Nov 24, 2014

Advertisement

Haji (setengah) Backpacker #1: 12 Jam Makkah-Madinah

Advertisement


Sebuah SMS masuk ke handphone suami. 

"Pak Ismail jadi berangkat ke Madinah kapan? Tanggal berapa? Nanti saya bantu urus di Maktab" SMS dari ustadz Erwin rupanya.

"Iya ustadz, rencananya kami berangkat Senin, 13 Oktober," Balas suami.

"Ok pak, sore nanti saya urus prosedur keberangkatannya ke maktab."

Sejak awal kami memang berencana untuk memisahkan diri dari rombongan. Cuti suami yang tersisa tidak memungkinkan untuk mengikuti jadwal yang ditetapkan travel, yaitu selama 30 hari terhitung dari 29 September sampai 28 Oktober.

Keterbatasan cuti itu yang memaksa kami untuk pulang ke Kairo lebih cepat. Cuti suami tahun ini sudah terpakai 25 hari untuk mudik lebaran. Hanya tersisa sekitar 8 hari. Sama sekali tidak diantisipasi untuk cuti haji karena tak menduga akan berangkat secepat ini. 

Hal itu juga sudah diutarakan suami pada Ustadz Erwin pada saat mendaftar. Namun, karena tiket pesawat dibooking sehari sebelum berangkat, maka jadwal kepulangan rombongan haji dibuat sama yaitu tanggal 28 Oktober 2014. Resechedule saja setelah sampai Mekkah nanti, begitu pikir kami.

Tiket pesawat ternyata tidak bisa di reschedule karena merupakan tiket grup. Jadi terpaksa kami harus beli tiket lagi (di Madinah). Sempat mau titip ustadz Erwin, tapi karena dia cukup sibuk dan waktu yang sempit, tak sempat lagi mencarikan tiket untuk kami.

Malam itu, Ustadz Erwin menelpon..  

"Pak Ismail, sudah saya urus keberangkatannya besok. Bapak dan Ibu harus stand by di kantor maktab pukul 12.00 siang. Mereka minta booking hotel di Madinah minimal 1 hari. sebagai syarat meninggalkan Mekkah. Sudah saya booking sekalian, 200 riyal per hari."  

"Baik Ustadz, terimakasih. Besok usai thawaf Wada' kita ketemu untuk ambil tanda booking hotel berikut pembayarannya,"



Haji (setengah) Backpacker

Bukan tak pernah membayangkan kalau kami akan menjalani haji seperti ini. Dulu saya bahkan ingin sekali melakukan perjalanan haji seperti kalau kami traveling. Bebas pergi kemana-mana karena itenerary disusun sendiri tanpa dijadwal dan dikoordinir oleh travel atau ketua rombongan.

Dinamakan haji backpacker juga tidak. Karena keberangkatan kami dari mulai visa, tiket pesawat dan penginapan di Mekkah diurus semua oleh travel. Aturan dari pemerintah Saudi memang sangat ketat untuk urusan haji ini. Paspor kita saja ditahan oleh panitia haji selama kita berada di sana. Jadi sulit untuk benar-benar menjalani haji backpacker kecuali nekat. Masuk dari negara tetangga lalu bergerilya melintasi gurun untuk melewati perbatasan menuju Mekkah. Resikonya bayar denda tinggi atau masuk penjara kalau ketahuan.  

Memisahkan diri dari rombongan keluar menuju Madinah. Lalu urusan yang mestinya ditangani ketua rombongan, sejak itu kami urusi sendiri. Termasuk urusan keluar dari Madinah kembali ke Kairo (akan saya ceritakan nanti). Perjalanan ini yang kami sebut haji setengah backpacker


Selamat Tinggal Makkah


Usai menjalani thawaf Wada', thawaf perpisahan hari itu, kami berdua bersiap meninggalkan Mekkah. Jangan tanya perasaan saya saat menjalaninya. Mungkin hampir semua orang yang akan meninggalkan Mekkah punya perasaan yang sama dengan yang saya rasakan. Sedih luar biasa.. Semoga Allah ijinkan kami kembali ke tempat ini.


Seperti anjuran ustadz Erwin, kami harus berada di maktab sebelum pukul 12.00 maka pukul 11 siang itu bergegas meninggalkan penginapan. Taxi mengantar kami persis di depan jalan masuk kantor maktab. Tertulis di papan yang menempel di dinding, 179. Ini memang maktab kami.


Setelah melapor dengan menunjukkan name tag dan bukti booking hotel di Madinah kami di persilahkan menunggu. Ada sekitar 7 orang yang berada di ruangan itu. Di kantor maktab inilah paspor kita di simpan selama berada di Mekkah. 


Usai sholat dzuhur, kami dipanggil untuk masuk ke sebuah minibus. Ternyata total ada 12 orang yang berangkat dari maktab 179 ini. Yang Indonesia, hanya kami berdua. Selebihnya dari Mesir dan Yaman. Saya pikir, minibus ini yang akan membawa kami ke Madinah. Ternyata tidak.


Minibus masuk ke sebuah terminal besar. Banyak bus-bus besar terparkir di sana. Terminal ini disebut terminal hijrah. Jadi dari maktab kami akan diangkut dengan bus besar berisi sekitar 50-60 orang. Digabung dengan jamaah dari maktab lain. Hanya kami berdua yang berwajah Asia lainnya rata-rata berwajah Arab.


12 jam Makkah-Madinah


Jarak Mekkah-Madinah kurang lebih 435 km. Estimasi waktu tempuh sekitar 4-5 jam. Jalan luar kota di Saudi hampir mirip dengan di Mesir, lebar dan mulus. Berdasarkan pengalaman, perkirakan waktu tempuhnya sama dengan Cairo-Hurghada karena jaraknya sama dengan Mekkah-Madinah.


Setelah bus terisi penuh dan barang-barang bawaan dirapikan ke dalam bagasi, sebagian di susun di atap bus. Tepat pukul 15.00 sore itu kami berangkat menuju Madinah. Perkiraan kami, bus masuk kota Madinah sekitar pukul 20.00. Ternyata dugaan kami meleset. 


Bus berjalan dengan kecepatan 50 km/jam dan berhenti di tiap waktu sholat. Pukul 21.00 kami masih di tengah perjalanan. Lihat Google maps, Madinah masih 150 km lagi. Saya merasakan kaki saya bengkak karena terlalu lama duduk dengan kaki yang terbungkus kaus kaki. Mungkin karena karetnya terlalu ketat hingga membuat aliran darah tidak lancar.  


"Kita berhenti di mana nih koq lama sekali ya," tanya saya pada suami

"Kita sudah masuk perbatasan Madinah tapi sepertinya kita berhenti di Madinatul Hujjaj" Jawabnya

"Sudah jam 12 malam kita belum sampai juga.." keluh saya"Sudah menghubungi temannya Izul, Mas? 

Izul adalah teman kami di Kairo. Dia merupakan mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari daerah yang sama dengan suami. Dia memberikan nomor ponsel temannya yang kuliah di Madinah untuk membantu kami. Namanya Jihad. 

"Iya, tadi aku udah nanya Jihad di mana letak hotel kita. Dia bilang tidak jauh dari masjid Nabawi, sekitar 700 meter. Ada di jalan Abizar. Bukan hotel sih katanya, ya semacam flat gitu deh.." Suami menjelaskan.

Proses administrasi di Madinatul Hujjaj ini memakan waktu lebih dari 2 jam. Di data satu persatu berdasarkan paspor masing-masing. Karena dalam bus yang kami tumpangi terdiri dari beberapa warga negara. Jadi inilah yang memakan waktu lama. Bukan hanya itu, jamaah di bus juga tidak menginap di satu hotel yang sama. Proses seperti ini tidak akan terjadi jika dalam satu rombongan berasal dari satu negara dan menginap di hotel yang sama.


Bukti booking-an hotel juga diminta untuk di data. Ustadz Erwin sudah mengingatkan sebelum kami berangkat.  


"Bukti booking hotel jangan diserahkan semua. Sengaja saya copy 2 lembar, yang satu lembar diserahkan ke madinatul hujjaj dan satunya untuk check-in hotel. Kalau diserahkan semua ke petugas haji maka kita tidak punya bukti booking"


Bus sudah memasuki kota Madinah. Saya lihat jam di tangan, waktu telah menunjukkan pukul 02.00. Berarti sudah hampir 12 jam kami berada di atas bus. Saya sudah melihat menara masjid Nabawi. Suami mencocokkannya dengan GPS. Benar kami sudah berada tak jauh dari masjid. Alhamdulillah....

Namun kami belum bisa berbafas lega karena bus masih harus mengantar satu persatu jamaah ke penginapannya masing-masing. Fyuuuhh...


Tepat pukul 3.15 dinihari, bus berhenti. Nama saya dan suami dipanggil oleh petugas yang ikut dalam bus kami. 


"Ini Al-Khaleej Palace?? (nama hotel yang sudah kami booking)" Tanya suami 

"Iya itu hotelnya," Petugas itu menunjuk sebuah papan nama.

Membaca namanya, saya pikir hotel ini sekelas bintang 3, lumayan. Ternyata saya salah menduga, hotel ini berada di dalam deretan pertokoan. Papan nama hotelnya hampir tak terlihat. Bergegas kami keluarkan koper kami dan satu galon zam-zam yang kami beli di Mekkah dari bagasi bus. 


Tanpa banyak tanya, kami segera menuju "Al-Khaleej Palace" untuk check-in. Perjalanan ini amat sangat melelahkan, 12 jam lebih untuk perjalanan sejauh 435 km. Kami butuh segera istirahat dan merebahkan diri. 


Setelah kunci kamar diserahkan, dan masuk kamar yang berada di lantai 2 saya teringat paspor. Dimana paspor kami dikumpulkan.  


"Ahh... Paling juga di kantor yang tadi. Udah istirahat saja. " ujar suami dengan santainya. "Kakimu bengkak cepet buka kaus kakinya dan luruskan kakimu," lanjutnya lagi.

Kami memang segera terlelap dinihari itu.....



Masjid Nabawi saat malam hari

Cerita selanjutnya... Melacak dan Berburu









Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy