Nov 12, 2014

Advertisement

Catatan Haji #5 : Menyiapkan "Senjata" di Muzdalifah

Advertisement


Arafah, 3 Oktober 2014

Usai ashar, jamaah dari tenda kami sudah bersiap melakukan rangkaian ibadah selanjutnya yaitu bermalam di Muzdalifah. Namun rombongan kami belum beranjak, menunggu hingga Matahari terbenam sesuai instruksi ustadz Erwin. 

Kami manfaatkan waktu untuk membersihkan badan. Maklum saja kami belum mandi sehari semalam sejak dari Mina. Tidak ada lagi antrian panjang di toilet seperti siang tadi. Toilet yang disediakan sebenarnya hanya untuk BAB dan BAK. Di maktab 179 hanya tersedia 2 area toilet yang masing-masing terdiri dari 12 dan 6 bilik. Yang berisi 6 bilik dekat dengan tenda wanita.

Jangan harap soal kebersihan. Kalau tidak terpaksa, malas rasanya masuk toilet yang minta ampuuunn joroknya ini. Dari 6 bilik, ada satu yang cukup layak untuk mandi. Saya siram semua sudutnya hingga tak tersisa sampah dan bau pesing. Saya ajak teman satu rombongan untuk antri hanya di bilik yang satu ini. Ahhh... ibadah haji tak juga menyadarkan orang -orang itu bahwa kebersihan bagian dari iman. 


_____


Matahari telah terbenam. Waktu menunjukkan pukul 18.00, wukuf telah berakhir. Kami sudah bersiap, membawa bekal minum secukupnya agar tidak membebani backpack yang kami bawa. 

Jarak Arafah ke Muzdalifah hampir 13 km. Seperti yang direncanakan, rombongan kami akan berjalan kaki, mengingat jalan yang pasti penuh sesak dengan kendaraan dan lautan manusia. Diperkirakan perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah dengan bus memakan waktu 3 hingga 4 jam. Padahal normalnya hanya sekitar 15 menit saja. Informasi dari pihak maktab, bus yang mengangkut jamaah dari maktab kami akan tiba sekitar pukul 21.00. 

Jalan kaki adalah pilihan yang realistis, daripada duduk 3 jam menunggu bus datang ditambah perjalanannya yang memakan waktu cukup lama. Hanya butuh kondisi yang benar-benar prima untuk perjalanan ini.







Sudah lama saya tidak jalan kaki jauh, terakhir SMP waktu ikut gerak jalan 17 km acara 17 Agustusan. Sebelum berangkat haji pun tidak ada persiapan fisik secara khusus. Tapi karena teman jalan kaki adalah anak-anak muda yang penuh semangat, otomatis semangatnya itu menular.

Baru sekitar 1 km berjalan, rombongan kami terpisah. Situasi jalan yang crowded malam itu sangat menyulitkan kami menjaga kesolidan rombongan. Mobil, bus ditambah gelombang manusia tumplek jadi satu memenuhi jalan. Yang masih dalam satu kelompok dengan saya semuanya perempuan, yang laki-laki hanya suami. Rombongan pria terpencar entah kemana.

Berjalan diantara asap kendaraan bermotor benar-benar amat menyiksa. Belum lagi debu gurun dan suhu udara yang lumayan panas. 1 botol air mineral yang saya bawa dari Arafah hanya bertahan tidak sampai setengah perjalanan. Botol air mineral yang dibawa suami pun mengalami hal serupa. 


Perkiraan kami meleset. Di Arafah air mineral sangat melimpah, karena banyak yang membagikannya gratis, sampai dibuang-buang. Namun tidak kami temui di sepanjang jalan Arafah-Muzdalifah ini. Jangankan gratis, warung penjual air dan makanan sama sekali tidak ada. Kran-kran air siap minum seperti di Mina juga tidak kami temukan. Jadi terbayang kran-kran air zam-zam di Masjidil Haram. Hmmm... segarnyaaa.

Kadang saat merasa kelelahan, saya melihat orang-orang tua renta berjalan dengan langkah kaki cepat, orang yang mendorong orang tuanya dengan kursi roda, menggendong dan menuntun anak-anak, kembali timbul semangat untuk segera sampai di tujuan. 


Muzdalifah 1 km lagi. Sudah banyak orang-orang yang berhenti di lapangan terbuka untuk bermalam. Ada yang naik hingga ke bukit-bukit. Tapi suami mengisyaratkan untuk terus berjalan sampai benar-benar masuk ke Muzdalifah. 


Tiba-tiba sekelompok orang berlari dari arah depan, membawa beberapa kotak minuman. tenggorokan yang kering karena tidak tersentuh air sejak tadi memaksa kami ikut berlarian ke arah yang sama. Ohh.. rupanya sebuah truk kontainer sedang membagikan susu kotak. Sempat kecewa karena bukan air mineral atau jus buah yang dibagikan. Tapi tak ada air, susu kotakpun jadi. Asal bisa melepas dahaga. Alhamdulillah...


Beberapa saat kemudian, sampailah kami di sebuah tempat mirip tempat parkir. Karena kami lihat banyak bus-bus berjajar di sini. 


"Kita sudah sampai, kita berhenti dan tidur di sini nanti," kata suami 

"Daripada beralas tanah masih mending beralas aspal, lebih bersih dan tidak berdebu. Dekat dengan toilet juga" lanjutnya

Berbeda dengan yang ada dalam bayangan saya, ternyata di Muzdalifah tidak disediakan tenda seperti halnya di Mina dan Arafah. Kita tidur ngemper di sembarang tempat. 

Gegas kami menggelar sajadah masing-masing, untuk menjama' qashar sholat Maghrib dan Isya'. Di sini, sajadah tidak hanya berfungsi sebagai alas sholat, tapi juga untuk alas tidur. Tidur kami malam itu benar-benar beralas tanah dan beratapkan langit. Berada diantara jutaan manusia dengan tujuan yang sama. 


Mabit dan istirahat di Muzdalifah itu bagai pasukan tentara yang sedang menyiapkan tenaga. Dan memungut kerikil itu bagaikan menyiapkan senjata dalam rangka berperang melawan musuh manusia, yaitu syetan. Karena melempar jumrah adalah lambang memerangi syetan. 




Kerikil yang dikumpulkan untuk melontar jumrah sebanyak 70 butir kerikil. 7 butir untuk lontar jumrah aqabah, dan 63 sisanya untuk melontar di 3 jamarat 3 hari kedepan (sampai nafar tsani). Mengumpulkan kerikil yang kira-kira mantap dilontarkan ke dinding jamarat. Esok hari usai sholat subuh, perjalanan akan dilanjutkan menuju Mina. Kembali berjalan kaki... 


Melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melempar jumrah


Suasana Muzdalifah sekitar pukul 6.00 pagi. Jamaah bergegas melanjutkan prosesi selanjutnya. 
Melempar jumrah aqabah 




Catatan selanjutnya.. Gelombang Manusia Menuju Jamarat







Advertisement

0 comments:

Follow by Email

Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy