Nov 24, 2012

Advertisement

Tanpa Dipaksa, Anak-Anak Bisa Loh Berbahasa Asing

Advertisement







Memperkenalkan bahasa asing?? Banyak orang tua yakin memperkenalkan asing pada anak sejak dini lebih menguntungkan dan efektif. Karena anak-anak lebih mudah menyerapnya tanpa kerja keras . Menurut para ahli, belajar bahasa asing lebih mudah pada anak-anak di bawah umur 10 tahun dan lebih mudah lagi pada balita, sedangkan pada orang dewasa butuh upaya lebih keras untuk mempelajarinya. Saya termasuk yang meyakini pendapat tersebut. Karena sesungguhnya manusia memang diberikan Tuhan kemampuan untuk mengenal beragam bahasa.

Sebenarnya saya tidak mengajarkan pada anak-anak saya bahasa asing (Inggris) secara khusus, karena saya sendiri kurang menguasainya. Komunikasi di rumah malah menggunakan bahasa daerah (Jawa) dan bahasa Indonesia. Anak-anak belajar bahasa Inggris hanya di sekolah, bahasa Inggris pasif bukan aktif. Kami orang tuanya juga tidak memaksakannya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di luar jam sekolah. Pernah juga 2 anak saya (SD dan SMP) ikut kursus tapi mereka sepertinya tidak betah dengan suasana klasikal yang membosankan menurut mereka.

Beda dengan kedua kakaknya yang sempat saya ikutkan kursus bahasa Inggris walaupun akhirnya tidak betah, si bungsu bahkan sama sekali tidak pernah saya ikutkan kursus. Dia hanya mengenal bahasa Inggris di sekolahnya dan karena saat itu dia masih kelas 1 SD pelajaran bahasa Inggris hanya memperkenalkan kosa kata sederhana seperti nama buah-buahan, warna, dan nama anggota tubuh. Itu saja.

Ternyata hal ini membawa sedikit kegalauan dan kekhawatiran pada saya sebagai ibu ketika kami harus pindah ke luar negeri. Jelas bahasa Inggris yang pasif akan membawa masalah untuk anak-anak kami jika sekolah di sekolah Internasional nanti. Tapi setelah saya berdiskusi dengan suami, kami berketetapan bahwa 2 anak yang besar yang masing-masing kelas 6 SD dan kelas 9 (SMP) akan sekolah di sekolah Indonesia, pertimbangannya selain berada di kelas ujian, mereka akan lebih sulit mengikuti pelajaran di sekolah Internasional yang bahasa pengantarnya adalah bahasa  Inggris. Untung saja di Kairo ada sekolah berkurikulum sama dengan sekolah-sekolah Indonesia jadi tidak ada kesulitan dalam menyesuaikan pelajaran sekolah mereka.


Si bungsu Faiz yang berumur 7 tahun dan saat kami akan pindah ke Kairo dia naik ke kelas 2 SD kami masukkan ke sebuah sekolah Internasional berkurikulum Inggris (British School). Pertimbangannya ya itu tadi, karena dia masih berumur 7 tahun jadi masih mudah untuk belajar bahasa asing dan pelajaran sekolahnya tentu saja belum sebanyak kakak-kakaknya.

Setelah kami daftarkan, lalu sekolah menentukan kapan Faiz harus mengikuti assessment test atau sejenis post test untuk mengetahui sejauh mana kemampuan bahasa Inggrisnya. Mulai dari sini saya agak sedikit khawatir karena Faiz sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan orang asing dan hanya belajar sedikit kosakata dasar di sekolahnya di Indonesia sebelum pindah ke Kairo.

Tibalah hari menegangkan (buat saya) itu, saya datang ke sekolah bersama 2 kakak perempuan Faiz karena ayahnya masuk kerja. Saya lihat Faiz raut wajahnya biasa saja, tidak menyiratkan ketegangan sama sekali. Sampai di sekolah dia di sambut Mr. Graham McRoy untuk diajak ke ruangan test tanpa saya. Saya pikir dia akan menangis karena tegang setelah keluar dari ruangan nanti. Pertama kalinya dia berkomunikasi dengan orang asing seorang diri dalam sebuah ruangan. Saya saja yang sudah dewasa begini merasakan aura ketegangan dalam ruangan itu apalagi anak-anak seumuran Faiz.

Ternyata apa yang terjadi setelah dia keluar dari ruangan? Faiz keluar dengan santai dan senyum khas anak-anaknya. Hmmm... saya pun ikut lega melihatnya. Lalu saya membombardir dia dengan pertanyaan, "Faiz ditanya apa, bisa nggak jawab pertanyaanya, ngapain aja di dalam tadi..?" Lalu apa jawabnya, "Faiz bisa koq, terus kalau nggak ngerti Faiz geleng-geleng aja." Hehehe.... saya tersenyum mendengar jawabannya yang lugu itu.

Hari pertama sekolah, tidak kalah menegangkan untuk saya sebagai ibu. Saya antar Faiz sampai ke dalam kelasnya. Bertemu dengan Miss Coppard, gurunya yang orang Inggris dan 12 orang anak calon teman Faiz yang tentu saja berwajah asing semua, ada yang Jepang, Ghana, Perancis, Jerman, Korea, India dan saya tidak menemukan wajah Indonesia atau Malaysia di dalam kelas Faiz. Kalau ada teman yang bisa berbahasa Indonesia atau Melayu paling tidak saya tidak ragu meninggalkan Faiz sendirian di tengah orang-orang dan lingkungan asing yang sama sekali baru buat anak seumuran dia. Nyatanya semuanya asing, dan saya mau tidak mau harus tega meninggalkan Faiz di sekolah untuk bergabung bersama teman-teman barunya. Akhirnya saya pun pulang dengan galau dan sempat bepikiran pulang sekolah nanti dia akan sesenggukan menangis dan mogok pergi sekolah besoknya.

Selama dia sekolah hari itu, ternyata bukan hanya saya yang dibuat tegang dengan keadaan ini tapi ternyata sang ayah juga tegang. Bolak balik menelpon saya hanya sekedar mengungkapkan kegalauannya (sama dong kayak saya hehehe...). Katanya,"Faiz di sekolah gimana ya? Dia nangis nggak ya?" Tentu saja saya jawab, "Tau deh... tunggu saja sampai jam 3 nanti."  Teng!! jam 3, Saatnya pulang sekolah saya menjemput Faiz pulang sekolah. Ternyata oh ternyata, seharian saya bayangkan dia akan berurai air mata saat pulang sekolah, tidak terbukti. Dia tetap saja santai dengan raut wajah yang tidak tegang dengan senyum seperti biasa. Oalahhh... lega saya.



Beberapa bulan berlalu, saya mengamati perkembangan Faiz dari hari kehari. Pernah kami mencoba untuk menerapkan English day di rumah agar Faiz bisa berkomunikasi aktif  dan menambah kosa kata baru. Tapi ternyata tidak berhasil. Awalnya sih mau, tapi lama-lama program ini luntur dan lenyap karena Faiz tidak pernah mau berbahasa Inggris di rumah. Saya putar DVD belajar bahasa Inggris dia juga tidak pernah tertarik menontonnya. Dan kami tidak memaksanya. 

Tapi kadang-kadang dia keceplosan berbicara dengan bahasa Inggris pada saya. Misalnya; "Ibu, where is my belt?" , "Hey, look at that!", "Yes! I can do it". Tentu saya takjub dengan perkembangannya itu karena hanya berselang 1,5 bulan dia sudah mampu walaupun hanya percakapan yang sederhana. Dia bisa mengerjakan tugas yang diberikan sekolah seperti menyusun kalimat sederhana, soal logika matematika dan tentu saja membaca buku cerita 15 halaman sebagai makanan sehari hari yang jadi PRnya.. Dia juga ikut football club di sekolah karena dia memang hobi main bola.

Saat akhir term tepat 4 bulan Faiz sekolah, ada undangan ke sekolah untuk konsultasi tentang perkembangan anak-anak di sekolah dengan orang tua masing-masing secara personal. Kesempatan menanyakan perkembangan Faiz pada gurunya. Menurut keterangan Miss Coppard, awal masuk sekolah Faiz itu diam di kelas, tidak pernah bergaul dengan teman-temannya, kalau menulis lama sekali. Tapi sekarang, Faiz sudah punya banyak teman dan bergaul tanpa canggung dengan mereka. Komunikasinya terlihat sangat lancar walaupun berkomunikasi dengan saya masih agak malu-malu, kata Miss Coppard. Menulis, mengerjakan soal matematika, belajar IT (komputer) sudah sangat signifikan perubahannya.

Faiz adalah anak yang unik. Dia tidak mau dipaksa belajar, karena akan belajar kalau dirasa perlu dan dia sangat tidak suka dipuji, dia akan ngambek jika saya melontarkan pujian seperti,"wahhh... Faiz hebat ya" di depan orang banyak. Ini yang terjadi tadi malam saat saya tidak sengaja membuka akun facebook-nya. Facebook hanya digunakannya untuk berkomunikasi dengan sepupu dan saudaranya. Saya melihat percakapannya dengan salah seorang sepupunya (kelas 2 SMP) di kolom inbox dengan bahasa Inggris yang saya cukup takjub dibuatnya.
Ini cuplikan percakapan mereka (tanpa di edit) :


Faiz      : Hello, how are you

Fahmi :  hello I'm fine and you

Faiz      : me too

Fahmi : What about your school

Faiz      : Good. I have football club. My team is won 6-0 and than 5-3

Fahmi : oh that's good, you make a gool?

Faiz     :  I made a goal 5 and 4. Is not gool but it was goal.

Fahmi : Yes  I'm wrong hahahaha

Faiz     : I like Arsenal

Fahmi :  i like barcelona and i like messi , what about you ? what your favourite player ?

Faiz     : I like V Persie and Arteta

Fahmi : Why you like he?

Faiz     : Because he was good at playing. What about you?

Fahmi : but messi have very good skill

Faiz     : I know, But arteta he was good at kicking (long kicking)

Fahmi : but ronaldo is better then arteta

Faiz     : I know

Fahmi : yee... all know. Faiz I will go offline goodbye

Faiz     : Bye


Tahukah apa reaksinya ketika saya memuji kehebatan bahasa Inggrisnya di depan ayah dan kakak-kakaknya, "Jangan dikasih tau!! Faiz nggak mau.." Saya pun hanya bisa menyimpan senyum saya melihat reaksinya itu. hehehe...

Saat ini dia juga berani main ke rumah tetangga apartemen kami yang orang Korea dan anaknya satu sekolah dengan Faiz. Saat saya datang ke sekolah menghadiri kegiatan di sekolah saya pun mengamati bagaimana interaksi Faiz dengan teman-temannya. Sungguh saya lihat perkembangan kemampuan bahasanya sangat signifikan. Dari nol atau tidak pernah berbahasa Inggris, dalam waktu 8 bulan dia sudah mampu berkomunikasi aktif dengan bahasa asing. Oh iya, di sekolah dia juga dikenalkan dengan bahasa Arab dan Perancis, dan dia bisa.

Mungkin bisa sedikit saya simpulkan bagaimana tips mengajarkan bahasa asing pada anak-anak tanpa paksaan berdasarkan pengalaman melihat perkembangan Faiz.

  1. Jangan paksakan anak-anak untuk belajar terutama bahasa. Semakin ditekan, materi semakin susah masuknya. Lakukan sambil bermain.
  2. Berikan bahan bacaan semacam buku cerita sederhana berwarna dan bergambar yang jumlah halamannya tidak terlalu tebal (maksimal 20 halaman). Lakukan setiap hari membaca dan sedikit membimbingnya untuk mengetahui artinya. Coba baca e-book yang bisa di download gratis. 
  3. Kalau dia suka main game komputer, jangan dilarang tapi batasi saja waktunya. Karena dari situ banyak kosa kata bahasa Inggris yang bisa dia pelajari.  
  4. Sering nonton film berbahasa Inggris, lebih baik yang ada subtittle bahasa Inggrisnya. Jadi selain mendengar dia juga bisa membaca. Dampingi,  sekaligus sedikit menjelaskan jika ada kosakata yang tidak dia mengerti.

Yang jelas saya telah membuktikan bahwa masa anak-anak terutama di bawah 10 tahun adalah saat yang tepat untuk mengajarkan bahasa asing kepada mereka. Dengan catatan TANPA MEMAKSA...

Seperti pepatah, Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, Belajar saat dewasa seperti mengukir di atas air. 
Selamat mencoba.. Salam.

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy