Aug 4, 2012

Advertisement

Ramadhan Musim Panas di Mesir

Advertisement









Ramadhan merupakan bulan suci bagi seluruh umat muslim dunia, di bulan ini umat muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh sebagai bagian dari rukun Islam. Tentu saja tidak ada pengecualian aturan antara umat muslim di masing-masing negara, semuanya sama. Bepuasa sejak terbit fajar (Subuh) hingga terbenamnya matahari (Maghrib).


Mungkin bagi warga muslim yang tinggal di negara yang beriklim tropis, puasa sehari penuh hanya perlu waktu sekitar 13-14 jam. Iklim tropis dengan suhu udara berkisar antara 28 - 32 derajat celcius serta dengan kelembaban yang cukup tinggi tentu tak banyak menimbulkan masalah serta tantangan. 

Lain halnya bagi muslim yang tinggal di belahan bumi bagian utara, semakin ke utara semakin lama waktu puasanya terutama saat musim panas seperti ini bahkan di Rusia, matahari nyaris tak pernah tenggelam sehingga menyebabkan waktu puasa bisa mencapai 20 jam. Mesir merupakan wilayah Afrika bagian utara dengan kondisi geografisnya yang didominasi gurun. Walaupun Mesir juga merupakan wilayah delta Nil yang subur, tapi di bagian lainnya adalah gurun pasir yang tandus menyebabkan suhu udara semakin terasa panas dan kering.

Bulan ini merupakan puncak musim panas di Mesir, berpuasa selama 16 jam di suhu 40 derajat salah satu hal yang sangat berbeda dengan ramadhan-ramadhan yang saya lalui sebelumnya. Tidak seperti di Indonesia yang beriklim tropis sehingga suhu udaranya relatif sejuk dan lembab, di Mesir saat musim panas seperti ini kelembaban udara nyaris tidak ada. Ini yang membuat tenggorokan, kulit dan bibir cepat sekali terasa kering.

Iklim yang panas dengan kelembaban rendah serta waktu puasa yang panjang akan lebih cepat membuat tubuh mengalami dehidrasi. Untungnya, saat musim panas seperti ini buah-buahan yang mengandung banyak air memang sedang musimnya, seperti semangka, melon dan anggur. Jadi asupan vitamin dan air yang memang dibutuhkan tubuh saat musim panas terlebih saat puasa tidak perlu di khawatirkan. Semangka menjadi buah wajib yang harus tersedia saat berbuka puasa.

Ketika musim panas, waktu memulai puasa adalah jam 3.25 dan akan berbuka pada jam 19.00 sedangkan tarawih di masjid biasanya berakhir pada jam 22.30 dilanjutkan tadarus Qur'an sampai jam 23.30. Dengan begitu waktu tidur malam sangat singkat.

Kebiasaan orang-orang Mesir tidak tidur hingga waktu sahur tiba, dan baru tidur setelah subuh, alasannya mungkin biar waktu subuhnya nggak kelewatan. Makanya kehidupan malam di Mesir lebih hidup saat malam hari. Toko-toko, pusat perbelanjaan, warung asyir (jus), dan taman-taman kota biasanya ramai pengunjung di atas jam 23.00. Dan jangan heran kalau pusat perbelajaan baru buka lagi jam 12.00 keesokan harinya.

Kebiasaan begadang orang Mesir sebenarnya tidak hanya saat bulan Ramadhan saja, tapi sepanjang musim panas mereka melakukan hal itu karena waktu malam yang relatif pendek. Karena kebiasaan ini juga, pola makan mereka tidak seperti orang kebanyakan, misalnya saja sarapan pada jam 10.00, makan siang jam 15.00 - 18.00, sedangkan makan malam di atas jam 23.oo.

Kebiasaan lain orang Mesir saat Ramadhan adalah membaca Al-Qur'an di manapun mereka berada. Kebiasaan baik ini juga tak hanya mereka lakukan saat Ramadhan saja tapi juga di hari-hari biasa, namun akan lebih terlihat intensif selama bulan Ramadhan. Di atas metro, bus umum, atau sedang menunggu sesuatu, mereka tak lepas dari Al-qur'an kecil di tangan dengan mulut yang komat kamit membacanya. Kebiasaan ini mungkin jarang kita temukan di Indonesia.

Dan satu lagi... , Di Mesir menurut mahasiswa yang sudah bertahun-tahun tinggal di Kairo tidak pernah ada perbedaan penentuan awal Ramadhan atau Idul Fitri. Semuanya patuh pada keputusan Dar Al-Iftah semacam Majelis Ulama di Indonesia, pemerintah dan ulama bersinergi menyamakan persepsi sehingga tak membuat warganya yang mayoritas muslim bingung. Beda dengan di Indonesia ya..?

Berpuasa Ramadhan di Mesir memang banyak tantangannya, namun saya menikmatinya sebagai bagian dari pengalaman hidup. Kehidupan masyarakatnya yang religius seakan mendinginkan musim panas yang tengah berlangsung saat ini. Perbedaan sosial kultur semakin membuat Ramadhan tahun ini terasa lebih bermakna.



Ramadhan Karim...





sumber : tulisan saya di Kompasiana

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy