May 18, 2013

Advertisement

Jordan, Spring Traveling #5: Sightseeing Amman...

Advertisement


Kembali ke Amman

Berjalan kaki sejauh hampir 9 km berkeliling Petra membuat kaki kami semua pegal-pegal. Sebenarnya masih butuh istirahat satu malam lagi tapi tidak mungkin. Hotel di Amman sudah kami booking. Itenary-nya memang hanya satu malam saja di Wadi Musa.

Saya harus memastikan apakah sopir kami yang baik sudah bisa melanjutkan perjalanan ke Amman. Ternyata dia sangat siap untuk duduk dibelakang kemudi selama 5 jam. Dia memang sopir yang hebat hehehe...

Sebelum berangkat, kami harus makan siang dulu. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, belum terlambat untuk makan siang. Kami memilih mampir ke sebuah warung syawarma pinggir jalan, sudah agak jauh dari tourist center.

Warung kecil, hampir tak memiliki tempat untuk makan. Kami berniat membungkusnya tapi si pemilik warung mempersilahkan kami untuk ke atas. Ahaa! Ternyata ada ruangan di atas, walaupun sempit tapi cukup lega untuk menikmati syawarma dengan rasa yang cukup lezat. Lumayanlah istirahat lagi di sini.

Harga makanan di warung kecil ini cukup murah, seporsi syawarma (roti dan irisan daging, mirip burger) hanya 1,5 JOD. Kalau di kawasan tourist center harganya bisa 2 kali lipatnya. Total 8 JOD untuk 5 porsi syawarma plus air mineral besar. Menu ini sudah cukup membuat perut kami kenyang.

Di sebuah minimarket kecil dekat warung, kami mampir untuk beli cemilan dan air mineral untuk bekal di jalan nanti. Harga air mineral botol besar hanya 0,25 JOD. Wah! Ini sih seperempat harga yang di Petra tadi. Koq jadi survey harga ya? Hehehe...

Sebelum meninggalkan Wadi Musa, kami harus isi bahan bakar mobil dulu. Sejak berangkat dari Amman kami sama sekali belum mengisinya. Saat kami sewa, bensin memang sudah full dan aturannya saat mengembalikan nanti, bensin juga harus kembali full. Istilahnya full to full.

Harga premium di Jordan adalah 0,75 per liter, sekitar Rp. 10.000, lumayan mahal kan? Kami isi 20 liter saja sudah penuh karena memang belum habis sama sekali. Jadi kemarin lewat jalan alternatif yang sejauh kurang lebih 400 km plus jalan-jalan seputar kota Wadi Musa hanya butuh 20 liter premium. Irit kan?

Pukul 14.15 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Amman. Sangat berharap Kings Highway tidak ditutup seperti saat berangkat. Bayangan lamanya perjalanan, sudah membuat kami lelah. Ingin sekali segera sampai di Amman biar bisa segera istirahat di hotel. Inilah resiko traveling dengan mengemudi mobil sendiri.

Sampai di kota Ash-Shawbak, yaitu persimpangan antara jalan alternatif lewat Tafilia dengan Kings Highway jalan tidak dijaga polisi. Itu artinya, tidak ditutup. Alhamdulillah, kalau begitu perjalanan bisa lebih cepat. Perjalanan kali ini memang berbeda. Jalan yang kami lewati nyaris tanpa belokan. Lurus dan mulus. Kalau kemarin melewati desa-desa dengan pepohonan yang hijau, kali ini yang kami lihat hanya hamparan padang pasir nan luas. Sesekali melewati kota kecil.

Pemandangan sepanjang jalan Kings Highway 



Inilah Amman

Setelah 2 jam perjalanan, kami sudah melewati simpang Karak. Lebih cepat dari perkiraan.  Itu artinya, kami sudah hampir sampai Amman. Peta kota sudah siap-siap digeber, maklum kami tidak pakai GPS. Butuh keterampilan untuk membacanya. Bapak yang punya keahlian dibidang baca peta ini. Sang navigator hanya bertugas menemani saja biar dia tidak ngantuk. Hihihi..

Memasuki kota Amman, saya dibuat takjub. Kota ini hampir 180 derajat berbeda dengan Kairo. Jalannya rapi dengan garis marka yang jelas. Lampu lalu lintas berfungsi dengan baik. Rambu petunjuk arah juga sangat jelas. Tidak bising dengan suara klakson memecah kemacetan, tidak ada orang teriak dan parkir sembarangan di pinggir jalan. Saya tidak melihat mobil-mobil di sini penyok seperti di Kairo, mulus semuanya.

Kota dengan kontur berbukit-bukit ini tertata amat rapi. Apartemen tingginya tidak lebih dari 6 lantai saja. Dicat seragam, yaitu berwarna putih. Paduan warna hijau pepohonan dengan bangunan warna putih membuat harmonisasi menawan. Pokoknya kota ini indah.

Memasuki kota Amman


Kota Amman yang nyaris bebas macet

Jalan utama di kota berpenduduk 6,5 juta ini tertata sangat rapi. Banyak jalan layang yang cukup membingungkan terutama untuk pelancong seperti kami. Melihat peta tak juga membuat kami paham jalan. Tapi orang-orang Jordan sangat ramah dan welcome terhadap orang baru. Jadi sering-seringlah bertanya kalau di jalan. Saya selalu tertarik mengamati setiap kota di negara yang kami kunjungi. Setiap kota tentu ada bedanya. Dari sejarah, geografi sampai tipikal orangnya semua punya sisi menarik. Tentang Jordan yang ternyata adalah kelanjutan kerajaan Hijaz bisa dibaca di sini.


View Amman saat maghrib dari hotel




Hotel tempat kami menginap berada di jalan Queen Noor, dekat stadion nasional. Sempat bingung karena jalan yang rumit tapi setelah beberapa kali bertanya dan berputar-putar. Akhirnya hampir jam 5 sore sampai juga di hotel .Tempat istirahat kami selama 3 hari ke depan. Ahhh... akhirnya bisa merebahkan diri di tempat tidur.

Oh iya kami punya teman yang tinggal di Jordan. Teman kerja bapak waktu di Libya. Walaupun dia sedang tidak di Jordan, kami diberikan nomor telepon kakaknya, Ibrahim namanya. Untuk bertanya tentang tempat menarik yang ada di Amman.

Berburu Makanan Enak 


Setelah beberapa saat melepas penat, dan menyegarkan tubuh dengan mandi air hangat, kami bersiap jalan keliling kota Amman sekaligus mengisi perut untuk makan malam. Dengan menelpon Ibrahim kami bertanya tempat makan paling populer di Amman. 
"Kalau mau cari tempat ramai waktu malam, ada di City Center. Di sana ada tempat shopping juga ada tempat makan enak, Jafra namanya," terang Ibrahim melalui telepon.
"Memang agak susah cari tempat parkirnya karena ramai. Jadi kalau sudah ada tempat yang kosong, langsung saja parkir. Lanjutkan dengan jalan kaki, tanyakan Jafra pada orang di sana mereka semua akan memberitahumu, "lanjut Ibrahim
Setelah mendapat penjelasan dari Ibrahim, langsung saja kami meluncur ke tempat yang ditunjukkannya, City Centre. Tidak sulit mencari petunjuk arahnya. Hanya 10 menit kami sudah sampai di sebuah tempat yang cukup ramai dengan lalu lalang orang dan kendaraan yang berseliweran. Banyak toko berjejer di sepanjang jalan. Benar kata Ibrahim, sulit mencari tempat parkir, beruntung kami menemukan tempat kosong untuk parkir. Lalu berjalan kaki.

Karena keburu ingin makan malam, jadi kami melewatkan saja toko-toko yang kebanyakan menjual abaya khas Jordan ini. Tidak lama berjalan kami bertanya pada orang, di mana warung Jafra. Benar saja, orang tersebut langsung menujukkan tempat yang kami maksud. 

Ahaa!! Ternyata warung ini berada di lantai 2 sebuah toko DVD. Dan setelah kami perhatikan, warung-warung makanan khas Jordan memang hampir semua berada di atas toko. Tidak seperti di Mesir yang justru hidup saat malam hari. Di Amman toko-toko tutup setelah Isya' atau paling malam pukul setengah sepuluh. Tapi tempat makan itu agak sedikit lebih malam tutupnya. 

Ternyata warung Jafra ini merupakan warung jadul, mungkin sekitar tahun 60 sampai 70-an. Kebanyakan orang-orang yang nongkrong di warung ini menikmati sisya, kegemaran hampir semua orang Arab. Ramai juga pengunjungnya sampai kami harus ngantri. Baru ingat kalau malam ini Kamis, besok weekend tak heran kalau ramai begini.

Jafra yang bertempat di atas toko DVD

Setelah ngantri baru bisa duduk di tempat ini



Setelah 5 menit mengantri, akhirnya kami dapat tempat juga. Di warung ini menu makanannya ternyata cukup beragam, dari namanya sudah terdengar lezat. Sepertinya ini lebih karena faktor kelaparan hehehe...

Menu yang kami pesan, adalah pizza, beef kofta griil, dan daging oven (lupa namanya). Pizzanya berbeda rasanya dengan pizza yang ada di restaurant cepat saji, lebih garing dan crispy. Duh enak banget deh.. Kofta dan daging ovennya apalagi. Citarasanya tidak seperti makanan Mesir yang cenderung asin, yang ini pas sekali dengan lidah Indonesia kami. Terbayang-bayang sampai sekarang. Hiks..


Daging oven yang bikin kebayang-bayang :D

Sajian musik live khas Arab



Jordan masih belum habis dieksplor, cerita tentang Jerash tak kalah menarik dengan Petra. 
Ditunggu ya.. ;)

_______
Sumber : Tulisan saya di Kompasiana





Advertisement

10 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kalau disana cari makanan tidak was-was ya mbak halal

Ellys Utami said...

Semua makanan di sini halal mbak... Mayoritas penduduknya muslim jadi nggak perlu was2 :)

Anonymous said...

Tempat makannya cozy, ya. Bangkunya juga unik. Btw, daging ovennya dimasak mirip masaan maroko, Tajine, ya.. :) ira

Santi Dewi said...

Saya suka foto2nya :)

Ellys Utami said...

@Mbak Ira... Ooohh, mungkin iya mbak. Aku lupa namanya sih hehehe... maklum kelaperan langsung santap gak pake nanya :D

Makanan Arab emang hampir sama satu sama lain, cita rasanya aja agak sedikit beda. Kalo makanan Mesir itu cenderung asin bahkan keasinan hiihihi.. Tapi yang kemaren di Jordan itu, lumayanlah masuk sama lidah Asia :)

Ellys Utami said...

@Mbak Santi.. Makasih mbak, aslinya juga menarik lho mbak hehehe..

Lisa Tjut Ali said...

mak ellys impian saya yang tertunda adalah pingin berlari2 di padang pasir mbak sambil lihat unta berjalan, doakan ya mbak bisa ke sana juga

Ellys Utami said...

Amiiinnnn... InsyaAllah.
Kalo pengen bisa berlarian atau naik unta di padang pasir, di Mesir tempatnya mak Lisa. Nanti saya guide deh ke tempat paling cantik di Mesir.

Do'akan saya juga bisa nyeberang ke Eropa lihat salju :)

Rini Uzegan said...

Fotonya bagus-bagus mbak ^_^

Ellys Utami said...

Hehe... makasih mbak Rini. Masih amatiran. :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy