Nov 25, 2014

Advertisement

Hijjaz Railway, Madinah

Advertisement




Museum Madinah
di bekas stasiun kereta api

Informasi mengenai tempat ini kami dapatkan dari 2 orang mahasiswa Lamongan yang kuliah di Madinah. Tempat yang mungkin jarang masuk dalam daftar ziarah jamaah haji atau umrah Indonesia. Padahal letaknya hanya sekitar 1 km di selatan masjid Nabawi. Tepatnya di bundaran Bab al Anbariyah. 

Cukup jalan kaki. Atau kalau sedang tidak ingin jalan, naik taxi dari depan masjid Nabawi hanya 5 riyal ongkosnya. Bilang saja Mahattah Hijjaz ke sopir taxi.

Terbukti pada saat ke sana, hanya jamaah dari Turki yang banyak kami temui. Maklum saja, tempat ini merupakan salah satu peninggalan khalifah Turki Usmani ketika menguasai Hijjaz (1517-1915). 

Bangunan bergaya arsitektur Usmani, sebelumnya merupakan stasiun kereta api, sebelum beralih fungsi menjadi museum Al Madinah Al Munawwarah. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke sini. Buka mulai pukul 9.00 hingga pukul 21.00. 

Museum ini menyimpan berbagai benda-benda bersejarah. Antara lain beberapa manuskrip yang ditemukan di sekitar Mekkah dan Madinah, busur yang pernah digunakan oleh Sa'ad bin Abi Waqass. Gambar-gambar kota Madinah lama bahkan uang yang digunakan pada jaman Nabi.


Surat nabi pada gubernur Mesir

Panah Sa'ad bin Abi Waqass


Manuskrip Qur'an abad ke 12


Sedikit cerita tentang jalur kereta api Hijjaz...

Jalur kereta api ini awalnya dibangun untuk mengangkut jamaah haji dari Damaskus (Syiria) dan Madinah melalui Amman, Jordania. Ide pembangunannya sudah tercetus tahun 1864 ketika kereta api menjadi moda transportasi paling populer masa itu.

Sebelum dibangun jalur kereta api, perjalanan haji dari Damaskus memakan waktu hingga 2 bulan. Merupakan jalur yang sangat berat. Terutama untuk menaklukkan tantangan suhu yang ekstrim. Sangat dingin bila musim dingin dan panas kering waktu musim panas.

Pada tahun 1908, jalur kereta api Hijjaz ini resmi dibuka. Menghabiskan dana yang tidak sedikit. Sumbangan dari berbagai pihak diantaranya Sultan Abdul Hamid (Turki), Khedive Mesir dan Shah Iran. Juga hasil dari penggalangan dana dari masyarakat luas.

Tahun 1912, kereta api mampu mengangkut 30.000 jamaah. Namun mengalami lonjakan hingga 300.000 jamaah tahun 1914. Butuh biaya yang tidak sedikit terutama untuk menjaga jalur kereta api ini dari gangguan suku2 di pedalaman Arab. Yang merasa sumber penghasilan tahunannya berkurang akibat jamaah yang sebelumnya menggunakan jasa mereka sebagai pemandu dan pemilik unta sewaan. Sekitar 5000an tentara Turki dikerahkan untuk menjaga jalur ini.

Selama PD 1 (1914-1918) berlangsung, jalur kereta api mengalami kerusakan yang parah bahkan hancur. Sempat akan dibangun kembali setelah PD 1 usai namun biaya yang dibutuhkan sangat mahal. Terlebih lagi pada tahun 1971 pembangunan jalan raya dan jalur penerbangan sedang mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Kini jalur kereta api ini hanya menyisakan kenangan. Tertarik mengunjungi tempat ini..?



Bagian dalam museum

Display di lantai 2


Rel kereta di bagian belakang museum




Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy