Feb 18, 2013

Advertisement

Sebuah Episode Kehidupan bernama LDR

Advertisement


cdn.sheknows.com




Hubungan jarak jauh bagi sebagian orang mungkin amatlah tidak mengenakkan. Pasalnya, berada jauh dengan sang belahan jiwa membuat sebuah hubungan menjadi kurang lengkap dan seperti ada yang hilang. Keberadaan pasangan seakan menjadi sangat penting ketika menghadapi sebuah masalah walaupun bisa dilakukan melalui alat komunikasi yang saat ini semakin canggih.

Buat saya, LDR itu seperti makan nasi karena terlalu sering mengalaminya. LDR mengambil porsi paling banyak dalam cerita perjalanan hidup saya setelah menikah. Sedih, tentu saja ini yang dirasakan saat menjalani LDR, tapi toh ini harus dijalani sebagai bagian dari episode kehidupan.Tiap episodenya memiliki kisah dan cerita yang berbeda. Dan ternyata banyak hikmah dibalik itu semua. LDR membuat saya jadi lebih mandiri, kuat dan tidak manja.

Mungkin saja kuliah saya nggak lulus atau lama lulusnya seandainya tidak LDR dengan suami. Mungkin saya nggak akan pernah belajar memperbaiki pompa air yang rusak, atau menyelesaikan masalah anak-anak di rumah. Dan mungkin saya tidak akan pernah belajar tentang seluk beluk jual beli rumah seandainya ada suami di dekat saya.

Sepanjang pernikahan, terhitung 4 kali saya menjalani hubungan jarak jauh dengan suami. Sebenarnya sebelum menikah, saya sudah menjalani hubungan jarak jauh dengan calon suami. Saya di Singaraja, Bali dan dia di Surabaya media komunikasinya berupa surat yang baru sampai minimal 3 hari. Tapi itu dia sisi romantisnya, lewat surat bisa menggombal sepuasnya dan surat-surat itu masih saya simpan sampai sekarang. Tentu saja romantisme LDRnya berbeda saat dia sudah jadi suami saya.

Inilah episode-episode LDR itu


Episode 1

Tahun 1999 untuk pertama kalinya saya LDRan dengan suami. Saat itu saya masih di tingkat akhir kuliah dan sedang hamil anak kedua (anak pertama tinggal bersama ibu saya). Usia kehamilan saya waktu itu sekitar 2 bulan dan sedang menyelesaikan skripsi.

Ketika suami harus berangkat ke Batam, saya harus tinggal di Surabaya seorang diri karena orang tua dan mertua tinggal di luar Surabaya. Termehek-mehek awalnya,  bayangkan saja dengan kondisi hamil, dan harus pergi pulang ke kampus naik motor.

Menjalani kuliah apalagi dalam kondisi seperti itu memang membuat saya jadi sangat malas. Tapi semua itu jadi berbalik pada saat menjalani LDR karena sebelum berangkat ke Batam, ada kata-kata dari suami yang akhirnya menjadi semacam mantra buat saya ,"Sebelum kuliahmu selesai, nggak boleh ikut aku ke Batam!!"  Duuuuhhh..... teganya


Justru karena mantra ini yang akhirnya memotivasi saya untuk segera menyelesaikan kuliah. Ke kampus bertemu teman-teman kuliah adalah obat mujarab mengusir rasa kesepian dan juga sebagai alat untuk membunuh waktu. Saya yang sebelum LDR malas berangkat ke kampus sejak LDR jadi rajin. Alhasil, skripsi dan kuliah saya selesai tahun 2000 hampir bebarengan dengan lahirnya anak saya. Suami tidak bisa mendampingi saya saat melahirkan karena belum bisa ambil cuti.

Waktu itu wartel (Warung Telekomunikasi) jadi tempat wajib yang harus saya datangi. Ya karena hanya di tempat itulah saya bisa melepas rindu *huk..huk..  sampai penjaga wartel hafal dengan saya hehehe... Biasanya saya harus pagi-pagi sekali ke wartel biar nggak antri. Maklumlah waktu itu tarif murah SLJJ berlaku jam 23.00 sampai jam 7.00 pagi yang diskon 75%. Jadi penggemar wartel ramainya sekitar jam 5-6 pagi.

Momen-momen istimewa seperti wisuda, hamil, sampai melahirkan saya lalui tanpa kehadiran suami. Bahkan suami bisa cuti setelah bayi kami berumur 6 bulan. Setelah itu barulah dia memboyong kami ke Batam. Dan tinggal di sana hampir 1,5 tahun sebelum akhirnya pulang ke Jawa setelah perusahaan melakukan PHK massal.

Berakhirkan episode LDR saya? Ternyata ada episode LDR selanjutnya...

Episode 2

Ditengah kondisi keuangan yang memprihatinkan, karena hampir 6 bulan suami nganggur. Dia mendapatkan pekerjaan yang menempatkannya di Pekanbaru, Riau. Inilah episode 2 kisah LDR saya. Saat ditinggal suami, saya menempati rumah kontrakan di komplek perumahan baru di Sidoarjo. Keadaannya masih sepi. Saya tinggal berdua saja dengan anak kedua saya sedangkan anak saya yang pertama masih tinggal bersama ibu saya. Sudah ada handphone waktu itu, jadi komunikasi tidak seperti waktu ditinggal ke Batam yang harus pergi ke wartel hanya untuk menelpon suami. 

Keadaan ini memaksa saya untuk berusaha bisa mengatasi masalah-masalah yang sebenarnya urusan laki-laki. Naik ke loteng untuk mengatasi korsleting pada lampu di teras rumah, juga mengatasi kebocoran pada atap rumah. Saya memang pantang meminta bantuan orang lain sebelum saya mencoba mengatasi sendiri. Dan ternyata saya bisa.

Setelah 6 bulan LDR dengan suami, tiba saatnya saya menyusulnya ke Pekanbaru. Suami tidak bisa menjemput saya ke Sidoarjo karena belum punya jatah cuti. Akhirnya saya yang mengurus semuanya sendiri dari packing sampai mengirimkan barang-barang ke Pekanbaru. Syukurlah kami berempat bisa berkumpul, tinggal di Pekanbaru selama hampir 8 tahun.

Episode 3

8 tahun bersama, lalu tahun 2010 suami kembali harus pindah tugas ke Tripoli, Libya. Lagi-lagi dia harus pergi dulu sebelum nantinya menjemput kami setelah mendapatkan visa resident di sana. Saya di Pekanbaru dan dia di Tripoli. Rencananya hanya 3 bulan saja kami LDRan tapi ternyata tak sesuai yang direncanakan. Berbagai masalah membuat visa tak kunjung selesai. Padahal mobil, dan sebagian barang sudah terjual bahkan rumah sudah ada yang menawar karena memang akan dijual.

Ketidakjelasan kapan kami bisa pindah ke Tripoli membuat saya sedikit stress membuat kami LDR selama hampir setahun. Untung saja komunikasi sudah semakin mudah juga murah, facebook dan skype jadi andalan. Jarak Tripoli-Pekanbaru menjadi sangat dekat dengan adanya facebok dan skype. Dan saya semakin terbiasa dengan pola hubungan jarak jauh seperti ini.

Ternyata ada hikmah besar dibalik terlunta-luntanya nasib visa saya dan anak-anak. Perang berkecamuk di Libya dan memaksa suami harus dievakuasi pulang ke tanah air. Saya membayangkan betapa repotnya kami saat harus evakuasi keluar dari Libya karena membawa anak-anak. Pengalaman teman-teman suami yang sudah membawa keluarga tinggal di sana mereka terpaksa meninggalkan barang-barang mereka dan sekolah anak-anak menjadi sedikit kacau. Lagi-lagi LDR membawa hikmah.

Episode 4

Sepulangnya dari Libya, 4 bulan kemudian ada kabar dia harus berangkat ke Kairo. Kami tidak bisa langsung ikut karena dia harus urus visanya dulu. Hhmm.... LDR lagi.

LDR kali ini tidak berlangsung lama mungkin hanya kurang lebih sebulan saja. Urusan pindah sekolah anak-anak, dan urusan barang-barang pindahan otomatis saya sendiri yang mengurusnya. Tidak lagi terasa berat karena pengalaman LDR terdahulu menempa saya. Dan akhirnya kami bisa kumpul lagi sampai hari ini di Kairo.

Akankah ada episode LDR berikutnya? Entahlah, hanya Tuhan yang punya planningnya. Semua yang direncanakanNya adalah yang terbaik untuk kita. 

Kairo, 190213 (22:51)
 

Advertisement

6 comments:

Aisyah S. A. said...

waw, ini contoh emak2 yang tegar dan mandiri ya.. kalo saya sih gak yakin bisa begituw.. :D

Ellys Utami said...

Pengalaman banget kalo LDR tapi tetep aja termehek-mehek, banjir airmata kalo ketimpa masalah... hehehe...

Traveler Family said...

Huaaaaa... aku dua kali LDR. Yang kedua pas suami pindha ke luar. Padahal masih satu negara. Suami pulang seminggu atau dua minggu sekali. Tetep aja capeknya minta ampunnnnn... Semuanya mesti mikir dan dikerjain sendiri. Pengennya seh nggak LDR-an lagi... hehehe. ira

Ellys Utami said...

...

Kemaren ada ibu2 komentar gara2 aku emoh pulang dulu ke Indonesia sedangkan dia pulang u/ liburan lebih lama di sana. Apa katanya, "Mbak, para suami itu sekali2 harus ditinggal, biar dia tau rasanya kalo butuh kita. Dengan begitu dia bakalan tambah cinta sama kita..."

Beuuhhhh.... Lha wong aku wes tuwuk jeee... Hihihihihi...

hana sugiharti said...

Bikin grup LDR done yuk mak hahaha uhuk2 deh pernah ngerasain juga soalnya :D

Ellys Utami said...

@Mak Hana... yuukkk mareee... udah expert belum mak?? hahahaha...

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy