Sep 18, 2015

Advertisement

Menyusuri Jejak Fir'aun di Luxor

Advertisement


Beberapa waktu lalu, pemerintah Mesir mengumumkan gagasannya untuk memindahkan ibukota Mesir dari Kairo ke sebelah timur, dekat Ain el Sokhna. Masalah kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, polusi dan berdirinya bangunan-bangunan ilegal menjadi alasan utama untuk segera memindahkan ibukota negara dengan jumlah penduduk mencapai 20 juta ini.

Memindahkan ibukota negara bukanlah hal yang baru buat Mesir. Terhitung sudah puluhan kali negara ini melakukannya. Memphis, Ijtawy, Thebes adalah beberapa kota yang pernah menjadi ibukota pada era Mesir kuno. Sedangkan Alexandria pernah menjadi ibukota Mesir masa kekaisaran Romawi. Fustat, Al-Asykar, Al Qatta'i adalah ibukota pada periode Islam termasuk Al Qahirah atau Cairo yang menjadi ibukota hingga kini.

Kota Kuno Thebes

Kota ini terletak sekitar 670 km sebelah selatan Kairo. Disebut juga daerah Upper Egypt. Luxor  atau dalam bahasa Arab disebut Al-'Uqsur adalah kota kuno Thebes yang merupakan ibukota Mesir periode Middle Kingdom (2040-1750 SM) dan periode New Kingdom yaitu sekitar 1550-1077 SM. Tutmosis, Amenhotep, Ramses, Tut An Khamun adalah beberapa Fir'aun (raja) yang berkuasa pada masa itu. Konon, nabi Musa As hidup pada periode Middle Kingdom, masa pemerintahan Ramses II pada periode middle kingdom. Wallahu'alam..

Luxor, dijuluki sebagai "The World Greatest Open Air Museum". Pantas sih karena beberapa situs-situs kuno masih berdiri kokoh di kota ini. Seperti halnya kota-kota lain jaman Mesir kuno, desain tata kota diperhatikan dengan sangat detail. Sungai Nil yang membelah kota sekaligus menjadi pemisah antara pusat kota dan kuil-kuilnya di sebelah timur. Dengan necropolis (komplek makam fir'aun) di sebelah barat (west bank). Tetep nggak mau jauh-jauh dari sungai Nil. Karena sungai ini merupakan sumber kehidupan buat mereka.

Karnak dan Luxor Temple

Kuil Karnak dan Luxor masih berdiri kokoh diantara bangunan-bangunan modern. Ditengah padatnya pemukiman penduduk. Kuil Karnak disebut-sebut sebagai sebuah kuil terbesar di dunia, luasnya kurang lebih 1,5 km x 800 meter. Juga merupakan kuil kuno terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Dibangun selama masa pemerintahan Amenhotep III dan Ramses II (1500-1200 SM).

Kuil Karnak ini terhubung dengan kuil Luxor. Jalan setapak sepanjang 3 km membentang diantara keduanya. Dihiasi dengan patung-patung sphinx di kiri kanannya. Sayang, proyek penggalian jalan penghubung kuil Karnak dan Luxor ini terhenti sejak revolusi 2011 meletus di Mesir. Dari total 3 km jalan mungkin baru sekitar 2 km yang berhasil di gali.

Kuil Luxor dan jalan setapak yang menghubungkannya dengan kuil Karnak


Yang paling menarik di kuil Karnak adalah tiang-tiang batu raksasa berdiameter 15 meter, setinggi 23 meter berjumlah 134 kolom. Tiang-tiang raksasa itu bukan tiang polos lho.. Tapi ada ukiran disekelilingnya.

Selain kolom-kolom raksasa itu, ada lagi yang menarik perhatian dan membuat saya terheran-heran. Obelisk. Obelisk  ini  adalah tiang persegi yang ujungnya lancip. Dipahat utuh dari gunung batu. Jadi nggak ada sambungannya sama sekali. Tingginya sekitar 30 meter dengan berat 700 ton. Coba bayangin gimana bawa obelisk ini dari gunung lalu menegakkannya di dalam kuil. Mungkin jaman itu sudah ada crane dan truk tronton kali ya. Atau jangan-jangan pakai sulap macam David Copperfield haha..

Pintu gerbang utama kuil Karnak

Obelisk yang tingginya 30 meter dan berat hingga 700 ton. Ngangkatnya pake apa coba? :D

Tiang-tiang raksasa


Kebayang kan tiang2nya sebesar apa? 


Valley of The Kings

Selama ini kita takjub dengan bangunan pyramid Giza di Kairo. Di Luxor kita juga akan semakin takjub dengan kecanggihan orang-orang Mesir kuno dalam hal teknik arsitektur. Di sana kita disuguhi keajaiban Valley of the King dan Valley of the Queen. Inilah perbedaan necropolis era new kingdom dengan era old kingdom. Jika necropolis era old kingdom berbentuk piramida sedangkan pada era new kingdom necropolis dibangun di bawah tanah. Disebuah lembah dan tersembunyi dibalik pegunungan batu. Maka itu lembah tersebut dinamakan lembah para raja dan ratu.

Memadukan teknologi struktur dan estetika sekaligus dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Kita bisa saksikan bagaimana canggihnya orang-orang Mesir kuno melubangi gunung dengan bentuk dan ukuran yang sangat presisi. Kemudian melukis dinding-dindingnya dengan gambar-gambar yang sangat indah. Tentu saja menggunakan alat yang sangat sederhana dan pewarna alami untuk catnya. Sayangnya nggak boleh foto-foto di dalam sana. Kamera jadi ngganggur deh..
Kalau penasaran, bisa dilihat di VIDEO ini.

Konon untuk membuat satu makam dibutuhkan waktu puluhan tahun. Sedangkan di Valley of the Kings terdapat lebih dari 50-an makam. Dan hebatnya lagi, lorong-lorong makam itu tidak saling bertabrakan. Mereka sepertinya mengukur dengan akurat panjang lorong sehingga tidak saling bertabrakan satu sama lain. Dan bentuk lorong makam tidak datar namun mengarah ke bawah. Mirip desain ruangan dalam Pyramid. Makam-makam itu sengaja dibuat rumit seperti ini untuk menghindari penjarahan. Tapi faktanya hampir semua makam-makam itu pernah dijarah.

Makam Fir'aun yang ditemukan masih utuh adalah makam Tut An Khamun. Mummy lengkap dengan harta bendanya. Dari mulai peralatan rumah tangga seperti kursi, kereta kuda, sandal sampai perhiasan emas dan perak ditemukan masih utuh. Dan masih bisa kita lihat di Egyptian Museum di Kairo.

Kuil Hatseptsut.
Salah satu kuil yang dibangun oleh salah seorang ratu Mesir kuno bernama Hatsepsut. Berada di balik Valley of the Kings

Luxor Kini..

Situasi politik rupanya sangat berpengaruh pada kunjungan turis di Mesir. Terbukti pada saat saya ke sana, Luxor sepi bak kota mati. Toko-toko souvenir banyak yang tutup juga kesulitan menemukan restaurant-restaurant yang buka. Walaupun akhirnya menemukan warung lokal di tengah pasar tradisional. Kereta kuda dan felucca (perahu layar khas Mesir) sepi penumpang. Tidak seperti di Kairo yang kotanya hidup pada malam hari. Di Luxor sulit ditemukan lalu lalang orang di atas jam 10 malam. Sepi.

Jalan yang lengang

Sambil menunggu penumpang, para nahkoda felucca memperbaiki layar perahunya


Tingkat hunian hotel juga sangat rendah. Hotel-hotel di sana berlomba-lomba menarik turis dengan harga promo. Hotel bintang lima seharga bintang 3 bisa dengan mudah ditemukan. Kebetulan saya juga dapat harga promo, 350 EGP/malam untuk hotel bintang 5.

Walaupun demikian, nggak ada salahnya memasukkan Luxor ke dalam itenerary anda jika mengunjungi Mesir. Hanya saja butuh waktu sedikit lebih panjang karena jauhnya perjalanan. Mungkin luangkan waktu sekitar minimal 2 hari plus 2 malam untuk perjalanan.

Waktu terbaik mengunjungi Luxor adalah pada musim dingin sekitar bulan November sampai Mei. Karena suhu udara disana lebih tinggi dari Kairo. 

Ke Luxor Naik Apa?

Ada beberapa cara untuk menuju kota ini yaitu dengan pesawat udara, kereta api, bus atau sewa mobil. Jika memiliki waktu agak longgar tidak ada salahnya memilih kereta api. Butuh waktu sekitar 10 jam dari Kairo menuju Luxor. Pilihan kelasnya juga bisa disesuaikan dengan budget. Dari mulai kelas biasa seharga 8 USD sampai yang deluxe seharga 100 USD. Booking bisa dilakukan online di Egyptian National Railways atau Watania Sleeping Train. Kebanyakan turis menggunakan moda transportasi ini. Karena harganya yang relatif murah dan lebih santai.

Kebetulan waktu saya ke sana, memilih menggunakan pesawat karena keterbatasan waktu. Saya menggunakan pesawat Egypt Air, harga tiketnya sekitar 300 USD pergi pulang. Waktu tempuhnya sekitar 50 menit.

Jika memilih sewa mobil, coba lewat Hurghada. Waktu tempuh memang menjadi lebih lama namun keuntungannya kita bisa dapat 3 obyek wisata sekaligus yaitu Hurghada, Aswan dan Luxor. Sewa mobil berkisar antara 250-350 EGP/hari tergantung jenis mobil.

Bagaimana? Tertarik ke Luxor?

__________________________














Advertisement

6 comments:

Lidya said...

Allhamdulillah bisa menyusui langsng sekaligus berwisata sejarah ya mbak.

Ellys Utami said...

Iya mbak... InsyaAllah suatu saat mbak Lidya bisa ke tempat ini juga :)

Zulfa said...

Klo denger Luxor trus pikiranku ke Game anakku, hehehe
Moga moga bisa ke Mesir, senang dengan wisata sejarah kayak gini mbak.

BTW, fotone cakep cakep koyok mbak e :)

Ellys Utami said...

Nama2 kota Mesir kuno iki pancen mbule tenan koq mbak.. Karena sg nemu dan menggali situs2 itu memang arkeolog barat. Mereka kayaknya yg ngasih nama.. Tapi kalo Luxor ini, mirip sama sebutan dalam bahasa Arab sih.. Al-Uqsur..

bersapedahan said...

melihat bekas2 keindahan dan kemegahan struktur bangunannya .. memang amazing ya ...
pinter banget orang2 mesir kuno ...
yang penasaran ... apakah tengkorak firaun yang sebenarnya itu bulet seperti manusia normal atau lonjong seperti di gambar2 .... #HanyaKepo

Ellys Utami said...

Iya saya aja masih suka takjub. Struktur bangunan dari Pyramid sampai masjid2 kuno di sini kan nggak pake semen atau sloof besi gitu tapi koq ya tahan ratusan bahkan sampe ribuan tahun..

Orang-orang Mesir kuno katanya kulitnya coklat terus mukanya memang agak sedikit lonjong. Di daerah Aswan dekat Luxor masih ada orang Nubian yang disebut2 sebagai orang Mesir asli.

Ayo mas kapan sepedahan ke Mesir hehehe..

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy