Apr 29, 2012

Advertisement

Ana Bahebbak ya Masr

Advertisement




Mesir adalah negara di bagian timur laut benua Afrika, yang sungai Nil membelah di tengahnya. Kekunoan peradabannya, membuat saya sejak dulu ingin mengunjunginya. Sekedar bermimpi saja untuk dapat sampai ke negeri ini. Selain cerita tentang pyramid, sungai Nil, Nabi Musa, Fir'aun, laut merah yang membuat saya tertarik adalah banyaknya mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negeri ini. Al-Azhar tempat di mana mereka menuntut ilmu adalah universitas tertua di dunia dibangun sekitar tahun 972  masehi. Itulah yang membuat Mesir menjadi salah satu tujuan kunjungan travelling saya suatu saat nanti.

Dari hanya sekedar bermimpi dan berangan-angan... tanpa saya duga, saya justru pindah dan bertempat tinggal di Kairo mengikuti tugas suami...  Yaa, saya pindah dari Pekanbaru, kota yang selama 8 tahun saya tinggali ke Kairo. Pertengahan Agustus tepatnya saya pindah. Saat Ramadhan dan saat musim panas.

Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Kairo, suasana khas Afrika dan tanah Arab yang tandus dan panas tidak membuat saya mengeluh. Melewati kota dalam perjalanan dari bandara ke apartemen di daerah Maadi bangunan-bangunan apartemen yang kotak dan bercat coklat membuat musim panas bertambah panas karena hijaunya pohon seperti di Indonesia tidak banyak saya temukan di sisi kanan kiri jalan. Waktu itu suhunya mungkin sekitar 39 derajat celcius. Sama dengan suhu udara di Pekanbaru, Surabaya atau Jakarta, hanya bedanya kalau di Indonesia udaranya lembab dan di sini kering.

Masalah pertama yang saya hadapi ketika sampai pertama kali di Kairo adalah jetlag, karena selisih waktu dengan Indonesia sekitar 5 jam. Butuh waktu selama 2 minggu untuk dapat benar-benar menyesuaikan diri dengan waktu yang berlaku di Kairo. Untung saja waktu itu sekolah anak2 libur jadi nggak menggangu kegiatan belajar mereka. Oh ya... untuk sekolah, ada sekolah Indonesia di Kairo yang kurikulumnya sama dengan sekolah di Indonesia. Untuk WNI tidak ada biaya sama sekali alias gratis.. dari TK sampai SMP.

Selain jetlag tidak ada masalah, suhu udara juga tidak terlalu mengganggu karena saya terbiasa dengan udara panas di Pekanbaru. Mencari teman di Kairo juga bukan masalah buat saya karena sebelum pindah ke sini, saya sudah menjalin kontak dengan mahasiswa asal daerah yang sama dengan saya, Jawa Timur. Ada sekitar 6000-an WNI di Mesir, jadi jangan kuatir merasa asing di sini hehehe...

Makanan selera Indonesia..??? Juga jangan kuatir... sebelum bisa menyesuaikan lidah kita dengan makanan berempah khas Arab kita tidak susah menemukan makanan Indonesia seperti bakso, ayam bakar, pecel lele, tempe mendoan & tahu.

Hambatan komunikasi jelas ada karena bahasa yang di pakai di Mesir adalah bahasa Arab 'Amiyah.  'Amiyah adalah bahasa arab gaul alias bukan bahasa arab baku. Sopir taxi kadang kurang bisa berbahasa Inggris. Mau nggak mau harus belajar dehhh... Kalau pernah belajar bahasa arab di Indonesia tentu nggak ada kesulitan soal komunikasi walaupun tetap harus belajar lagi bahasa 'Amiyah ini.

Keadaan kota Kairo sudah bisa saya tebak sebelumnya karena saya pernah membacanya di internet. Kairo adalah kota paling macet nomor 3 setelah Sao Paulo, Brazil dan Mumbai, India dari 10 kota paling sering macet di dunia. Jakarta sih masih lumayan duduk di nomor 5 hehehehe...  Lampu lalu lintas hanya seperti hiasan pelengkap jalan, tidak pernah ditaati dan inilah penyebab semrawutnya kota Kairo 
terutama di simpang-simpang jalan. Selain itu penyebab semrawutnya kota adalah parkir sembarangan. Jarangnya lahan parkir resmi menjadikan pemilik mobil parkir seenaknya. Pengemudi kendaraan juga ngawur, jadi jangan heran kalau mobil-mobil di Kairo banyak yang tidak mulus hehehe... Polisi yang ngatur di jalan juga sepertinya seperti patung aja, nggak ada yang nggubris. Katanya sih sejak revolusi Januari kemarin, polisi memang kurang dihargai.

Kesemrawutan dan kotornya kota Kairo bisa diobati dengan banyaknya tempat-tempat bersejarah di kota ini. Bangunan-bangunan tua yang umurnya ribuan tahun membuat kota ini eksotis.

Masjid Al-Azhar


Salah satu moda transportasi umum paling favorit di Kairo adalah Metro. Metro adalah transportasi railway system yang mulai dioperasikan pada tahun 1990. Selain murah yaitu hanya dengan 1 pound (= Rp. 1.500) kita dapat kemanapun ke seluruh penjuru Kairo, ketepatan waktu adalah salah satu alasan kenapa moda transportasi ini menjadi favorit. Kondisi keretanya tidak sebagus subway di Eropa tapi ketepatan waktunya jauh lebih baik dibandingkan di Indonesia hehehe...

Di Mesir, terutama di Kairo anda harus terbiasa dengan nada bicara orang-orangnya yang tinggi seperti orang berantem, tidak boleh marah jika diklakson mobil belakang karena di Kairo, ini sudah biasa. Tapi walaupun nada bicaranya tinggi, tidak sabaran terutama kalau di jalan raya.. orang-orang Mesir punya kebiasaan sangat baik, yaitu membaca Al-Qur'an di manapun mereka berada. Tidak peduli di tengah berjubelnya penumpang di dalam bis kota atau Metro mereka masih bisa membacanya sambil berdiri dan bergelantungan. Dari orang-orang yang berpakaian lusuh sampai orang kantoran yang berjas dan berdasi mereka tidak canggung membaca Al-Qur'an di tengah keramaian itu. Kebiasaan yang patut di contoh...

Saat ini (Oktober 2011) memasuki musim dingin yang ketika pagi hari suhunya 17 derajat celcius dan ini baru awal.  Perubahan cuaca hanya dalam waktu 2 bulan sejak saya pindah ke Kairo ini tidak membuat saya merasa tidak betah. 2 bulan saya di sini, saya mulai merasa jatuh cinta dengan negeri ini..  Saya merasa ini rumah kedua setelah Indonesia.

* Tulisan ini adalah postingan lama saya di sini

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy