Jul 12, 2013

Advertisement

Tissue oh Tissue

Advertisement


"Aku mau beli tissue dulu ya... Pilek nih"

"Jangan lama-lama sebentar lagi kereta mau datang" tukas saya.

"Halaaahh... kan masih lama" nadanya terdengar mengentengkan.

Tissue seakan menjadi barang wajib buatnya ketika berada di negeri Tropis ini. Dia selalu terserang flu saat berada di daerah dengan kelembaban tinggi. 

Jam di tangan menunjukkan pukul 09.15 WIB. Kereta dijadwalkan berangkat dari stasiun Gubeng jam 9. Saya memperkirakan sampai di stasiun Sidoarjo pukul 9.30 dan paling lambat 9.45.

Kurang lebih 10 menit setelah dia berpamitan, terdengar pengumuman bahwa kereta segera memasuki stasiun. Saya lihat di kursi sebelah, dia tidak ada. "Mungkin sebentar lagi datang" pikir saya.

Saya mendadak sangat panik ketika melihat kereta benar-benar datang. Namun belum juga terlihat batang hidungnya. Saya telepon, ternyata telepon di bawa Faiz. Ya Allah, dia tidak membawa handphonenya. Saya intip keluar tak juga saya temukan sosoknya. 

Duh! Beli tissue di mana sih dia?

Saya mecoba nego pada petugas PPKA untuk menunggu barang beberapa menit.  

"Kereta hanya menunggu maksimal 3 menit bu", jelas petugas ituJantung saya berdegub kencang. 

Saya bilang pada anak-anak.  "Sudah masuk saja dulu, kalau nggak muncul juga biar saja kita tinggal."  Sambil memasukkan barang bawaan kami yang tidak sedikit itu ke gerbong kereta. Ada 2 koper, 5 ransel dan 1 barang untuk oleh-oleh bapak dan Ibu.

Saya keluar lagi dari gerbong kereta yang sudah besiap berangkat. Melihat ke arah luar stasiun. Terlihat sosok laki-laki berkaos coklat itu berjalan dengan santainya. Segera saya berlari, meneriakinya.  
"Keretanya udah datang itu lho!! Cepetan!" 
Nafas saya ngos-ngosan, untung saja tidak punya riwayat sakit jantung. Setelah itu dia baru berlari masuk menuju stasiun. Tanpa rasa bersalah dia berkata,
 "Eh, sudah datang ya? Kirain masih lama.."
Tentu saja saya marah-marah, jengkel. Bagaimana tidak, hanya untuk membeli tissue saja, dia pergi ke minimarket yang berada jauh di luar stasiun. Hampir saja dia ketinggalan kereta yang artinya kehilangan tiket seharga Rp. 205.000. Hanya karena tissue.

Kejadian seperti ini tidak hanya sekali terjadi. Suami saya itu kelewat nyantai sedangkan saya adalah orang yang cenderung disiplin. Ya.. sosok laki-laki bekaos coklat yang hampir ditinggal kereta itu adalah suami saya.

_______
12 Juli 2013 (3 Ramadhan 1414 H)
Ditulis dalam perjalanan menuju Banyuwangi. Di atas kereta Mutiara Timur Pagi saat berada antara kota Pasuruan dan Probolinggo.



Advertisement

9 comments:

Rini Uzegan said...

wah, ternyata samaan yah :D

Lidya - Mama Cal-Vin said...

berarti harus terus stok tissue kemana-mana ya, tapi kadnag aku juga lupa tissuenya tertinggal :)

Ellys Utami said...

Hehe.... nyebelin nggak mbak Rini? Saya sih suka kesel sama kelakuannya yang nggak pernah berubah. Tapi kalau berubah jadi kurang seru ya mbak?? :))

Ellys Utami said...

Akibat kurang disiplin, bolak balik beli tisu pun masih suka ditinggal entah di mana mbak.. hehe...

Traveler Family said...

Aihhhhh--- lek aku wes jantung rasane arep copot, Mbak.. Aku hektik lek arep lungo. opo maneh numpak sepur utowo pesawat. Lek iso sak jam 2 jam sakdurunge wes siyap... ira

Ellys Utami said...

Lha iku mau jantungku wes ape copot mbak Ira... dadakno wonge nyantai pol gak rumongso :D

Stasiune cedak teko omah mangkane teko 45 menit sakdurunge sepur budal. Lha tak pikir gak butuh metu tuku opo2 maneh. Tibakno ono sg butuh tisu hahaha...

keke naima said...

kl sy yg ngalamin kyk gitu biasanya suka jd rada ngomel panjang, Mbak hihi

Hana sugiharti said...

DUh saya juga pasti ngomel2 hihi

Riski Fitriasari said...

kalo saya udah diem aja mba selama perjalanan, walo dia mau ngomong apa juga.. hehehehe.. Berarti ntar2 kalo mau pergi harus nyetok tissue yg banyak ya mba.. :D

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy