Oct 12, 2011

Advertisement

Eksotika Alexandria (part 2)

Advertisement


Hari ke-2 di Alexandria…

Awal musim dingin membuat suasana pantai sepanjang Alexandria tidak seramai musim panas beberapa bulan lalu. Suhunya sih masih di kisaran 21 derajat celcius jadi masih belum terlalu dingin, angin pantainya juga tidak terlalu kencang jadi nyaman banget dan relatif nyaman untuk jalan-jalan.


Alexandria Train Station
Masjid dan Makam Nabi Daniel

Dari apartemen di daerah Muntaza, naik kereta dengan hanya membayar 1 LE dan tujuan pertama kami pagi itu adalah Masjid Nabi Daniel karena waktu itu hari Jum’at jadi sekalian menunaikan sholat jum’at di sana. Letaknya tidak jauh dari stasiun kereta api Alexandria, sekitar 500 meter.

Dalam agama Islam, nama Nabi Daniel termasuk jarang terdengar. Hal ini mengingat Nabi Daniel tidak termasuk salah satu dari 25 nabi yang wajib diketahui. Namun demikian, para ahli sejarah mengatakan, beliau adalah seorang Nabi yang pernah hidup dan meninggal di Mesir. 

Nabi Daniel termasuk di antara keturunan Nabi Daud as. Masjid berada di tengah pemukiman padat. Makam Nabi Daniel terdapat di sebuah ruangan di bawah bangunan masjid, jadi untuk berziarah ke makamnya kita harus turun ke bawah melewati tangga. Ada 2 makam di sana yang menurut informasi, makam satu lagi adalah makam Lukmanul Hakim. 

Luqmanul Hakim menurut riwayat yang lebih kuat adalah bukan seorang nabi. Ia adalah seorang saleh semata. Bahkan dalam banyak riwayat shahih dikatakan bahwa ia adalah seorang budak belian, berkulit hitam, hidung pesek, berparas pas-pasan dan berkulit hitam legam. Namun demikian namanya diabadikan oleh Allah SWT dalam salah satu surat dalam Al-Qur'an, Surat Luqman. 

Namanya diabadikan oleh Allah SWT karena dia adalah orang yang shaleh yang patut diteladani. Itu artinya Allah SWt tidak menilai manusia dari gagah tidaknya atau dari status sosial, jabatan, warna kulit dan lain-lain. Tapi Allah menilai dari ketaqwaan serta keshalihannya.

Roman Amphitheatre

Tujuan kami berikutnya adalah Roman Amphitheatre, letaknya hanya sekitar 2oo meter dari Masjid Nabi Daniel. Membayar tiket masuk sebesar 20 LE. Tempatnya sih nggak terlalu menarik. Hanya saja bagi pengagum bangunan tua peninggalan Romawi kuno mungkin tempat ini menjadi sangat wajib dikunjungi. 

Bibliotecha Alexandria

Dari Roman Amphitheatre menuju ke Bibliotecha Alexandria atau biasa orang Mesir menamakan Maktabah. Naik taxi sekitar 10 LE saja. Sebuah perpustakaan modern yang berasitektur futuristik. Untuk masuk ke dalam kita membayar tiket sebesar 15 LE untuk umum dan 3 LE untuk pelajar/mahasiswa. Tidak boleh membawa tas ke dalam ruangan, jadi sebelum masuk kita harus menitipkannya di loket khusus.


Halaman depan Bibliotheca Alexandria 





Didalamnya kita bukan hanya menemukan buku-buku kontemporer dan modern tapi juga kitab-kitab kuno dari ilmuwan-ilmuwan islam ribuan tahun lalu dari buku matematika, sains sampai sastra.

Ternyata perpustakaan Alexandria pernah menjadi perpustakaan terbesar di dunia yang didirikan abad ke-3 SM. Yang menyimpan sampai dengan 700 ribu naskah. Tapi perpustakaan ini terbakar dan koleksinya hilang pada tahun 47 M saat Julius Caesar membakar sebagian kota Alexandria.


Maka untuk mengembalikan kejayaan perpustakaan Alexandria, pada tahun 2002 dibangun kembali dengan nama Bibliotika Alexandria. Menyimpan sekitar 400 ribu buku tapi dengan teknologi komputer pengunjung bisa mengakses koleksi perpustakaan lain. Interior perpustakaan ini membuat kita betah berlama-lama di dalamnya.

Benteng Qaitbay

Dari Maktabah, kami menuju ke benteng Qaitbay Citadel yang malam sebelumnya hanya bisa melihat dari luar. Sebenarnya sih menuju ke sana lebih cepat naik tramco, cukup bayar 1,5 LE saja tapi kami melihat ada kereta kuda di depan maktabah, jadi kami putuskan naik kereta kuda. Lumayan jauh sih… tapi sepertinya asik juga biarpun agak mahal ongkosnya, 30 LE. Tiket masuk ke Qaitbay hanya 20 LE saja, dan dibuka hanya sampai jam 4.30 sore.

Dibangun pada abad 15 tepatnya tahun 1477 oleh Sultan Al-Ashraf Qaitbay. Bangunan bersejarah ini adalah bangunan sangat penting pada masa itu sebagai benteng pertahanan di sepanjang laut Mediterania. Arsitekturnya megah dan indah serta sangat terawat. Maka nggak heran bangunan ini masuk ke dalam salah satu 7 keajaiban dunia. Ada 3 lantai dalam benteng ini, bentuknya lorong-lorong tapi nggak gelap. Banyak ventilasi, yang fungsinya juga sebagai jendela pengintai. Dari lantai 2, kita bisa keluar untuk melihat view kota Alexandria dan laut Mediterania dari atas… keren abis dehhh..





Setelah Qaitbay Citadel, tujuan berikutnya adalah Muntaza untuk menikmati sunset. Muntaza adalah sebuah taman seluas 115 hektar yang dikelilingi tembok besar dari selatan, timur dan barat dengan pantai di sisi utaranya. Wooowww.. luas banget yah?? Mengelilinginya harus dengan kendaraan, tapi kalau kuat keliling jalan kaki lebih bagus lagi hehehe…. Tiket masuk ke Muntaza hanya 6 LE.

Taman ini sebenarnya adalah milik keluarga Ali Mohammed yang berkuasa di Mesir pada abad ke-19 dan yang terakhir tinggal di istana ini adalah Raja Farouk. Di tempat ini terdapat kebun kurma dan taman bunga, di pantainya kita bisa berenang. Kalau nggak salah film KCB juga mengambil gambar di pantai Muntaza ini. Kalau hanya 1 - 2 jam rasanya nggak cukup untuk mengelilingi taman ini. Kalau lapar, jangan kuatir… ada banyak restaurant di sini dari mulai restaurant yang terjangkau sampai restaurant yang menguras kantong. Tinggal pilih saja hehe..





Karena sudah menjelang malam, kami memutuskan kembali ke apartemen tempat kami menginap, untuk melanjutkan perjalanan besok paginya dan sore harinya rencananya kami kembali ke Cairo. Makan malam dengan menu makanan Yaman hadromaut lumayan mengenyangkan dan mengganti energi yang terkuras seharian. Makanan yang rasanya tidak terlalu kental rempah arabnya dan masih bisa nyantol dengan lidah indonesia hehehe….


Alexandria Hari ke 3….


Kami sengaja memulai perjalanan agak siang karena sekalian check out dari penginapan. Tujuannya adalah ke Masjid Imam Al-Busiri yang berada di daerah Anfushi, Alexandria.

Imam Al-Busiri adalah seorang penyair yang terkenal dengan qasidah Al-Burdah, hidup antara tahun 1211-1294 . Qasidah ini isinya tentang pujian terhadap Nabi Muhammad. Qasidah ini sangat terkenal dan sering kita dengar.


Konon, Imam Al-Busiri adalah seorang yang lumpuh dan buta. Suatu malam, dia bermimpi bertemu Rasulullah S.A.W. lalu dia bercerita bahwa dia telah menciptakan banyak syair tentang Rasulullah, kemudian dalam mimpi itu Rasulullah menyuruhnya untuk membacakan syairnya tersebut. Karena kagum dengan syair tersebut, Rasulullah mencium kening Al-Busiri. Setelah terbangun, Al-Busiri tidak lagi buta dan lumpuh.






Menyempatkan sholat dzuhur di masjid ini sekalian berziarah ke makam Imam Al-Busiri, mengakhiri perjalanan di Alexandria kali ini. Sebenarnya ada beberapa tempat yang belum sempat kami kunjungi tapi karena tiket kereta sudah di tangan jadi mau nggak mau harus balik ke Cairo hari itu juga.

Episode perjalanan backpacker kami diakhiri dengan insiden yang kurang menyenangkan. Hampir saja ketinggalan kereta karena taxi yang saya naiki terjebak macet. Sedangkan taxi yang membawa rombongan yang yang lain dan kebetulan yang membawa tiket kereta sudah sampai duluan di stasiun. 

Saya sampai di stasiun kereta tepat saat kereta akan jalan. Berlari-lari dari jalan raya tempat saya turun dari taxi menuju stasiun membuat nafas saya hampir putus. Untung saja di detik-detik terakhir saya bisa masuk ke dalam gerbong kereta. Yaaa… namanya aja backpacker hehehehe…..




Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy