Sep 4, 2012

Advertisement

Sahabat Remaja itu Bernama Twitter

Advertisement



Credit

Jaman sekarang, kalau nggak punya akun twitter rasanya koq rada aneh ya? Nggak gaul katanya.. Sampai-sampai tokoh-tokoh sekelas menteri sampai presiden merasa wajib punya akun twitter. Saya juga punya, tapi followernya dikit, kacian deh ya... hehehe. Kalau facebook juga punya  walaupun teman saya nggak lebih dari 700-an. Bukannya ikut-ikutan tren, tapi lebih pada kewajiban sebagai orang tua yang kebetulan memiliki anak remaja. Nyambung nggak sih? Ehmmm istilah gaulnya itu ngestalk.. alias stalker

Awalnya saya nggak ngerti twitter itu apa, tapi setelah cari-cari kesana kemari akhirnya saya temukan juga. Abis rasanya nggak afdol kalau punya twitter (walaupun nggak punya follower) tapi nggak ngerti maksudnya hehehe... Twitter itu layanan sosial networking yang kategorinya microblogging alias ngeblog tapi cuma 1 paragraf yang maksimal 140 huruf. Kalau diibaratkan facebook itu sepak bola, nah twitter ini futsal. Kalau blogging itu membuat rumah, maka microblogging itu kandang ayam. Berbeda dengan facebook yang murni jejaring sosial, twitter ini adalah jejaring informasi. Nah... saya udah paham sekarang.

Beberapa tahun lalu facebook mungkin lebih populer dibandingkan twitter, facebook itu kan kakaknya twitter. Facebook lahir tahun 2004 dan twitter 2 tahun setelahnya. Walaupun sampai saat ini facebook populer tapi nampaknya twitter tak kalah boomingnya. Dan, sekarang saya jadi ngerti kenapa si kakak jarang aktif lagi di facebook, ternyata dia lebih sering ngobrol-ngobrol alias ngerumpi sama temennya di twitter.

Punya anak remaja usia belasan tahun memang agak repot. Mungkin ini juga yang dirasakan orangtua saya dulu ya? Remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Katanya sih, masa remaja itu adalah masa yang penuh permasalahan, masa terjadinya krisis identitas dan pencarian jati diri, ingin diakui eksistensi dirinya, suka memberontak, suka bereksperimen, senang berekplorasi, memiliki banyak khayalan, mimpi dan sejenisnya serta emosinya yang kerap tidak stabil. Mungkin saya dulu juga begitu, cuma suka nggak ngerasa aja. Ngerasanya suka nggak cocok sama ayah, jadi suka berontak gitu hehehe...

Secara umum karakteristik masa remaja saya dengan anak saya sekarang ini tidak jauh berbeda. Karena memang begitulah tahap perkembangan psikologisnya, seperti yang saya baca di artikel-artikel dan buku-buku tentang remaja. Tapi ada beberapa hal yang perbedaannya sangat signifikan, diantaranya cara mengungkapkan isi hati. Jaman saya dulu kalau lagi nggak enak hati atau galau istilah sekarang, saya lebih suka nulis di buku harian. Apa saja saya tulis di buku itu, terutama kalau nggak ada teman yang nyaman untuk diajak ngomong.

Lain dulu lain sekarang, twitter yang awalnya sebuah microblogging yang bertujuan sharing informasi saat ini sudah bergeser fungsi terutama di kalangan remaja sebagai diary tempat curhat.  Apa aja diomongin di twitter, hal nggak penting sekalipun. Dulu jaman saya remaja curhatnya di buku, remaja sekarang curhat di  twitter. Dulu kalau ada masalah berusaha orang lain nggak tahu, sekarang malah kalau bisa semua orang tahu. Mungkin ini ya yang namanya menunjukkan eksistensi diri atau mencari perhatian orang lain.

Makanya saya berpikir cukup penting untuk orang tua terutama yang memiliki anak remaja memiliki akun twitter sebagai sarana untuk mengawasi dan menjembatani komunikasi dengan mereka yang kadang kurang lancar. Dengan twitter saya jadi tahu dia tidak suka dengan perlakuan saya padanya, saya juga tahu kalau ternyata kata-kata saya membuatnya tersinggung, dan banyak lagi curahan hati yang mungkin tidak dia ungkapkan pada saya terungkap di twitter. Itu terjadi bukan hanya pada anak saya saja, keponakan, sepupu dan adik saya yang berusia remaja juga suka curhatnya di twitter. Hhhmmm... twitter memang sepertinya sudah menjadi tempat berkeluh kesah yang nyaman buat mereka.

Memahami remaja bukanlah hal yang mudah tapi kita dapat mempelajarinya dengan memahami tahap perkembangan psikologis mereka. Membangun komunikasi yang baik adalah salah satu cara untuk tidak membiarkan mereka menjadikan hanya twitter teman curhatnya. Dan untuk mengerti mereka kita sebagai orang tua juga harus "nyemplung" di dunia mereka, dunia twitter  hehehe...

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy