Dec 1, 2015

This is Cairo

Ada berbagai cara menikmati keindahan ibukota negara yang dijuluki negeri seribu menara ini. Kota dimana kuno dan modern berpadu menjadi harmoni yang sempurna. Eksotis kata para turis.

Menyusuri sungai terpanjang di dunia yang membelah kota dengan menyewa felucca, perahu layar khas Mesir. Private ataupun sharing. Jika memilih sharing bareng orang lokal hanya dengan membayar 3 LE saja atau sekitar (5000 rupiah). Sedang kalau mau private sedikit lebih mahal yaitu 60 LE per jam.

Bisa juga mencoba berjalan kaki menyusuri bundaran Tahrir yang bersejarah itu, lalu downtown hingga kawasan tua Hussein. Tak akan terasa capek karena kita disuguhi deretan bangunan ala Eropa di downtown dan tiba di Hussein bertemu bangunan-bangunan berarsitektur Mamluk.

Dan satu lagi dengan menikmatinya dari ketinggian. Kalau Jakarta punya Monas, Kuala Lumpur punya menara Petronas, Dubai punya Burj Khalifah, Cairo juga punya gedung tinggi untuk menikmati panorama kota. Cairo Tower namanya.

Tower setinggi 187 meter ini dibangun tahun 1956. Menjadi bangunan tertinggi di Mesir dan Afrika Utara selama kurun waktu 50 tahun. Sebelum berdiri gedung-gedung tinggi lainnya di Cairo tahun 90an.

Untuk tiket masuk seharga 75 LE cukup sebanding dengan suguhan pemandangan yang ikonik. Dari atas ketinggian 187 meter kita bisa melihat sungai Nil yang melegenda membelah kota dengan deretan hutan beton mengelilinginya.

Waktu terbaik naik ke tower ini adalah sore menjelang senja hingga malam. Mengabadikan matahari yang perlahan tenggelam lalu berganti gemerlap lampu kota. Cantik.

Kalau mau romantic dinner dengan pasangan, ada restaurant di atas tower. Harganya juga cukup reasonable koq. 

Jadi jika ada kesempatan berkunjung ke Cairo, masukkan Cairo tower dalam itinerary selain Pyramid Giza tentu saja.

Inilah Cairo dari puncak Cairo Tower..

Cairo dan sungai Nil-nya

Keruwetan Cairo tertangkap jelas dari tower ini

Hutan beton
Cairo waktu  malam


Cairo Tower
Terakhir, narsis :D

Di publish juga di Detik Travel

Sep 22, 2015

Hampir Kena Scam di Luxor

Luxor adalah kota kecil. Kota yang jauh dari hingar bingar klakson kendaraan bermotor, dan tentu saja nyaris bebas polusi udara. Tidak ada ritual macet seperti di Kairo. Secara umum, orang-orangnya ramah seperti kebanyakan masyarakat desa di pinggiran Kairo.

Namun demikian, Luxor tak lantas bebas dari scammer. Seperti kebanyakan kota-kota tempat tujuan wisata lainnya. Modusnya juga macam-macam. Saya sih sebenernya nggak nyangka bakalan kena scam. Selain mas suami yang fasih bahasa 'amiyah, saya lihat orang Luxor tergolong lugu dan ramah dibanding orang Kairo. Ternyata... kena juga hehehe..

Caleche 5 Pound

Caleche adalah kereta kuda atau semacam delman tapi keretanya agak tinggi dibanding delman. Caleche ini memang menjadi salah satu pilihan transportasi untuk keliling menikmati pusat kota luxor yang tidak begitu luas. Biasanya mereka ngetem di dekat hotel dan sekitar corniche Nil selain berlalu lalang menawarkan jasa.

Caleche


Sore hari, waktu kami jalan-jalan di tengah kota sekelompok kusir caleche menawari kami untuk naik.
"Five pound.. five pound" 
Awalnya kami mengabaikannya karena memang berniat jalan kaki saja sambil mencari tempat makan. Namun belakangan Bapaknya anak-anak menyerah dengan tawaran para kusir caleche. "Kita coba aja, lagian murah ini koq.." ujarnya meyakinkan saya. Lalu dia mendekat dan bertanya, untuk memastikan tarifnya. "Khamsah gineh ??" 
"Aiwah.. tafadhol" kata si kusir 
Setelah yakin, kamipun naik. Baru beberapa saat berada di atas caleche, sang kusir bercerita panjang lebar tentang Luxor. Kami cukup menikmati suasana Luxor sore itu.

Dia lalu menawari kami mampir ke sebuah tempat. Dia bilang di tempat itu banyak souvenir untuk oleh-oleh. Lalu suami bilang kalau kami tinggal di Kairo dan di Kairo banyak barang-barang seperti itu. "Tapi di sini lebih murah dari di Kairo. Coba aja lihat-lihat dulu.."

Lagi-lagi pak suami menyerah dan mengatakan, "Ok.."

Dan masuklah kami ke sebuah toko yang tampak remang-remang. Ada banyak lukisan papyrus di pajang di lantai bawah. Tapi kami nggak tertarik sama sekali. Di Khan Khalili banyak yang lebih bagus. Kami di arahkan menuju lantai 2 yang katanya ada souvenir lainnya. Lampu baru dinyalakan saat kami naik. Beuhh.. kotor, sumpek, gelap... Buru-buru kami turun dan menyudahi kunjungan yang tak menyenangkan ini.

Kami lalu naik caleche dan minta kusir untuk mengantarkan kami ke corniche (tempat awal kami naik). Setelah beberapa meter berjalan, saya mendengar suami sedikit berdebat dengan kusir caleche.

Sampai di depan Luxor temple, caleche berhenti. Kami berempat turun dan suami menyusul sambil ngomel. Kusir caleche pun demikian sambil sedikit teriak memanggil suami. Tapi pak suami cuek sembari menjauh. 

Kenapa sih, tanya saya.

Suami lalu bercerita kalau si kusir caleche ini coba menipunya. Pak kusir minta ongkos 50 poundsterling. Tentu saja suami ngotot karena kesepakatan di awal 5 LE. Tapi si kusir berkilah bukan 5 pound mesir tapi 50 pound Inggris. Pak suami ngasih 60 LE sambil berlalu tapi si kusir brusaha mengejar kami karena nggak terima di kasih ongkos segitu. Suami bilang sama si kusir
"Demi Allah, kamu itu nipu, nggak barokah tuh kalau cari uang dengan cara begitu".
Setelah itu barulah si kusir berhenti mengejar kami.

Banana Island

Hari terakhir di Luxor kami hanya bertiga (saya, suami dan si sulung) keluar hotel untuk jalan-jalan. Waktu saya sibuk ambil foto di corniche, suami terlibat percakapan dengan seseorang. Ternyata pria itu menawari kami naik felucca (perahu layar khas Mesir).

"Cuma 50 LE koq, nanti kita diantar ke banana island. Kamu kan penasaran sama pulau pisang itu hehehe.." Begitu kata suami menjelaskan

"Iya di sana ada mini zoo juga, kalian juga bisa naik keledai. Terus di sana itu kampung suku Nubian. Kalian bisa lihat kehidupan mereka dari dekat." Si pemilik felucca coba ngompori saya.
"Ogah ah.. ntar dia nipu. Kita kena tertipu kayak kemaren itu" Saya berusaha tidak tergoda.
"Sepertinya dia baik koq.." kata suami

Akhirnya jebol juga pertahanan saya. Menyerah atas kehendak suami. Naiklah kami bertiga ke perahu. Sebelum berlayar ke pulau pisang kami minta mampir ke belakang hotel untuk jemput 2 anak yang lain. Karena memang kebetulan hotel tempat kami menginap persis berada di pinggir Nil.

Sampai di Banana Island saya tak melihat sesuatu yang istimewa. Ya hanya kebun pisang. Ini sih banyak di Indonesia hehehe... Yang katanya mini zoo juga hanya berisi rusa, buaya, dan monyet dengan kondisi yang amat memprihatinkan. Sekitar 10 menit saja kami di pulau itu.

Tiba-tiba seorang pria menyodori kami sesisir pisang lalu meminta kami membayar 20 LE per orang. Jadi untuk kami berlima kami harus bayar 100 LE. Tentu saja kami kaget.

"Tuuhh kan kena lagi kita mas.." gerutu saya pada suami.

Tapi kami ngeloyor saja meninggalkan orang itu. Pemilik felucca juga memaksa kami membayarnya. Suami tentu saja menolak. Karena tidak ada penjelasan di awal. Dia juga bilang kalo tau di suruh bayar mana mau kami diajak ke kebun pisang. Wong di Indonesia kebun seperti ini juga banyak.

Tetap saja pemilik felucca itu ngeyel untuk menerima pisang dan membayarnya. Akhirnya daripada berlama-lama suami memberinya uang 50 LE dan segera berlalu meninggalkan orang itu. Sepanjang perjalanan saya ngomel dan pasang wajah jutek. Jengkel karena 2 kali kena scam di Luxor. Huhuhuhu..



Felucca 

Pemandangan Banana Island alias Pulau Pisang dari atas felucca :D

Mungkin kalau orang Arab takjub lihat pemandangan ini. Tapi buat saya... yeee beginian mah banyak di kampung hahaha..

Di tengah kebun pisang ada bangunan ini. Sepertinya ini rumah burung merpati. Kalau di Jawa namanya pegupon hehehe..

Tapi biarpun 2 kali ketemu scammer dan itu amat menjengkelkan. Namun kami juga bertemu orang baik di kota ini. Kami tidak kenal orang ini. Beliau adalah teman dari pamannya teman suami (bingung ya hahaha).

Keluarga koptik yang baik hati. Walaupun tidak ada hubungan apa-apa dengannya, mereka menjamu kami , mengantar dan menjemput kami dari hotel. Menraktir kami di sebuah restoran. Bahkan menawari kami untuk upgrade kamar hotel. Tidak cukup hanya itu dia memberi kami oleh-oleh. Lalu berpesan, kalau ke Luxor lagi dia akan service kami di hotel milik keluarganya, free of charge.

Orang jahat memang banyak, tapi nggak sedikit juga orang baik di dunia ini.. 










Sep 18, 2015

Menyusuri Jejak Fir'aun di Luxor

Beberapa waktu lalu, pemerintah Mesir mengumumkan gagasannya untuk memindahkan ibukota Mesir dari Kairo ke sebelah timur, dekat Ain el Sokhna. Masalah kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas, polusi dan berdirinya bangunan-bangunan ilegal menjadi alasan utama untuk segera memindahkan ibukota negara dengan jumlah penduduk mencapai 20 juta ini.

Memindahkan ibukota negara bukanlah hal yang baru buat Mesir. Terhitung sudah puluhan kali negara ini melakukannya. Memphis, Ijtawy, Thebes adalah beberapa kota yang pernah menjadi ibukota pada era Mesir kuno. Sedangkan Alexandria pernah menjadi ibukota Mesir masa kekaisaran Romawi. Fustat, Al-Asykar, Al Qatta'i adalah ibukota pada periode Islam termasuk Al Qahirah atau Cairo yang menjadi ibukota hingga kini.

Kota Kuno Thebes

Kota ini terletak sekitar 670 km sebelah selatan Kairo. Disebut juga daerah Upper Egypt. Luxor  atau dalam bahasa Arab disebut Al-'Uqsur adalah kota kuno Thebes yang merupakan ibukota Mesir periode Middle Kingdom (2040-1750 SM) dan periode New Kingdom yaitu sekitar 1550-1077 SM. Tutmosis, Amenhotep, Ramses, Tut An Khamun adalah beberapa Fir'aun (raja) yang berkuasa pada masa itu. Konon, nabi Musa As hidup pada periode Middle Kingdom, masa pemerintahan Ramses II pada periode middle kingdom. Wallahu'alam..

Luxor, dijuluki sebagai "The World Greatest Open Air Museum". Pantas sih karena beberapa situs-situs kuno masih berdiri kokoh di kota ini. Seperti halnya kota-kota lain jaman Mesir kuno, desain tata kota diperhatikan dengan sangat detail. Sungai Nil yang membelah kota sekaligus menjadi pemisah antara pusat kota dan kuil-kuilnya di sebelah timur. Dengan necropolis (komplek makam fir'aun) di sebelah barat (west bank). Tetep nggak mau jauh-jauh dari sungai Nil. Karena sungai ini merupakan sumber kehidupan buat mereka.

Karnak dan Luxor Temple

Kuil Karnak dan Luxor masih berdiri kokoh diantara bangunan-bangunan modern. Ditengah padatnya pemukiman penduduk. Kuil Karnak disebut-sebut sebagai sebuah kuil terbesar di dunia, luasnya kurang lebih 1,5 km x 800 meter. Juga merupakan kuil kuno terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja. Dibangun selama masa pemerintahan Amenhotep III dan Ramses II (1500-1200 SM).

Kuil Karnak ini terhubung dengan kuil Luxor. Jalan setapak sepanjang 3 km membentang diantara keduanya. Dihiasi dengan patung-patung sphinx di kiri kanannya. Sayang, proyek penggalian jalan penghubung kuil Karnak dan Luxor ini terhenti sejak revolusi 2011 meletus di Mesir. Dari total 3 km jalan mungkin baru sekitar 2 km yang berhasil di gali.

Kuil Luxor dan jalan setapak yang menghubungkannya dengan kuil Karnak


Yang paling menarik di kuil Karnak adalah tiang-tiang batu raksasa berdiameter 15 meter, setinggi 23 meter berjumlah 134 kolom. Tiang-tiang raksasa itu bukan tiang polos lho.. Tapi ada ukiran disekelilingnya.

Selain kolom-kolom raksasa itu, ada lagi yang menarik perhatian dan membuat saya terheran-heran. Obelisk. Obelisk  ini  adalah tiang persegi yang ujungnya lancip. Dipahat utuh dari gunung batu. Jadi nggak ada sambungannya sama sekali. Tingginya sekitar 30 meter dengan berat 700 ton. Coba bayangin gimana bawa obelisk ini dari gunung lalu menegakkannya di dalam kuil. Mungkin jaman itu sudah ada crane dan truk tronton kali ya. Atau jangan-jangan pakai sulap macam David Copperfield haha..

Pintu gerbang utama kuil Karnak

Obelisk yang tingginya 30 meter dan berat hingga 700 ton. Ngangkatnya pake apa coba? :D

Tiang-tiang raksasa


Kebayang kan tiang2nya sebesar apa? 


Valley of The Kings

Selama ini kita takjub dengan bangunan pyramid Giza di Kairo. Di Luxor kita juga akan semakin takjub dengan kecanggihan orang-orang Mesir kuno dalam hal teknik arsitektur. Di sana kita disuguhi keajaiban Valley of the King dan Valley of the Queen. Inilah perbedaan necropolis era new kingdom dengan era old kingdom. Jika necropolis era old kingdom berbentuk piramida sedangkan pada era new kingdom necropolis dibangun di bawah tanah. Disebuah lembah dan tersembunyi dibalik pegunungan batu. Maka itu lembah tersebut dinamakan lembah para raja dan ratu.

Memadukan teknologi struktur dan estetika sekaligus dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Kita bisa saksikan bagaimana canggihnya orang-orang Mesir kuno melubangi gunung dengan bentuk dan ukuran yang sangat presisi. Kemudian melukis dinding-dindingnya dengan gambar-gambar yang sangat indah. Tentu saja menggunakan alat yang sangat sederhana dan pewarna alami untuk catnya. Sayangnya nggak boleh foto-foto di dalam sana. Kamera jadi ngganggur deh..
Kalau penasaran, bisa dilihat di VIDEO ini.

Konon untuk membuat satu makam dibutuhkan waktu puluhan tahun. Sedangkan di Valley of the Kings terdapat lebih dari 50-an makam. Dan hebatnya lagi, lorong-lorong makam itu tidak saling bertabrakan. Mereka sepertinya mengukur dengan akurat panjang lorong sehingga tidak saling bertabrakan satu sama lain. Dan bentuk lorong makam tidak datar namun mengarah ke bawah. Mirip desain ruangan dalam Pyramid. Makam-makam itu sengaja dibuat rumit seperti ini untuk menghindari penjarahan. Tapi faktanya hampir semua makam-makam itu pernah dijarah.

Makam Fir'aun yang ditemukan masih utuh adalah makam Tut An Khamun. Mummy lengkap dengan harta bendanya. Dari mulai peralatan rumah tangga seperti kursi, kereta kuda, sandal sampai perhiasan emas dan perak ditemukan masih utuh. Dan masih bisa kita lihat di Egyptian Museum di Kairo.

Kuil Hatseptsut.
Salah satu kuil yang dibangun oleh salah seorang ratu Mesir kuno bernama Hatsepsut. Berada di balik Valley of the Kings

Luxor Kini..

Situasi politik rupanya sangat berpengaruh pada kunjungan turis di Mesir. Terbukti pada saat saya ke sana, Luxor sepi bak kota mati. Toko-toko souvenir banyak yang tutup juga kesulitan menemukan restaurant-restaurant yang buka. Walaupun akhirnya menemukan warung lokal di tengah pasar tradisional. Kereta kuda dan felucca (perahu layar khas Mesir) sepi penumpang. Tidak seperti di Kairo yang kotanya hidup pada malam hari. Di Luxor sulit ditemukan lalu lalang orang di atas jam 10 malam. Sepi.

Jalan yang lengang

Sambil menunggu penumpang, para nahkoda felucca memperbaiki layar perahunya


Tingkat hunian hotel juga sangat rendah. Hotel-hotel di sana berlomba-lomba menarik turis dengan harga promo. Hotel bintang lima seharga bintang 3 bisa dengan mudah ditemukan. Kebetulan saya juga dapat harga promo, 350 EGP/malam untuk hotel bintang 5.

Walaupun demikian, nggak ada salahnya memasukkan Luxor ke dalam itenerary anda jika mengunjungi Mesir. Hanya saja butuh waktu sedikit lebih panjang karena jauhnya perjalanan. Mungkin luangkan waktu sekitar minimal 2 hari plus 2 malam untuk perjalanan.

Waktu terbaik mengunjungi Luxor adalah pada musim dingin sekitar bulan November sampai Mei. Karena suhu udara disana lebih tinggi dari Kairo. 

Ke Luxor Naik Apa?

Ada beberapa cara untuk menuju kota ini yaitu dengan pesawat udara, kereta api, bus atau sewa mobil. Jika memiliki waktu agak longgar tidak ada salahnya memilih kereta api. Butuh waktu sekitar 10 jam dari Kairo menuju Luxor. Pilihan kelasnya juga bisa disesuaikan dengan budget. Dari mulai kelas biasa seharga 8 USD sampai yang deluxe seharga 100 USD. Booking bisa dilakukan online di Egyptian National Railways atau Watania Sleeping Train. Kebanyakan turis menggunakan moda transportasi ini. Karena harganya yang relatif murah dan lebih santai.

Kebetulan waktu saya ke sana, memilih menggunakan pesawat karena keterbatasan waktu. Saya menggunakan pesawat Egypt Air, harga tiketnya sekitar 300 USD pergi pulang. Waktu tempuhnya sekitar 50 menit.

Jika memilih sewa mobil, coba lewat Hurghada. Waktu tempuh memang menjadi lebih lama namun keuntungannya kita bisa dapat 3 obyek wisata sekaligus yaitu Hurghada, Aswan dan Luxor. Sewa mobil berkisar antara 250-350 EGP/hari tergantung jenis mobil.

Bagaimana? Tertarik ke Luxor?

__________________________














Sep 16, 2015

Masjid Amr bin Ash, Masjid Pertama di Mesir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).

Jika masjid Ibn Tholun merupakan masjid tertua ketiga di Kairo maka Masjid Amr bin Ash adalah masjid pertama di Mesir bahkan di Afrika. Masjid ini didirikan oleh Amr bin Ash tahun 641-642 M, setelah berhasil menaklukkan Mesir dari tangan Romawi.

Siapa Amr bin Ash?

Amr bin Ash adalah salah satu tokoh pahlawan era Rasulullah yang terkenal cerdik dalam taktik perang dan pemberani. Penunggang kuda yang mahir, negosiator ulung, dan ia juga seorang penyair yang puitis. Beliau juga dikenal sebagai orang yang memiliki kecerdasan luar biasa untuk keluar dari situasi yang sulit dengan tenang sekaligus menemukan solusinya.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, Amr bin Ash dipercaya memimpin pasukan untuk menduduki Mesir. Yang pada waktu itu berada dibawah kekuasaan negara adidaya Romawi. Bersama 4000 pasukan Amr bin Ash melawan 50.000 pasukan Romawi yang kuat. Meski kekuatan pasukan tidak seimbang, namun Amr bin Ash berhasil membuat pasukan Romawi bertekuk lutut. 

Setelah berhasil menaklukkan Mesir, Amr bin Ash diangkat menjadi gubernur. Ia mendirikan kota Fustat berikut masjid yang letaknya tidak jauh dari gereja yang sudah berdiri sejak abad 3 Masehi.

Metamorfosis Masjid Amr bin Ash

Bentuk awal masjid ini cukup sederhana. Berukuran 29 x 17 meter. Dindingnya terbuat dari batu bata dengan tiang yang terbuat dari batang pohon kurma. Sedangkan atapnya juga diambil dari daun kurma kering. Mihrab tempat imam sholat hanya ditandai dengan 4 tiang kayu. Lantainya juga hanya berupa tanah.

Tahun 673 M, gubernur Maslama ibn Mukhallad al-Ansari merenovasi masjid untuk pertama kali. Diperluas dan ditambah dengan menara di 4 sudut masjid. Berfungsi sebagai tempat adzan. Berikutnya masjid terus diperluas dan disempurnakan bentuknya. Tahun 827, oleh Gubernur Abdullah ibn Tahir interior masjid dipercantik dengan arcade (lorong yang terbentuk dari barisan kolom dengan lengkungan diatasnya). Di era Fatimiyah, menara masjid ditambah menjadi 5. 1 tambahan menara diletakkan di pintu masuk masjid.

Pada tahun 1169 kota Fustat termasuk masjid ini dibakar oleh seorang menteri bernama Shawar untuk menghindari penyerangan oleh pasukan salib. Namun setelah Shalahuddin al Ayyubi mengambil alih kekuasaan, tahun 1179 masjid dibangun kembali . 

Pada masa dinasti Mamluk, sekitar tahun 1796 M. Sebelum kedatangan pasukan Perancis dibawah pimpinan Napoleon, Sultan Murad Bay membongkar total lalu merenovasi masjid ini karena bangunannya yang sudah rapuh. Berikutnya tahun 1875 masjid direnovasi ulang. Dan terakhir tahun 1980 masjid mengalami rekonstruksi pada bagian pintu masuk.

Masjid Amr bin Ash sekarang

Masjid Amr bin Ash hingga kini masih rutin dipakai untuk sholat berjamaah. Turis asing juga tidak dilarang masuk ke masjid ini. Asalkan memakai pakaian yang sopan. 

Biasanya pada setiap malam 27 bulan Ramadhan, yang dipercaya sebagai malam lailatul qadar.  Masjid ini menjadi penuh. Bahkan hingga 1 km di luar area masjid. Warga berduyun-duyun untuk mengikuti shalat tarawih. Tak jarang, warga dari luar kota Kairo ikut berbondong-bondong. Untuk mendapat shaf-shaf depan, mereka sudah datang sejak jam 2 siang. Karena imam sholat tarawih hari itu adalah Syeikh Muhammad Jibril  seorang qari` yang dikenal memiliki suara merdu. Beliau memang rutin menjadi imam sholat tarawih di masjid ini sejak tahun 1988.

Masjid ini bukan hanya punya cerita sejarah yang panjang, namun juga menjadi simbol ketaatan umat Islam pada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu berbuat baik pada orang Qibthi, dan wajib melindungi mereka. Terbukti gereja tidak serta merta dihancurkan ketika Islam menguasai Mesir.

Sisi barat

Pintu di sisi selatan
Tempat wudhu di halaman tengah

Arcade atau kolom-kolom yang berbentuk lengkung di atasnya menjadi ciri khas masjid-masjid di Mesir
Turis asing tampak mengagumi masjid bersejarah ini
Beginilah suasana tarawih malam 27 Ramadhan di Masjid Amr bin Ash (Source)

Jun 30, 2015

Menikmati Begadang Bareng Orang Mesir

Awal-awal pindah ke Kairo saya cukup kaget dengan kebiasaan ini. Tapi lama kelamaan maklum juga. Bahkan saya cenderung menikmatinya. Seneng juga karena hypermarket, mall, cafe, warung makan buka sampai lewat tengah malam. Karena, di Indonesia saya nyaris tak pernah melakukannya. Selain toko, mall, cafe tutupnya tidak lebih dari jam 11 malam, jam 21.30 saja mata saya sudah enggan diajak kompromi hehe..

Di Kairo, begadang sampai pagi bukan hal aneh bahkan sudah jadi semacam gaya hidup orang di sini. Menurut cerita suami yang pernah tinggal di Libya, orang Libya pun punya kebiasaan yang sama. Mungkin menjadi kebiasaan hampir semua orang-orang Arab saya rasa. Terutama pada musim panas. Karena waktu malam menjadi terasa pendek. Matahari baru terbenam pada pukul 19,00 sedangkan kembali terbit pada pukul 04.00. 

Kalau Ramadhan bertepatan dengan musim panas seperti sekarang, maka kehidupan malam dimulai usai tarawih, Tarawih baru selesai rata-rata pukul 22.30 membuat waktu malam makin terasa amat cepat.

Umumnya cafe memang ramai setelah tarawih. Keramaian jalan sepertinya pindah ke cafe. Dari cafe kelas mall sampai cafe-cafe jalanan nyaris tidak ada yang sepi. Sebaliknya, jalan raya mendadak lengang, seneng juga sih kalau Kairo begini karena nggak stress kena macet. Dari mulai anak-anak sampai kakek-kakek, ibu-ibu sampai bapak-bapak nggak ada yang ketinggalan menikmati acara begadang sampai sahur ini.

Alhasil, pagi hari Kairo jadi seperti kota mati apalagi kalau weekend. Aktifitas paling pagi dimulai pukul 9 terutama bagi para pekerja kantoran. Toko-toko dan mall kebanyakan buka setelah dzuhur. Anak-anak sekolahan bisa tidur sepuasnya karena sekolah-sekolah Mesir libur 1 bulan sebelum bulan puasa sampai biasanya setelah Idul Adha. Total liburnya sekitar 4 bulan. Wow!

Begadang memang bukan kebiasaan yang bagus kata Bang Haji (baca: Rhoma Irama). Tapi bolehlah buat yang tinggal di Mesir seperti saya ya Bang? hehehe...

Bisa jadi hal ini nanti akan menjadi sesuatu yang paling saya rindukan dari Kairo ketika saya tidak lagi berada di kota ini. Selain tempat-tempat bersejarahnya, dan obyek foto eksotisnya. Juga kebiasaan orang-orangnya termasuk kebiasaan cangkrukan sampai pagi yang tak akan saya temukan di Indonesia. Mau coba???

_______
Dibawah ini adalah rekaman gambar suasana kehidupan malam diseputar kawasan Hussein dan Khan Khalili

Bapak-bapak cangkruk sambil nyisha

Cafe-cafe di kawasan Khan Khalili . Hampir seluruh kursi tersisi

Dipilihh..dipilih.... harga murah dijamin :D

Yang nggak mau ngopi cangkruk juga boleh koq (suasana di depan masjid Hussein)

Jun 17, 2015

Fanoos, Tanda Ramadhan Telah Dimulai

Fanoos klasik koleksi pribadi :D



Ramadhan adalah bulan spesial bagi seluruh umat muslim dunia. Di beberapa negara, ada tradisi unik untuk menyambut bulan suci ini.

Di Indonesia, tradisi unik menyambut Ramadhan berbeda di tiap daerah. Ada Megengan di Jawa Timur, Mungguhan di Jawa Barat, Dugderan di Jawa Tengah, Balimo di Sumatera Barat, Balimo Kasai di Riau, Meugang di Aceh dan masih banyak lagi. 

Karena saya lahir dan besar di Jawa Timur, saya mengenal tradisi Megengan. Yaitu tradisi saling antar makanan pada tetangga sehari menjelang puasa. Makna dari kegiatan ini sebenarnya adalah saling mengunjungi dan meminta maaf antar tetangga dan keluarga. Hantaran hanya sebagai buah tangan. Sayangnya, di kampung saya sudah makin jarang orang melakukan tradisi ini. Padahal dulu setiap megengan meja makan kami selalu penuh dengan makanan beraneka rupa hasil kiriman tetangga. 

Ramadhan di Mesir

Di Mesir, fanoos menjadi hal unik yang ada pada saat Ramadhan. Fanoos adalah lentera atau lampu dekorasi yang digantung di rumah, masjid atau tempat umum lainnya selama Ramadhan. Biasanya sebulan sebelum bulan Ramadhan pedagang fanoos ini sudah mulai bermunculan menggelar dagangannya. Fanoos klasik terbuat dari logam seperti tembaga, kuningan bahkan perak yang didalamnya diisi dengan lilin. Sedangkan fanoos modern terbuat dari plastik, kertas atau kain warna warni yang didalamnya diisi dengan lampu listrik.

Sejarah penggunaan fanoos untuk perayaan sesuatu di Mesir sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu. Fanoos pada jaman Mesir kuno masih berupa lampu minyak atau sejenis obor. Digunakan untuk merayakan terbitnya bintang Sirius. Juga untuk merayakan ulang tahun Osiris, Horus, Isis, Seth dan Nephtys, orang-orang Mesir kuno menyalakan fanoos selama 5 hari berturut-turut.

Menyalakan fanoos selama bulan Ramadhan dimulai pada masa dinasti Fatimiyah (sekitar tahun 900an Masehi). Tepatnya pada masa Khalifah Al Hakim Bi-Amr Lillah. Pada masa itu, untuk menerangi jalan-jalan di Kairo selama Ramadhan, khalifah Al-Hakim mewajibkan pada semua syekh masjid untuk menggantung fanoos. 

Cerita berbeda menyebutkan bahwa pada masa Khalifah Al Hakim, para wanita tidak diijinkan keluar rumah kecuali selama bulan Ramadhan. Namun ada aturannya yaitu pada saat keluar rumah harus didahului dengan anak kecil yang membawa fanoos. Sebagai penanda bahwa akan ada wanita yang lewat sehingga para pria harus menyingkir atau menghindari jalan itu.

Tidak ada cerita sejarah yang pasti mengenai awal mula penggunaan fanoos. Namun fanoos sudah menjadi kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan selama berabad-abad lamanya oleh orang-orang Mesir untuk merayakan Ramadhan. Bahkan kini telah menyebar di hampir seluruh negara-negara Arab bahkan negara Islam lain di dunia.

Apapun bentuknya, Ramadhan memang seharusnya disambut dengan suka cita. Karena Ramadhan adalah bulan penuh keistimewaan.


Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan...


Cairo, 29 Sya'ban 1436 H



Fanoos klasik

Bermacam-macam fanoos klasik

Fanoos modern, kebanyakan sih made in china :D


Apr 2, 2015

Jejak Sejarah yang Hilang di Masjid al Haram


"Wah masjid ini beda banget sama pas aku ke sini beberapa tahun lalu. Dulu nggak ada bangunan ini," Kata Dilla teman satu rombongan sambil menunjuk salah satu sudut masjid.

Masjid tempat kiblat umat Islam berada ini memang terus berbenah. Mengalami renovasi besar-besaran sejak tahun 1980an. Menjadi salah satu sebab kuota haji dikurangi dalam beberapa tahun terakhir, hingga antriannya semakin panjang dan lama. 

Penyempurnaan bangunan terus dilakukan oleh pemerintah Saudi sebagai upaya memberi pelayanan terbaik bagi para tamu Allah. Yang sepanjang tahun tak pernah berhenti datang dari seluruh penjuru dunia. Menjadikan para peziarah semakin nyaman beribadah. Seperti misalnya tempat thawaf dan sa'i yang kini menjadi 3 lantai. Perluasan area masjid serta penambahan fasilitas lainnya.


Sejarah Masjid

Masjid seluas 356.800 meter persegi (88,2 hektar) ini merupakan masjid terbesar di dunia. Menampung hingga dua juta jamaah selama musim haji. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644), masjid mulai dibangun didahului dengan pembongkaran rumah-rumah disekitar Ka'bah . Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi jumlah peziarah yang semakin banyak

Lalu, pada masa Khalifah Ustman bin Affan (644-656) area sholat diperluas dan ditambah dengan kolom kayu sebagai penyangga atap. Masjid masih berupa ruang terbuka tanpa dinding dengan Ka'bah sebagai pusatnya.

Tahun 692, ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa, masjid mengalami renovasi besar pertama. Dinding luar ditinggikan, langit-langit masjid dilapisi kayu dan dicat emas. Tahun 705-715 kolom kayu diganti dengan marmer dan dihiasi dengan mozaik. Selanjutnya di era Dinasti Abbasiyah pada masa Khalifah Abu Ja'far al-Mansur (754-775), kolom-kolom masjid dipercantik dengan mozaik. Dan menambahkan menara di Bab al Umra yaitu di sebelah barat laut.

Masih di era dinasti Abbasiyah, masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) dilakukan perluasan masjid karena jumlah peziarah yang semakin membludak. Bangunan lama dibongkar berikut rumah-rumah yang berdiri disekitar masjid. Masjid menjadi semakin luas dihiasi kolom marmer yang didatangkan dari Mesir dan Syiria. Masjid juga ditambah dengan 3 menara yang masing-masing berdiri di atas Bab al-Salam, Bab Ali dan Bab al-Wadi.

Pada tahun 1399, masjid mengalami kerusakan akibat kebakaran. Sebagian yang lain rusak karena air. Hingga masjid kembali dibangun pada masa Nasir Faraj bin Barquq, salah satu sultan era Dinasti Mamluk. Kolom marmer diganti dengan kolom batu yang diambil dari wilayah Hijjaz sedangkan atap ditambal dengan kayu yang diambil dari pegunungan di daerah Thaif,

Tahun 1571, pada masa dinasti Ottoman Turki, Sultan Selim II menugaskan kepala arsitek Mimar Sinan untuk merenovasi masjid. Yaitu penggantian atap datar dengan kubah. Menghiasi interiornya dengan kaligrafi emas dan penambahan tiang penyangga baru. 

Tahun 1611 masjid kembali mengalami kerusakan, hingga direnovasi kembali tahun 1629 pada masa pemerintahan Sultan Murad IV (1623-1640). Penambahan arcade dengan kolom-kolom yang lebih ramping diperindah dengan medali berbentuk prasasti diantara lengkungan. Lantai disekitar Ka'bah diganti dengan marmer. Pada bagian eksterior, masjid ditambah lagi dengan 7 menara.

Renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 1955 dan 1973 atas perintah Raja Abdul Aziz. Yaitu pembangunan tempat sa'i yang dihubungkan dengan bagian utama masjid. Mengganti lantainya dengan marmer dan membangunnya menjadi 2 lantai. Tahun 1982 mulai dilakukan renovasi besar pada masjid Al Haram ini dan masih berlangsung hingga saat ini.

Dan... Masjid al Haram Kini

Beberapa bagian masjid peninggalan masa kesultanan Ottoman Turki tahun lalu masih tersisa sebagian, mungkin tidak sampai separuh. Arcade lama (Peninggalan sultan Murad IV) dibongkar dalam rangka perluasan area thawaf. Mungkin nanti akan dibongkar seluruhnya.

Sebagai penikmat sejarah, saya cukup menyayangkan dengan kondisi ini. Apalagi saya juga sudah terbiasa melihat situs-situs bersejarah di Mesir utuh dan terawat hingga kini. Masjid-masjid tua yang tidak sedikitpun diubah.

Padahal kalaupun bagian masjid yang lama tetap dipertahankan, saya rasa bisa karena tidak mengganggu. Rasanya gimana gitu menyentuh bangunan yang dibangun ratusan bahkan ribuan tahun lalu. 


Sebaliknya, gedung-gedung pencakar langit semacam Abraj Al Bait Tower yang konon adalah salah bangunan kedua tertinggi di dunia, hotel-hotel dan mall mewah seakan tumbuh bak jamur disekitar area masjid. Sampai ada lelucon, "Abis thawaf di masjid lanjut thawaf di mall yuk!"


Kini Ka'bah seolah terkepung pencakar langit dan makin tenggelam.  Zam-zam tower seakan menjadi landmark baru kota Mekkah. Jejak sejarahnya seolah lenyap, hanya tersisa cerita.

Arcade lama yang dibangun pada masa kekhalifahan Turki Usmani.
Tahun lalu bagian ini sudah tinggal tak sampai setengah lingkaran. Karena memang bangunannya melingkari Ka'bah


Renovasi masjid yang dilakukan terus menerus  
Penambahan area thawaf menjadi bagian dari renovasi
(suasana pada musim haji tahun 2014) 

Arcade pada bangunan masjid baru  
Salah satu bagian dari bangunan masjid yang baru  
Landmark baru kota Mekkah


Sumber sejarah :

The Holy Mosque, Mecca
(www.sacred-destinations.com)

Mar 22, 2015

[Faiz Post] Climate Change


A climate change is caused by pollution. When we use the car, the engine makes a gas called CO2.
The CO2 comes out from the exhaust pipe and floats onto the air. Because lots of people use car, lots of CO2 floats onto the air. 

When we leave the TV and lights on, it uses electricity. Electricity comes from power station and that makes lots of CO2. Airplanes make even more CO2 than cars.

There is lots of CO2 in the air, that it's covering us like a big blanket.  The CO2 can make the air too hot. Sometimes the ground gets too dry when there is not enough rain.

Sometimes the hot air makes big storm called cyclones. Cyclones make big waves that smash up coral reef. The sea could get too hot causing the coral reef die. The fish will not have any habitat and will go away.

We could keep the earth wonderful by using bicycle and turn off the TV and light when not used.


Faiz Firdaus
(6 JG)

Dec 12, 2014

[Faiz Post] My Autobiography

In 1997 my first sister was born, my mom and dad were so happy because it was their first child. She has a straight hair, she wasn't that tall. After a while my second sister was born. She was born in 2000. She likes to sing very much but not these days. In 2003 my mom accidently had a baby but she was sadly not alive. My dad carried her and than buried her near my house. 

Later I was born. I didn't have any hair until the age of 2. My first word was 'grandma' cause I thought my mom was my grandma :). Often I went to my grandma's house. I've been to a plane since was a baby.

In 2005 my dad went away to France. He went to the Eiffel tower with his friends. When he went back to Indonesia, he bought us lots of souvenirs and toy. And he bought my mom a silver-gold necklace.

After a while in 2006 we move house. Then I meet neighbour whom turns into my best friend. He is 2 years older than me but he is very kind. He had a little sister at the age of me. We live there for a couple years. Then I had kitten, I kept it until she is old.

In 2008 we went to Malaysia for 1-2 weeks. We went to a mountain and we went to a place like Disneyland but smaller. I went to a spaceship there and I saw an alien. We bought a lot of souvenirs and dolls.

In 2010 I went to Hong Kong with my family. We went there for 5 days. We went to Disneyland. I saw a massive castle with a Mickey Mouse painting in front of it. After that we went to a 4D cinema it was so fun we watched Donald duck. Lots of people in Hong Kong didn't understand English so we had to deal with it. At breakfast I ate noodle and soup at an Indonesian restaurant.

In 2011 we moved house but I often went to my old house. My old house is really close to my new house. After a few months we moved to Egypt. I got confused because it's the reverse driver seat. When I arrived at my house I was just amazed, because it was the best house we've ever had.

My mom likes to take pictures and travels. Then we went to Pyramid, I was shocked of how big it is. When I was small I used to think it was the size of a mall. After a week I went to MBIS, I was in year 3 that time. I didn't have any friends till William came, but he just went to school for a week and then he left forever. But Rei and Vivian came and became my friends.

After I finished year 4 I went back to Indonesia but realized there was going to be a revolution. We were supposed to come back at the 21st of August but my dad's company didn't let us because there was revolution.

But at January my dad's company let us go back to Egypt but my sister didn't want to go back because she got fewer friends in  Egypt but she got more friends in Indonesia. So I, my dad and my mom went back to Egypt. After we arrived in the airport the guy said, "You don't have enough visas." Then he took us to an office and I felt very scared because the office is like prison. But than we just passed it.

Then I came back to MBIS and stayed there until now on. I was in year 5 that time. At April we went to Cyprus and we went to lots of place. We stayed at house located in high ground. I slept at a bunk bed.

In year 6, I wore a tie and it was not nice :). On September my mom and dad left me to Hajj. I stayed with my dad's friends for 3 weeks. They were supposed to come at 18th of October but they delayed it  to the 19th of October. It was kind of hard to control myself without my mom and dad. When they came back, they bought me a watch and I was very happy :)



Faiz Ahmad Firdaus
(Year 6 JG MBIS)



With my sisters

With my neighbour and best friends in Indonesia
With my best friends in MBIS




Copyright © Ellys' Notes | Powered by Blogger | Theme by NewBloggerThemes.com

About // Contact // Privacy Policy