Aug 5, 2012

Advertisement

Buka Keroyokan Ala Mahasiswa Al-Azhar, Mesir

Advertisement



Hidup nun jauh di negeri orang tentu membuat seseorang akan merasa asing dengan lingkungannya yang baru. Hal inilah yang membuat kita sebagai makhluk sosial secara naluriah akan mencari komunitas untuk berkelompok.  Jika kita merantau dan tinggal di luar negeri, yang pertama kali kita cari adalah teman yang berasal dari negara yang sama. Tujuannya ya agar mudah berkomunikasi dan saling bertukar informasi. Nggak mungkin kan kita langsung paham dengan bahasa setempat. Nah itu gunanya kita ngumpul-ngumpul sesama warga Indonesia. Paling tidak bertukar info di mana cari makanan Indonesia. Hehehe.... itu salah satu manfaatnya.

Jangankan di luar negeri, jika kita merantau antar pulau saja di Indonesia pasti kita akan mencari teman yang berasal dari satu daerah yang sama dengan kita. Coba kita lihat di Indonesia, kita akan dengan mudah menemukan paguyuban-paguyuban daerah, atau ikatan persaudaraan daerah tertentu. Berkumpul dengan orang yang berasal dari daerah yang sama  membuat kita merasa tidak berada di tempat yang asing. Inilah yang membuat ikatan persaudaraan dengan sesama perantau menjadi kuat.

***

Tinggal di Kairo seperti sekarang, tidak jauh beda dengan tinggal di Indonesia. Bayangkan jumlah WNInya yang 6000-an orang, berasa di negeri sendiri kan??? Dari yang nggak kenal sampai jadi saudara itu udah biasa, saking akrabnya. Acara ngumpul-ngumpul biasanya digagas oleh KBRI, mingguan, bulanan dan acara-acara seremonial seperti peringatan hari-hari besar. Ini yang menarik, berkumpul dengan saudara setanah air dengan suguhan makanan Indonesia. Pasti ditunggu-tunggu deh..

Mahasiswa di sini yang jumlahnya 4000-an lebih memiliki kelompok organisasi berdasarkan daerah asal. Ada puluhan kelompok kekeluargaan yang masing-masing biasanya punya agenda acara yang secara rutin diadakan, acara seremonial seperti pernikahan, aqiqahan dan ulang tahun organinisasi menjadi ajang kumpul-kumpul teman satu daerah. Ini yang membuat hubungan kami semakin erat layaknya keluarga.

***

Saat bulan Ramadhan seperti saat ini, acara buka bersama menjadi acara yang ditunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan karena sajian menu makanan khas daerah asal untuk berbuka puasa. Kebetulan hari Kamis (26/7) kemarin saya dan keluarga bergabung dengan acara buka bersama di sekretariat kekeluargaan Jawa Timur. Sejak awal saya datang ke Kairo saya sudah merasa sangat dekat dengan mahasiswa-mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Timur yang tergabung dalam kekeluargaan itu. Apalagi kalau bukan faktor bahasa Jawa Timuran yang apa adanya alias ceplas ceplos, jadi baru kenal pun berasa sudah lama kenal dengan mereka.

1343418555149457203
Khatmil Qur

Acara rutin yang diadakan setiap tahun ini selain buka bersama mereka juga mengadakan Khatmil Qur'an. Jadi setiap orang memiliki jatah untuk membaca 1 juz Al-Qur'an dan sebelum maghrib tiba sudah harus mengkhatamkannya. Acaranya diadakan 2 kali seminggu selama bulan Ramadhan. Sebenarnya sih yang diundang seluruh warga Jawa Timur yang ada di Kairo, tapi biasanya yang datang hanya sekitar 30 - 40 orang saja. Kemarin agak banyak yang datang karena menu yang disajikan adalah rawon, mungkin sudah banyak yang kangen dengan makanan ini. Walaupun ternyata menu rawon gagal karena tidak adanya bumbu tapi toh acara buka bersama tetap saja terlaksana. Hidangan untuk berbuka puasa mereka masak sendiri, jangan tanya soal rasa. Anak-anak itu sudah mahir dalam hal masak memasak. Bukan mahasiswi loh yang masak... tapi mahasiswa alias para cowok.

Ada hal unik tentang cara anak-anak itu menikmati hidangan buka puasa. Dalam satu nampan besar yang telah diisi nasi dan lauknya dikelilingi 5 sampai 6 orang. Cara makan bersama seperti ini adalah kebiasaan yang dilakukan sejak di pesantren, ini salah satu cara untuk menjalin kebersamaan menurut mereka. Ini yang namanya bukan bukber tapi buker (buka keroyokan) hehe...


13434181502055614912
Buka puasa keroyokan ala mahasiswa

1343418271306605480

13434183841605319045
Porsi mahasiswi

Menjalani Ramadhan di perantauan ternyata punya banyak hikmah, walaupun jauh dari orang tua dan sanak saudara ternyata lebih banyak lagi saudara dan teman yang kita miliki. Ramadhan kali ini memang terasa berbeda buat saya. Berada nun jauh di negeri orang, namun tidak kehilangan tradisi saat Ramadhan. Jadi kerinduan pada kampung halaman bisa sedikit terobati. Kebersamaan itu memang indah...

Salam hangat ...

Advertisement

1 comments:

G.Susilo said...

Ha...ha...ha..., Saya sering dengar istilah Buber (Buka Bersama) atau Bubar (Buka Bareng). Tapi kalau Buker (Buka Keroyokan), sepertinya baru lihat di catatan Ibu. ^_^

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy