Nov 14, 2014

Advertisement

Catatan Haji #6: Gelombang Manusia Menuju Jamarat

Advertisement



Mina, 10 Dzulhijah 1435 H (4 Oktober 2014) 


Perjalanan kali ini berbeda. Jutaan manusia berpakaian putih terlihat seperti pasukan perang yang tengah bergerak menyerbu musuh. Tidak ada ruas jalan yang kosong. Semuanya penuh dengan gelombang putih menuju satu titik yang sama yaitu jamarat. MasyaAllah...

Jarak Muzdalifah ke Jamarat kurang lebih 6 km. Melewati ribuan tenda di Mina. Tidak seperti dari Arafah ke Muzdalifah, di sini tiap beberapa meter terdapat kran air minum. Tak khawatir lagi kehausan. Banyak polisi bersiaga, merazia tikar dan kasur lipat yang dibawa jamaah. Mungkin mengantisipasi agar jamaah tidak ngemper di sekitar jamarat, karena sudah disediakan tenda untuk mabit (bermalam) di Mina.

Setelah lontar jumrah aqabah nanti, sunnahnya langsung melakukan thawaf ifadha. Sejak awal suami merencanakan untuk langsung melaksanakan thawaf ifadha karena menurut prediksinya, masjidil haram tidak begitu padat karena banyak orang lelah dan memilih thawaf pada hari kedua. 

Dari jarak 1 km, bangunan itu terlihat seperti parkiran sebuah mall. Gedung berwarna putih itu menjulang, terdiri dari 4 lantai. Saya berkata pada suami, "kita melontarnya di lantai 2 aja ya mas.." Suami mengiyakan. Tapi ternyata, ruas-ruas jalan itu sudah di atur mengarah ke masing-masing lantai. Jadi ketika memasuki jamarat kita sudah tidak bisa berpindah seenaknya. Kebetulan saya dan rombongan mengarah ke lantai dasar.

Situasi jalan menuju jamarat pada saat lontar jumrah aqabah (Fayes Nureldine/AFP/Getty Images)

Memasuki jamarat, terlihat tempat ini sangat padat. Riskan untuk terpisah dari rombongan jika tidak ada koordinasi. Bisa dibayangkan sebelum jamarat ini dibangun. 2 juta lebih manusia tumplek blek di satu tempat untuk melontar. Saya berpesan pada Dessy, Ninik, Ika, Icha, Syifa, dan Faridha  untuk tetap solid berada dalam rombongan. Belakangan kami baru tahu ada salah satu rombongan kami terpisah saat di sini. 



Alhamdulillah, salah satu wajib haji ini usai kami tunaikan. Namun kami lupa berkoordinasi. Kami terpisah! Hanya terlihat Dessy, Ninik, Syifa dan Faridha sedangkan yang lainnya hilang dari pandangan mata. Dessy coba menelpon Icha tapi tidak tersambung. Ahh sudahlah, toh nanti ketemu juga di penginapan pikir kami.

Suami mengubah rencananya. Mengurungkan niat thawaf Ifadha hari itu. Karena melihat kondisi saya dan teman-teman perempuan yang cukup kelelahan. Kalau memaksakan diri menuju masjidil haram untuk thawaf, maka kami akan berjalan kaki lagi sejauh 2 km ditambah thawaf dan sa'i sebanyak 7 kali. Sedangkan malam harinya kami harus kembali ke Mina untuk mabit. Maka kami berenam memutuskan untuk kembali ke penginapan di Aziziyah setelah sebelumnya suami melakukan tahallul.

Lihat di peta, ternyata jarak ke penginapan hampir sama dengan jarak ke Masjidil Haram. Sempat bimbang tapi akhirnya bulat memutuskan untuk thawaf esok hari. Apalagi perut kosong belum diisi makanan berat sejak keluar dari Arafah. Berdasarkan petunjuk di peta ada restoran Albaik di dekat sini. 

Namun ternyata tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Jalan yang padat menyulitkan kami menemukan jalan sesuai petunjuk di peta. Kami kebingungan dan merasa salah memilih jalan. Menu Albaik yang terbayang saat terlihat di peta tadi, seketika musnah. Berjalan manakala tubuh sudah sangat lelah ditambah dengan kondisi perut kosong membuat kami frustasi kecuali suami, karena dia yakin bahwa kami tidak tersesat dan dia tidak salah membaca peta.

Dua kali kami menyetop taxi, tapi tercengang dengan harga yang ditawarkannya. Taxi pertama meminta 200 riyal untuk jarak kurang dari 1 km, hampir 700.000 rupiah. Sedangkan taxi kedua lebih gila lagi, minta 400 riyal atau sama dengan 1,3 juta!! Benar-benar gila!!

Beberapa hari sebelum wukuf dan selama hari tasrikh, kendaraan umum (selain angkutan haji) memang dilarang beroperasi di Mekkah. Walau ada juga beberapa taxi yang nekat. Situasi ini yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kendaraan non taxi untuk membawa penumpang dengan pasang tarif seenaknya. Fyuuhhh... 

Suami terus saja meyakinkan saya bahwa penginapan sudah tidak jauh lagi, hanya sekitar 500 meter lagi. Ahh mau pingsan rasanya, tubuh sudah nyaris tak mau diajak kompromi lagi. 500 meter terdengar seperti 5 km jauhnya. Beberapa kali saya berhenti untuk memastikan berapa jauh lagi jalan ke penginapan. 

"Pak, kita naik taxi aja ya pak... Saya sudah tidak kuat lagi jalan," Tiba-tiba Ninik merengek. Wajahnya tampak kuyu kelelahan.

"Tapi kita sudah hampir sampai, Nik. Paling 200 meter lagi, itu lho jalan ke penginapan sudah kelihatan.." suami coba menjelaskan

"Saya sudah nggak sanggup, pak.." kata Ninik lagi

Akhirnya suami menyetop taxi, si sopir taxi hanya minta 10 riyal per orang. Masih mahal sebenarnya tapi mendingan daripada taxi pertama dan kedua tadi. Ada 4 orang yang mau naik. Saya dan suami tidak ikut karena tahu kalau sudah mau sampai. Rasanya sayang jalan kaki berkilo-kilo meter, tinggal sejengkal saja naik taxi. "Sepertinya tidak menghargai kaki yang sudah rela diajak berjalan," kata suami.

Setelah hampir 3 jam berjalan kaki, pukul 10.00 siang akhirnya kami sampai di penginapan. Setelah sebelumnya mampir membeli mie instant, beberapa makanan kecil dan buah di minimarket dekat gang menuju penginapan. Alhamdulillah, lega rasanya. Saatnya beristirahat untuk bersiap melaksanakan prosesi selanjutnya. Mabit di Mina selama 3 malam, untuk melakukan lempar jumrah berikutnya. 


Suasana jamarat usai lontar jumrah aqabah


Catatan Selanjutnya.. Nikmatnya Ngemper di Jamarat

Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy