Mar 31, 2014

Advertisement

Sopir Taxi

Advertisement


Setelah turun dari rumah kami di lantai 4, kami menunggu taxi di depan imarah (apartemen). Beberapa kali taxi yang melintas sudah berisi penumpang. Hari Jum'at biasanya memang tak banyak taxi lewat di jalan ini. Terutama di jam-jam usai sholat Jum'at. Setelah beberapa lama menunggu, sebuah taxi kosong melintas dan berhenti.

"Fein? Kemana?" Tanya sopir 

"Ma'rod dauliyah.. (pameran internasional), estad Qahirah (stadion Kairo)" 

"Aiwah... masuklah.. "

Suami duduk di kursi sebelah sopir "Koq nggak ada argonya?" tanya suami

"Iya, ini taxi temanku, aku meminjamnya.."

"Bikam?" Suami bertanya tarif karena tidak pakai argo. 

"Arba'in (40) "

"Hah? Biasanya juga cuma khamsah asyrin (25)"

"Saya pernah ngantar orang ke Hadiqah Azhar (Azhar park) itu 30 pound" sanggahnya
(Maadi-Azhar park jaraknya lebih dekat daripada Maadi-Stadion Kairo) 

"Saya biasanya kalau ke City Stars saja 35 pound" kata suami 

"Ya sudah, bas hena... hanzel hena... (stop di sini, saya turun sini saja) "kata suami lagi


Taxi tetap melaju..  

"Kalau lewat autostrad biasanya macet..." sopir terlihat kurang sepakat dengan harganya.  

"Terus... enta ayzh wa enta mush ayzh (kamu mau apa enggak)?"

Dan sang sopir tak menghentikan laju taxinya, itu artinya dia sepakat dengan harga yang kami tawar.


Siang itu, Kairo cukup lengang. Jalan tidak sepadat hari-hari biasa. Cuaca cukup nyaman, tidak dingin namun tak juga panas. Bulan ini peralihan dari musim dingin ke musim panas. Lumayan hangat dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Nyaris tertidur... :D


Tak sampai 15 menit menikmati angin sepoi-sepoi, sopir berumur sekitar 30an tahun itu menerima telepon dari seseorang. Terlihat tegang dan agak gelisah. Berulang kali dia beristighfar.. disela-sela pembicaraan dengan penelpon di seberang sana. Tak berapa lama dia menangis terisak, sambil meletakkan (setengah membanting) handphone di dashboard mobil. Kembali dia beristighfar sembari menghela nafas panjang dan berulang kali mengusap matanya yang berair. Tatapannya kosong. Kelihatan sekali dia punya masalah yang cukup pelik.

Saya diam terpaku menyaksikan adegan ini. Tak mengerti apa yang dia biacarakan namun saya menangkap ada beban cukup berat di sana. Jujur baru kali  ini saya melihat laki-laki Mesir menangis sampai terisak-isak. Seorang sopir taxi yang tengah membawa penumpang. 

Selang beberapa menit, dia meraih teleponnya kembali. Kali ini dia menelepon seseorang. Sama seperti saat menerima telepon pertama tadi. Menangis, mengusap air mata dan gelisah. Sekitar 5 menit dia menelepon.

Usai sang sopir menyudahi pembicaraannya di telepon, saya coba bertanya pada suami tentang apa yang dibicarakan.  

"Kenapa dia mas?? Koq nangisnya sampai begitu?" Tanya saya  

"Dia butuh uang 300 LE. Yang menelepon tadi istri atau ibunya, ada yang sakit. Dan yang terakhir dia telepon tadi itu pamannya. Berusaha pinjam uang karena memang dia tidak punya uang sebanyak itu." kata suami menjelaskan.  

"Karena itu mungkin dia pinjam taxi temannya. Untuk cari tambahan uang. Sepertinya anak atau ibunya sakit.."tambah suami (mengira-ngira)

Tak lama kemudian, kami sampai di tujuan. "Hanzel hena.. (berhenti di sini saja)"

Saya melihat sopir taxi itu masih sembab matanya. Suami menyodorkan ongkos taxi sambil menggenggam tangannya. Walaupun ongkos tak sesuai kesepakatan awal yang dipertahankan dengan setengah ngeyel. Semoga bisa sedikit meringankannya..

"Thank you very much.." katanya




______________



Saya pernah dipeseni sama ibu ,"Nduk, urip iku nek ndelok ojo ndangak, ndingklu'o ben gak kesandung. Tapi yo ojo ndingkluk terus ben ngerti dalan nang ngarep...."
("Nak, hidup itu jangan lihat ke atas, lihat ke bawah biar nggak tersandung. Tapi juga jangan lihat ke bawah terus biar tahu jalan..")

Kata ibu, kalau kamu melihat ke atas dalam urusan dunia.. kamu tidak akan pernah puas dan selalu merasa kurang. Tapi, kalau kamu lihat ke bawah (melihat orang-orang yang kekurangan), kamu akan merasa lebih bersyukur. 


Jutaan bahkan milyaran hikmah itu terserak di muka bumi ini, jika kamu mau belajar....



Lokasi foto : Selat Bosphorus, Istanbul Turki

Advertisement

4 comments:

Rinny Ermiyanti said...

Tidak akan miskin orang yang bersedekah. Suatu saat kita akan dibalas , entah oleh siapa.

Ellys Utami said...

Saya juga sangat meyakininya mbak @Rinny Ermiyanti....

Lidya - Mama Cal-Vin said...

bersedak selalu ada balasan nyat adari Allah ya mbak

Ellys Utami said...

@mama Cal-vin... Aaminn InsyaAllah mam.. :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy