Nov 12, 2010

Advertisement

Anak Berwajah Sederhana........

Advertisement





Pria berperawakan kecil itu sedang berdiri di bawah menara Eiffel, ikon kota Paris yang terkenal itu.. Menikmati semilir angin, dan lampu-lampu yang gemerlap seperti butiran-butiran batu mulia warna warni. Dia menerawang jauh ke masa 30 tahun lalu. Ya.. ketika waktu itu dia masih menjadi seorang anak kecil umur 7 th.

Anak itu berkulit sawo matang, wajahnya sederhana tapi terlihat sekali dia anak yang cerdas. Dia sedang asyik bermain bola di sebuah lapangan desa berlumpur bersama teman-temannya berlanjut dengan menceburkan diri ke sungai. Kehidupan khas anak-anak desa, menyenangkan. Anak berwajah sederhana itu tinggal bersama orang tua, 6 orang kakak dan 2 adiknya. Rumah berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah yang sebenarnya terasa sangat sempit untuk 11 orang itu, tidak menghilangkan keceriaan khas anak-anaknya. 

Ayahnya seorang pekerja keras, karena keadaanlah yang mengharuskannya begitu. Bersama sang istri berjualan bakso keliling di kota, sehingga memaksanya jauh dari keluarga dan seminggu sekali bahkan kadang lebih pulang untuk berkumpul dengan anak2nya. 
Si anak berwajah sederhana itu tidak sekalipun pernah menyesali keadaan ini, menikmatinya seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada raut sedih dilahirkan dalam keluarga yang kurang beruntung. Yaaa... dia sangat menikmatinya.

Di sekolahnya... dia anak yang pendiam, tidak banyak bicara tapi pandai dan dia menonjol diantara teman-temannya yang lain. Hobinya membaca buku-buku sejarah kumal, majalah-majalah bekas, dan koran-koran bekas, di rumah yang fasilitasnya serba terbatas itu. Dia cerdas.. dan tidak ada yang memaksanya untuk pintar.

Permainan bolanya terhenti ketika sebuah bayangan pesawat terbang melintas di atasnya. Di arahkannya kepalanya ke atas untuk melihat...... kagum. Yang ada di pikirannya saat itu, mungkinkah bisa berada di dalam rongga si burung besi untuk melintasi dan singgah di benua yang ada di belahan bumi ini. Karena dia menyadari keadaanya yang tidak bisa dikatakan mampu itu... "Mimpikah aku jika aku ingin ke benua Amerika, Eropa, Afrika, Australia, dan bagian lain di benua Asia.. " begitu gumamnya. Dia anak berwajah sederhana, tapi apa yang ada dalam pikirannya sungguh tidaklah sederhana.

Saat ini 30 tahun berlalu, ketika dia berdiri dibawah menara megah yang tempatnya ribuan kilometer dari tempatnya bermain bola di lapangan desa, dia tertegun... Sebelumnya, si anak berwajah sederhana itu sudah singgah ke benua Amerika dan Afrika... Yahhh saat ini dia sedang berdiri di salah satu bagian di benua Eropa. Mimpinya yang tidak sesederhana penampilannya itu ternyata menjadi kenyataan. Wajahnya masih tetap seperti dulu... sederhana.

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy