Nov 25, 2014

Advertisement

Haji (setengah) Backpacker #2: Melacak dan Berburu

Advertisement


Masjid Nabawi, Madinah


Melacak Paspor

Perjalanan 12 jam Makkah-Madinah sukses membuat kami babak belur. Terkapar kelelahan. Sampai-sampai lupa menanyakan paspor pada petugas urusan haji yang ikut dalam bus yang kami tumpangi. Karena buru-buru turun untuk check in hotel. 


Pagi itu, sambil menunggu waktu dzuhur, saya mengajak suami melacak paspor yang belum kami ketahui rimbanya. Ini dokumen penting. Bahaya kan kalau sampai kami tidak tahu keberadaannya. 


Pertama kali kami menuju receptionist hotel, "Andonesi??"  petugas berwajah India itu bertanya .

Kami mengangguk.

Lalu ia menyodorkan sebuah kartu bertuliskan sebuah alamat. 

"Paspor Indonesia ada di alamat itu. Maktab Indonesia" Katanya dalam bahasa Arab. 
"Paspor kami memang Indonesia, tapi kami berangkat dari Mesir. Mungkin paspornya ada di maktab Mesir" jawab suami. 

Kemudian petugas itu menyodorkan kartu lain, raut mukanya sedikit bingung.


Kartu alamat maktab (kantor urusan haji) Indonesia dan stiker rusum


Segera kami mencari taxi, dengan menunjukkan alamat di kartu itu. tak sampai 5 menit kamipun sampai. Sopir taxi di Madinah lebih ramah daripada di Mekkah. Tarifnya wajar dan tak memanfaatkan orang yang tidak tahu dengan narik ongkos semaunya.

Ada beberapa kantor yang ada di sana. Kami memasuki salah satunya. Setelah mengucapkan salam, petugas menanyakan maksud kami. "Paspormu mugkin ada di sana," sambil menunjukkan kantor lain di depannya.


Kamipun mengikuti petunjuknya. Ada banyak orang yang sedang menunggu. Kantor ini sepertinya maktab gabungan jamaah haji mandiri dari Maroko dan Mesir. Setelah mengantri beberapa saat, suami dipanggil. Ditanya nama dan nomor paspor. Untung saja scan paspor sudah disimpan di ponsel karena memang kami tidak bawa fotocopy-nya. 


Petugas itu melacak paspor kami melalui komputernya. Dan hasilnya, paspor berada di maktab Indonesia.  


"Kita ke sana sekarang..?" tanya saya 
"Besok saja. Nanti setelah Ashar, coba kita cari tiket. Aku hubungi Jihad dulu, barangkali dia bisa bantu.." kata Suami

 Berburu Tiket Pulang

Karena tiket Flynass untuk kembali ke Kairo tidak bisa di reschedule, mau tidak mau kami harus cari tiket baru. Sebenarnya bisa sih booking tiket online pakai kartu kredit. Tapi masalahnya, kartu kredit suami sudah lama expired. Terpaksa harus cari travel agent untuk beli tiket baru. Saat menghubungi Jihad, dia janji mengantar kami cari tiket setelah Isya'. 


Awalnya kami hanya merencanakan 3 hari saja di Madinah (13-16 Oktober). "Kalau cuma 3 hari koq rasanya kurang lama ya di sini, mas.." keluh saya. 


Usai sholat Isya', Jihad dan Nashor temannya menepati janjinya untuk menemani kami mencari tiket. Ternyata tak jauh dari masjid ada travel yang buka. Gegas kami menuju ke sana. Pertama kami cari untuk tanggal 16 Oktober. Ternyata harga tiket cukup tinggi untuk tanggal 16,17,18 Oktober. Hampir semua di atas 1000 riyal untuk tiket Jeddah-Cairo sekali jalan. Yang harganya di bawah 1000 ada di hari Minggu tanggal 19 Oktober, 800 riyal. 


Ya sudah, tiket Nile Air, Jeddah-Cairo tanggal 19 Oktober akhirnya kami booking. Jadwal pulang harus mundur 2 hari dari rencana. Yaa Allah... Engkau dengar keluhanku, lalu Engkau kabulkan seketika. Subhanallah...



__________________________

“Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusnya pada Allah. Izinkan Dia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikannya dengan rencana-rencana yang indah.”




Catatan selanjutnya.. PULANG


                                                                  

Advertisement

2 comments:

Anonymous said...

Blessing in disguise yo, Mbak. Btw, iki blog-e mari make over, tha? Kok berubah penampilane? ira

www.keluargapelancong.net

Ellys Utami said...

Mbak Ira... Iyo. Gak update tulisan malah makeover omahe hehehehe...

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy