May 15, 2013

Advertisement

Jordan, Spring Traveling #4: Adventuring Petra

Advertisement


Cerita sebelumnya

Pagi ini suhu udara kota Wadi Musa cukup sejuk. Prakiraan cuaca yang tertera di handphone menunjuk ke angka 25ยบ celcius. Setelah semalaman beristirahat, kami merasa sudah cukup segar dan fit. Tidak mau berlama-lama dalam kamar, setelah semua mandi dan saya membereskan koper, pukul 07.10 kami bergegas keluar dan sarapan di restoran hotel. Roti bakar dengan selai keju ditambah sebutir telur rebus, saya rasa sudah cukup menjaga stamina sampai siang nanti.

Sesuai rencana, pagi ini kami langsung check out dari hotel. Untuk berkeliling Petra, butuh waktu lama, mungkin sampai batas waktu check out jam 12an. Daripada terburu-buru dan tidak nyaman, lebih baik kami langsung check out saja. Siangnya kami mau langsung kembali ke Amman.

Setelah urusan administrasi hotel selesai, bergegas kami menuju Petra. Hanya berjalan 200 meter saja dari hotel Candle, kami sudah sampai di depan loket pembelian tiketnya. Loket ini terkesan non permanen, sepertinya sedang direnovasi.

Untuk masuk ke situs arkeologi Petra kita harus membayar tiket sebesar 50 JOD setara dengan 70 USD atau Rp. 690.500 per orang. Untuk anak usia 15 tahun ke bawah, free atau gratis. Jadi untuk kami berlima, hanya membeli 3 tiket saja. Tak lupa kami mengambil peta sebagai panduan.

Kalau berniat berpetualang ke Petra lebih dari sehari, ada baiknya membeli paket. Untuk paket 2 hari tiketnya 60 JOD dan untuk 3 hari 'hanya' 55 JOD.



***

Petra merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia dan dilindungi oleh UNESCO. Dalam bahasa Yunani Petra berarti batu, dan orang Arab menyebutnya al-bitra. Tempat ini awalnya adalah ibukota kerajaan suku Nabatean. Suku ini tinggal di selatan Jordan hingga ke sebelah utara Damaskus. Mereka hidup dengan berdagang dupa, rempah-rempah, dan gading yang berasal dari Arab bagian selatan dan India timur.  Petra menjadi  jalur strategis perdagangan yang menghubungkan Cina, India dengan kota-kota pelabuhan di pesisir Mediterania. 

Setelah saya baca dibeberapa artikel, suku Nabath ini adalah suku Arab kuno yang hidup pada  300 tahun sebelum masehi. Merupakan keturunan kaum Tsamud yaitu kaum nabi Sholeh. Mereka adalah kaum yang dianugerahi kemahiran memahat dan mengukir batu-batu keras.

Petra, kota yang terletak di antara teluk Aqaba dan laut mati. Berada pada ketinggian 800 sampai 1.396 meter di atas permukaan laut. Kota ini dibangun dengan memahat dinding-dinding batu dan letaknya tersembunyi karena dikelilingi gunung. Maka tak heran konon Petra terlindung dari badai pasir dan sulit ditembus musuh. Kota Petra juga dibangun dengan sistem pengairan yang rumit dilengkapi sistem hidrolik untuk menyalurkan air bersih ke kota. Sebuah sistem yang canggih pada jamannya. 

Petra sempat 'hilang' selama hampir 500 tahun dari jangkauan dunia Barat, yaitu setelah terjadinya perang salib pada abad 12. Kota ini hanya diketahui oleh suku Badui yang mendiami Petra dan sekitarnya. Baru pada tahun 1812, Johann Ludwick Burckhardt seorang petualang Swiss menemukan tempat ini.


***

Setelah melewati pemeriksaan tiket, kami melihat beberapa orang mencoba menawarkan kuda pada beberapa turis, termasuk kami. 

"12 dinar saja untuk 4 kuda." mereka dengan semangat menawari kami.
 Bapak melirik saya, "Gimana? Coba aja yuk, seru sepertinya.."
"Nggak usahlah, jalan kaki aja. Masih pagi ini, " tukas saya menolak. Padahal alasannya karena sayang dengan 12 dinar itu. 
"Lumayan kan menghemat tenaga, lagipula biar tahu rasanya naik kuda" ujarnya merayu.
Akhirnya sayapun menyerah.
Naik kuda cuma buat gaya :P


Kami menyewa 4 kuda. Tak tuk tak tuk.. si kuda berjalan pelan dituntun sang joki. Di kanan kiri saya melihat gunung batu yang tidak terlalu tinggi. Ada 2 jalan berkerikil selebar masing-masing sekitar 4 meteran. Tidak sampai 20 menit tiba-tiba si joki menghentikan kudanya. 

"Lho.. cuma sampai sini? Deket banget kalo ini. Kalau cuma sampai sini sih jalan kaki aja."
Raut wajah si Bapak juga tampak kecewa karena ternyata naik kudanya hanya sebentar hehehe..
"Iya, kuda nggak boleh masuk ke dalam sana, kalau mau masuk naik kereta kuda" kata si joki.

Memasuki gerbang kota, nuansa "Indiana Jones" mulai terasa. Jalan selebar sekitar 3 meter yang sudah dicor membelah gunung batu keras berwarna merah. Ini merupakan arsitektur yang terbentuk alami. Masya Allah... Tak heran, kuda dilarang masuk ke sini, kotorannya akan mengotori jalan, tentu akan merusak pemandangan.

Gerbang kota Petra, kuda tidak boleh masuk :D



Untuk masuk ke "tengah" kota Petra harus melewati celah tebing seperti ini

As -Siq


Setelah berjalan sejauh hampir 1 kilometer, kami melewati dinding batu setinggi 80 meter dan membentuk lorong (canyon) yang berliku-liku. Berdasarkan peta yang kami baca, bagian ini dinamakan As-Siq. Panjang lorong kurang lebih 1,2 kilometer dengan lebar 3 sampai 4 meter. Unik dan menakjubkan.


Sepanjang perjalanan saya memang tak pernah berhenti merekam keindahan ini dalam bidikan kamera. Sengaja saya bawa 2 memory card berkapasitas 8 GB takut tidak cukup hehe..

Setelah melewati As-Siq barulah kami menyaksikan sebuah bangunan di dinding batu dengan arsitektur Romawi. Petra memang pernah dikuasai oleh bangsa Romawi tahun 106 masehi. Tak heran bangunan di Petra hampir semuanya sudah bergaya Romawi. Dan bangunan inilah yang menjadi landmark kota Petra. Tinggi fasadnya kurang lebih sekitar 40-an meter dan lebarnya sekitar 30 meter.

Bangunan yang berada di hadapan kami ini sebelumnya adalah musoleum atau makam. Konon sempat menjadi tempat penyimpanan harta karun Fir'aun pada jaman Nabi Musa alaihissalaam. Inilah alasan kenapa bangunan yang diukir di atas batu tersebut dinamakan Al-Khazneh dalam bahasa Inggris berarti The Treasury.

Tempat ini belum begitu ramai, mungkin karena masih pagi. Ada beberapa joki unta, kuda dan keledai yang mencoba menawarkan jasa pada para turis. Saya tentu saja sibuk dengan kamera. Tempat ini adalah salah satu obyek foto paling indah buat saya selain masjid Ibn Thoulun di Kairo. Sempat ingin masuk ke dalam bangunan, tapi ternyata Al-Khazneh tidak boleh dimasuki. Pintu masuknya dihalangi rantai dan dijaga oleh beberapa polisi. Yah.. padahal ingin sekali memotret interiornya.


"Ayo cepetan, perjalanan kita masih jauh nih. Ada banyak tempat di sana," Bapak meneriaki saya yang masih sibuk jepret sana jepret sini.

Sebelumnya saya pikir kota Petra hanya sampai pada bangunan Al-Khazneh ini saja, namun ternyata kota ini sangat luas. Melihat peta yang kami dapatkan di loket pembelian tiket tadi, ada 34 bangunan di Petra. Dan kami baru berada pada bangunan nomor 7. Waw!

Al-Khazneh (The Treasury)


Berjalan sekitar 200 meter, kami menemukan lebih banyak bangunan di bukit-bukit batu.  Arsitekturnya lebih sederhana dari Al-Khazneh. Lubang-lubang serupa jendela banyak terdapat di sini. Mungkin dulunya merupakan rumah-rumah penduduk suku Nabath.

Ada pula bangunan teater seperti umumnya komplek bangunan Romawi. Menurut keterangan yang saya baca, teater ini mampu menampung sampai 4000an orang. Bangunan ini ditutup pagar, sepertinya tidak boleh dimasuki. Kami hanya berfoto saja di bagian luar.


Keledai dan jokinya berseliweran di area ini menawari turis-turis untuk mau memakai jasanya. Tapi kami tak tertarik lagi, pasti mahal lagipula anak-anak juga tampaknya masih kuat berjalan. Cuma butuh banyak minum karena cuaca lumayan terik. Kerongkongan jadi cepat kering. Botol air mineral besar yang kami bawa tadi, sudah tinggal tak lebih dari separuh saja. Hmm.. mudah-mudahan cukup.

Tak jauh berjalan dari teater kami melihat sebuah bangunan di atas gunung. Cukup menarik perhatian. Kami memutuskan untuk mendaki, ingin tahu dari dekat. Menaiki anak tangga setinggi lebih dari 35 meter. Banyak pedagang souvenir di sepanjang jalan yang mengarah ke sana. Dengan nafas tersengal-sengal akhirnya sampai juga pada bangunan yang bernama Urn Tomb.

Urn Tomb merupakan salah satu makam kerajaan terbesar di Petra. Dibangun kurang lebih pada tahun 70 masehi. Dari atas sini kita bisa menyaksikan view kota Petra. Hamparan batuan merah menjadi lansekap yang unik.

Rumah-rumah di atas gunung batu

Urn Tomb

Ngobrol asyik :D


Seorang lelaki berpakaian tentara suku badui menyapa ramah, bertanya darimana kami berasal. Indonesia jawab kami. Dia bercerita banyak tentang negeri Syam yang dulu menjadi salah satu tempat tujuan berdagang Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wassallam. Dan Jordan adalah salah satu diantaranya.

Hampir sekitar lebih dari setengah jam kami beristirahat di sini. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Suhu udara cukup panas, mungkin lebih dari 30 derajat celcius. Setelah memulihkan tenaga, kami memutuskan turun dan menyudahi perjalanan. Tenaga kami sudah lumayan terforsir untuk sampai ke tempat ini. Berjalan kaki hampir sejauh 5 km membuat kaki berat melangkah. Anak-anak juga tampak tak bersemangat. Gamang juga untuk kembali ke tempat mengawali perjalanan pagi tadi.

Padahal masih banyak tempat menarik, jaraknya kurang lebih 1 sampai 2 km dari Urn Tomb. Sudahlah, berhubung masih ada lanjutan perjalanan ke Amman siang ini jadi kami tak memaksakan diri menelusuri bagian kota Petra yang lain.

Air mineral kami sudah habis, rasa haus melanda. Terpaksa kami membeli minuman di area dekat bangunan teater. Harga makanan dan minuman di tempat ini super duper mahal. Minuman kaleng dan air mineral botol kecil di hargai 2 JOD, hampir Rp. 30.000. Gila!! Tapi toh dibeli juga karena butuh.

Mampir sejenak di Al-Khazneh untuk mengambil foto lagi. Foto tadi pagi tak cukup memuaskan saya. Sudah diwanti-wanti oleh anak-anak untuk tak berlama-lama berfoto ria. Tempat ini lebih ramai dibandingkan tadi pagi saat kami baru sampai. Sudah banyak turis. Yap! Hanya sekitar 15 menitan berhenti di Al-Khazneh untuk kemudian melanjutkan berjalan kaki. Ingin rasanya naik kereta kuda, karena kaki suda amat pegal. Tapi ingat tarifnya yang mahal dan hanya bisa dinaiki maksimal 3 orang, niat itu kami urungkan. Padahal Faiz sudah merengek kecapekan.

Setelah hampir 1 jam berjalan, akhirnya sampai juga di visitor center. Lega. Segera saya buka sepatu dan berselonjor meregangkan otot kaki yang sudah berjalan lebih dari 8 km. Benar-benar wisata yang butuh stamina tinggi. Untung kami memakai sepatu kets,jadi kaki tidak mengalami lecet.

Blusukan ke kota batu yang pernah hilang itu memang cukup mahal dan melelahkan. Bayangkan, untuk sampai ke sana, kami harus bersusah payah berjalan kaki sejauh hampir 9 kilometer dan harus membayar 210 USD, hampir 2 juta rupiah untuk 3 orang. Tiket obyek wisata paling mahal yang pernah kami kunjungi.

Namun, kita tak akan kecewa tatkala menyaksikan keindahan dan keunikan kota yang dijuluki The Red Rose ini. Sungguh kota yang menakjubkan.

Setelah cukup beristirahat, kami kembali ke mobil. Perjalanan ke Amman harus dilakukan siang ini juga, agar tak terlalu sore sampai di sana. Takutnya Kings Highway ditutup lagi sehingga harus lewat jalan alternatif seperti kemarin dan butuh waktu 5 jam. Semoga perjalanan ini lancar dan tidak ada halangan berarti.

Sampai jumpa di kota Amman, ibukota The Hashimid Kingdom. Kami akan berada di kota itu kurang lebih 4 hari ke depan..

________
Cerita perjalanan kami sebelumnya...










Advertisement

4 comments:

Anonymous said...

Masha Alllah, megah sekali ya, Mbak... Dan mihil banget tarif masuknya... hehe. ira

Ellys Utami said...

Beneran bagus banget tempatnya mbak... harga tiket masuknya juga maknyuss... wkwkwk...

Belum lagi kalo bekal air minum habis di dalam, bakalan "dipalak" sama yang jual, turis2 bule aja pada protes. Air minum kecil aja dijual 3$ hahaha..

Tapi seru mbak, berasa jadi Indiana Jones gitu deh.. Siap2 baliknya gempor :D

tizara said...

Wah.......asyik mak bisa mengunjungi tempat bersejarah begitu, foto2nya jg keren

Ellys Utami said...

Mak @Tizara... Alhamdulillah mak, mumpung deket dari Kairo.
Kalo foto, eikeh masih harus belajar lagi.. hehehe.

Makasih dah mampir ya mak... mmmmuaahhh :-*

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy