white). Pokoknya beda sekali dengan Mesir yang apartemennya tinggi menjulang dan berwarna coklat bahkan kadang temboknya tidak diaci pakai semen.

Di sebuah persimpangan pasar kami melihat rambu petunjuk Karak Castle. Timbul ide dadakan, "mampir yuk, besok-besok nggak sempat ke sini lagi loh.." ujar saya pada suami. Ternyata dia mengiyakan, segera dia membelokkan mobil ke kiri mengikuti petunjuk arah. Setelah berjalan agak jauh koq tempatnya tidak ketemu, waduh jangan-jangan nyasar nih. Saya mulai mengintervensi sopir,
"Nanya gih, daripada muter-muter nggak jelas..
"Ini jalannya udah bener koq.. tenang aja" ujarnya santai
"Aduuhh... udah deh nanya aja nanti lama di jalan.." saya mulai khawatir.
Akhirnya dia bertanya juga, takut istrinya tambah stress :D
"Assalaamu'alaikum.. Qal'ah fein?" Tanyanya pada orang di jalan. Qal'ah adalah sebutan untuk benteng dalam bahasa arab.
"Wa'alaikum salaam... jalan ini lurus saja nanti ketemu simpang pertama ambil yang kiri" jelasnya.
"Shukraan..." 
"Tuhh kan, jalannya itu udah bener. Ngeyel.." ekspresi kemenangan terpancar di wajah pak sopir :D

Akhirnya ketemu, karena namanya benteng tentu saja tempatnya berada di atas bukit,  jalannya berkelok untuk menuju ke sana. Kelihatan juga bentuknya dari bawah, saya mengurungkan niat masuk ke dalamnya karena takut kesorean sampai Wadi Musa. Yang penting tahu bentuk bangunannya. Palingan sama bentuknya dengan qal'ah di Kairo hehehe...

Dari situ kami berbalik arah, tapi saya agak bingung karena bentuk jalannya tidak sama dengan jalan yang kami lewati sebelumnya. Wah.. saya panik lagi karena takut nyasar dan tambah lama di jalan. Biasanya kalau panik, saya suka maksa suami untuk bertanya pada orang di jalan. Saya kurang yakin sama kemampuan membaca arahnya pak sopir karena dia baru kenal daerah ini :D Padahal dia yakin banget nggak salah jalan berdasarkan arah matahari.

Petujuk jalan di kota kecil ini lumayan membingungkan sih, terlebih lagi ada beberapa simpang jalan yang tidak ada rambunya. Jadi feeling membaca arah mata angin memang harus peka dari posisi matahari, kompas sangat dibutuhkan di saat seperti ini. Mungkin kalau kami nggak belok ke Karak Castle kami nggak kebingungan seperti ini..

Berdasarkan peta setelah Karak, kota berikutnya adalah Tafilia. Di sebuah persimpangan jalan yang cukup ramai kami bertanya ke mana arah Kota Tafilia. Orang tersebut memberitahu kami arahnya, syukurlah tidak salah jalan. Menurutnya butuh waktu sekitar 3 jam lagi untuk menuju Wadi Musa. Oohh... masih panjang perjalanan kami rupanya.

Semakin jauh jalan yang kami lewati tidak lagi lebar seperti semula, melewati perbukitan, menanjak, menurun, berbelok-belok. Juga melewati beberapa desa dan kadang berpapasan dengan serombongan domba yang sedang digembalakan. Kadang kami melihat kemah-kemah suku badui di perbukitan yang sepi, kami juga melihat sebuah danau di tengah bukit batu ketika melintasi jalan yang membelah bukit. Luar biasa.

Kemah suku Badui yang kami temui

Domba yang berbaris tertib, masa kita kalah sama mereka hehe..


Setelah hampir 3,5 jam perjalanan, kami berhenti untuk sholat, jama' dzuhur dan ashar sekalian istirahat disebuah masjid desa yang saya lupa namanya. Orang di sana ramah memperlakukan kami, khas orang desa umumnya. Selepas sholat dan istirahat sejenak, kami lanjutkan perjalanan yang menurut orang-orang yang kami temui di masjid kurang sekitar 1 jam lagi.

Di tengah perjalanan kami melihat ada papan bertuliskan Dana spot view, "Wah apaan nih, sepertinya menarik.. berhenti dulu deh kita lihat ada apa.... " *feeling fotografer :D
Ternyata benar pemandangan dari sini luar biasa indah. Di bawah lembah sana ada sebuah desa bernama Dana. Andai saja berhenti pas sunset pasti pemandangannya lebih luar biasa.



Sayangnya perjalanan harus segera lanjut agar tidak terlalu malam sampai Wadi Musa. Terlebih lagi badan sudah harus segera menyentuh tempat tidur. Anak-anak pun sudah ribut dan nggak sabar lagi, mereka kecapekan dan ingin segera sampai di hotel.

Pukul 16.30 akhirnya kami masuk di kota Wadi Musa. Kota ini merupakan kota kecil, sama seperti kota Karak yang konturnya berbukit-bukit tapi lebih ekstrim lagi. Di kota ini minim petunjuk jalan. Jadi kami sempat berputar-putar untuk menemukan lokasi Petra karena hotel kami berada 200 meter dari entrance gate Petra. Tapi perut yang sejak siang belum terisi memaksa kami berhenti di sebuah restoran kecil pinggir jalan. Menu daging panggang, ayam dan nasi mandi lumayan bisa mengisi perut kami yang keroncongan.

Makanan di tempat ini cukup mahal rupanya. Untuk seporsi mix grill (daging panggang) dipatok 6 JOD padahal porsinya juga nggak banyak. Sedangkan nasi mandi dengan ayam harganya 4 JOD. Kita tidak akan menemukan restoran cepat saji di kota ini. Hanya ada warung- warung milik penduduk lokal yang kadang harganya kurang wajar terutama di lokasi dekat tourist centre Petra. Air minum mineral 1,5 liter (botol besar) mereka jual 2 JOD (Rp. 30.000).

Saran saya untuk membeli makanan dan minuman serta memilih tempat makan, keluarlah agak jauh dari area tourist centre. Kita akan bisa dapatkan makanan lebih murah setengahnya. Air mineral yang 2 JOD kalau beli di supermarket di luar area hanya 25 piaster saja.

Setelah perut terisi segera kami menuju hotel. Hotel yang lokasinya cukup dekat dengan entrance gate Petra dan berada di ketinggian. Jadi cukup jelas terlihat dari bawah. Candle Hotel namanya, alhamdulillah akhirnya sampai juga.

View Petra dari  hotel Candle


Malam ini kami harus memulihkan tenaga yang cukup terkuras diperjalanan selama hampir 8 jam (Kairo-Amman-Wadi Musa). Besok pagi kami harus check out dari hotel jam 7.30 pagi untuk berkelana ke Petra. Dan siangnya kembali ke Amman.

Cerita tentang Petra akan saya ceritakan di bagian  selanjutnya.....




___________
Sumber : Tulisan saya di Kompasiana



Advertisement

9 comments:

Santi Dewi said...

Traveling memang mengasyikkan :)

Anonymous said...

trims... serasa ikutan ke Jordan. Btw, emang negara ini termasuk mahal2 dibanding Mesir, ya? ira

nath said...

Keren jd pengen jln kesna

Ellys Utami said...

Hehehe... iya bener banget. Traveling selalu menyenangkan...

Ellys Utami said...

Iya mbak.... kalo dibanding Mesir dan Turki, Jordan relatif lebih mahal... terutama makanan :D

Ellys Utami said...

Mudah2an bisa nyusul ke sini mbak Nath.. keren banget pokoknya :)

Lidya - Mama Cal-Vin said...

banyak batunya ya hehehe ya iyalah namanay juga gunung batu ya mbak :) keren deh pokoknya

Ellys Utami said...

Hehehe... gunung batu yang keren mbak Lidya..

Saya aja ampe ga brenti berdecak kagum. Koq bisa mereka ngukir- ngukir batu jadi istana indah...

Eh cerita ttg istananya belum ding hehehe... tunggu lanjutan ceritanya ya mbak.. :)

Erik Iskandar said...

Wah jadi pengen ke Jordan nih :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy