Jul 19, 2010

Advertisement

Sabar yang Seharusnya Tak Terbatas

Advertisement



Kota Tripoli Saat Malam


Sebenarnya ini adalah keinginanku (dengan suami) sejak lama, bisa tinggal di belahan bumi yang lain. Merasakan suasana yang benar-benar berbeda. Dan kesempatan ini memang benar-benar aku tunggu-tunggu.

Sejak suamiku bekerja di perusahaan dimana dia bekerja saat ini, keinginan itu sudah kami pupuk karena memang ada kesempatan. Hanya saja menunggu kesempatan itu datang membutuhkan kesabaran ekstra.......

Dan kesempatan itu benar-benar datang awal tahun 2010 ini. Surprise dan bahagia tentu saja..... Suamiku akan ditransfer ke Tripoli, Libya. Ehhhmmmm.... itu di Afrika Utara berseberangan dengan daratan Eropa yang dipisahkan laut mediterania. Pindah ke Afrika jauh dari bayanganku sebelumnya tapi siapa takut!!! Sejak itu aku sibuk lihat peta di google earth, pengen tau suasana kotanya gimana. Cari-cari info di internet gimana kehidupan di sana.. Share sama temen yang tinggal di luar negeri (walaupun bukan Libya) paling nggak aku tau persiapannya apa saja. Terutama sekolah anak-anak.

Awalnya rencana suamiku berangkat bulan April (2 bulan dari tanggal surat pemberitahuan). Ternyata nggak sesingkat yang kami bayangkan urusannya. Untuk mendapatkan visa... paspor, ijazah, dokumen lainnya ternyata harus ditranslate ke bahasa arab dan harus di legalisasi. Medical check up juga dimasukkan sebagai syarat untuk mendapatkan visa kerja. MCU harus dilakukan di klinik yang ditunjuk kedutaan besar Libya di Jakarta. Setelah check up kelar, masih harus menunggu surat undangan dari Libya untuk kemudian visa kita diproses di Jakarta.



Setelah menunggu dengan harap2 cemas, tanggal 3 Juni (4 bulan dari awal proses mentranslate dokumen) visa selesai. Tanggal 11 Juni suamiku berangkat, setelah melewati total 17 jam perjalanan (transit di Dubai 4 jam) dia sampai juga di Tripoli. Perkiraan 1,5 bulan lagi dia menjemputku dan anak2, sekitar akhir bulan July atau awal Agustus paling lambat.


Aku merasa 1,5 bulan bukanlah waktu yang lama, karena ditinggal lebih lama dari itu aku pernah merasakannya. Tapi sampai pertengahan awal Juli ternyata hasil blood test sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan ijin tinggal. Padahal Faiz anak bungsuku yang kebetulan tahun ini mulai masuk SD tidak kudaftarkan karena toh akhir Juli aku berangkat.

Tapi ternyata semuanya tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Semua meleset dari rencana. Tes kesehatan bermasalah hingga harus diulang sampai 3 kali. Sebenarnya kami sudah memperkirakannya. Tapi karena visa dari kedutaan Libya di Jakarta di approve, kami menganggapnya akan sama hasilnya, bahwa residence visa juga akan di approve.
Begitu suamiku memberi kabar harus di tes darah lagi, feelingku sudah agak nggak enak. Prosesnya akan memakan waktu yang lebih lama lagi. Dan yang aku pikirkan adalah sekolah Faiz. Karena dia terlanjur tidak aku daftarkan sekolah. Pada saat orang tua yang lain sibuk mendaftarkan anak2nya aku ada di Surabaya.

Kasihan juga kalau Faiz nggak sekolah, karena teman2 sebayanya di komplek perumahan tempat tinggalku, semuanya sekolah. Untungnya masalah ini terselesaikan karena ibu guru Firly waktu kelas 6 dulu, membantuku. Syukurlah... satu masalah selesai.

Sampai saat aku posting tulisan ini, kepastian kapan suami menjemputku dan anak2 belum bisa dipastikan.  Memang kenyataannya, mewujudkan mimpi atau keinginan butuh kesabaran ekstra ya..??? Sabar memang tak terbatas.. 



Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy