Nov 5, 2014

Advertisement

Catatan Haji #2: The Journey Begins

Advertisement



Terminal 1, Cairo International Airport

Di loket check in, ground staff Flynas terlihat sangat sibuk. Hampir 90% penumpangnya adalah calon haji. Antriannya lumayan panjang. Padahal ada 5 loket yang dibuka. Rombongan kami saja sekitar 70an orang.

Proses boarding agak terlambat dari jadwal sekitar 20 menit. Akhirnya kami lepas landas dari Cairo Airport pukul 21.40 menuju Jeddah. Atmosfer dalam pesawat malam itu berbeda dari penerbangan biasa. Semua penumpang sepertinya khusyuk bertalbiyah. Sedangkan saya, sibuk mengusap air mata. Sudah berusaha menahannya namun gagal. Ahh.... saya memang tak sedang bermimpi malam ini. Merinding jika mengingat semua proses yang saya lewati kemarin. 

Alhamdulillah perjalananan selama kurang dari 2 jam ini lancar. Pesawat Flynas yang membawa kami mendarat dengan mulus. Ternyata bandara King Abdul Aziz, Jeddah belum tutup. Masih menunggu pesawat kami mendarat. Mungkin ini yang terakhir sebelum bandara benar-benar ditutup untuk penerbangan haji. Wukuf kurang 4 hari lagi.

Proses Imigrasi

Tiba di loket pemeriksaan imigrasi, saya lihat tidak terlalu panjang antriannya. Relatif sepi. Tidak seperti cerita ibu saya yang katanya harus mengantri hingga 4 jam saat pemeriksaan imigrasi. Mungkin karena malam ini sudah kedatangan terakhir jamaah calon haji.

Setelah cek paspor dan ambil bagasi bergegas kami ke loket selanjutnya. Ada sekitar 2 loket yang harus kami lewati. Yang pertama adalah loket kontrol kedatangan jamaah dan yang kedua adalah loket penukaran cek senilai 1,300 SR (yang harus dibayar pada saat pengajuan visa).

Cek tersebut ditukar dengan sticker yang ditempel di paspor. Merupakan tanda bukti pembayaran rusum yaitu transportasi Jeddah-Makkah, Makkah-Madinah dan Madinah-Jeddah serta untuk fasilitas tenda selama di Mina dan Arafah.

Baru setelah itu rombongan diarahkan menuju bis yang akan mengantar kami ke maktab dan penginapan. Terbagi dalam 2 bus yang berbeda. Setelah sebelumnya paspor ditempeli sticker tanda maktab. Lalu dikumpulkan sebelum naik ke dalam bus. Sebelumnya sudah diingatkan oleh ustadz Erwin untuk benar-benar memastikan tas kita berada di bus yang kita naiki. Karena akan sangat merepotkan dan hampir dipastikan sulit dilacak keberadaannya jika tas itu salah masuk bus.

Sampai di sini, paspor sudah tidak di tangan kita lagi. Sudah berada dalam "genggaman" panitia haji kerajaan Saudi hingga kita kembali ke negara asal. 

Rombongan kami masuk dalam maktab 179. Maktab ini merupakan gabungan dari jamaah haji mandiri asal Yaman, Jordan, Maroko dan Mesir. 

Proses administrasi di bandara memakan waktu lumayan lama. Dari mulai pesawat mendarat hingga bis berjalan menuju maktab menghabiskan waktu hampir 4 jam. Cukup melelahkan..


Sesaat setelah mendarat, menunggu proses imigrasi

Terminal Haji, Bandara King Abdul Aziz Jeddah
Menunggu masuk ke dalam bus
Masuk Mekkah


"Yaa Allah... kota ini adalah Tanah Haram-Mu dan tempat aman-Mu, maka hindarkanlah daging, darah, rambut dan kulitku dari api neraka. Dan selamatkanlah diriku dari siksaMu pada hari Engkau membangkitkan kembali hambaMu dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang selalu dekat dan taat kepadaMu" (do'a masuk kota Mekkah)
Sebelum subuh, bus yang membawa rombongan kami, meninggalkan bandara menuju Mekkah yang berjarak sekitar 107 km. Sholat subuh terpaksa kami lakukan di atas kendaraan, sebelum akhirnya memejamkan mata karena ngantuk yang teramat sangat. 


Sebelum memasuki kota Mekkah, bus dan kendaraan lainnya harus melewati beberapa check point. Menjelang puncak ibadah haji pemeriksaan sebelum masuk kota Mekkah dan Madinah sangat ketat. Tidak ada yang boleh masuk ke 2 kota ini selain pemilik visa haji.


1,5 jam kemudian bis kami berhenti di sebuah bangunan bertuliskan maktab 179. Sepertinya sudah sampai di penginapan. Sopir turun membawa bungkusan berisi paspor penumpang ke dalam gedung itu. Sebagai gantinya, paspor akan diganti dengan gelang dan kartu identitas. Lama kami menunggu. Badan sudah terasa sangat lelah plus mata kliyep-kliyep.

Tiba-tiba sopir masuk ke dalam bus sambil teriak-teriak (tidak begitu jelas apa yang dia teriakkan itu). Nyatanya semua penumpang cuek dan tetap duduk manis di kursi masing-masing. Bahkan beberapa orang masih tertidur pulas.


Si sopir bertubuh tambun itu turun dengan wajah bersungut-sungut sambil mengomel. Beberapa dari kami turun dari bis. Ternyata si sopir membuka pintu bagasi sambil 'mencampakkan' koper-koper yang ada di dalamnya. Kami pikir sudah waktunya turun karena sudah sampai.

Saya juga memanggil suami untuk segera menurunkan koper dari bagasi. Sopir yang orang Mesir itu terus saja ngomel sambil mengosongkan bagasi bisnya. Salah satu teman tiba-tiba nyeletuk"Ohh... kayaknya dia minta uang tapi gak ada yang menggubris. Makanya dia dongkol gitu."

"Lho koq semua barang diturunkan, kita belum nyampe penginapan. Penginapan kita di Aziziah, bukan di sini" protes ustadz Erwin pada si sopir.

Si sopir tak bergeming. Dia terus saja mengeluarkan koper2 kami dari dalam bagasinya. Entah kemudian apa yang mereka berdua negoisasikan. Tampaknya si sopir keukeh pada pendiriannya. Yang jelas, bis meninggalkan kami di tempat itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 kami masih saja berdiri di trotoar. Tidak jelas apa yang harus kami lakukan. Sedangkan rombongan yang lain masih menunggu dalam bis. 


"Ibadah haji adalah ujian kesabaran. Dan saat ini telah dimulai...." tutur pak Mustafa (wartawan kompas yang ikut dalam rombongan kami)
Tiba-tiba ustadz Erwin berkata..

"Tadi saya sudah nego sama sopir bis satunya. Alhamdulillah dia mau mengangkut kita semua ke penginapan di Aziziyah. Tapi saya minta beberapa orang yang mau ikut saya naik taxi. Terutama yang laki2 yang tidak bersama mahramnya. Karena bis tidak akan cukup untuk 70 orang.." 
Sampai Penginapan

Tidak sampai 1 jam, kami sampai di sebuah apartemen sederhana berlantai 5. Berada di 100 meter dari jalan Abdullah Khayyat. Inilah penginapan kami selama berada di Mekkah selama 2 minggu ke depan.


Apartemen kami ini lokasinya cukup jauh dari Masjidil Haram, sekitar 5 km. Tidak ada layanan bis khusus seperti jamaah haji Indonesia. Jadi untuk menuju masjid kami harus naik taxi yang bertarif sekitar 10-20 riyal.


Rencananya sore sebelum waktu ashar, kami berdua akan melaksanakan umrah karena kami sudah berniat mengambil haji Tammatu'. Masih ada waktu beberapa jam untuk beristirahat. 

Ini penginapan kami di Mekkah


Catatan selanjutnya...  Tersesat Di Mina







Advertisement

1 comments:

Riski Fitriasari said...

Subhanallah, saya ikut terharu membaca postingan ini. Banyak yg tabah berhaji walau tidak difasilitasi negara. Semoga mabrur Ka, amiin.

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy