Sep 22, 2015

Advertisement

Ada Scammer di Luxor, Ini Modusnya

Advertisement


Luxor adalah kota kecil. Kota yang jauh dari hingar bingar klakson kendaraan bermotor, dan tentu saja nyaris bebas polusi udara. Tidak ada ritual macet seperti di Kairo. Secara umum, orang-orangnya ramah seperti kebanyakan masyarakat desa di pinggiran Kairo.

Namun demikian, Luxor tak lantas bebas dari scammer. Seperti kebanyakan kota-kota tempat tujuan wisata lainnya. Modusnya juga macam-macam. Saya sih sebenernya nggak nyangka bakalan kena scam. Selain mas suami yang fasih bahasa 'amiyah, saya lihat orang Luxor tergolong lugu dan ramah dibanding orang Kairo. Ternyata... kena juga hehehe..

Caleche 5 Pound

Caleche adalah kereta kuda atau semacam delman tapi keretanya agak tinggi dibanding delman. Caleche ini memang menjadi salah satu pilihan transportasi untuk keliling menikmati pusat kota luxor yang tidak begitu luas. Biasanya mereka ngetem di dekat hotel dan sekitar corniche Nil selain berlalu lalang menawarkan jasa.

Caleche


Sore hari, waktu kami jalan-jalan di tengah kota sekelompok kusir caleche menawari kami untuk naik.
"Five pound.. five pound" 
Awalnya kami mengabaikannya karena memang berniat jalan kaki saja sambil mencari tempat makan. Namun belakangan Bapaknya anak-anak menyerah dengan tawaran para kusir caleche. "Kita coba aja, lagian murah ini koq.." ujarnya meyakinkan saya. Lalu dia mendekat dan bertanya, untuk memastikan tarifnya. "Khamsah gineh ??" 
"Aiwah.. tafadhol" kata si kusir 
Setelah yakin, kamipun naik. Baru beberapa saat berada di atas caleche, sang kusir bercerita panjang lebar tentang Luxor. Kami cukup menikmati suasana Luxor sore itu.

Dia lalu menawari kami mampir ke sebuah tempat. Dia bilang di tempat itu banyak souvenir untuk oleh-oleh. Lalu suami bilang kalau kami tinggal di Kairo dan di Kairo banyak barang-barang seperti itu. "Tapi di sini lebih murah dari di Kairo. Coba aja lihat-lihat dulu.."

Lagi-lagi pak suami menyerah dan mengatakan, "Ok.."

Dan masuklah kami ke sebuah toko yang tampak remang-remang. Ada banyak lukisan papyrus di pajang di lantai bawah. Tapi kami nggak tertarik sama sekali. Di Khan Khalili banyak yang lebih bagus. Kami di arahkan menuju lantai 2 yang katanya ada souvenir lainnya. Lampu baru dinyalakan saat kami naik. Beuhh.. kotor, sumpek, gelap... Buru-buru kami turun dan menyudahi kunjungan yang tak menyenangkan ini.

Kami lalu naik caleche dan minta kusir untuk mengantarkan kami ke corniche (tempat awal kami naik). Setelah beberapa meter berjalan, saya mendengar suami sedikit berdebat dengan kusir caleche.

Sampai di depan Luxor temple, caleche berhenti. Kami berempat turun dan suami menyusul sambil ngomel. Kusir caleche pun demikian sambil sedikit teriak memanggil suami. Tapi pak suami cuek sembari menjauh. 

Kenapa sih, tanya saya.

Suami lalu bercerita kalau si kusir caleche ini coba menipunya. Pak kusir minta ongkos 50 poundsterling. Tentu saja suami ngotot karena kesepakatan di awal 5 LE. Tapi si kusir berkilah bukan 5 pound mesir tapi 50 pound Inggris. Pak suami ngasih 60 LE sambil berlalu tapi si kusir brusaha mengejar kami karena nggak terima di kasih ongkos segitu. Suami bilang sama si kusir
"Demi Allah, kamu itu nipu, nggak barokah tuh kalau cari uang dengan cara begitu".
Setelah itu barulah si kusir berhenti mengejar kami.

Banana Island

Hari terakhir di Luxor kami hanya bertiga (saya, suami dan si sulung) keluar hotel untuk jalan-jalan. Waktu saya sibuk ambil foto di corniche, suami terlibat percakapan dengan seseorang. Ternyata pria itu menawari kami naik felucca (perahu layar khas Mesir).

"Cuma 50 LE koq, nanti kita diantar ke banana island. Kamu kan penasaran sama pulau pisang itu hehehe.." Begitu kata suami menjelaskan

"Iya di sana ada mini zoo juga, kalian juga bisa naik keledai. Terus di sana itu kampung suku Nubian. Kalian bisa lihat kehidupan mereka dari dekat." Si pemilik felucca coba ngompori saya.
"Ogah ah.. ntar dia nipu. Kita kena tertipu kayak kemaren itu" Saya berusaha tidak tergoda.
"Sepertinya dia baik koq.." kata suami

Akhirnya jebol juga pertahanan saya. Menyerah atas kehendak suami. Naiklah kami bertiga ke perahu. Sebelum berlayar ke pulau pisang kami minta mampir ke belakang hotel untuk jemput 2 anak yang lain. Karena memang kebetulan hotel tempat kami menginap persis berada di pinggir Nil.

Sampai di Banana Island saya tak melihat sesuatu yang istimewa. Ya hanya kebun pisang. Ini sih banyak di Indonesia hehehe... Yang katanya mini zoo juga hanya berisi rusa, buaya, dan monyet dengan kondisi yang amat memprihatinkan. Sekitar 10 menit saja kami di pulau itu.

Tiba-tiba seorang pria menyodori kami sesisir pisang lalu meminta kami membayar 20 LE per orang. Jadi untuk kami berlima kami harus bayar 100 LE. Tentu saja kami kaget.

"Tuuhh kan kena lagi kita mas.." gerutu saya pada suami.

Tapi kami ngeloyor saja meninggalkan orang itu. Pemilik felucca juga memaksa kami membayarnya. Suami tentu saja menolak. Karena tidak ada penjelasan di awal. Dia juga bilang kalo tau di suruh bayar mana mau kami diajak ke kebun pisang. Wong di Indonesia kebun seperti ini juga banyak.

Tetap saja pemilik felucca itu ngeyel untuk menerima pisang dan membayarnya. Akhirnya daripada berlama-lama suami memberinya uang 50 LE dan segera berlalu meninggalkan orang itu. Sepanjang perjalanan saya ngomel dan pasang wajah jutek. Jengkel karena 2 kali kena scam di Luxor. Huhuhuhu..



Felucca 

Pemandangan Banana Island alias Pulau Pisang dari atas felucca :D

Mungkin kalau orang Arab takjub lihat pemandangan ini. Tapi buat saya... yeee beginian mah banyak di kampung hahaha..

Di tengah kebun pisang ada bangunan ini. Sepertinya ini rumah burung merpati. Kalau di Jawa namanya pegupon hehehe..

Tapi biarpun 2 kali ketemu scammer dan itu amat menjengkelkan. Namun kami juga bertemu orang baik di kota ini. Kami tidak kenal orang ini. Beliau adalah teman dari pamannya teman suami (bingung ya hahaha).

Keluarga koptik yang baik hati. Walaupun tidak ada hubungan apa-apa dengannya, mereka menjamu kami , mengantar dan menjemput kami dari hotel. Menraktir kami di sebuah restoran. Bahkan menawari kami untuk upgrade kamar hotel. Tidak cukup hanya itu dia memberi kami oleh-oleh. Lalu berpesan, kalau ke Luxor lagi dia akan service kami di hotel milik keluarganya, free of charge.

Orang jahat memang banyak, tapi nggak sedikit juga orang baik di dunia ini.. 










Advertisement

6 comments:

Yurmawita Adismal said...

Langitnya cantik banget ya di mesir.. Salam kenal mba elly

Ellys Utami said...

Iya kebetulan pas cuacanya bagus nih mbak.. Salam kenal kembali ya mbak Yurmawita. Terimakasih sudah mampir ;)

Emak Pelancong said...

Alhamdulillah, yo Mbak... Aku masio prasaku ati2 yo kadang sek kejebak scam. Qodarullah, anggap wae pelajaran berharga dan agak mahal. hehehe. ira

Zulfa said...

Sering Denger scam di Luxor, sama persis cerita e sampeyan mba. Akhireeee ngibrit masuk hotel.

Indonesia surga yo mbak, akeh kebun gedang :)))

Ellys Utami said...

Iki ping pindo kenek mbak Ira... Apes tenan hahahaha..

Ellys Utami said...

Padahal aku wes pede gak bakalan kenek scam. Nang Cairo kenek beberapa kali. Tak pikir gak mungkin kenek nang Luxor. Scam Cairo luwih canggih soale. Ehh dadakno kenek juga hihihihi...

Ngene iki wisatawan Arab yo nggumun ndelok kebonan gedang mbak. Awak dewe wes urip ndek kebonan macem2 wkwkwk..

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy