Sep 3, 2012

Advertisement

Fenomena Kultural Unik Bernama Mudik

Advertisement







Entah sejak kapan mudik lebaran di Indonesia menjadi sebuah fenomena kultural yang unik yang terjadi setiap tahun. Mudik dan Idul Fitri seakan menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan bagi sebagian orang Indonesia. Mudik sendiri dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti adalah pulang kampung. Tapi dalam pengertian yang agak luas, mudik adalah sebuah budaya mempererat kekerabatan dan persahabatan.

Mudik menjelang lebaran biasanya dilakukan oleh orang-orang yang merantau ke luar kampung halaman. Mereka berbondong-bondong pulang ke daerah asal saat menjelang lebaran. Maka dari itu semua moda transportasi selalu mengalami kepadatan dari mulai pesawat, kereta api, bus, dan kapal laut. Pemudik akan berburu dan berebut tiket tanpa peduli harganya mengalami kenaikan hingga beberapa kali lipat. Sekalipun mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit, tetap saja mudik terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan untuk menghemat ongkos sebagian orang menggunakan kendaraan pribadi baik roda empat maupun roda 2 sebagai kendaraan mudik,  sehingga kendaraan-kendaraan umum dan pribadi yang tumplek di jalan raya, dan menyebabkan kemacetan.

Dulu sebelum saya merantau seperti sekarang, saya menganggap budaya mudik ini hanya sebuah budaya yang tidak istimewa. Saya pikir, pulang kampung bisa dilakukan kapan saja tanpa harus berdesak-desakan dalam kendaraan yang biasanya penuh sesak beberapa hari menjelang lebaran. Apalagi saat ini kemajuan teknologi semakin memudahkan orang untuk bersilaturahim dengan biaya murah. Jadi mudik menurut saya hanya buang waktu dan tenaga juga ongkos.

Namun saya menjadi berubah pikiran setelah hidup merantau selama hampir 13 tahun. Mudik buat saya menjadi sesuatu yang diidamkan setiap tahunnya. Kerinduan pada orang tua, saudara, juga kampung halaman seakan tak akan pernah terbayar hanya dengan menelpon. Kerinduan itu menjadi semakin terasa saat menjelang lebaran. Walaupun orang tua kami (saya dan suami) tak pernah mewajibkan untuk pulang setiap lebaran tapi rasanya ada yang kurang jika tak melakukannya.

Beberapa kali memang saya tak melakukan mudik karena keadaan yang tidak memungkinkan. Dan jangan tanya bagaimana rasanya jika melihat liputan mudik di televisi. Sedih dan iri yang kami rasakan, walaupun tidak sampai menyebabkan sedih yang berlebihan, sampai nangis segala hehe... Suasana lebaran di perantauan tentu tidak sama dengan suasana di kampung halaman. Namun demikian banyak hal yang bisa meminimalisir rasa itu. Adanya teman satu daerah yang juga tidak mudik menjadi semacam pengobat rindu.

Seperti lebaran tahun lalu, bulan pertama berada di Kairo. Walaupun masih baru tapi saya menemukan komunitas orang-orang satu kampung dan satu negara sehingga rasa rindu kampung halaman menjadi berkurang meskipun sedikit. Merayakan lebaran bersama mereka sedikit mengobati rasa kangen.

Dan tahun ini, akhirnya saya kembali bisa merasakan sensasi mudik. Anak-anakpun sangat antusias mendengar bahwa lebaran tahun ini kami bisa mudik. Walaupun sebenarnya akhir tahun 2011 kemarin kami juga pulang kampung. Tapi bayangan bermalam takbiran dengan membawa obor keliling kampung kakek neneknya seakan sudah berada dipelupuk mata. Soalnya sudah 3 tahun kami tidak ikut mudik bersama ribuan pemudik lainnya.

Rencananya kami mudik H-10 menjelang lebaran (9/8), sepuluh hari menjelang tanggal mudik saya baru memulai berburu tiket. Agak ketar-ketir awalnya, karena selain harga tiket yang melambung habisnya tiket menjadi kekhawatiran kami terutama untuk tiket domestik. Tapi akhirnya tiket Cairo - Surabaya - Cairo (direct) berhasil didapatkan, dengan harga promo pula. Untungnya lagi transitnya di Singapura karena pakai Singapore Airlines selama 8 jam. Wah... kalau ini namanya mudik bonus jalan-jalan hehe...

Ya... mudik menjadi sebuah fenomena budaya yang unik dan menyenangkan. Lebaran memang paling meriah di Indonesia ketimbang di negara manapun di dunia. Mudik ke kampung halaman membuat orang tua bahagia karena bertemu dengan anak dan cucu yang berada di rantau. Mudik juga mengandung nilai silaturahim yang kental, yang saya tahu bahwa bersilaturahim itu memperpanjang umur, dan memperluas rejeki.

Jadi, mudik yukkk...

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy