Apr 3, 2014

Advertisement

Nilometer, Jejak Kemajuan Teknologi Bangsa Mesir

Advertisement


Siapa yang tidak tahu tentang sungai Nil. Sungai terpanjang di dunia ini adalah sungai yang melegenda. Mencatat banyak kisah sejarah. Yang paling kita kenal tentu saja kisah bayi Nabi Musa yang dihanyutkan oleh ibunya di sungai ini. Karena sang ibu takut bayinya dibunuh Fir'aun. Singkat cerita, istri raja Fir'aun yang kebetulan sedang mandi, menemukan bayi Musa terapung lalu membawanya pulang. Musa lalu diasuh oleh keluarga Fir'aun hingga dewasa. 

Sungai Nil adalah sungai yang mengalir dari Tanzania dan bermuara di laut Mediterania. Memanjang hampir mencapai 7.000 km, melewati 11 wilayah negara termasuk Mesir. Sungai Nil disebut sebagai berkah bagi Mesir. Mesir menjadi subur karena aliran sungai Nil ini. Peradaban manusia di dunia salah satunya dimulai dari delta sungai Nil yang tak pernah kering hingga hari ini.

Sungai Nil, merekam sejarah tentang peradaban manusia


Karena merupakan DAS (Daerah Aliran Sungai), banjir dulu rutin terjadi di Mesir. Berbagai analisa arkeolog tentang pembuatan Pyramid juga menyebutkan bahwa banjir sungai Nil ini yang membantu pembangunannya. Jika banjir tiba, lumpur diangkut pekerja sebagai bahan pembuat pyramid dengan perahu. Ini dibuktikan dengan penemuan  parit dekat Sphinx yang diduga sebagai jalan masuk perahu pengangkut lumpur. 

Teknologi pengendali banjir sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno. Jejaknya ditemukan di pulau Elephantine di Aswan. Bangunan serupa juga ditemukan di pusat kota Kairo. Teknologinya tentu lebih canggih dibandingkan dengan yang di Aswan. Karena dibangun pada kisaran abad ke 7 Masehi jauh setelah jaman Mesir kuno. Bangunan ini disebut dengan Nilometer.

Nilometer letaknya cukup "nyempil" di antara bangunan apartemen yang padat di pusat kota Kairo. Berada di atas pulau kecil di tengah sungai Nil. Namanya Rhoda Island, orang Mesir menyebutnya Manial. Bagi traveler yang kurang interest dengan sejarah, bangunan ini mungkin tak masuk dalam itenary, selain tempatnya yang tersembunyi juga kurang menarik penampakan luarnya. 

Berada dalam satu lokasi dengan museum Ummi Kultsum, penyanyi legendaris Mesir. Dekat dengan bangunan pengelolaan air bersih milik pemerintah. Semacam PDAM kalau di Indonesia. Tiket masuk dipatok seharga 20 LE (Rp. 30.000) untuk umum sedangkan untuk pelajar/mahasiswa hanya dikenakan 8 LE saja. Tiket masuk museum tidak termasuk lho.

Untuk menuju ke tempat ini bisa ditempuh dengan naik metro. Turun di stasiun Mar Girgis atau Malik al Saleh dengan hanya membayar 1 LE. Keluar di pintu sebelah barat, disambung dengan jalan kaki sekitar 15 menit. Sedangkan untuk moda transportasi yang lain adalah taxi. Jangan bilang nilometer, karena sopir taxi Mesir tak banyak yang tahu, bilang saja Mathaf (museum) Ummi Kultsum.

Patung astronom Alfagranus di depan Nilometer


Nilometer dibangun pada masa bani Ummayyad tahun 715 Masehi dengan konstruksi yang sederhana meniru konstruksi Nilometer di Aswan. Namun pada masa Khalifah Al-Marmoun (815 M) nilometer disempurnakan. Pernah hancur pada tahun 850 M karena banjir besar. Pada masa Dinasti Abbasiyah, nilometer dibangun ulang oleh Ahmad ibn Muhammad Al Hasib sekitar tahun 861 Masehi. Arsiteknya adalah Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Fargani dari Turkistan Barat. Di negara Barat dikenal sebagai astronom Alfagranus.

Pada masa dinasti Thoulun tahun 872-873 M, Nilometer direnovasi. Dan kembali dipugar tahun 1092 pada masa dinasti Fatimiyah. Kubahnya juga pernah hancur dibombardir pasukan Perancis saat menduduki Mesir. Sedangkan kubah yang ada saat ini adalah kubah baru bergaya Ottoman Turki.

Eksterior Nilometer. Kubah kerucut adalah ciri khas arsitektur Ottoman Turki


Eksterior nilometer ini tidak terlalu besar jika tampak dari luar, desainnya sederhana dan biasa saja. Namun jika kita masuk ke dalamnya, baru kita dibuatnya takjub.

Di dalam bangunan berkubah kerucut itu terdapat lubang mirip sumur yang terbuat dari batu marmer lengkap dengan tangga menuju ke dasarnya. Terdapat kolom berbentuk segidelapan. Kolom kayu tersebut memiliki beberapa ruas yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian air. Masing-masing ruas berjarak 1 hasta (0,5 meter lebih). Ada sekitar 19 ruas, jika air berada pada ruas ke 12 berarti, Kairo sedang dilanda kekeringan. Jika berada di atas ruas ke 18, Kairo berada dalam kondisi awas karena tinggi air sungai di level ini akan menyebabkan banjir. Level terbaik air sungai berada di ruas ke 14. Jika sedang tidak terjadi banjir, nilometer berfungsi sebagai pengatur distribusi air di lahan-lahan pertanian.

Ada 3 lubang tempat masuknya air sungai. Ini salah satunya. Ruas-ruas yang terlihat itu adalah alat ukur ketinggian air.

Kubah jika dilihat dari dalam. Kereennn kan?? :D

Interior Nilometer bagian atas

Sumur yang berfungsi untuk memantau air sungai Nil


Nilometer kini memang tak lagi berfungsi, namun keberadaannya menjadi bukti bahwa teknologi pengairan dan pengendali banjir sudah maju di Mesir sejak ribuan tahun lalu. Sudah sepantasnya Mesir disebut dengan Umm ad Dunya, mother of the world. Merekam sejarah peradaban manusia. Sebuah negeri di mana setiap sudutnya adalah sejarah, lengkap dengan jejaknya. How can I not love Egypt..?



Advertisement

10 comments:

Imazahra said...

Apik tulisanmu, Mbak :)
Tapi tak ada kisah tentang kita, hihihi.

:D

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kubahnya bagus banget ya mbak

Ellys Utami said...

@Imazahra.... cerita tentang kita akan aku tulis sendiri. Baru move on dari patah hati soalnya hehehe...

Sebenarnya ttg Nilometer ini sudah mau ditulis setahun lalu waktu baru ke sana. Penyakitku itu kan suka nunda2 akhirnya keburu kehilangan mood..

Ellys Utami said...
This comment has been removed by the author.
titialfakhairia said...

Mesir yang penuh misteri, sejarah bermula di sana, pantaslah disebut ummu Dunya :)

Khalida Fitri said...

fotonya bagus2..tulisannya juga, jadi mupeng pengen kesana :)

Keke Naima said...

kelihatan bgt karya seni tinggi kalau lihat kubahnya

Ellys Utami said...

Bener banget mbak Titi... di Mesir ini pasar kain, pasar loak ternyata juga bersejarah.. luar biasa.

Ellys Utami said...

Mbak @Khalida Fitri... Mesir memang surganya fotografi arsitektur mbak. Yuk saya tunggu kedatangannya..

Makasih sudah mampir :)

Ellys Utami said...

@Keke Naima Kalau seperti ini khas arsitektur Turki Usmani mak.. Kadang suka takjub, gimana melukis sedetail itu ya... :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy