Feb 28, 2013

Advertisement

Masjid Ibn Thoulun: Arsitektur Tua nan Eksotis

Advertisement



Sebelum tinggal di Kairo, saya tidak begitu tertarik membaca sejarah. Itu sebabnya pengetahuan sejarah saya tidak begitu bagus. Namun sejak menetap di Kairo, barulah saya tertarik membaca beberapa sejarah terutama tentang sejarah peradaban Islam. Menarik saya pikir, belajar sejarah dan menyaksikan langsung peninggalannya. 

Begitu juga dengan fotografi, jujur saya menggeluti hobi yang satu ini sejak tinggal di Kairo. Tinggal di salah satu pusat peradaban Islam dunia tapi tidak mengabadikan peninggalan yang penuh sejarah itu dengan baik, rugi banget. Inilah yang menjadi salah satu alasan saya belajar fotografi.



Beberapa minggu lalu, saya berhasil merayu suami untuk menemani saya "memperbaiki" foto masjid Ibn Thoulun milik saya, ini sudah kali ketiga mengunjunginya. Karena dari 2 kali kunjungan, foto masjid Ibn Thoulun yang ada dalam hard disk komputer saya tidak ada satupun yang memuaskan. 


Yang kunjungan kali pertama, saya belum kenal betul dengan yang namanya komposisi, angle dan sebagainya jadi fotonya asal jepret saja lalu yang kedua kali salah setting ISO jadi gambarnya penuh noise dan jadi berantakan gitu deh. Tahunya begitu saya lihat hasilnya di monitor komputer dan lihat data foto (EXIF)nya oalahhhhh.. Gara-gara itu saya bela-belain ke masjid Ibn Thoulun sampai 3 kali hehehe..


Selepas dzuhur saya berangkat dari rumah di kawasan Ma'adi naik taxi. Sebenarnya kalau lewat jalan Autostroad ongkosnya hanya sekitar 18-20 LE saja, tapi si sopir ini emang rada menyebalkan, karena sudah dibilang lewat autostroad malah muter lewat ringroad dan turun corniche nil yang lebih jauh. 


Alhasil, ongkos taxinya 8 LE lebih mahal, sepertinya ini akal-akalan si sopir deh.. huuuhh. Memang harus hati-hati dengan sopir taxi di Kairo, untungnya suami bisa sedikit bahasa amiyah jadi bisa tuh ngomelin si sopir. Walaupun dongkol akibat ulah sopir taxi, tapi akhirnya sampai juga di tujuan.


____

Arsitektur masjid ini sangat berbeda dengan arsitektur masjid di Mesir pada umumnya. Masjid yang berbentuk persegi dengan halaman tengah yang luas, hanya memiliki 1 menara tapi tidak memiliki kubah kecuali pada bagian ablution fountain (tempat wudhu) atau dalam bahasa arab disebut sabil yang berada di halaman tengah masjid. 

Menara spiral yang berfungsi untuk tempat menyerukan adzan inilah yang menjadi salah satu ciri khas masjid ini. Arsitektur masjid relatif simple dan tidak banyak detail seperti yang terdapat pada masjid-masjid di Mesir. Masjid Ibn Thoulun merupakan bangunan masjid tertua kedua di Mesir setelah masjid Amru bin Aas.



13619887911264938940
Courtyard masjid Ibn Thoulun difoto dari atas (dok. pri) 
13619917801861423788
Menara berbentuk spiral yang menjadi ciri khas masjid Ibn Thoulun (dok. pri)
13619935021317699156
Menara dan kubah masjid di samping masjid Ibn Thoulun, foto dari atas menara (dok. pri)

Terletak di sebuah kawasan padat penduduk yang terbilang kumuh, masjid Ibn Thoulun masih memperlihatkan keeksotisannya. Masjid yang berada di belakang 2 masjid besar, yaitu masjid Sultan Hassan dan masjid Rifa'i ini adalah satu-satunya masjid yang arsitekturnya masih asli. Tidak dirubah sedikitpun kecuali hanya penguatan dan penambalan di beberapa bagian masjid sebagai bagian dari perawatan. 

Maklum saja masjid yang umurnya sudah mencapai 1134 tahun karena dibangun pada tahun 876 Masehi dan selaesai pada 879 Masehi. Angka yang wow yah?? Saya saja sampai melongo lihat angka itu hahaha... lebay.


Masjid Ibn Thoulun dibangun pada masa dinasti Abbasiyah, dibangun oleh Ahmad Ibn Thoulun yang merupakan gubernur pada masa itu dan berkuasa antara tahun 868-884 Masehi. Masjid ini sebenarnya berada di atas sebuah bukit kecil yang bernama Gabal Yashkur, namun karena saat ini sudah menjadi kawasan pemukiman padat maka bukitnya sudah tidak terlihat lagi. 

Menurut sejarah masjid ini adalah masjid istana dan letaknya berdekatan dengan istana Ibn Thoulun, tapi pada abad awal abad 10 bangunan istananya di runtuhkan sehingga peninggalan dinasti Tulunid hanya berupa masjid yang sedang saya ceritakan ini.


Ruangan masjid Ibn Thoulun hampir tidak bersekat dan berdaun pintu, terdiri dari pilar-pilar dengan bentuk melengkung (arcade). Bagian pilar masjid terdapat ragam hias berupa ukiran dan kaligrafi. Mimbar untuk khutbah berada di atas, mirip sebuah panggung.


1361990897433479333
Pintu tak berdaun :)
13619926591793540318
Mimbar yang berbentuk panggung (dok. pri)
1361992913358417095
Salah satu prasasti yang terdapat di pilar masjid (dok. pri)



Bangunan utama masjid dikelilingi sebuah tembok setinggi tembok masjid berukuran 118 x 138 meter, berfungsi sebagai pagar dan terdapat halaman kecil dibalik pagar yang disebut Ziyadas. Bagian utara Ziyadas terdapat pintu untuk naik ke atas menara. Bentuk menara spiral ini ternyata mengadopsi bentuk menara masjid Samarra di Iraq. Dari atas menara ini kita bisa lihat keseluruhan bangunan masjid juga menara-menara masjid lain yang menjulang di antara bangunan apartemen.


13619893401971545834
Ziyadas atau halaman kecil di dalam pagar (dok. pri)
1361992803960261872
Salah satu pintu dari bangunan utama masjid Ibn Thoulun (dok.pri)


Untuk masuk ke masjid Ibn Thoulun, tidak dikenakan tiket masuk (seperti masjid-masjid di sepanjang Muizz street) karena masjid memang masih digunakan untuk sholat hanya memberi tip untuk penjaga masjid yang juga menjaga penitipan sandal. Ada yang unik, bagi pengunjung yang memakai sepatu, tidak perlu melepas sepatu untuk berkeliling ke dalam masjid karena penjaga akan membungkus kaki kita (termasuk sepatunya) dengan kain. Jadi kalau mau foto, kakinya jangan ikut difoto ya... mirip Aladdin hahaha..... Ini adalah bagian dari upaya penjaga masjid agar pengunjung memberi tip padanya.


Walaupun masjid ini masih berfungsi untuk sholat, tapi jangan datang di atas jam 4 sore karena masjid Ibn Thoulun tertutup untuk pengunjung selepas jam tersebut. Saya juga tidak tahu apakah di luar jam tersebut pintu gerbangnya masih terbuka atau tidak.


Sudah puaskah saya dengan foto-foto saya setelah kunjungan ketiga ini?? Ternyata belum sodara-sodara.... Masih ada sesuatu yang yang membuat saya penasaran dan masih ingin balik lagi ke masjid Ibn Thoulun yang tua dan eksotis itu untuk membuat foto yang lebih bagus lagi. Mumpung masih tinggal di Kairo kan? hehehehe...




Salam hangat dari Kairo...

Tulisan ini dimuat di lembar Kompasiana Freez, harian Kompas (6 Maret 2013)

Advertisement

7 comments:

Risablogedia said...

masya allah ... cantik sekaliiii ...
makin iri daku padamu, mba ... pengin juga jalan2 ke sana ihiks
btw, kirim2 artikel perjalanan ke media indo bakalan keren, mba!
atau sekalian bikin buku soal kairo, ancient in cairo mungkin :D ;p

Lisa Tjut Ali said...

subhanallah suka kali lihat gambarnya, cantik dan klasik namun tetap terkesan modern

Ellys Utami said...

Tak do'ain mudah2an punya kesempatan berkunjung ke Mesir ya mbak Risa... Mesir itu salah satu pusat peradaban manusia, dan jejaknya itu masih ada sampai sekarang. Pokoknya nggak rugi deh kalo ke sini... :)

Ellys Utami said...

Mbak Lisa... Ini bener2 bangunan 1000 tahun lalu dan masih utuh... Keren deh pokoknya :)

Niar Ci Luk Baa said...

Salah satu keuntungan tinggla dinegeri orang, lebih bisa mengeksplor lagi apah yang ada di negara tersebut yaa mbak, keren banget lho foto2nya, coba kakinya difoto juga dong yang dibuntel kresek :D

Traveler Family said...

I see, ternyata ada pula masjid yang mengutip tarif masuk, ya Mbak. Kalau yg begitu, berarti sudah tidak digunakan sebagai sarana ibadah lagi?

ira
www.keluargapelancong.net

Ellys Utami said...

Iya itu juga baru saja koq mbak.... Sebelumnya sih bebas keluar masuk sama foto2. Mungkin gara2 banyakan yg foto2 drpada yg sholat kali ya? Hehehe.. Atau mungkin ini juga bagian dari upaya pemerintah untuk memelihara peninggalan sejarah di Mesir. Maklumlah Mesir bukan negara berlimpah secara ekonomi jadi butuh dana banyak untuk itu. :)

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy