Nov 30, 2014

Advertisement

Haji (setengah) Backpacker #5: Jalan Pulang yang Tak Mudah

Advertisement


Sampai detik-detik kepulangan kami ke Kairo ternyata drama belum berakhir.....

Pukul 12.00, kami check out dari penginapan. Menuju airport dengan menumpang taxi. Jadwal penerbangan kami pukul 14.15 dengan Nile Air.



Setibanya di terminal N (internasional) bandara King Abdul Aziz Jeddah segera kami cari counter Nile Air untuk check in. Kami sodorkan tiket dan paspor. Petugas membolak balik lembaran paspor kami dan bertanya, "Hajj visa???" Ya jawab saya. Lalu dia memanggil seseorang. Dan ia bertanya, "Kamu beli tiket di mana??"

"Travel agent di Madinah.."jawab suami.

Betapa terkejutnya kami saat dia mengatakan bahwa Nile Air tidak menerima penumpang dengan visa haji. What???! Jadi salah kami di mana? Kami booking, kemudian tiket di issued dan kami membayar tunai.

"Saya nggak tau, kenapa tiket itu bisa keluar."

"Kalau anda saja heran, apalagi kami. Lalu bagaimana ini??" Tanya suami

"Ya kami tetap nggak bisa angkut kalian. Mari Ikut saya... "

Kami lalu membuntuti orang itu menuju sebuah kantor. Saya duduk menunggu dan suami masuk. Entah apa yang dibicarakannya di dalam. Yaa Rabb apa lagi ini. Sekitar 30 menit kemudian suami keluar..

"Kita harus segera cari tiket lagi. Tiket yang ini gak mungkin bisa kita pakai lagi. Mereka bilang, nanti ke kantor saja untuk refund.."


"Hah?? Cari tiket dadakan begini emang nggak susah?"

"Tadi sudah aku tanya ke travel. Mungkin ada, harganya kisaran 1000 Riyal. Mereka bilang segera saja ke counter Saudi Airline biar bisa ikut flight jam 5 sore ini. Counternya ada di bandara sebelah sana. Kita ke sana naik taxi.."

Bergegas kami cari taxi. Tiba-tiba seorang pria paruh baya menawarkan diri..

"Taxi? Mari saya antarkan.." katanya
Awalnya kami ragu, namun orang itu berhasil meyakinkan kami.

"Saya mau cari tiket Saudi Airlines. Antar saya ke bandara Saudi Airlines.."
Bandara King Aziz Jeddah ini memiliki 3 terminal. Terminal Internasional, terminal khusus haji dan umrah serta terminal khusus maskapai Saudi Airlines.

"Ok.. saya tahu." kata laki-laki itu.

"Berapa?" Tanya suami

"Tsamaniyah.."katanya

Mendengarnya saya sedikit terkejut "Koq murah mas? Nggak digenapin 10 aja"bisik saya

"Ya udah nanti kita genapin 10," jawab suami.

10 menit kemudian kami sampai bandara yang dimaksud. Suami menyodorkan uang 15 riyal. Tapi ternyata si sopir taxi mengatakan bahwa ongkosnya tsamanin alias 80 riyal. Duh.. ternyata ada scammer juga di sini. Dikira nggak tahu kali yah bedanya tsamaniyah dengan tsamanin.

Setelah sedikit adu argumen, suami mengatakan bahwa ongkos dari kota saja hanya 20. Lha ini antar bandara koq 80. Akhirnya si sopir mau disodori uang 25. Buru-buru saya turunkan koper dari bagasi taxi. Dan masuk ke dalam bandara. Suami segera mencari counter SA di dalam. Sedangkan saya menunggu pasrah sekaligus cemas. Bisa pulang malam ini atau harus menginap di bandara. Sedangkan Faiz sudah beberapa kali bertanya melalui Whatsapp, "Bapak sama ibu jadi pulang hari ini kan?"

Kurang lebih 1 jam berlalu, tiba-tiba saya ingat sesuatu. "Backpack saya mana ya. Koq nggak ada?? Saya cari disekitar tempat saya duduk. Dan tidak ada. Duh.. dimana ya?? Sepertinya nggak mungkin tertinggal di taxi karena saya ingat betul tidak ada barang lagi setelah saya turun tadi. Ahh.. mungkin dibawa suami, pikir saya.

Beberapa saat kemudian suami muncul. Saya pun bertanya, 
"Dapat tiketnya?" 

"Aku dapat tiket tanpa bayar. Kita check in sekarang. Flightnya jam 18.40"

"Koq bisa???" Tanya saya tak percaya

"Aku tadi ke kantor flynas. Yang kebetulan ada disebelah kantor SA. Mencoba reschedule tiket kita. Ternyata bisa, mereka tidak minta tambahan biaya sepeserpun."

Padahal menurut teman satu rombongan kami yang juga coba reschedule tiketnya 10 hari lalu, bilang tidak bisa. Dan tiketnya hangus.

Ternyata, waktu antri untuk beli tiket SA (setelah muter kesana kemari), dia melihat kantor Flynass yang bersebelahan dengan kantor SA. Sebenarnya nothing to loose sih, dapat syukur, nggak dapat berarti memang rejeki kami harus beli tiket lagi. Dan nyatanya Allah memberi pertolongan tepat waktu. Alhamdulillah..

Bagaimana dengan backpack yang hilang? Kami sudah mencarinya di semua sudut bandara, di kantor lost and found juga bertanya pada polisi, namun hasinya nihil. Kami tak menemukannya hingga waktu boarding. Ya sudah, saya harus mengikhlaskan kamera Sony saya, yang berisi foto-foto selama 20 hari kemarin. Terutama foto selama berjalan antara Afarah ke Muzdalifah dan ngemper di jalanan Mina. Biarlah tanpa kenangan gambar tapi saya akan ingat seumur hidup tentang momen itu. Dan tidak akan pernah lupa. Beruntung tidak ada dokumen penting (paspor) dalam backpack itu. Semoga saja backpack beserta isinya bermanfaat buat yang menemukannya. 

Soal refund tiket Nile Air belum terpikirkan. Yang penting bisa pulang ke Kairo dulu. Dan tepat pukul 22.00 waktu Kairo, kami kembali menghirup udara bumi para anbiya ini. Terlambat 1 jam dari jadwal semula. Menginjakkan kaki lagi di rumah. Alhamdulillah.

Tidak ada yang mudah dalam hidup, semua butuh usaha dan prasangka baik kepadaNya. Sungguh perjalanan ini adalah perjalanan yang sarat pelajaran dan makna. Kerepotan-kerepotan yang terjadi tidak sebanding dengan perjalanan menghadiri undangan yang sampai 15 tahun lebih awal ini.

Maadi, 19 Oktober 2014



Tiket Nile Air akhirnya berhasil di refund. Dari total 1600 Riyal kami dapat lebih dari separuh, 1000 riyal. Backpack tetap tidak diketemukan. Beruntung masih ada sedikit foto yang tersimpan di ponsel.

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy