Oct 10, 2012

Advertisement

Masihkah Angka Menjadi Acuan Untuk Menilai Prestasi Anak?

Advertisement




school.woboe.org





Suatu hari, Faiz (7 th) anak bungsu saya yang duduk di Year 3 atau setingkat dengan kelas 2 SD di Indonesia, mendapatkan PR dari sekolahnya berupa selembar kertas HVS berisi sebuah pertanyaan, "Apa yang kamu ketahui tentang Sudan dan South Sudan?". Saya setengah takjub dengan reaksinya saat itu. Dia buka komputer yang otomatis terkoneksi dengan internet, lalu dia buka google dan mengetikkan key words Sudan dan di window sebelahnya dia ketikkan South Sudan. Setelah menemukan informasinya di situs Wikipedia, dia tulis di kertas PRnya itu.  Sambil menulis dia berkata pada saya, "ohhhh ternyata sungai Nil itu melewati Sudan ya Bu...,  South Sudan itu ternyata baru merdeka tahun 2011..."

Wooowww.... saya takjub dengan cara gurunya memberikan PR. Bagaimana guru memberikan pertanyaan yang memberi ruang pada anak-anak untuk kreatif mencari jawaban dari PRnya itu. Walaupun hanya sebagian informasi yang didapatkannya tentang Sudan dan South Sudan tapi menurut saya informasi itu akan terekam kuat dalam otaknya. Karena informasi yang didapatkannya bukan text book atau hafalan dari buku, tapi dia dapatkan sendiri melalui media internet.

Bukan hanya itu, PR matematikapun demikian. Bagaimana menuntut anak-anak memakai logika dan analisa mereka. Guru memberikan gambar bentuk tiga dimensi seperti tabung, kubus, limas, dan balok lalu siswa di perintahkan untuk mendiskripsikannya sendiri. Jarang sekali saya melihat Faiz merasa terbebani dengan PRnya karena PR tidak pernah lebih dari 2 saja, dan itupun berupa work sheet atau lembaran kertas. Menu wajib hariannya adalah reading. Tapi jangan pikir bahwa bacaannya hanya sekedar cerita bergambar saja, di dalam buku cerita yang tidak lebih dari 15 lembar itu ada muatan bidang ilmu lain seperti sains dan ilmu sosial, dan ini tidak disadari anak-anak tapi tetap melekat kuat karena isi cerita dan gambarnya sangat menarik untuk anak-anak.

Khusus agama, kami orang tuanya memberikan di rumah. Rutin diberikan setelah sholat berjamaah untuk mengaji dan cerita-cerita bermuatan agama tidak kami patok waktu khusus tapi kami berikan saat santai. Karena ini pun perlu untuk pembekalan spiritual quotient-nya

Saya pun lalu ingat bagaimana saat dia bermain computer game bola kemudian dia berhasil menghafal nama negara beserta ibukotanya dan menunjukkan tempatnya di globe saat usianya baru 5 tahun. Dia memang gemar sekali bermain game ini, dan ketika dia bermain, ayahnya selalu memberitahu informasi yang berkaitan dengan mainannya ini. Misalnya saat dia memainkan klub Inggris, ayahnya memberitahukan bahwa Ibukota Inggris itu adalah London dan beberapa informasi lain tentang Inggris.

Belajar tanpa banyak teori dan memberikan pertanyaan pancingan cukup efektif  untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun. Entah hal ini benar atau tidak, tapi saya merasakan dampaknya. Terlalu banyak buku bahan pelajaran sepertinya membuat anak-anak  illfeel duluan. Buku-buku yang tebal penuh tulisan tentu tidak terlalu menarik untuk anak-anak. Dengan pertanyaan pancingan lalu mencari jawabannya sendiri atau dengan memberikan sebuah informasi saat dia melakukan hobinya membuat informasi itu melekat kuat di otaknya.

Beberapa hari lalu saya menerima progress report, mungkin sejenis rapor kalau di Indonesia dari sekolah Faiz. Tidak seperti rapor umumnya yang berisi angka-angka yang menggambarkan prestasi akademik siswa. Yang saya terima kemarin adalah berupa deskripsi pencapaian materi. Seperti ini misalnya :
13327435151970310821

Tidak seperti biasanya, di sekolah Indonesia dulu yang ketika menerima rapor orangtua saling bertanya, "Anaknya rangking berapa bu?" Di sini.... karena tidak ada angka atau huruf sebagai penilaian terhadap prestasi, jadi rangking atau peringkat pun otomatis tidak ada. Usaha orang tua yang terkadang sangat berlebihan untuk "memaksa" anak mengikuti les di luar jam sekolah hanya untuk mendongkrak nilai dan gengsi di mata orang tua lain. 

Jadi kalau begini, sekolah bukan lagi ajang menimba ilmu tapi ajang berebut gengsi. Sejatinya sekolah adalah tempat menimba ilmu bukan menimba "nilai". Di mana lagi waktu main mereka, pulang sekolah masih harus les ini itu. Saya kerapkali sedih dan tidak tega melihat tas mereka kadang lebih berat dari anak-anak SMA jaman saya dulu, buku-bukunya banyak dan cukup tebal. Tubuh yang mungil tenggelam dalam bobot tas yang berat dan besar. Kasihan sekali...

Penilaian non angka sepertinya sangat ramah dan sangat manusiawi terutama untuk anak-anak kelas 1-4 SD karena usia mereka adalah usia bermain. Angka-angka yang kadang membuat mereka dibandingkan dengan teman-temannya yang lain oleh orang tuanya sendiri. Penilaian prestasi anak-anak tanpa angka membuat dia seperti dihargai secara personal karena hakikatnya anak-anak itu unik dan berbeda. Jadi alangkah tidak arifnya kita kalau mengkotak-kotakkan mereka dalam penjara angka-angka dan rangking atau peringkat dalam sebuah proses belajar.

Bukan bermaksud membandingkan sekolah di Indonesia dengan sekolah Internasional. Kalau ada hal-hal yang baik kenapa tidak kita tiru. Dan tulisan ini lebih kepada sharing pengalaman saja, kalaupun ada pendapat mungkin itu hanya pendapat saya pribadi sebagai orang tua. Kesedihan saya melihat bagaimana waktu bermain anak-anak yang terampas karena padatnya jam belajar. Bukankah orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bukan saja prestasinya tapi tumbuh kembang mental dan fisiknya.

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy